Tuesday, March 3, 2009

Deskripsi Hasil Tes Psikologi Calon Siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Dalam Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra

A. Judul : Deskripsi Hasil Tes Psikologi Calon Siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Dalam Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra.

B. Latar Belakang
Beberapa waktu yang lalu kita terhenyak oleh berita tentang kejadian penembakan yang cukup menghebohkan karena dilakukan oleh seorang anggota

Polisi. Beberapa kasus penyalagunaan senjata api (senpi) juga dilaporkan pernah terjadi sebelumnya seperti penembakan dan bunuh diri yang dilakukan oleh anggota Polri dengan senpi miliknya merupakan fenomena yang menjadi perhatian serius pimpinan Polri. Menurut Leksono (2007:10) bahwa perhatian masyarakat yang besar terhadap kasus ini merupakan reaksi yang sangat wajar mengingat besarnya harapan masyarakat terhadap Polri sebagai aparat yang harus mampu memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat bukannya malah bertindak brutal dengan senpi yang seharusnya digunakan sebagai alat untuk melindungi dan mengayomi masyarakat.
Dengan munculnya kasus-kasus penyalahgunaan senpi oleh anggota Polri tersebut banyak faktor yang perlu diperhatikan dan dianalisis secara lebih cermat. Beberapa diantaranya adalah apakah selama ini proses rekruitmen melalui tes psikologi sudah berjalan dengan benar, apakah pembinaan personel Polri sudah berjalan dengan baik, apakah proses untuk mendapatkan senjata api oleh anggota Polri sudah sesuai dengan aturan yang ada, apakah psikotes bagi anggota Polri yang memakai senjata api sudah dilakukan dan apakah pengawasan anggota yang menggunakan senjata api sudah dilakukan dengan benar. Dari pernyataan tersebut tentunya perlu dianalisa secara menyeluruh oleh seluruh jajaran Polri.
Pada umumnya pendapat masyarakat memang mencerminkan perhatian terhadap peran psikologi, hal tersebut didasari adanya asumsi bahwa penerapan tes psikologi pasti berhasil menjaring anggota Polri yang santun dan berkepribadian baik. Tes psikologi atau psikotes pada dasarnya merupakan suatu upaya diagnostik yang dilakukan oleh psikolog guna mengungkap gambaran potensi yang dimiliki oleh seseorang melalui pemberian persoalan-persoalan tertentu.
Lubis dalam Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2006:5) mengemukakan konsep pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat di Indonesia telah mengalami perubahan-perubahan cukup signifikan, yaitu bahwa peran dan tugas Polri tidak semata-mata sebagai aparat keamanan tapi Polisi Sipil yang mandiri dan profesional. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, tentunya berdampak juga terhadap sistem perekrutan sebagai entry point untuk berperan sebagai Polisi.
Bayley dalam Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2006:4) menyatakan bahwa Polisi masa depan adalah Polisi yang dapat melaksanakan tugasnya dengan baik (dalam arti menumpas kejahatan dan meniadakan rasa takut dan cemas di masyarakat) hanyalah “Polisi yang cerdas, sekaligus trampil dan cekatan, yang mampu memanfaatkan local resources to prevent the crime”.
Paradigma pada saat ini, Polisi belum mencerminkan sosok Polisi sesuai dengan definisi di atas. Tabah berpendapat dalam Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2006:4) mengatakan, bahwa pada saat ini masih dirasakan adanya tindakan-tidakan anggota Polri yang belum mencerminkan bentuk-bentuk perlindungan, pengayoman dan layanan kepada masyarakat melainkan muncul wajah penguasa, kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Bertitik tolak dari definisi di atas serta kenyataan yang ada pada saat ini, dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan perekrutan Polisi perlu dikaji terlebih dahulu mengenai sosok anggota Polri yang sesuai dengan tugas yang akan dihadapinya. Penelitian ini merupakan langkah awal dalam mengkaji Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra. Untuk itu telah dilakukan pengkajian sosok profesional Bintara Polri yang hendak dijabarkan dalam bentuk kompetensi-kompetensi.
Dalam pengertian sistem perekrutan di atas, proses seleksi terdiri atas tahapan-tahapan yang harus diikuti secara ketat. Tahapan-tahapan seleksi ini dilakukan dalam rangka mencocokan karakteristik pelamar dengan tuntutan pekerjaan. Kriteria seleksi di dalam tahapan di atas menggambarkan karakteristik yang harus dimiliki oleh pelamar agar ia dapat bekerja dengan baik.
Mengacu pada pengertian maka Menurut Leksono (2007:11), mengemukakan bahwa manfaat dari psikotes bervariasi sesuai dangan tujuan penerapan psikotes itu sendiri, mulai dari proses rekruitmen pegawai/karyawan, seleksi dalam pengembangan atau promosi jabatan, analisa tingkat kecerdasan (IQ), identifikasi adanya potensi ganguan kejiwaan, identifikasi stabilitas emosi dan kematangan kepribadian bagi calon anggota Polri.
Berpijak dari hal di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Deskripsi Hasil Tes Psikologi Calon Siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Dalam Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra ”.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana deskripsi hasil tes psikologi calon siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 dalam Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra ?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi hasil tes psikologi calon siswa Bintara Gelombang II Polri TA. 2007 dalam Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Institusi Polri, diharapkan dapat menjadi awal prioritas kebijakan dalam proses rekruitment melalui tes psikologi dalam menciptakan anggota Polri yang handal dan sesuai dengan harapan masyarakat.
2. Sebagai bahan masukan bagi Sekolah Polisi Negara (SPN) Anggotoa sebagai sekolah pendidikan pembentukan Brigadir Polri dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) personel Polri yang semakin cerdas, berbudaya, berakhlak dan bermoral tinggi, serta inovatif dalam menjawab berbagai tantangan tugasnya.
3. Bagi peneliti bidang yang sejenis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan dalam mengembangkan penelitian selanjutnya.

F. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi kekeliruan dalam menafsirkan istilah pada penelitian ini, maka diberikan definisi operasional sebagai berikut :
1. Hasil tes psikologi adalah dokumentasi hasil pelaksanaan tes psikologi yang mengunakan instrumen tes seleksi khusus Bintara, yang diberi nama Instrumen Tes Ba-CerDas yang terdiri atas 3 (tiga) rangkaian alat tes, yaitu : Kecerdasan, Kecermatan, dan Kepribadian.
2. Calon Siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 adalah Calon Siswa yang dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti Tes Psikologi dalam Perekrutan Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Polda Sultra.
3. Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra adalah kesatuan dari proses dan kelengkapan baik yang berwujud institusi, peraturan, personel, sarana dan prasarana maupun instrumen yang bersama-sama berfungsi untuk melaksanakan proses perekrutan Bintara Polri Polda Sultra.





G. Kajian Pustaka
1. Hasil Tes Psikologi
a. Pengertian Tes
Menurut Depdikbud (1999:1050) tes adalah ujian secara tertulis, lisan, atau wawancara untuk mengetahui pengetahuan, kemampuan, bakat dan kepribadian seorang individu. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (2001:53) bahwa tes adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara atau aturan yang sudah ditentukan.
Menurut Arifin (1991:22) tes adalah suatu teknik atau cara dalam rangka melaksanakan kegiatan evaluasi, yang di dalamnya terdapat berbagai item atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau di jawab oleh anak didik, kemudian pekerjaan dan jawaban itu menghasilkan tentang prilaku anak didiknya tersebut. Jika rumusan ini dapat diterima, maka akan kita lihat sebagai aspek antara lain :
1. Tes merupakan suatu cara atau teknik dalam rangka melaksanakan kegiatan evaluasi.
2. Di dalam tes terdapat berbagai item atau serangkaian tugas yang harus dijawab dan dikerjakan oleh anak didik.
3. Hasil pekerjaan anak didik perlu diberi skor dan nilai.
Menurut Sudjana (1990:35), tes sebagai alat penilaian adalah pernyataan-pernyataan yang diberikan kepada siswa untuk mendapatkan jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tertulis) atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Sesungguhnya dalam batas tertentu tes dapat pula digunakan untuk mengukur atau menilai hasil belajar bidang efektif dan psikomotoris.
Dalam kamus Psichologi (1996:694-695), Tes adalah susunan pertanyaan/soal-soal yang sudah ditetapkan sebagai ukuran yang diberikan kepada suatu individu untuk tujuan pengukuran kecakapannya atau hasil dalam bidang yang diberikan. Lebih umumnya lagi, setiap pengukuran yang menghasilkan data kuantitatif seperti suatu tes yang tak ditetapkan sebagai ukuran yang diberikan di ruang kelas. Secara logis setiap pekerjaan dipergunakan untuk mengeluarkan pendapat agar supaya menaksirkan validitasnya (berlakunya).
Tes adalah salah satu wahana program penilaian pendidikan yang didefinisikan sebagai kumpulan butir soal yang jawabannya dapat dinyatakan dengan benar-salah sebagaimana yang dikemukakan Mudjijo, (1998:1). Teknik tes memang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan teknik lainnya, dalam usaha penilaian pendidikan, khususnya hasil belajar. Bahkan Joni dalam Mudjijo (1998:2) menyatakan bahwa jenis tes bentuk multiple choice merupakan bentuk tes yang sangat fleksibel. Demikian fleksibelnya, sehingga batas kemungkinan pemakaiannya itu adalah ditentukan oleh daya pikir dan cipta penyusunnya.
Sedangkan Furqon dan Cece Rakhmat dalam Mudjijo (1998:3-4) menyatakan bahwa memang tes memiliki kegunaan-kegunaan tertentu yang mungkin sulit dicapai oleh tehnik-tehnik lainnya. Pendapat ini sejalan dengan yang dikemukakan Tuckman dalam Mudjijo (1998:3), mengatakan kegunaan-kegunaan tes adalah :
1. Untuk mendukung obyektivitas pengamatan yang dilakukan guru.
2. Untuk menimbulkan perilaku di bawah kondisi yang relatif terkontrol.
3. Untuk mengukur sampel kemampuan individu (siswa).
4. Untuk memperoleh kemampuan-kemampuan dan mengukur hasil yang sesuai dengan tujuan dan tolok ukurnya.
5. Untuk mengungkapkan perilaku dan tidak kelihatan.
6. Untuk mendeteksi karakteristik dan komponen-komponen perilaku.
7. Untuk meramalkan perilaku yang akan datang.
8. Untuk menyediakan data sebagai umpan balik dan membuat keputusan.
Apabila tes itu sudah dipersiapkan dan dilaksanakan dengan secermat dan sebaik mungkin, maka informasi yang dihasilkan dapat menunjukan sejauh mana tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan itu tercapai. Informasi dan data dari pelaksanaan tes tersebut, juga dapat menunjukan beberapa karakteristik perilaku peserta didik, dalam arti yang telah mereka kuasai dan apa yang belum mereka kuasai. Selain itu informasi tersebut dapat dijadikan balikan untuk meningkatkan dan menyempurnakan proses belajar-mengajar yang telah dilakukan, serta mempertimbangkan tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan.
Hendrojuwono (1988:13) juga menyatakan bahwa tes merupakan suatu alat penelitian yang penting dalam pengukuran segala jenis kemampuan, minat, sikap dan kecakapan manusia. Tes ini memungkinkan psikolog memperoleh sejumlah besar data dari individu atau kelompok individu dengan sesedikit mungkin mengganggu kehidupan rutinnya dan tanpa menggunakan peralatan laboratorik. Pada hakekatnya tes adalah penyajian suatu situasi yang sama kepada suatu kelompok individu yang berbeda aspek-aspeknya yang berkaitan dengan situasi itu, misalnya berbeda kecerdasan, keterampilan, rasa cemas dan kemampuan persepsinya. Analisis terhadap hasil tes itu akan menghubungkan keanekaragaman skor tes dengan keanekaragaman manusia.
b. Pengertian Psikologi
Istilah psikologi berasal dari perkataan psychologie (Bahasa Belanda, dibaca psikholokhi) atau psychology (Bahasa Inggris, dibaca saikoloji). Istilah psikologi, psychologie dan psychology berakar dari dua kata, yaitu psyche dan logos. Psyche berarti jiwa, sedangkan logos bermakna ilmu. Mahmud (1989:1) menyatakan dari pengertian ini orang lalu dengan mudah mendefinisikan psikologi itu sebagai ilmu jiwa.
Kartono (1990:1-2) mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan kehidupan psikis (jiwani) manusia. Beberapa ahli juga mengemukakan pengertian psikologi sebagai berikut :
1. Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang aktivitas manusia (behaviorisme radikal).
2. Psikologi sebagai psikologi filsafat menurut Plato pada tahun lebih kurang 400 SM, berarti : Ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat, hakikat dan hidup jiwa manusia (psyce = jiwa; logos = ilmu pengetahuan).
3. Psikologi menurut aliran ilmu-ilmu pengetahuan alam/empiris dan arasionalisme abad XVII ialah : Ilmu pengetahuan yang mempelajari kesadaran atau gejala-gejala kesadaran.
4. Psikologi menurut aliran psikologi dalam (Freudianisme) ialah ilmu yang mempelajari baik gejala-gejala kesadaran maupun gejala-gejala ketidaksadaran serta gejala-gejala di bawah sadar.
5. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dimana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya. Pelaksanaan secara ilmiah daripada psikologi dilakukan dengan jalan: mengumpulkan dan mencatat secara teliti tingkah laku manusia selengkap mungkin, dan berusaha menjauhkan diri dari segala prasangka. Sehingga orang mendapatkan jawaban yang terpercaya mengenai berbagai pertanyaan teoritis dan praktis (Robert S. Wood-worth).
6. Psikologi menurut Mac Dougall pada awal ke-20 ialah : ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia atau human behaviour. Karena itu psikologi digolongkan dalam aliran behaviorism. Aliran ini diwakili oleh tokoh-tokoh Mac Dougall, Thorndike, dan Waston dari Amerika Serikat dan A. Povlov serta Von Bechterew dari Rusia.
Mahmud (1989:12) menyatakan psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang garapannya terutama adalah teori-teori tingkah laku beserta verifikasinya. Karena itu fungsi psikologi ialah :
1. Menciptakan kondisi dan situasi penelitian yang akurat dan tepat.
2. Menyimpan catatan-catatan respon tingkah laku yang terperinci dan akurat.
3. Mengevaluasi data secara cermat.
4. Menginterpretasi hasil-hasil penelitian secara objektif.
5. Merumuskan prinsip-prinsip psikologi yang adekuat, dan
6. Menguji validitas prisip-prinsip tingkah laku melalui eksperimentasi yang terus menerus.
c. Tes Psikologi
Tes psikologi adalah alat ukur yang obyektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu serta dibuat atas sampel yang kecil namun dipilih secara hati-hati dari perilaku seorang individu, berfungsi untuk mengukur perbedaan-perbedaan antara individu-individu atau antara reaksi-reaksi individu yang sama dalam situasi yang berbeda (Anastasi, 1997:3).
Konstribusi tes psikologis dalam program layanan bimbingan karir di sekolah dalam aspek pemahaman diri merupakan layanan utama. Dengan pemahaman diri yang baik individu siswa akan dapat mengarahkan diri, dan membuat keputusan secara tepat dalam mewujudkan dirinya secara optimal. Pemahaman diri dapat diartikan sebagai suatu keadaan di mana individu siswa dapat secara mandiri mengenal berbagai aspek mengenai dirinya dengan jelas, nalar dan logis. Dikatakan secara mandiri itu berarti bahwa individu siswa dapat memahami dirinya secara sadar dan diterima oleh dirinya sendiri.
Seperti diketahui tidak semua orang mampu untuk mengenal dan memahami gambaran tentang dirinya atau dengan mudah mengenal berbagai aspek dalam dirinya. Dengan demikian pemahaman siswa terhadap dirinya akan membantu mereka dalam memilih suatu tindakan secara tepat, nalar dan logis, baik dalam kegiatan belajar, memilih program (jurusan), memilih pendidikan sambungan, memilih teman, memilih lapangan kerja dan sebagainya.
Tes psikologis memberi sumbangan (kontribusi) yang sangat berharga dalam membantu siswa mengenal kemampuan, potensi, bakat, minat kepribadian, dan prestasinya. Dengan memahami secara jelas bakat, kemampuan, potensi, minat kepribadian dan prestasinya mereka akan dapat secara jelas memahami kekuatan (kelebihan) dan kelemahan (kekurangan) dirinya sendiri. Mereka akan memggunakan sebagai dasar dalam pembuatan perencanaan dan keputusan karirnya di masa depan.
Tes dapat memberikan data untuk membantu para siswa dalam meningkatkan pemahaman diri (self-acceptance). Juga, hasil pengukuran psikologis dapat digunakan siswa untuk meningkatkan persepsi dirinya secara optimal dan mengembangkan eksplorasi dalam beberapa bidang tertentu. Di samping itu pengukuran psikologis berfungsi dalam memprediksi, memperkuat, dan meyakinkan para siswa. Dalam menyajikan fungsi-fungsi hasil pengukuran psikologis, tes psikologis dapat digunakan sebagai suatu alat prediksi, suatu bantuan diagnosis, suatu alat pemantau (monitoring), dan sebagai suatu instrumen evaluasi.
Berdasarkan keputusan yang akan diambil dalam pengukuran psikologis, menurut Nurkancana (1990:15-16) maka tes psikologis mempunyai fungsi-fungsi dan tujuan sebagai berikut :
1. Fungsi seleksi, yaitu untuk memutuskan individu-individu yang akan dipilih, misalnya tes masuk suatu lembaga kependidikan atau tes seleksi suatu jenis jabatan tertentu. Berdasarkan hasil-hasil tes psikologis yang dilakukan, pimpinan lembaga dapat memutuskan calon-calon pelamar yang dapat diterima dan menolak calon-calon lainnya.
2. Fungsi klasifikasi, yaitu mengelompokkan individu-individu dalam kelompok sejenis, misalnya mengelompokan siswa yang mempunyai masalah yang sejenis, sehingga dapat diberikan bantuan yang sesuai dengan masalahnya atau menggelompokkan siswa ke dalam program khusus tertentu.
3. Fungsi deskripsi, yaitu hasil tes psikologis yang telah dilakukan tanpa klasifikasi tertentu, misalnya melaporkan profil seseorang yang telah di tes dengan tes/inventori minat.
4. Mengevaluasi suatu treatment, yaitu untuk mengetahui suatu tindakan yang telah dilakukan terhadap seseorang atau sekelompok individu telah dicapai atau belum. Atau seberapa hasil yang ditimbulkan oleh suatu tindakan tertentu terhadap seseorang atau sekelompok orang. Misalnya seorang siswa yang mengalami kesulitan belajar diberikan remedial. Setelah remedial tersebut lalu diadakan untuk mengetahui apakah remedial yang diberikan sudah berhasil atau belum.
5. Menguji suatu hipotesis, yaitu untuk mengetahui apakah hipotesis yang dikemukakan itu betul atau salah. Misalnya seorang peneliti mengemukakan hipotesis sebagai berikut: makin terang lampu yang digunakan untuk belajar makin baik prestasi belajar yang akan dicapai. Untuk menguji betul tindakan hipotesis yang dikemukakan itu dapat dilakukan suatu eksperimen. Dan akhir eksperimen dilakukan tes.
Tujuan pengukuran psikologis dalam bimbingan karir siswa adalah sebagai berikut:
1. Agar siswa mampu mengenal aspek-aspek dirinya (kemampuan, potensi, bakat, minat, kepribadian dan sikap).
2. Dengan mengenal aspek-aspek dirinya diharapkan siswa dapat menerima keadaan dirinya secara lebih objektif.
3. Membantu siswa agar mampu mengemukakan berbagai aspek dalam dirinya.
4. Membantu siswa agar dapat mengelola informasi dirinya.
5. Membantu siswa agar dapat menggunakan informasi dirinya sebagai dasar perencanaan dan pembuatan keputusan masa depan.
6. Membantu orang tua untuk mengenal anaknya.
7. Membantu guru dalam merencanakan dan mengelola pengajaran.
8. Membantu Kepala Sekolah dalam menetapkan suatu kebijakan.
9. Untuk membantu layanan bimbingan dan konseling seperti bahan diagnosa (baik diagnostik kesulitan belajar maupun diagnostik kesulitan pribadi lainnya).
Pada saat ini ilmu psikologi semakin dirasakan manfaatnya oleh sektor pendidikan. Dari bantuan ilmu ini akan dapat diprediksi kondisi kejiwaan dan potensi yang ada pada peserta didik. Salah satu cara untuk mengungkapnya adalah dengan tes psikologi atau lebih populer disebut psikotes. Dari tes ini akan dapat terukur antara lain: tingkat kecerdasan, bakat, minat dan kepribadian serta memberikan arah kelanjutan studi. Pengukuran beberapa aspek tersebut merupakan usaha yang sangat penting dalam usaha memaksimalkan prestasi belajar siswa. Hasil tes ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam menentukan berbagai macam kebijakan pendidikan dan sebagai data yang akurat bagi stake horders dunia pendidikan (guru, murid, orang tua, dan lain-lain) dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM.
Psikotes sering diasumsikan sebagai tes mengukur tingkat kecerdasan/intelegensi question (IQ). Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun psikotes tak hanya mengukur inteligensi, tapi juga kepribadian seseorang. Menurut psikolog perkembangan anak dari Universitas Paramadina, Masykouri (2007), menyatakan bahwa psikotes merupakan istilah lain dari tes-tes psikologis yang dimaksudkan untuk mengetahui, menganalisa dan memahami aspek psikologis individu yaitu inteligensi dan atau sosial-emosi. Setiap tes memiliki tujuan dan penggunaan yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan. Psikotes untuk orang dewasa berbeda dengan psikotes untuk anak-anak, baik isi maupun metode pengetesannya.
Secara umum lanjut Alzena, terdapat dua skala terstandardisasi, yaitu skala Wechsler dan skala Stanford-Binet (SB). Aspek-aspek kecerdasan yang diukur, misalnya aspek pengetahuan umum, logika, dan pemahaman bahasa. Seringkali juga dimasukkan aspek kepribadian yang mengukur motivasi, emosi, dan ketekunan. Untuk setiap aspek psikologi terdapat cara pengetesan yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak. Untuk mengetahui kemampuan inteligensi dilakukan tes yang meliputi aspek psikologis, keterikatan terhadap tugas, dan aspek perkembangan sosial. Yang biasa diukur dan dianalisis pada aspek psikologis adalah kemampuan berpikir yang terdiri atas daya tangkap, minat terhadap lingkungan, konsentrasi, abstraksi verbal, kemampuan analisis sintesis, dan kemampuan numerik. Tes aspek keterikatan terhadap tugas (task commitment) meliputi inisiatif, daya tahan, ketelitian,dan kecekatan. Sedangkan tes aspek perkembangan sosial menelaah pemahaman nilai sosial, penyesuaian diri, dan kematangan emosi.
Menurut Winarno (2007), ada tiga aspek pokok yang diungkap dalam psikotes. Pertama, aspek kecerdasan umum atau intelegensi. Untuk mendeteksi kemampuan ini digunakan alat tes yang memancing kemampuan intelegensi umum (general factor) dan kemampuan khusus (specific factor). Tes yang digunakan bisa berupa tes verbal, non verbal dan performance. Kedua, aspek karakteristik/perilaku kerja, yang meliputi berbagai unsur, antara lain kecepatan, ketelitian, perencanaan dan semacamnya sesuai dengan kebutuhan khusus pekerjaan. Aspek ini bisa terlihat dari keseluruhan hasil tes. Ketiga, aspek kepribadian, yang biasanya mencerminkan sisi-sisi unik atau kekhasan seseorang. Untuk menggali aspek kepribadian ini dibutuhkan ketajaman dan kepekaan psikolog. Selain itu, pengalaman yang memadai juga dibutuhkan untuk menghindari hal-hal yang subyektif, misalnya marah atau tersinggung oleh ulah pelamar. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan integritas yang tidak bisa dipisahkan secara segmentatif. Hasil dari ketiga aspek ini, nantinya akan menentukan “kualitas” seseorang.
Winarno menambahkan psikotes itu sendiri berupaya menangkap sisi kepribadian seseorang, sehingga dibutuhkan spontanitas dan orisinalitas respon/jawaban. Hal tersebut dibutuhkan agar hasil yang diperoleh bisa mendekati akurasi kepribadian yang sebenarnya. Pertama-tama tentu kita harus tahu jenis-jenis psikotest itu.
1. Tes IQ; biasanya contoh soal-soal ini dapat mudah didapatkan di toko buku. Tes kecerdasan ini melibatkan serangkaian soal matematika dalam istilah tesnya tes verbal dan non verbal. Angka dan bahasa merupakan bagian dari tes ini. Namun tes IQ memang dibuat standar agar bisa dilakukan setiap orang.
2. Tes Kepribadian; di dalam tes ini akan dihadapkan kepada serangkaian pertanyaan mengenai berbagai dilema dalam pekerjaan, seperti bagaimana menghadapi konflik, bagaimana bekerja sama dan bagaimana solusi jika menghadapi suatu dilema. Dari sini dapat dikaji, seberapa jauh kemampuan bekerja dalam tim dan apakah termasuk orang yang “hangat” dalam pergaulan dan tidak “kaku”.
3. Tes Kemampuan; akan diuji serangkaian tugas di bawah tekanan tinggi, apakah masih bisa melakukannya. Biasanya tes kemampuan ini mengkondisikan dalam suasana penuh tekanan tetapi harus menyelesaikan soal dengan cepat. Bisa bentuknya angka atau permainana kata-kata. Bisa pula berupa grafik dan bentuk-bentuk tiga dimensi.
4. Tes Kreatifitas; biasanya akan diminta menulis atau menggambarkan sesuatu. Pada salah satu tes diminta melanjutkan gambar dari enam kotak yang sudah ada. Lanjutkan dengan ilustrasi yang baik semaksimal mungkin. Satu lagi tes final biasanya diminta menggambar.
Menurut Leksono (2007:10-12), sesuai dengan psikotes tersebut maka aspek psikologi yang diukur maupun instrumen tes yang dipergunakan juga akan berbeda. Pelaksanaan psikotes sendiri pada umumnya dilakukan dengan metode tes tertulis dan sebagai bentuk pendalaman (inquiry) terhadap tes tertulis yang didapatkan. Analisa dan hasil pemeriksa psikologi dapat berupa hasil yang bersifat kuantitatif (berupa skor dalam skala tertentu) dan hasil yang bersifat kualitatif (yang menjelaskan dinamika psikologis saling berkaitan aspek psikologi yang diukur) maupun kombinasi keduanya. Hasil kuantitatif pada umumnya digunakan secara terbatas pada psikotes yang mengharapkan hasil kesimpulan relatif cepat dan memberikan keputusan tegas, seperti halnya dalam proses rekruitmen atau seleksi. Sedangkan hasil yang bersifat kualititatif pada umumnya diperlukan secara proses penelusuran potensi dalam seleksi pengembangan atau promosi, analisa potensi diri, analisa klinis dugaan adanya gangguan-gangguan kejiwaan tertentu dan sebagainya.
Dengan pelaksanaan tes yang benar, analisa yang menyeluruh, materi tes yang valid dan reliabel harapan diperolehnya hasil pengukuran yang tepat cukup menjanjikan. Namun demikian tentu saja pemahaman yang harus diletakkan terhadap hasil pengukuran tersebut adalah bahwa aspek psikologis yang diukur tersebut masih mungkin akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti lingkungan sosial atau lingkungan individu dalam jangka waktu tertentu.





2. Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra
Mndy dan Robert M. Neo dalam Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2006:4), sistem perekrutan adalah kesatuan dari proses dan kelengkapan baik yang berwujud institusi, peraturan, personel, sarana dan prasarana maupun insrumen yang bersama-sama berfungsi untuk melaksanakan proses perekrutan. Pernyataan sistem perekrutan di atas merupakan gabungan dari kegiatan recruiting strategy, recruiting decisions, strategic recruiting decisions dan decisions on recruting sources/methods.
Sejalan dengan pendapat itu, Tabah dalam Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2006:3) yang menyatakan bahwa era reformasi membawa perubahan bagi bangsa Indonesia dan perubahan ini terjadi juga di dalam Polri. Terkait perubahan ini diharapkan muncul paradigma baru bagi Polri, yaitu Polri yang tangguh yang berperan sebagai institusi terdepan untuk menegakkan supermasi hukum. Upaya-upaya yang telah dilakukan Polri untuk menuju paradigma baru ini adalah dengan melakukan reformasi dalam hal mengubah filosofi Sapta Marga ke Tri Brata, doktrin pendidikan dari pembentukan Prajurit Pejuang yang Dwiwarna Purwa Cendikia Wusana ke pembentukan personil Polri yang mahir, terpuji dan taat hukum, pembenahan sistem rekruitmen untuk calon Bintara dengan memberikan delegasi penyaringan kepada Kapolda.
Berkaitan dengan sistem perekrutan, terdapat tiga aspek besar yang menjadi kajian penelaahan lebih jauh Mabes Polri dalam Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2006:3) yaitu :
1. Aspek Kultural: Perekrutan dengan mengunakan prinsip local boy for local job merupakan langkah pembaharuan dalam Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra. Calon Bintara dipilih dan diseleksi sesuai dengan pemahaman mengenai sosialisasi dan karekteristik masyarakat daerahnya.
2. Aspek Struktural: Proses sosialisasi untuk penerimaan calon Bintara Polri perlu dilakukan dengan penjelasan mengenai peluang karir dan sistem pembinaan karir yang berlaku, dengan entry level adalah Bintara.
3. Aspek Instrumental: Perangkat administrasi dan istrumen seleksi yang terstandarisasi, sarana dan prasarana serta melibatkan instansi di luar Polri untuk membantu proses perekrutan.
Saratri (nasional-m@polarhome.com, saratri Wilonoyudho, sistem perekrutan anggota Polri, 17 September 2002) beropini bahwa proses perekrutan para anggota Polri selama ini ditengarai tidak profesional. Hal ini terlihat dari calon anggota Polri yang postur tubuhnya rata-rata kecil dan terkesan wajah dan pandangan matanya tidak meyakinkan, sehingga kita akan sampai pada kesimpulan yang sama, bagaimana negara ini akan ditegakkan jika kondisi para calon aparat penegak hukum seperti itu. Wajar jika masyarakat tetap curiga bahwa kebanyakan perekrutan para anggota Polri dilakukan tidak mengikuti prosedur standar yang baku.
Menurut Rekless dalam Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2006:6) untuk mewujudkan sistem dan organisasi Kepolisian yang kuat, serta menciptakan model sistem perekrutan yang sesuai untuk Bintara Polri dalam menghadapi paradigma baru terdapat empat aspek yang perlu dicermati :
a. Motivasi yang kuat (well motivated).
b. Pengalaman dan pendidikan yang baik (well educated).
c. Cukup terlatih (well trained).
d. Peralatan yang lengkap (welfare) [sic].
Winarto pada sambutannya dalam seminar dan lokakarnya tentang pengembangan sistem dan instrumen perekrutan Bintara Polri (2004), menyatakan agar diperoleh sosok Bintara Polri yang profesional diperlukan sistem dan instrumen perekrutan yang :
a. Bersih dari segala intervensi, isu, suap.
b. Dapat menjaring bibit unggul putra daerah.
c. Bersikap pro-sosial.
Secara lebih spesifik sosok Bintara Polri diharapkan mempunyai ciri-ciri :
a. Memiliki jiwa sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.
b. Berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela.
c. Senantiasa hadir di setiap kegiatan masyarakat
Atas dasar kajian teoretik dan kajian terhadap kondisi lingkungan Polri, maka dalam penelitian ini dikembangkan sistem perekrutan Bintara yang memenuhi kreteria sebagai berikut :
a. Adil dan obyektif
1. Menjamin bahwa calon yang diterima adalah yang benar-benar memenuhi persyaratan.
2. Menjamin seleksi yang bebas kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN).
3. Menjamin instrumen seleksi yang valid dan reliabel.
b. Efektif
Menjamin bahwa calon yang akan mendaftarkan diri pada seleksi penerimaan anggota Polri adalah mereka yang potensial dan berminat.
c. Efisien
Menciptakan proses rekrutmen yang tidak menghabiskan biaya yang tidak diperlukan dan dilihat sebagai biaya murah baik dari sudut penyelenggaraan maupun peserta seleksi.
d. Berkelanjutan
Sistem yang mampu mempertahankan kelangsungan penggunaan instrumen untuk seleksi (dilakukan pemutakhiran/up-dating secara terus menurus/continue).
Dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Biro Personel Polda Sultra pada kegiatan Pengembangan SDM Kepolisian (2006:15-17) rekruitment anggota baru Polri harus dijaring dari calon yang lebih berkualitas terutama aspek moral kepribadian dan intelektual, baik untuk memenuhi kebutuhan Perwira melalui Akademi Kepolisian (AKPOL) dari sumber S-1/setingkat, maupun Bintara Polri, melalui proses werving yang dilakukan secara proporsional, bersih, transparan dan objektif, dengan melibatkan pihak luar untuk membantu mengawasi pelaksanaannya serta menghilangkan segala bentuk intervensi dan pungutan.
Mewujudkan kultur Polri yang sesuai dengan tuntutan masyarakat demokratis, yang mampu melaksanakan tugas sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat dengan senantiasa menjunjung tinggi hak asasi manusia, melalui pembenahan sistem pendidikan Polri terutama diarahkan pada aspek tenaga pendidik dan kurikulum demi menanamkan rasa ikhlas dan peduli kepada lingkungan serta pola hidup hemat dalam perilaku sehari-hari, bersih dari KKN, menanamkan disiplin pribadi, serta mengaplikasikan nilai-nilai yang terdukung dalam Tribrata, Catur Prasetya serta Etika Kepolisian dalam perilaku kehidupan sehari – hari.
Penyempurnaan sistem pendidikan Polri disusun berdasarkan filosofi mahir, terpuji dan patuh hukum, yang dapat menggambarkan secara jelas jenjang/struktur maupun jenis pendidikan dan kompetensinya dilingkungan Polri, yang mampu mengembangkan pengetahuan dan sikap perilaku untuk membentuk jati diri Polri yang profesional, beradab, bermartabat dan menjunjung tinggi HAM.
Polri mendefinisikan dalam 3 bidang perubahan yang diperlukan untuk membenahi diri yaitu bidang struktural, instrumental dan kultural. Dari ke tiga perubahan tersebut, nampaknya cukup berat adalah perubahan kultural terutama berkaitan dengan perubahan perilaku anggota Polri yang cenderung berperilaku sebagai penguasa diubah sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Polisi diharapkan merubah diri sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat yaitu Polisi dengan paradigma Polisi Sipil. Karena itu dikembangkan suatu instrumen tes seleksi khusus Bintara, yang diberi nama Instrumen Tes Ba-CerDas (= Bintara Cerdas = KepriBAdian, keCERmatan, dan kecerDASan). Makna dari Ba-CerDas adalah Bintara Cerdas dengan kepribadian baik dan memiliki kecermatan dalam bekerja. Ba Cerdas ini sesuai dengan namanya terdiri atas 3 (tiga) rangkaian alat tes, yaitu : Kecerdasan, Kecermatan, dan Kepribadian. Sebagaimana dikemukakan oleh Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2005:4).

H. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang mendeskripsikan hasil tes psikologi calon siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 dalam Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra.

2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Bagian Psikologi Biro Personel Polda Sultra pada bulan November 2007.

3. Populasi
Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan teliti. Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh calon siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Polda Sultra yang dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti tes psikologi yang berjumlah 666 peserta terdiri dari 647 peserta Pria dan 19 peserta Wanita.

4. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen dalam penelitian ini adalah dokumentasi hasil pelaksanaan tes psikologi yang mengunakan instrumen tes seleksi khusus Bintara, yang diberi nama Instrumen Tes Ba-CerDas yang terdiri atas 3 (tiga) rangkaian alat tes, yaitu : Kecerdasan, Kecermatan, dan Kepribadian.

5. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini dikenal dengan satu variabel yaitu hasil tes psikologi calon siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Polda Sultra yang disimbolkan dengan X yang terdiri dari :
X1 = Hasil Tes Kecerdasan
X2 = Hasil Tes Kecermatan
X3 = Hasil Tes Kepribadian

6. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini menggunakan data dokumentasi yaitu mengambil nilai hasil tes psikologi calon siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Polda Sultra, kemudian nilai tes inilah yang dikumpulkan menjadi data pada penelitian ini.

7. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh dari setiap variabel dianalisa dengan menggunakan statistik deskriktif dengan maksud untuk mendekripsikan karakteristik data penelitian berupa presentase, minimum, maksimum, median, modus, standar deviasi dan rata-rata. Untuk mengetahui hasil tes psikologi calon siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Polda Sultra dengan mengunakan pedoman penilaian sebagai berikut :
Tinggi :
Sedang :
Rendah : (Anonim, 1999:1)
Dimana X adalah hasil tes psikologi calon siswa Bintara Polri Gelombang II TA. 2007 Polda Sultra.







DAFTAR PUSTAKA

Anastasi, Anne. 1997. Tes Psikologi Jilid I. Jakarta: PT. Prenhallindo.
Anonim. 1999. Buku Laporan Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
_______. 2007. Perlunya Profesi Polisi Berlandas Etika. Jakarta: Jagratara.
Anshari, Hafi H. M. 1996. Kamus Psichologi. Surabaya: Usaha Nasional.
Arifin, Zainal. 1991. Evaluasi Instruksional Prinsip-Prinsip Prosedur. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Hendrojuwono, Wisnubrata. 1988. Pengantar Psikologi. Bandung: UPT. Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.
Winarto H. 2004. Seminar dan Lokakarnya tentang Pengembangan Sistem dan Instrumen Perekrutan Bintara Polri. Jakarta: Mabes Polri.
Kartono, Kartini. 1990. Psikologi Umum. Bandung: CV Mandar Maju.
Leksono, Untung. 2007. Psikotes, Senjata Api dan Perilaku Anggota Polri. Jakarta: Jagratara.
Mahmud, Dimyati, M. 1989. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Masykouri, Alzena. 2007. Psikotes, Sertifikat Mutlak Kemampuan Anak ?. http://www.inspiredkidsmagazine.com/ (04 Mei 2007).
Mudjijo. 1998. Tes Hasil Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Mustafa, Hasan. 2000. Teknik Sampling. http://www.geogle.com/ (04 Mei 2007).
Nurkancana, Wayan. 1990. Pemahaman Individu. Surabaya: Usaha Nasional.
Sudjana, Nana. 1990. Penilaian Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tim Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. 2005. Manual Instrument Tes Psikologi Seleksi Calon Bintara Polri. Jakarta: Partnership Kemitraan.
_______. 2006. Laporan Penelitian Pengembangan Sistem Perekrutan Bintara Polri Polda Sultra. Jakarta: Partnership Kemitraan.
Tim Pokja Biro Personel. 2006. Rencana Strategis Biro Personel Polda Sultra Tahun 2005-2009 (Perubahan). Kendari.
Wilonoyudho, Saratri. 2002. Sistem Perekrutan Anggota Polri. http.//www.nasional-m@polarhome.com. (17 September 2002).
Winarno. 2007. Tips Menghadapi Psikotest. http://www.journalist-adventure.com/?p=89. (5 Maret 2007).


Baca Selengkapnya....

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION UNTUK

A. Judul :PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION UNTUK
MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMA PADA MATERI LISTRIK DINAMIS

B. Bidang : Kependidikan
C. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan merupakan usaha untuk menumbuhkembangkan

potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pembelajaran. Pendidikan yang dilaksanakan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan di Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara dihadapkan pada banyak masalah, salah satu diantaranya adalah rendahnya kualitas lulusan pendidikan formal. Salah satu faktor yang dapat diduga penyebab rendahnya mutu pendidikan di Sulawesi tenggara model pembelajaran yang diterapkan guru kurang sesuai dengan karakteristik pembelajaran fisika.
Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit dipahami oleh siswa yang ditandai dengan prestasi belajar siswa yang belum memberikan hasil yang memuaskan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa model pengajaran fisika yang diterapkan sejak awal hingga sekarang masih bersifat konvensional, dimana sistem penyampaiannya lebih banyak didominasi oleh guru yang gaya mengajarnya cenderung bersifat instruktif, serta proses komunikasinya satu arah. Guru memegang peran aktif dalam proses pembelajaran sedangkan siswa cenderung diam dan secara pasif menerima materi pelajaran, siswa juga kurang berani mengungkapkan gagasannya. Hal ini menyebabkan kreativitas dan kemandirian siswa mengalami hambatan dan bahkan tidak berkembang sehingga tidak sedikit siswa merasa terhambat proses kedewasaannya karena model pembelajaran yang digunakan guru melemahkan semangat belajar siswa.
Guru, pendidik dan innovator pendidikan terus berupaya melakukan perbaikan dan perubahan dalam system pembelajaran khususnya dalam kelas. Reformasi dalam pembelajaran perlu dibangun dan dikembangkan guna menciptakan suasana belajar yang lebih manusiawi,konstruksif, dan demokratis sehingga suasana interaksi kelas baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa itu sendiri dapat tumbuh dan berkembang. Peran guru sebagai instruktur perlu mengalami pergeseran menjadi fasilitator atau pemandu dalam belajar. Penciptaan suasana belajar yang demikian sangat memungkinkan tumbuhnya cara-cara belajar kerja sama sehingga model embelajaran kooperatif sangat perlu dikemangkan guna mencapai tujuan pembelajaran.
Slavin (1986) menelaah penelitian dan melaporkan bahwa 45 penelitian telah dilaksanakan antara tahun 1972 sampai dengan 1986, menyelidiki pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil pembelajaran. Studi ini dilakukan pada semua tingkat kelas dan meliputi bidang studi bahasa, geografi, ilmu sosial, sains, matematika, bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, membaca dan menulis. Dari 45 laporan tersebut, 37 diantaranya menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Delapan studi menunjukkan tidak ada perbedaan dan tidak satupun studi menunjukkan bahwa kooperatif memberikan pengaruh negative (Ibrahim, 2000:16).
Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa penyebab rendahnya prestasi belajar fisika di SMP adalah karena guru menggunakan model mengajar yang tidak sesuai dengan materi pelajaran dan biasanya guru hanya mengejar materi yang diajarkan sehingga siswa sulit untuk memahami/menguasai konsep materi pelajaran. Dalam penelitian ini, model mengajar yang biasa digunakan oleh guru dalam kegiatan sehari-hari disebut model mengajar konvensional.
Seorang guru/pengajar membutuhkan kejelian khusus dalam hal memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu model pembelejaran yang telah dicoba oleh Steven dan Slavin adalah model pembelajaran Cooperative Integrated Read and Composition (CIRC) yakni model pembelajaran yang dengan cara mengelompokkan dalam 4 kelompok yang heterogen dimana pada masing-masing kelompok diberikan wacana atau kliping sehingga akan terjadi proses diskusi, selanjutnya masing-masing kelompok mempersentasikan hasil diskusinya, dan guru kemudian memberikan kesimpulan.
Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa penyebab rendahnya prestasi belajar fisika di SMA adalah karena guru menggunakan model mengajar yang tidak sesuai dengan materi pelajaran dan biasanya guru hanya mengejar materi yang diajarkan sehingga siswa sulit untuk memahami/menguasai konsep materi pelajaran. Dalam penelitian ini, model mengajar yang biasa digunakan oleh guru dalam kegiatan sehari-hari disebut model mengajar konvensional. Pada observasi awal ditemukan bahwa prestasi belajar mata pelajaran IPA Fisika di SMA Negeri 4 Kendari yakni untuk nilai rata-rata IPA Fisika semester II tahun ajaran 2006/2007 yaitu kelas X1 =4,50; kelas X2 = 5,60 dan kelas X3 = 4,80 (Berdasarkan data dari dokumen/arsip sekolah).
Rendahnya prestasi belajar IPA Fisika di SMA Negeri 4 Kendari merupakan salah satu indikasi perlunya perbaikan model yang kurang tepat yang digunakan oleh guru, sehingga kita perlu mencari suatu alternatif lain atau model pembelajaran lain dalam proses belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang bisa memfasilitasi yaitu Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). model pembelajaran CIRC ini diadaptasikan dengan kemampuan peserta didik dalam proses pembelajarannya serta membangun kemampuan siswa untuk membaca dan menyusun rangkuman berdasarkan materi yang dibacanya, sehinngga dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang diajarkan, terutama dalam mengajarkan materi listrik dinamis. Model pembelajaran ini juga cocok bagi siswa yang merasa cepat jenuh dalam menerima pelajaran serta siswa yang memiliki daya ingat yang lemah.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian dengan judul : “ Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa SMA Negeri 4 Kendari pada materi listrik dinamis.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan penelitian ini adalah : “Apakah penggunaan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition dapat lebih meningkatkan pemahaman konsep siswa SMA kelas X pada materi listrik dinamis ?”
Rumusan masalah di atas dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tingkat perolehan (gain) hasil belajar siswa dalam hal pemahaman konsep, yang mendapatkan pengajaran listrik dinamis dengan model Cooperative Integrated Reading and Composition ?
2. Apakah penggunaan model Cooperative Integrated Reading and Composition dapat lebih meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi listrik dinamis ?
3. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition pada materi listrik dinamis?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendapatkan gambaran tentang tingkat perolehan (gain) hasil belajar siswa dalam hal pemahaman konsep, yang mendapatkan pengajaran listrik dinamis dengan model Cooperative Integrated Reading and Composition.
2. Memperoleh informasi tentang tingkat pemahaman konsep siswa pada materi listrik dinamis setelah pembelajaran dengan model Cooperative Integrated Reading and Composition.
3. Mendapatkan gambaran tentang tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition.
F. Manfaat Penelitian
Proses dan hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, terutama :
1. Bagi guru fisika, proses penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan suatu model pembelajaran dan uji implementesinya, sedangkan hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan untuk mengadopsi model CIRC dalam pembelajaran fisika di sekolahnya.
2. Bagi peneliti lain, proses dan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian, rujukan, atau pembanding bagi penelitian yang sedang atau yang akan dilakukan.
3. Hasil penelitian ini dapat memperkaya dan melengkapi hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan dalam kajian sejenis.
G. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya salah pemaknaan dari setiap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka secara operasional istilah-istilah tersebut didefinisikan seperti berikut :
1. Model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) didefinisikan sebagai salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang secara khusus didisain untuk pembelajaran matematika dan sains. Siswa mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas secara perorangan dalam kelompok kecil yang heterogen. Para siswa saling memeriksa pekerjaan dengan temannya dan membantu teman lainnya dalam mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas. Skor kelompok didasarkan pada jumlah satuan tugas yang dapat diselesaikan dan ketepatan pengerjaannya.
2. Pemahaman konsep didefinisikan sebagai kemampuan siswa dalam memahami konsep fisika dengan sebaik-baiknya, yang dapat ditunjukkan dengan kemampuan konseptual dan keterampilan aplikatif yang baik. Untuk mengukur pemahaman konsep siswa dilakukan dengan menggunakan tes konseptual.
H. Kerangka Teoritik
1. Model Pembelajaran
Tepat atau tidaknya suatu model pembelajaran yang digunakan dalam suatu proses pembelajaran di kelas, biasanya yang mengetahui adalah guru bidang studi itu sendiri. Untuk memilih model pembelajaran yang tepat, maka sangat penting untuk memperhatikan relevansinya dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai, dan kompetensi yang diinginkan. Dalam prakteknya semua model pembelajaran bisa dikatakan baik jika memenuhi prinsip prinsip berikut; Pertama, semakin kecil upaya yang dilakukan guru dan semakin besar partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran; kedua, semakin sedikit waktu yang diperlukan oleh guru untuk mengaktifkan siswa; ketiga, sesuai dengan cara belajar siswa yang dilakukan; keempat, dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru; kelima, tidak ada satupun metode yang paling sesuai untuk segala tujuan, jenis materi, dan proses belajar yang ada.
2. Hakekat Pembelajaran IPA
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada hakikatnya berfungsi untuk membangun pola berpikir sehingga dapat merubah pandangan manusia terhadap alam semesta. IPA memperoleh kebenaran secara empirik. Sedangkan kunci pendekatan empirik adalah proses pengamatan (observasi). Secara umum, IPA terdiri dari tiga komponen; pertama, sikap ilmiah yaitu kebenaran, nilai-nilai, gagasan atau pendapat, objek dan sebagainya, misalnya membuat suatu keputusan setelah memperoleh cukup data yang berkaitan dengan problemnya; kedua adalah metode ilmiah, yaitu metode yang biasanya diikuti oleh ilmuwan dalam memecahkan suatu masalah, dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) mengidentifikasi dan menyatakan suatu masalah, 2) merumuskan hipotesis, 3) merancang dan melaksanakan eksperimen, 4) melakukan observasi, 5) mengumpulkan dan menganlisis data, 6) mengulang kembali eksperimen untuk membuktikan kebenaran, 7) menarik kesimpulan; dan ketiga adalah produk ilmiah, yaitu antara lain konsep, prinsip dan teori ilmiah (Moh. Amin, 1987).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA pada hakekatnya dapat dipandang sebagai proses dan produk yang membelajarkan siswa untuk memahami hakekat IPA dan mengajarkan cara-cara untuk memperoleh fakta-fakta, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori melalui berbagai cara seperti yang ditempuh oleh para ilmuwan terdahulu dalam memperoleh pengetahuan.

3. Strategi pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah belajar secara bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lainnya dalam belajar, dan memastikan bahwa setiap siswa dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya. Falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif adalah falsafah homo homini socius. Falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial, kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup.
Slavin (1995) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan kecil siswa yang bekerja secara bersama untuk belajar dan bertanggung jawab atas kelompoknya. Gilbert Macmillan (dalam Achyar, 1988) menyatakan bahwa keunggulan–keunggulan pembelajaran kooperatif diantaranya adalah memberi peluang pada siswa agar mau menggunakan dan membahas suatu pandangan, serta siswa memperoleh pengalaman kerjasama dalam merumuskan suatu pendapat kelompok.
Terdapat berbagai jenis atau tipe pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan, antara lain :
a. Tipe STAD (Student Teams-Achievement Divisions)
Dikembangkan oleh Slavin pada tahun 1978. Guru menyajikan pelajaran kepada siswa yang kemudian berkumpul dalam kelompok-kelompok yang masing-masing kelompok beranggota empat sampai lima orang siswa untuk berdiskusi dan saling membantu satu sama lain mengisi lembar kerja tentang materi pelajaran yang disajikan. Setiap siswa memperoleh kuiz dan skor kelompok ditentukan oleh derajat peningkatan skor individu dari skor sebelumnya. Kelompok-kelompok yang mendapat skor tinggi diumumkan dalam suatu berita mingguan.
b. Tipe Teams-Games-Tournaments
Dikembangkan oleh De Vries dan Slavin pada tahun 1978. Setelah pelajaran disajikan oleh guru, siswa berkumpul dalam kelompok-kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari empat sampai lima orang anggota untuk berdiskusi dan saling membantu satu sama lain mempelajari materi pelajaran. Para siswa tidak memperoleh kuiz-kuiz secara individual. Melainkan, mereka berlomba dengan siswa-siswa pada kelompok lain yang memiliki prestasi yang sama agar mendapatkan poin-poin untuk kelompoknya.
c. Tipe Learning together
Dikembangkan oleh Johnson dan Johnson pada tahun 1975. Para siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas kelompok. Guru memotivasi siswa untuk saling ketergantungan satu sama lain secara positif, saling berinteraksi, memiliki tanggung jawab secara individu dan sosial serta melakukan kerja kelompok. Sebagai contoh, siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru akan dikembalikan kepada kelompoknya untuk menemukan jawabannya. Penskoran didasarkan pada kinerja individual dan kesuksesan kelompoknya, tetapi individu-individu dan kelompok-kelompok tidak bersaing lagi dengan yang lainnya.
d. Tipe Group investigation
Dikembangkan oleh Sharon pada tahun 1976. Para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok diberi tugas dan proyek yang khusus dan membuat keputusan penting tentang bagaimana mengolah informasi, mengorganisasikan dan menyajikannya. Pembelajaran tingkat tinggi (seperti mengaplikasikan, mensintesis, dan menyimpulkan) sangat ditekankan dalam tipe ini.
e. Tipe Jigsaw
Dikembangkan oleh Aronson pada tahun 1978. Setiap siswa menjadi anggota kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang siswa. Setiap siswa dalam kelompok diberikan informasi untuk memilih siswa kelompok ahli pada topik yang dipelajari. Siswa ahli dari setiap kelompok membaca materi pelajarannya dan kemudian berkumpul untuk mendiskusikan dan mensintesis informasi. Kemudian mereka kembali ke dalam kelompoknya masing-masing dan mengajarkan apa yang mereka ketahui kepada teman sekelompoknya. Para siswa mendapat kuiz secara individu dan skor kelompok yang diperoleh dipublikasikan dalam berita kelas.

f. Tipe Team-assisted individualized learning
Dikembangkan oleh Slavin pada tahun 1982. Tipe ini secara khusus didisain untuk digunakan dalam pembelajaran matematika. Siswa mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas secara perorangan dalam kelompok kecil yang heterogen. Para siswa saling memeriksa pekerjaan dengan temannya dan membantu teman lainnya dalam mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas. Skor kelompok didasarkan pada jumlah satuan tugas yang dapat diselesaikan dan ketepatan pengerjaannya.
g. Tipe CIRC (Cooperative integrated reading and composition)
Dikembangkan oleh Stevens, Madden, Slavin and Farnish pada tahun 1987. seperti halnya tipe team-assisted individualized learning, tipe ini didisain untuk mengakomodasi rentang tingkat kemampuan siswa yang lebar dalam suatu kelas dengan menggunakan teknik pengelompokan siswa dalam kelas secara heterogen dan homogen.
4. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu. Menurut Fogarty (1991), berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran terpadu dapat dikelompokkan menjadi: 1) model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model connected (keterhubungan) dan model nested (terangkai); 2) model antar bidang studi yang meliputi model sequenced (urutan), model shared (perpaduan), model webbed (jaring laba-laba), model theaded (bergalur) dan model integreted (terpadu); 3) model dalam lintas siswa. Kelebihan dari model pembelajaran terpadu atau (CIRC) antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak; 2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat siswa dan kebutuhan anak; 3) seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama; 4) pembelajaran terpadu dapat menumbuh-kembangkan keterampilan berpikir anak; 5) pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis (bermanfaat) sesuai dengan permasalahan yang sering ditemuai dalam lingkungan anak; 6) pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa kearah belajar yang dinamis, optimal dan tepat guna; 7) menumbuhkembangkan interaksi sosial anak seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain; 8) membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam mengajar (Saifulloh, 2003). Pembelajaran secara berkelompok merupakan proses yang kaya akan interaksi Face to-Face, Eye to Eye atau Knee to Knee, pertukaran informasi, umpan balik, kepercayaan, saling menerima pendapat, penghargaan kelompok, mengerjakan tugas kelompok baik dirumah maupun di kelas secara spesifik (Steven dan Slavin, dalam Anggela,1999).
Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik siswa berinteraksi sosial dengan lingkungan. Prinsip belajar terpadu ini sejalan dengan empat pilar pendidikan yang digariskan UNESCO dalam kegiatan pembelajaran. Empat pilar itu adalah ”belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam kebersamaan (Learning to live together), (Depdiknas, 2002).
Model pembelajaran CIRC atau pemebelajaran terpadu menurut pertama kali dikembangkan oleh (Steven and Slavin, 1981), dengan langkah-langkah;
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen.
2. Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran.
3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap wacana dan ditulis pada lembar kertas.
4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
5. Guru memberikan penguatan
6. Guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan
7. Penutup.
Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut:
a. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya.
b. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya.
c. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen.
5. Pemahaman Konsep
Menurut Bloom (1979), pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman merupakan hasil proses belajar mengajar yang mempunyai indikator individu dapat menjelaskan atau mendefinisikan suatu unit informasi dengan kata-kata sendiri. Dari pernyataan ini, siswa dituntut tidak sebatas mengingat kembali pelajaran, namun lebih dari itu siswa mampu mendefinisikan. Hal ini menunjukkan siswa telah memahami materi pelajaran walau dalam bentuk susunan kalimat berbeda tetapi kandungan maknanya tidak berubah. Pemahaman meliputi tiga aspek yaitu translasi, interpretasi dan ekstrapolasi.
a. Translasi, meliputi dua kemampuan : (a) menterjemahkan sesuatu dari bentuk abstrak ke bentuk yang lebih kongkret, (b) menerjemahkan suatu simbol kedalam bentuk lain seperti : menerjemahkan tabel, grafik, simbol matematik dan sebagainya.
b. Interpretasi, meliputi tiga kemampuan : (1) membedakan antara kesimpulan yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan, (2) memahami kerangka suatu pekerjaan secara keseluruhan, (3) memahami dan menafsirkan isi berbagai macam bacaan.
c. Ekstrapolasi meliputi tiga kemampuan: (1) menyimpulkan dan menyatakannya lebih eksplisit, (2) memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari tindakan yang digambarkan dari sebuah komunikasi, (3) sensitif atau peka terhadap faktor yang mungkin membuat prediksi menjadi akurat.
Menurut Rosser (dalam Dahar, 1996) konsep adalah suatu yang abstrak mewakili satu kelas obyek-obyek kejadian, kegiatan-¬kegiatan atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Oleh karena itu, orang mengalami stimulus yang berbeda-beda, orang membentuk konsep sesuai dengan pengelompokan stimulus dengan cara tertentu. Karena konsep itu adalah abstraksi berdasarkan pengalaman dan karena tidak ada dua orang yang memiliki pengalaman yang sama persis, maka konsep yang dibentuk orang berbeda juga. Walau berbeda tetapi cukup untuk berkomunikasi menggunakan nama-nama yang diberikan pada konsep itu yang telah diterima bersamanya. Menurut Dahar (1996), konsep merupakan kategori-kategori yang kita berikan pada stimulus yang ada di lingkungan kita. Konsep menyediakan skema terorganisasi untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori. Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip dan generalisasi.
Menurut Bloom (1979) pemahaman konsep adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan ke dalam bentuk yang lebih dipahami, mampu memberikan interpretasi dan mampu mengaplikasikannya. Pemahaman konsep adalah sebagai kemampuan siswa untuk memaknai ilmu pengetahuan secara ilmiah baik secara teori maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dilihat dari jawaban siswa melalui pretes dan postes (Slameto dalam Kaswan, 2005).
Pemahaman konsep sangat penting dimiliki oleh siswa yang telah mengalami proses belajar. Pemahaman konsep yang dimiliki oleh siswa dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang ada kaitannya dengan konsep yang dimiliki. Dalam pemahaman konsep siswa tidak terbatas hanya mengenal tetapi siswa harus dapat menghubungkan antara satu konsep dengan konsep lainnya.
I. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan Model Pemelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Untuk Meningkatkan Penguasaan Kosep Siswa SMA Negeri 4 Kendari Pada Materi Listrik Dinamis.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester 2 (genap) tahun ajaran 2007/2008 yang berlangsung pada bulan Maret sampi April 2008, yang bertempat di SMA Negeri 4 Kendari.
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII semester 2 SMA Negeri 4 Kendari yang terdaftar tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 40 orang.

4. Desain Penelitian
Penelitian tindakan kelas merupakan proses pengkajian melalui system berdaur atau siklus dari berbagai kegiatan pembelajaran. Menurut Rakajoni dalam Nur (2000) bahwa terdapat lima tahapan dalam PTK, yaitu: (a). pengembangan focus masalah penelitian, (b) perencanaan tindakan perbaikan, (c). pelaksanaan tindakan perbaikan, (d) analisis dan refleksi, dan (e). perencanaan tindak lanjut. Untuk melihat gambar dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas, maka dapat di lihat pada gambar desain penelitian berikut:























Gambar 1. Rancangan dan Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Tim Proyek PGSM, 1999:27)

6. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari tiga siklus, tiap faktor yang diteliti disesuaikan dengan siklus perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Untuk memantau pelaksanaan tindakan pada proses pembelajaran di kelas, maka dilakukan observasi terhadap aktivitas guru mata pelajaran fisika pada setiap siklus dan yang mengobservasi aktivitas siswa adalah teman peneliti yang terdiri atas 3 orang. Setelah selesai, peneliti melakukan evaluasi terhadap siswa dengan memberikan tes hasil belajar dalam bentuk essay dalam setiap siklus. Dan hasil analisis tes hasil belajar ini, maka peneliti melakukan interpretasi terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa baik secara individu maupun kelompok. Berdasarkan hasil analisis aktivitas dan hasil belajar siswa tersebut, maka peneliti melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang dilanjutkan pada tindakan selanjutnya sampai standar ketuntasan tercapai. Adapun pelakdanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas yaitu : (1) perencanaan,(2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan evaluasi, (4) refleksi. (Tim Proyek PGSM, 1999:78).
Secara lebih rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini sijabarkan sebagai berikut :
a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakkan pada tahap ini meliputi :
(i) Mengembangkan rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) beserta skenario tindakan yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CIRC.
(ii) Mengembangkan lembar observasi pengelolahan model pembelajaran CIRC meliputi lembar observasi penerapan model pembelajaran CIRC untuk guru dan lembar observasi aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
(iii) Menyiapkan media pembelajaran di antaranya buku paket fisika dan LKS.
(iv) Menyiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperukan di kelas.
(v) Menyiapkan instrument tes hasil belajar berupa tes essay yang digunakan pada akhir siklus
(vi) Mengembangkan alat evaluasi pada setiap siklus pembelajaran yang meliputi penilaian pada hasil belajar siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan pada tahap ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran CIRC materi listrik dinamis. Sesuai dengan rencana pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti pada tahap perencanaan pada siklus I sub materi Alat Ukur Listrik pada siklud II Hukum Ohm dan Hukum Kircchoff
c. Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar obsevasi yang telah dibuat. Proses observasi dilakukan sejak awal hingga akhir pelaksanaan tindakan. Kegiatan pada tahap ini terdiri dari :
(i) Pengamat mengamati pelaksanaan tindakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode pemevahan masalah.
(ii) Pengamat mengamatai aktivitas dan perilaku siswa serta peruahan sikap yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.
d. Evaluasi
Proses evaluasi dilaksanakan pada setiap menggu pada setiap akhir siklus tindakan. Evaluasi bertujuan untuk melihat apakah terjadi peningkatan hasil belajar siswa dan peningkatan aktivitas belajar siswa selama penerapan model pembelajaran CIRC. Alat evaluasi yang digunakan adalah tes hasil belajar dan lembar observasi aktivitas belajar siswa.
e. Refleksi
Kegiatan reflekasi bertjuan untuk menganalisis data pada setiap akhir siklus dengan prosedur analisis sebagai berikut : mereduksi data, menyajikan data dan menyimpulkan. Refleksi dilakukan terhadap seluruh hasil observasi untuk membuat/memperbaiki perencanaan sebelumnya dan menentukan tindakan pada tahap berikutnya. Kriteria keberhasilan tindakan ditetapkan sebagai berikut :
- Secara umum hasil belajar fisika siswa meningka dari pre-test ke post-test, dari siklus I ke siklus II, dan dari siklus II ke siklus III.
- Pada akhir siklus III telah memenuhi target yang telah ditetapkan pada indikator kinerja.

7. Indikator Kinerja
Indikator proses keberhasilan proses pelaksanaan tindakan kelas ini apabila rata-rata hasil belajar siswa secara individual telah mencapai ≥ 65 % dan secara klasikal ≥ 75 % (ketentuan dari sekolah)
8. Data dan Teknik Pengumpulan Data

a. Sumber Data : yaitu guru dan siswa
b. Jenis Data : Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data tersebut diperoleh dari tes hasil belajar dan lembar observasi.
c. Teknik pengambilan data :
(i) Data mengenai kondisi pelaksanaan model pembelajaran CIRC diambil dengan menggunakan lembar observasi.
(ii) Data mengenaihasil belajar sains fisika diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.
(iii) Data mengenai aktivitas siswa diambil dengan menggunakan lembar observasi

7. Instrumen Penelitian
Untuk keperluan pengumpulan data dibutuhkan suatu tes yang baik. Tes yang baik biasanya memenuhi kriteria validitas tinggi, reliabitas tinggi, daya pembeda yang baik, dan tingkat kesukaran yang layak. Untuk mengetahui karakteristik kualitas tes yang digunakan tersebut, maka sebelum dipergunakan seyogyanya tes tersebut diuji coba untuk mendapatkan gambaran validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukarannya. Langkah-langkah pengujian instrumen adalah sebagai berikut:
a. Validitas
Validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauhmana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Dalam bahasa Indonesia “valid” disebut dengan istilah “sahih”. Sebuah soal akan memiliki validitas yang tinggi jika skor soal tersebut memiliki dukungan yang besar terhadap seluruh soal yang ada. Untuk menguji validitas setiap butir soal, skor-skor yang ada pada butir soal yang dimaksud dikorelasikan dengan skor total.
Dukungan setiap butir soal dinyatakan dalam bentuk kesejajaran atau korelasi dengan tes secara keseluruhan, sehingga untuk mendapatkan validitas suatu butir soal dapat digunakan rumus korelasi. Salah satu persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung koefisien korelasi adalah rumus korelasi product moment Pearson seperti berikut:
(Arikunto, 2005)
keterangan:
: koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan.
X : skor item
Y : skor total
N : jumlah siswa.
Interpretasi besarnya koefisien korelasi dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 1. Kategori validitas butir soal
Batasan Kategori
0,80 < ≤ 1,00
sangat tinggi
0,60 < ≤ 0,80
tinggi
0,40 < ≤ 0,60
cukup
0,20 < ≤ 0,40
rendah
0,00 ≤ 0,20
sangat rendah

Kemudian untuk mengetahui signifikansi korelasi dilakukan uji-t dengan rumus berikut:
(Sudjana,1992)
Keterangan:
t : Daya pembeda dari uji t
N : Jumlah subjek
rxy : Koefisien korelasi
2. Reliabilitas
Reliabilitas adalah kestabilan skor yang diperoleh ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Suatu tes dapat dikatakan memiliki taraf reliabilitas yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap yang dihitung dengan koefisien reliabilitas. Menghitung reliabilitas soal dengan rumus (Arikunto, 2005)

dimana: : koefisien reliabilitas yang telah disesuaikan
: Koefisien antara skor-skor setiap belahan tes
Harga dari dapat ditentukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment Pearson. Interpretasi derajat reliabilitas suatu tes menurut Arikunto (2005) adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Kategori reliabilitas butir soal
Batasan Kategori
0,80 < ≤ 1,00
sangat tinggi
0,60< ≤ 0,80
tinggi
0,40 < ≤ 0,60
cukup
0,20 < ≤ 0,40
rendah
≤ 0,20
sangat rendah
3. Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu soal. Besarnya indeks kesukaran berkisar antara 0,00 sampai 1,0. Soal dengan indeks kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa soal tersebut terlalu mudah. Indeks kesukaran diberi simbol P (proporsi) yang dihitung dengan rumus:

Keterangan:
P : Indeks kesukaran
B : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Klasifikasi untuk indeks kesukaran adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Kategori tingkat kesukaran butir soal
Batasan Kategori
0,00 ≤ P < 0,30 soal sukar
0,30 ≤ P < 0,70 soal sedang
0,70 ≤ P 1,00
soal mudah
4. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut Indeks diskriminasi (D). Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah:
(Arikunto, 2005)
Keterangan :
J : jumlah peserta tes
JA : banyaknya peserta kelompok atas
JB : banyaknya peserta kelompok bawah
BA: banyaknya kelompok atas yang menjawab benar
BB: banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar
PA: proporsi kelompok atas yang menjawab benar
PB : proporsi kelompok bawah yang menjawab benar
Kategori daya pembeda dapat dilihat pada tabel 3.4
Tabel 4. Kategori daya pembeda butir soal
Batasan Kategori
0,00 ≤ D ≤ 0,20 jelek
0,20 < D ≤ 0,40 cukup
0,40 < D ≤ 0,70 baik
0,70 < D ≤ 1,00 baik sekali

5. Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Sebelum dilakukan pengolahan data, terlebih dahulu dilakukan penskoran terhadap data hasil penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah :
1. Menghitung peningkatan pemahaman konsep (hasil belajar) siswa pada materi suhu dan kalor, dengan menggunakan rumus g factor (gain score normalized) dengan rumus :
(Meltzer, 2002)
Keterangan:
: Skor postes
: Skor pretes
: Skor maksimum ideal
Kriteria perolehan skor g dapat dilihat pada tabel 5
Tabel 5. Kategori perolehan skor g
Batasan Kategori
g > 0,7 tinggi
0,3 ≤ g ≥ 0,7 sedang
g < 0,3 rendah

2. Menghitung persentase kegagalan siswa dalam mengikuti tes dengan rumus :
(Usman, 1993)

3. Mengkategorikan nilai hasil belajar siswa dengan kriteria sebagai berikut :
Sangat tinggi : 85-100
Tinggi : 66-84,9
Sedang : 55-65,9
Rendah : 40-54,9
Sangat rendah : 0-39,9 (Safari, 2003)


Baca Selengkapnya....

Sunday, March 1, 2009

Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku siswa Pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan

BAB I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa yang penuh problema. Dalam masa ini tidak sedikit remaja yang mengalami kegoncangan yang menyebabkan munculnya


emosional yang belum stabil sehingga mudah melakukan pelanggaran terhadap norma-norma dalam masyarakat.
Remaja sebagai manusia yang sedang tumbuh dan berkembang terus melakukan interaksi sosial baik antara remaja maupun terhadap lingkungan lain. Melalui proses adaptasi, remaja mendapatkan pengakuan sebagai anggota kelompok baru yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Remaja pun rela menganut kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam suatu kelompok remaja.
Dalam pergaulan remaja, kebutuhan untuk dapat diterima bagi setiap individu merupakan suatu hal yang sangat mutlak sebagai mahluk sosial. Setiap anak yang memasuki usia remaja akan dihadapkan pada permasalahan penyesuaian sosial, yang diantaranya adalah problematika pergaulan teman sebaya. Pembentukan sikap, tingkah laku dan perilaku sosial remaja banyak ditentukan oleh pengaruh lingkungan ataupun teman-teman sebaya. Apabila lingkungan sosial itu menfasilitasi atau memberikan peluang terhadap remeja secara positif, maka remaja akan mencapai perkembangan sosial secara matang. Dan apabila lingkungan sosial memberikan peluang secara negatif terhadap remaja, maka perkembangan sosial remaja akan terhambat (Devy irawati, 2002).
Pengaruh lingkungan diawali dengan pergaulan dengan teman. Pada usia 9-15 tahun hubungan perkawanan merupakan hubungan yang akrab yang diikat oleh minat yang sama, kepentingan bersama, dan saling membagi perasaan, saling tolong menolong untuk memecahkan masalah bersama.
Peran teman sebaya dalam pergaulan remaja menjadi sangat menonjol. Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat individu dalam persahabatan serta keikut sertaan dalam kelompok. Kelompok teman sebaya juga menjadi suatu komunitas belajar di mana terjadi pembentukan peran dan standar sosial yang berhubungan dengan pekerjaan dan prestasi (Santrock, 2003 : 257).
Berdasarkan pra penelitian di lapangan bahwa dalam suasana belajar ataupun waktu istrahat sedang berlangsung, baik siswa laki-laki maupun perempuan menghabiskan banyak waktunya bersama dengan teman-temannya. Seorang guru SLTP Negeri I wakorumba selatan juga mengatakan bahwa ada dua bentuk perilaku yang muncul dari pengaruh teman sebaya, yang pertama kelompok siswa yang selalu berprestasi dan yang kedua yakni kelompok siswa yang suka melanggar aturan sekolah.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku siswa Pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan”
A.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini yaitu “Apakah ada pengaruh teman sebaya terhadap perilaku siswa di sekolah?”
B.Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
a.Untuk mengetahui pergaulan teman sebaya pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
b.Untuk mengetahui perilaku siswa pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
c.Untuk mengetahui pengaruh pergaulan teman sebaya terhadap perilaku siswa pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
2. Manfaat penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
a.Sebagai bahan informasi bagi instansi terkait dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
b.Sebagai bahan informasi bagi masyarakat agar mereka dapat memberikan informasi kepada siswa untuk lebih termotivasi belajar dan dapat meminimalisir pengaruh negatif yang muncul dan mempertahankan pengaruh positif.
c.Sebagai bahan informasi bagi peneliti dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Segi utama yang perlu diperhatikan adalah bahwa manusia secara hakiki merupakan mahluk sosial. Sejak dilahirkan ia membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya, makanan, minuman dan lain-lain. Apabila seorang individu mulai bergaul dengan kawan-kawan sebayanya, ia pun tidak lagi hanya menerima kontak sosial itu, tetapi ia juga dapat memberikan kontak sosial. Ia mulai mengerti bahwa di dalam kelompok sepermainannya terdapat peraturan-peraturan tertentu, norma-norma sosial yang hendaknya ia patuhi dengan rela guna dapat melanjutkan hubungannya dengan kelompok tersebut secara lancar. Ia pun turut membentuk norma-norma pergaulan tertentu yang sesuai dengan interaksi kelompok.
A.Pengertian Teman Sebaya.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, teman sebaya diartikan sebagai kawan, sahabat atau orang yang sama-sama bekerja atau berbuat (Anonim, 2002 : 1164). Sementara dalam Mu’tadin (2002:1) menjelaskan bahwa teman sebaya adalah kelompok orang-orang yang seumur dan mempunyai kelompok sosial yang sama, seperti teman sekolah atau teman sekerja.
Teman sebaya (peer) sebagai sebuah kelompok sosial sering didefinisikan sebagai semua orang yang memiliki kesamaan ciri-ciri seperti kesamaan tingkat usia. Lebih lanjut Hartup dalam Santrock (1983 : 223) mengatakan bahwa teman sebaya (Peers) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau kedewasaan yang sama. Akan tetapi oleh Lewis dan Rosenblum dalam Samsunuwiyati (2005 : 145) Definisi teman sebaya lebih ditekankan pada kesamaan tingkah laku atau psikologis.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka saya mendefinisikan teman sebaya sebagai interaksi individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama serta melibatkan keakraban yang relatif besar diantara kelompoknya
B.Fungsi Kelompok Teman Sebaya
Kelompok teman sebaya merupakan interaksi awal bagi anak-anak dan remaja pada lingkungan sosial. Mereka mulai belajar bergaul dan berinteraksi dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Ini dilakukan agar mereka mendapat pengakuan dan penerimaan dari kelompok teman sebayanya sehingga akan tercipta rasa aman.
Sejumlah penelitian telah merekomendasikan betapa hubungan sosial dengan teman sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan pribadi. Salah satu fungsi kelompok teman sebaya yang paling penting adalah menyediakan suatu sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Anak-anak atau remaja menerima umpan balik tentang kemampuan-kemampuan mereka dari kelompok temam sebaya. Mengevaluasi apakah yang mereka lakukan lebih baik, sama atau lebih jelek dari yang dilakukan oleh anak-anak lain.
Kelompok memenuhi kebutuhan pribadi remaja, menghargai mereka, menyediakan informasi, menaikan harga diri, dan memberi mereka suatu identitas. Remaja bergabung dengan suatu kelompok dikarenakan mereka beranggapan keanggotaan suatu kelompok akan sangat menyenangkan dan menarik serta memenuhi kebutuhan mereka atas hubungan dekat dan kebersamaan. Mereka bergabung dengan kelompok karena mereka akan memiliki kesempatan untuk menerima penghargaan, baik yang berupa materi maupun psikologis. Kelompok juga merupakan sumber informasi yang penting. Saat remaja berada dalam suatu kelompok belajar, mereka belajar tentang strategi belajar yang efektif dan memperoleh informasi yang berharga tentang bagaimana cara untuk mengikuti suatu ujian.
Hartup dalam Didi Tarsadi mengidentifikasi empat fungsi teman sebaya, yang mencakup :
1.Hubungan teman sebaya sebagai sumber emosi (emotional resources), baik untuk memperoleh rasa senang maupun untuk beradaptasi terhadap stress
2.Hubungan teman sebaya sebagai sumber kognitif (cognitive resources) untuk pemecahan masalah dan perolehan pengetahuan
3.Hubungan teman sebaya sebagai konteks di mana keterampilan sosial dasar (misalnya keterampilan komunikasi sosial, keterampilan kerjasama dan keterampilan masuk kelompok) diperoleh atau ditingkatkan; dan
4.Hubungan teman sebaya sebagai landasan untuk terjalinnya bentuk-bentuk hubungan lainnya (misalnya hubungan dengan saudara kandung) yang lebih harmonis. Hubungan teman sebaya yang berfungsi secara harmonis di kalangan anak-anak prasekolah telah terbukti dapat memperhalus hubungPeranan Hubungan Teman Sebaya dalam Perkembangan Kompetensi Sosial Anak

Lebih lanjut lagi secara lebih rinci Kelly dan Hansen dalam Samsunuwiyati (2005 : 220) menyebutkan 6 fungsi positif dari teman sebaya, yaitu :
1.Mengontrol impuls-impuls agresif.
2.Memperoleh dorongan emosional dan sosial serta menjadi lebih independen. Teman-teman dan kelompok teman sebaya memberikan dorongan bagi remaja untuk mengambil peran dan tanggung jawab baru mereka.
3.Meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang.
4.Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin.
5.Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai.
6.Menigkatkan harga diri (self-esteem). Menjadi orang yanh disukai oleh sejumlah besar teman-teman sebayanya membuat remaja merasa enak atau senang senang tentang dirinya.
Kelompok teman sebaya biasanya beranggotakan perempuan saja, laki-laki saja atau campuran, kalau kelompoknya beranggotakan laki-laki saja biasanya sebagaian besar anggotanya tidak terlampau dekat secara emosional, sedangkan apabila kelompok beranggotakan perempuan biasanya anggotanya lebih akrab.
C.Jenis Kelompok Teman Sebaya
Dalam kehidupan sehari-sehari remaja selalu bersama dengan teman-temannya, sehingga remaja sering tergabung dalam kelompok-kelompok tertentu.
Pra ahli psikologi sepakat bahwa terdapat kelompok-kelompok yang terbentuk dalam masa remaja. Kelomppok tersebut adalah sebagai berikut :

a.Sahabat Karib (Chums)
Chums yaitu kelompok dimana remaja bersahabat karib dengan ikatan persahabatan yang sangat kuat. Anggota kelompok biasanya terdiri dari 2-3 orang dengan jenis kelamin sama, memiliki minaat, kemauan-kemauan yang mirip.
b.Komplotan sahabat (Cliques)
Cliques biasnya terdiri dari 4-5 remaja yang memiliki minat, kemampuan dan kemauan-kemauan yang relatif sama. Cliques biasanya terjadi dari penyatuan dua pasang sahabat karib atau dua Chums yang terjadi pada tahun-tahun pertama masa remaja awal. Jenis kelamin remaja dalam satu Cliques umumnya sama.
c.Kelompok banyak remaja (Crowds)
Crowds biasanya terdiri dari banyak remaja, lebih besr dibanding dengan Cliques. Karena besrnya kelompok, maka jarak emosi antra anggota juga agak renggang. Dengan demikian terdapat jenis kelamin berbeda serta terdapat keragaman kemampuan, minat dan kemauan diantara para anggota. Hal yang dimiliki dalam kelompok ini adalah rasa takut diabaikan atau tidak diterima oleh teman-teman dalam kelompok remja. Dengan kata lain remaja ini sangat membutuhkan penerimaan peer-groupnya.
D.Penerimaan dan Penolakan Teman Sebaya
Dalam kelompok teman sebaya, merupakan kenyataan adanya remaja yang diterima dan ditolak. Hal ini disebabkan oleh beberapafaktor sebagai berikut :
1.Faktor-faktor yang menyebabkan seorang remaja diterima
a.Penampilan (performance) dan perbuatan meliputi antara lain : tampang yang baik, atau paling tidakrapi danaktif dalamkegiatan-kegiatan kelompok
b.Kemampuan pikir antara lain : mempunyai inisiatif, banyak memikirkan kepentingan kelompok dan mengemukakan buah pikirannya
c.Sikap, sifat, perasaan antara lain : bersikap sopan, memperhatikanorang lain, penyabar atau dapat menahan marah jika berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan dirinya
d.Pribadi meliputi : jujur dan dapat dipercaya, bertanggung jawab dan suka menjalankan pekerjaannya, mentaati peraturan-peraturan kelompok, mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi dan pergaulan sosial.
2.Faktor-faktor yang menyebabkanseorang remaja ditolak
a.Penampilan (performance) dan perbuatan antaralain meliputi :
sering menantang, malu-malu, dan senang menyendiri
b.Kemampuan pikir meliputi :
bodoh sekali atau sering disebut tolol
c.Sikap, sifat meliputi : suka melanggar normadan nilai-nilai kelompok, suka menguasai anak lain, suka curiga, dan suka melaksanakan kemauan sendiri
d.Ciri lain : faktor rumah yang terlalujauh dari tempat teman sekelompok
Arti penting dari penerimaan atau penolakan teman sebaya dalam kelompok bagi seseorang remaja adalah bahwa mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pikiran, sikap, perasaan, perbuatan-perbuatan dan penyesuaian diri remaja.
Akibat langsung dari penerimaan teman sebaya bagi seseorang remaja adalah adanya rasa berharga dan berarti serta dibutuhkan bagi kelompoknya. Hal yang demikian ini akan menimbulkan rasa senang, genbira, puas bahkan rasa bahagia.
Hal yang sebaliknya dapat terjadi bagi remaja yang ditolak oleh kelompoknya yakni adanya frustasi yang menimbulkan rasa kecewa akibat penolakan atau pengabaian itu.
E.Ciri-ciri dan tugas Perkembangan remaja
Menurut Gunarsa (1987 : 6) remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak kemasa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan masa dewasa.
Oleh Wibowo dalam Simanjutak (1984 : 14) mengemukakan bahwa “remaja adalah mereka yang berusia 12 tahun sampai 18 tahun dan merupakan ciri-ciri fisik yang lebih menonjol sesuai dengan ritme perkembangan dalam tahap-tahapannya”.
Selanjutnya menurut Mapiare dalam Sudarsono (1991 : 13) mengungkapkan tentang adanya rentang kehidupan remaja yaitu “masa remaja awal dari 13 tahun sampai dengan 17 tahun dan masa remaja akhir dari 17 tahun sampai 20 tahun”.
1.Ciri-ciri Masa Remaja
Usia remaja adalah tahap yang banyak terjadi perubahan baik dalam aspek fisik maupun psikologis, mereka diharapkan untuk dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang dialamai maupun efek dari perubahan yang dialami oleh mereka.
Berkaitan dengan hal tersebut, Hurlock dalam Nurmiyati (1994 : 7) menyebutkan beberapa ciri yang ada dimasa remaja :
a.Masa remaja sebagai periode yang penting
b.Masa remaja sebagai periode peralihan
c.Masa remaja sebagai perubahan
d.Masa remaja sebagai usia bermasalah
e.Masa remaja sebagai masa mencari identitas
f.Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan
g.Masa remaja sebagai yang tidak realistis
h.Masa remaja sebagai masa ambang dewasa


2.Tugas Perkembangan Masa Remaja
Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 12-21 pada wanita dan 13-22 tahun pada pria. Masa remaja yang panjang ini dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi si remaja sendiri melainkan juga bagi para orang tua, guru, dan masyarakat sekitar. Bahkan tak jarang para penegak hukum pun ikut direpotkan oleh ulah dan tindak tanduknya yang dipandang menyimpang.
Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja pada umumnya meliputi pencapaian dan persiapan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan masa dewasa. Tugas-tugas remaja tersebut adalah sebagai berikut :
1.Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan etika moral yang berlaku dalam masyarakat.
2.Mencapai peranan sosial sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan peranan sosial sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita) selaras dengan tuntutan sosial dan kultural masyarakat.
3.Menerima kesatuan organ-organ tubuh sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan kesatuan organ-organ sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita) dan menggunakan secara efektif sesuai dengan kodratnya masing-masing.
4.Keinginan menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang bertanggung jawab di tengah-tengah masyarakat.
5.mencapai kemerdekaan/kebebasan emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya dan mulai menjadi seorang “person” (menjadi dirinya sendiri).
6.Mempersiapkan diri untuk mencapai karir (jabatan dan profesi) tertentu dalam kehidupan ekonomi.
7.Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan (rumah tangga) dan kehidupan berkeluarga yakni sebagai suami dan istri.
8.Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman bertingkah laku dan mengembangkan ideologi untuk keperluan kehidupan kewarganegaraan.
Menurut Syamsu Yusuf (2000 : 20) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu, dalam masyarakat orang dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa yaitu sebagai berikut:
1.Masa Pra Remaja (remaja awal)
Masa pra remaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu yang relatif singkat, masa ini ditandai oleh adanya sifat-sifat negatif dengan gejalanya seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pesimistik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negatif dapat diringkas yaitu a). Negatif dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental, dan b). Negatif dalam sikap sosial, baik dalam bentuk menarik diri dalam masyarakat (negatif pasif) maupun dalam bentuk agresi terhadap masyarakat (negatif aktif)
2.Masa Remaja Tengah (remaja madya)
Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang akan memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya pada masa ini, sebagai masa yang mencari sesuatu yang dapat dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi sebagai gejala remaja.
3.Masa Remaja Akhir
Setelah remaja dan dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah remaja akhir dan terpenuhilah tugas-tugas masa remaja, yaitu penemuan pendirian hidup.
F.Pengertian perilaku
Perilaku atau aktifitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu atau organisme itu. Perilaku atau aktifitas itu merupakan jawaban atau respon terhadap stimulus yang mengenainya. Apa yang ada dalam diri organisme itu yang berperan memberikan respon adalah apa yang telah ada pada diri organisme, atau apa yang telah dipelajari oleh organisme yang bersangkutan.
Perilaku pada manusia dapat dibedakan atas perilaku yang refleksif dan perilaku yang non-refleksif. Perilaku yang refleksif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi yang secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut. Misalnya reaksi kedip mata bila kena sinar. Perilaku refleksif adalah perilaku yang terjadi dengan sendirinya, secara otomatis. Dalam perilaku refleksif, respon langsung timbul begitu menerima stimulus. Lain halnya dengan perilaku yang non-refleksif. Perilaku ini merupakan perilaku yang dibentuk, dapat dikendalikan, karena itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses belajar. Disamping itu perilaku dapat dikendalikan atau terkendali, yang berarti bahwa perilaku itu dapat diatur oleh individu yang bersangkutan.
Perilaku atau gejala yang tampak pada manusia dapat dipengaruhi oleh bebereapa faktor seperti faktor genetik (keturunan) dan faktor lingkungan.
“Perilaku dipandang dari segi biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas dari organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku maanusia pada hakekatnya adlah suatu aktivitas dari manusia. Oleh karena itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas yang dapat mencakup berjalan, bereaksi, berpakaian, dan lain sebagainya. Bahkan kegiataan internal (internal aktivities) seperti berpikir, persepsi, dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan analitis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme (manusia) baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang diamati secara tidak langsung”. (Notoatmojo dalam Sulwati, 2007 : 14).

Oudum dalam Sulwati (2007 : 15) mengemukakan bahwa perilaku merupakan tindakan yang tegas dari suatu organisme untuk melanjutkn hidupnya.
Sedangkan Sarwono dalam Sulwati (2007 : 15) menyatakan bahwa Perilaku merupkan segala macam pengalaman dan interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam pengetahuan, sikap dan tindakan.
Selanjutnya Ndara mengartikan perilaku sebagai operasionalisasi dan aktualisasi seseorang atau suatu kelompok terhadap suatu situasi dan kondisi lingkungan (masyarakat, alam, teknologi, dan organisasi).
Berdasarkan beberapa uraian tentang pengertian perilaku tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah tindakan yang dilakukaan oleh individu sebagai akibat dari aktualisasi seseorang atau kelompok terhadap suatu sutuasi dan kondisi lingkungan.
G.Teori Belajar Sosial
Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan. Cara yang kedua inilah yang paling besar pengaruhnya terhadap perilaku manusia.
Terbentuknya dan perubahan perilaku karena proses interaksi antara individu dengan lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar. Oleh sebab itu, perubahan perilaku dan proses belajar itu sangat erat kaitannya. Perubahan perilaku merupakan hasil dari proses belajar.
Untuk melangsung kehidupan, manusia perlu belajar. Dalam hal ini ada 2 macam belajar, yaitu belajar secara fisik, misalnya menari, olah raga, mengendarai mobil, dan sebagainya, dan belajar psikis.
Dalam belajar psikis ini termasuk juga belajar sosial (social learning) dimana seseorang mempelajari perannya dan peran-peran orang lain dalam konteks sosial. Selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya dengan peran orang lain atau peran sosial yang telah dipelajari. Cara yang sangat penting dalam belajar sosial menurut teori stimulus-respons adalah tingkah laku tiruan (imitation). Teori dengan tingkah laku tiruan yang penting disajikan disini adalah teori dari Millers, NE dan Dollard, serta teori Bandura A. dan Walter RH.
1. Teori Belajar Sosial dan Tiruan Dari Millers dan Dollard
Pandangan Millers dan Dollard bertitik tolak pada teori Hull yang kemudian dikembangkan menjadi teori tersendiri. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu merupakan hasil belajar. Oleh karena itu untuk memahami tingkah laku sosial dan proses belajar sosial, kita harus mengetahui prinsip-prinsip psikologi belajar.
Prinsip belajar itu terdiri dari 4, yakni dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah laku balas (respons), dan ganjaran (reward). Keempat prinsip ini saling mengait satu sama lain, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi respons, respons menjadi ganjaran, dan seterusnya.
Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap organisme (manusia) untuk bertingkah laku. Stimulus-stimulus yang cukup kuat pada umumnya bersifat biologis seperti lapar, haus, seks, kejenuhan, dan sebagainya. Stimulus-stimulus ini disebut dorongan primer yang menjadi dasar utama untuk motivasi. Menurut Miller dan Dollard semua tingkah laku (termasuk tingkah laku tiruan) didasari oleh dorongan-dorongan primer ini.
Isyarat adalah rangsangan yang menentukan bila dan dimana suatu respons akan timbul dan terjadi. Isyarat ini dapat disamakan dengan rangsangan diskriminatif. Didalam belajar sosial, isyarat yang terpenting adalah tingkah laku orang lain, baik yang langsung ditujukan orang tertentu maupun yang tidak, misalnya anggukan kepala merupakan isyarat untuk setuju, uluran tangan merupakan isyarat untuk berjabat tangan.
Mengenai tingkah laku balas (respons), mereka berpendapat bahwa manusia mempunyai hirarki bawaan tingkah laku. Pada saat manusia dihadapkan untuk pertama kali kepada suatu rangsangan tertentu maka respons (tingkah laku balas) yang timbul didasarkan pada hirarki bawaan tersebut. Setelah beberapa kali terjadi ganjaran dan hukuman maka tingkah laku balas yang sesuai dengan faktor-faktor penguat tersebut disusun menjadi hirarki resultan (resultant hierarchy of respons).
Disinilah pentingnya belajar dengan coba-coba dan ralat (trial and error learning). Dalam tingkah laku sosial, belajar coba-ralat dikurangi dengan belajar tiruan dimana seseorang tinggal meniru tingkah laku orang lain untuk dapat memberikan respons yang tepat. Sehingga ia tidak perlu membuang waktu untuk belajar dengan coba-ralat.
Ganjaran adalah rangsang yang menetapkan apakah tingkah laku balas diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain. Menurut Miller dan Dollard ada 2 reward atau ganjaran, yakni ganjaran primer yang memenuhi dorongan-dorongan primer dan ganjaran sekunder yang memenuhi dorongan-dorongan sekunder.
Lebih lanjut mereka membedakan 3 macam mekanisme tingkah laku tiruan, yakni
a. Tingkah Laku Sama
Tingkah laku ini terjadi pada 2 orang yang bertingkah laku balas (respons) sama terhadap rangsangan atau isyarat yang sama. Contoh 2 orang yang berbelanja di toko yang sama dan dengan barang yang sama. Tingkah laku yang sama ini tidak selalu hasil tiruan maka tidak dibahas lebih lanjut oleh pembuat teori.
b. Tingkah laku Tergantung (Matched Dependent Behavior)
Tingkah laku ini timbul dalam interaksi antara 2 pihak dimana salah satu pihak mempunyai kelebihan (lebih pandai, lebih mampu, lebih tua, dan sebagainya) dari pihak yang lain. Dalam hal ini, pihak yang lain atau pihak yang kurang tersebut akan menyesuaikan tingkah laku (match) dan akan tergantung (dependent) pada pihak yang lebih.
c. Tingkah Laku Salinan (Copying Behavior)
Seperti tingkah laku tergantung, pada tingkah laku salinan, peniru bertingkah laku atas dasar isyarat yang berupa tingkah laku pula yang diberikan oleh model. Demikian juga dalam tingkah laku salinan ini, pengaruh ganjaran dan hukuman sangat besar terhadap kuat atau lemahnya tingkah laku tiruan.
Perbedaannya dengan tingkah laku tergantung adalah dalam tingkah laku tergantung ini si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada saat itu saja. Sedangkan pada tingkah laku salinan, si peniru memperhatikan juga tingkah laku model di masa yang lalu maupun yang akan dilakukan di waktu mendatang.
Hal ini berarti perkiraan tentang tingkah laku model dalam kurun waktu yang relatif panjang ini akan dijadikan patokan oleh di peniru untuk memperbaiki tingkah lakunya sendiri dimasa yang akan datang sehingga lebih mendekati tingkah laku model.
2. Teori Belajar Sosial dari Bandura dan Walter
Teori belajar sosial yang dikemukakan Bandura dan Walter ini disebut teori proses pengganti. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah suatu bentuk asosiasi dari rangsang dengan rangsang lainnya. Penguat (reinforcement) memang memperkuat tingkah laku balas (respons) tetapi dalam proses belajar sosial, hal ini tidak terlalu penting.
Aplikasi teori ini adalah apabila seseorang melihat suatu rangsang dan ia melihat model bereaksi secara tertentu terhadap rangsang itu maka dalam khayalan atau imajinasi orang tersebut, terjadi rangkaian simbol-simbol yang menggambarkan rangsang dari tingkah laku tersebut. Rangkaian simbol-simbol ini merupakan pengganti dari hubungan rangsang balas yang nyata dan melalui asosiasi, si peniru akan melakukan tingkah laku yang sama dengan tingkah laku model.
Terlepas dari ada atau tidak adanya rangsang, proses asosiasi tersembunyi ini sangat dibantu oleh kemampuan verbal seseorang. Selain dari itu, dalam proses ini tidak ada cara-coba dan ralat (trial and error) yang berupa tingkah laku nyata karena semuanya berlangsung secara tersembunyi dalam diri individu.
Hal yang penting disini adalah pengaruh tingkah laku model pada tingkah laku peniru. Menurut Bandura, pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru ini dibedakan menjadi 3 macam, yakni :
a. Efek modeling (modelling effect), yaitu peniru melakukan tingkah-tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
b. Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition) dimana tingkah-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.
c. Efek kemudahan (facilitation effect), yaitu tingkah-tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.
Akhirnya bandura dan Walter menyatakan bahwa teori proses pengganti ini dapat pula menerangkan gejala timbulnya emosi pada peniru yang sama dengan emosi yang ada pada model. Contohnya seseorang yag mendengar atau melihat gambar tentang kecelakaan yang mengerikan maka ia berdesis, menyeringai bahkan sampai menangis ikut merasakan penderitaan tersebut.
H.Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Remaja
Santrock dalam Amelia sari : 2008 menytakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku remaja adalah sebagai berikut :
a.Identiti
Zaman remaja, ada masanya pada tahap di mana remaja mengalami masalah identiti. Perubahan biologi dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi pada keperibadian remaja: satu, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan dua, tercapainya identiti peranan, kurang lebih dengan cara menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan dan gaya yang dimiliki remaja dengan peranan yang dituntut dari remaja.
b.faktor keluarga, Hal ini sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktiviti anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemacu timbulnya perilaku remaja. Pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya perilaku remaja
c.teman sebaya, hubungan pertemanan juga mempengaruhi tingkat kenakalan remaja.
d.Kontrol diri, remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima.
e.Lingkungan tempat tinggal
Lingkungan dapat berperan dalam memunculkan perilaku remaja. Lingkungan masyarakat yang lebih luas dengan keragaman perilaku memungkinkan remaja mengamati berbagai model perilaku tersebut.
Selanjutnya Herien Puspitawati (2008) menyatakan rasa ingin mendapatkan pengakuan sosial (social recognition) dan perhatian orang tua merupakan faktor pemicu remaja dalam berperilaku

I.Pengaruh Teman Sebaya Terhadp Perilaku
Selain lingkungan keluarga yang ikut mempengaruhi perkembangan seorang individu jika individu tersebut telah berinteraksi dengan individu lain adalah lingkungan sosial. Lingkungan sosial merupakan lingkungan tempat dimana seorang individu mulai berinteraksi dengan individu lain diluar anggota keluarga. Lingkungan sosial yang dimaksudkan adalah teman sebaya. Teman sebaya merupakan lingkungan bergaul seorang anak dan melalui interaksi dengan teman sebaya, individu akan berkenalan dan mulai bergaul dengan teman-temannya dengan pola perilaku yang berbeda-beda, sehingga melalui interaksi inilah masing-masing individu akan saling memahami keinginan-keinginan dan tidak jarang individu akan membentuk kelompok-kelompok jika perilaku teman-temannya tersebut telah dirasa cocok.
Pergaulan teman sebaya dapat mempengaruhi perilaku. Pengaruh tersebut dapat berupa pengaruh positif dan dapat pula berupa pengaruh negatif. Pengaruh positif yang dimaksud adalah ketika individu bersama teman-teman sebayanya melakukan aktifitas yang bermanfaat seperti membentuk kelompok belajar dan patuh pada norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pengaruh negatif yang dimaksudkan dapat berupa pelanggaran terhadap norma-norma sosial, dan pada lingkungan sekolah berupa pelanggaran terhadap aturan sekolah.
Dari teman sebaya remaja menerima umpan balik mengenai kemampuan mereka. Remaja cenderung untuk mengikuti pendapat dari kelompoknya dan menganggap bahwa kelompoknya itu selalu benar. Kecenderungan untuk bergabung dengan teman sebaya didorong oleh keinginan untuk mandiri, sebagaimana yang diungkapkan oleh Hurlock dalam Mu’tadin (2002 : 22) bahwa melalui hubungan teman sebaya remaja berpikir mandiri, mengambil keputusan sendiri, memerima bahkan menolak pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima didalam kelompoknya.
Kelompok begaul/kelompok teman sebaya dapat memberikan pengaruh, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Teman sebaya menuntut nilai kebersamaan, kekerabatan, kemanusiaan serta persaudaraan. Namun jika perilaku dalam kelompok didominasi oleh pencurian, tawuran, serta tindak kriminal, maka akan memberikan pengaruh negatif pada perkembangan remaja.
Menurut Wahyurini (2003 : 2) manfaat menjalin persahabatan dengan teman sebaya yaitu sebagai berikut :
b.Bisanya dengan teman dekat seseorang dapat berbicara terbuka dan jujur. Hal ini memberikan kemampuan untuk peka pada kekuatan, kelemahan, kebutuhan, dan keinginan orang lain. Persahabatan memungkinkan seseorang untuk saling berbagi dalam banyak hal, termasuk persoalan yang bersifat pribadi. Persahabatan dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menggali dan mengenali diri sendiri.
c.Kepekaan karena persahabatan akan meningkatkan rasa empati atau dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kebersamaan dengan teman menjadikan kita akan merasa memperoleh dukungan, termasuk saat sedang bermasalah atau mengalami stres.
d.Sikap positif yang ada pada teman seperti disiplin, rajin belajar, patuh pada orang tua, bisa ditiru dan diikuti.

Sedangkan hal-hal negatif yang ditimbulkan akibat pergaulan dengan teman sebaya menurut Wahyurini (2003 : 2) adalah sebagai berikut :
a.Karena ingin diakui atau diterima, seseorang kadang melakukan hal-hal yang kurang pas. Karena takut dibilang aneh, walau salah teman sebaya lebih menerima pendapat teman dari pada pendapat sendiri.
b.Seseorang juga bisa termakan tren atau gaya yang sedang berkembang, misalnya mengikuti gaya hidup teman meskipun kita tidak mampu.
c.Karena terlalu sering bersama-sama dengan teman, kita tidak punya waktu untuk belajar atau membantu orang tua.
d.Ingin mencoba-coba yang dilakukan oleh salah seorang diantara teman, misalnya merokok, minuman beralkohol, memakai narkoba, dan seks bebas.

Sejumlah ahli teori lain menekankan pengaruh negatif dari teman sebaya terhadap perkembangan anak-anak dan remaja. Bagi sebagian remaja, ditolak atau diabaikan oleh teman sebaya, menyebabkan munculnya perasaan kesepian atau permusuhan. Sejumlah ahli teori juga telah menjelaskan budaya teman sebaya remaja merupakan suatu bentuk kejahatan yang merusak nilai-nilai dan kontrol orang tua. Lebih dari itu, teman sebaya dapat memperkenalkan remaja pada alkohol, obat-obatan (narkoba), kenakalan, dan berbagai bentuk perilaku yang dipandang orang dewasa sebagai mal adaptif (Santrock dalam Samsunuwiyati, 2005 : 221).
J.Penelitian yang relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan judul proposal penelitian ini adalah sebagai berikut antara lain sebagai berikut :
1.Penelitian yang dilakukan oleh Rita Damayanti dengan judul Peran Biopsikososial Terhadap Perilaku Beresiko Tertular HIV pada Remaja SLTA di DKI Jakarta, 2006 yang menyimpulkan bahwa dalam proses pendewasaan, pengaruh keluarga telah bergeser menjadi pengaruh teman sebaya.
2.Penelitian tentang Peranan hubungan teman sebaya dalam perkembangan kompetensi sosial anak oleh Didi Tarsadi Menyimpulkan bahwa hubungan dengan teman sebaya tampak mempunyai berbagai macam fungsi, yang banyak di antaranya dapat memfasilitasi proses belajar dan perkembangan anak.
K.Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah : “Ada pengaruh yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan perilaku sisiwa SLTP Negeri I Wakorumba Selatan”
Secara statistik hipotesis di atas dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ho : p = 0
Ha : p > 0
Dimana :
Ho = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan perilaku siswa SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
Ha = Ada pengaruh yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan perilaku siswa SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.



BAB III
METODE PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2008 di SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
B Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat ex post facto yang digunakan untuk mengetahui gejala-gejala yang terjadi pada diri responden. Sugiyono dalam Riduwan (1999 : 50) mengemukakan bahwa “penelitian ex post facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian melihat kebelakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut”. Lebih lanjut dikatakan penelitian ini menggunakan logika dasar yang sama dengan penelitian eksperimen yaitu jika X, maka Y, hanya saja penelitian ini tidak dapat memanipulasi langsung terhadap variabel bebas (independen)
C Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yang disimbolkan dengan X adalah teman sebaya, sedangkan variabel terikat yang disimbolkan dengan Y adalah prilaku siswa pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan
Desain penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh kedua variabel tersebut, dan dapat dituliskan sebagai berikut :
X Y
B.Defenisi Operasional
Untuk memudahkan memahami variabel dalam penelitian ini, maka perlu didefenisikan secara operasional.
a.Teman sebaya adalah interaksi individu remaja di SLTP Neg. I Wakorumba Selatan dengan tingkat usia relatif sama yang melibatkan keakraban yang lebih besar diantara induvidu.
b.Perilaku adalah tindakan yang dilakukan oleh individu sebagai akibat dari aktualisasi seseorang atau kelompok terhadap suatu situasi dan kondisi lingkungan
C.Populasi dan Sampel
1.Populasi
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas II SLTP Negeri I Wakorumba Selatan dengan jumlah 78 orang. Kelas II terdiri dari tiga ruangan kelas dengan jumlah masing-masing kelas sebagai berikut : kelas IIa dengan jumlah siswa 28 orang, IIb dengan jumlah siswa 26 orang dan kelas IIc berjumlah 24 orang.


2.Sampel
Penarikan sampel pad penelitian ini mengacu pada pendapat Arikunto (1998 : 120) yang mengatakan bahwa jika jumlah subjek kurang dari 100 maka sebaiknya diambil semuanya, dan jika jumlah subjeknya lebih dari 100, maka sampel penelitian diambil 10 – 15 % atau 20 – 25.Berdasarkan teori ini maka saya mengambil keseluruhan populasi sebagai sampel.
D.Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.Angket yaitu pemberian sejumlah pertanyaan kepada responden (sisiwa) untuk mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap perilaku siswa di sekolah.
2.Observasi
Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung kegiatan-kegiatan siswa sehubungan dengan pengaruh pergaulan teman sebaya terhadap perilaku siswa.
E.Tehnik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial.


1.Analisis Deskriptif
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengolah data hasil belajar siswa sebagai berikut :
a.Menentukan nilai rata-rata tes hasil belajar, dengan rumus :
= (Sudjana, 2002 : 67).
b.Menentukan variansi dengan rumus :
(Sudjana, 2002: 70).
c.Menentukan simpangan baku :
(Sudjana, 2002 : 93)

2.Analisis Inferensial
Untuk mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap perilaku siswa dilakukan analisis regresi sederhana, dengan rumus sebgai berikut :
Ŷ = a + bX (Riduwan,2004 : 148)
Dimana :
Ŷ = (baca y topi) subjek variabel terikat yang diproyeksikan
X = variabel bebas yang mempunyai nilai tertentu untuk diprediksikan
a = nilai konstant harga Y jikaa X = 0
b = nilai arah sebagai penentu ramalan (prediksi) yang menunjukan nilai peningkatan (+) atau nilai penurunan (-) variabel Y

Untuk mengetahui nilai a dan b maaka di gunakaan rumus sebagai berikut:
b = a =
Sementara itu langkah-langkah untuk menjawab regresi sederhana adalah :
Langkah 1 : Membuat Ha dan Ho dalam bentuk kalimat
Langkah 2 : membuat Ha dan Ho dalam bentuk statistic
Langkah 3 : membuat tabel penolong untuk menghitung angka statistik
Langkah 4 : Masukan angka-angka statistik dengan tabel penolong dengan rumus
b = a =
Langkah 5 : mencari jumlah kuadrat regresi (JK reg(a)), dengan rumus
JKreg(a) =
Langkah 6 : Mencari jumlah kuadrat regresi (JK reg (b/a)), dengan rumus
JK reg (b/a) = b.
Langkaah 7 : Mencari jumlah kuadrat residu (JK res) dengan rumus
JK res = JKreg (b/a) –JK reg (a)
Langkah 8 : Mencri rata-rata jumlah kuadrat Regresi (RJK reg (a)) dengan rumus
RJK reg (a) = JKreg (a)

Langkah 9 : Mencri rata-rat jumlah kuaadrat regresi (RJK reg (b/a)) dengan rumus
RJK reg (b/a) = JK reg (b/a)
Langkah 10 : Mencari rata-rata jumlah kuadrat residu (RJK res) dengan rumus
RJK res =
Langkah 11 : Menguji signifikansi dengan rumus :
Fhitung =
Kaidah pengujin signifikansi :
Jika Fhitung ≥ Ftabel, maka tolak Ho artinya signifikan
Fhitung ≤ Ftabel maka terima Ho artinya tidak signifikan.
Dengan taraf signifikan : = 0,01 atau = 0,05
Mencari nilai Ftabel dengan menggunakn tabel F dengan rumus :
F tabel = F
Langkah 12 : Membuat kesimpulan
(Riduwan, 2004 : 149)

Baca Selengkapnya....