Tuesday, March 3, 2009

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION UNTUK

A. Judul :PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION UNTUK
MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMA PADA MATERI LISTRIK DINAMIS

B. Bidang : Kependidikan
C. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan merupakan usaha untuk menumbuhkembangkan

potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pembelajaran. Pendidikan yang dilaksanakan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan di Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara dihadapkan pada banyak masalah, salah satu diantaranya adalah rendahnya kualitas lulusan pendidikan formal. Salah satu faktor yang dapat diduga penyebab rendahnya mutu pendidikan di Sulawesi tenggara model pembelajaran yang diterapkan guru kurang sesuai dengan karakteristik pembelajaran fisika.
Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit dipahami oleh siswa yang ditandai dengan prestasi belajar siswa yang belum memberikan hasil yang memuaskan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa model pengajaran fisika yang diterapkan sejak awal hingga sekarang masih bersifat konvensional, dimana sistem penyampaiannya lebih banyak didominasi oleh guru yang gaya mengajarnya cenderung bersifat instruktif, serta proses komunikasinya satu arah. Guru memegang peran aktif dalam proses pembelajaran sedangkan siswa cenderung diam dan secara pasif menerima materi pelajaran, siswa juga kurang berani mengungkapkan gagasannya. Hal ini menyebabkan kreativitas dan kemandirian siswa mengalami hambatan dan bahkan tidak berkembang sehingga tidak sedikit siswa merasa terhambat proses kedewasaannya karena model pembelajaran yang digunakan guru melemahkan semangat belajar siswa.
Guru, pendidik dan innovator pendidikan terus berupaya melakukan perbaikan dan perubahan dalam system pembelajaran khususnya dalam kelas. Reformasi dalam pembelajaran perlu dibangun dan dikembangkan guna menciptakan suasana belajar yang lebih manusiawi,konstruksif, dan demokratis sehingga suasana interaksi kelas baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa itu sendiri dapat tumbuh dan berkembang. Peran guru sebagai instruktur perlu mengalami pergeseran menjadi fasilitator atau pemandu dalam belajar. Penciptaan suasana belajar yang demikian sangat memungkinkan tumbuhnya cara-cara belajar kerja sama sehingga model embelajaran kooperatif sangat perlu dikemangkan guna mencapai tujuan pembelajaran.
Slavin (1986) menelaah penelitian dan melaporkan bahwa 45 penelitian telah dilaksanakan antara tahun 1972 sampai dengan 1986, menyelidiki pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil pembelajaran. Studi ini dilakukan pada semua tingkat kelas dan meliputi bidang studi bahasa, geografi, ilmu sosial, sains, matematika, bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, membaca dan menulis. Dari 45 laporan tersebut, 37 diantaranya menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Delapan studi menunjukkan tidak ada perbedaan dan tidak satupun studi menunjukkan bahwa kooperatif memberikan pengaruh negative (Ibrahim, 2000:16).
Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa penyebab rendahnya prestasi belajar fisika di SMP adalah karena guru menggunakan model mengajar yang tidak sesuai dengan materi pelajaran dan biasanya guru hanya mengejar materi yang diajarkan sehingga siswa sulit untuk memahami/menguasai konsep materi pelajaran. Dalam penelitian ini, model mengajar yang biasa digunakan oleh guru dalam kegiatan sehari-hari disebut model mengajar konvensional.
Seorang guru/pengajar membutuhkan kejelian khusus dalam hal memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu model pembelejaran yang telah dicoba oleh Steven dan Slavin adalah model pembelajaran Cooperative Integrated Read and Composition (CIRC) yakni model pembelajaran yang dengan cara mengelompokkan dalam 4 kelompok yang heterogen dimana pada masing-masing kelompok diberikan wacana atau kliping sehingga akan terjadi proses diskusi, selanjutnya masing-masing kelompok mempersentasikan hasil diskusinya, dan guru kemudian memberikan kesimpulan.
Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa penyebab rendahnya prestasi belajar fisika di SMA adalah karena guru menggunakan model mengajar yang tidak sesuai dengan materi pelajaran dan biasanya guru hanya mengejar materi yang diajarkan sehingga siswa sulit untuk memahami/menguasai konsep materi pelajaran. Dalam penelitian ini, model mengajar yang biasa digunakan oleh guru dalam kegiatan sehari-hari disebut model mengajar konvensional. Pada observasi awal ditemukan bahwa prestasi belajar mata pelajaran IPA Fisika di SMA Negeri 4 Kendari yakni untuk nilai rata-rata IPA Fisika semester II tahun ajaran 2006/2007 yaitu kelas X1 =4,50; kelas X2 = 5,60 dan kelas X3 = 4,80 (Berdasarkan data dari dokumen/arsip sekolah).
Rendahnya prestasi belajar IPA Fisika di SMA Negeri 4 Kendari merupakan salah satu indikasi perlunya perbaikan model yang kurang tepat yang digunakan oleh guru, sehingga kita perlu mencari suatu alternatif lain atau model pembelajaran lain dalam proses belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang bisa memfasilitasi yaitu Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). model pembelajaran CIRC ini diadaptasikan dengan kemampuan peserta didik dalam proses pembelajarannya serta membangun kemampuan siswa untuk membaca dan menyusun rangkuman berdasarkan materi yang dibacanya, sehinngga dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang diajarkan, terutama dalam mengajarkan materi listrik dinamis. Model pembelajaran ini juga cocok bagi siswa yang merasa cepat jenuh dalam menerima pelajaran serta siswa yang memiliki daya ingat yang lemah.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian dengan judul : “ Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa SMA Negeri 4 Kendari pada materi listrik dinamis.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan penelitian ini adalah : “Apakah penggunaan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition dapat lebih meningkatkan pemahaman konsep siswa SMA kelas X pada materi listrik dinamis ?”
Rumusan masalah di atas dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tingkat perolehan (gain) hasil belajar siswa dalam hal pemahaman konsep, yang mendapatkan pengajaran listrik dinamis dengan model Cooperative Integrated Reading and Composition ?
2. Apakah penggunaan model Cooperative Integrated Reading and Composition dapat lebih meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi listrik dinamis ?
3. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition pada materi listrik dinamis?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendapatkan gambaran tentang tingkat perolehan (gain) hasil belajar siswa dalam hal pemahaman konsep, yang mendapatkan pengajaran listrik dinamis dengan model Cooperative Integrated Reading and Composition.
2. Memperoleh informasi tentang tingkat pemahaman konsep siswa pada materi listrik dinamis setelah pembelajaran dengan model Cooperative Integrated Reading and Composition.
3. Mendapatkan gambaran tentang tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition.
F. Manfaat Penelitian
Proses dan hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, terutama :
1. Bagi guru fisika, proses penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan suatu model pembelajaran dan uji implementesinya, sedangkan hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan untuk mengadopsi model CIRC dalam pembelajaran fisika di sekolahnya.
2. Bagi peneliti lain, proses dan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian, rujukan, atau pembanding bagi penelitian yang sedang atau yang akan dilakukan.
3. Hasil penelitian ini dapat memperkaya dan melengkapi hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan dalam kajian sejenis.
G. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya salah pemaknaan dari setiap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka secara operasional istilah-istilah tersebut didefinisikan seperti berikut :
1. Model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) didefinisikan sebagai salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang secara khusus didisain untuk pembelajaran matematika dan sains. Siswa mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas secara perorangan dalam kelompok kecil yang heterogen. Para siswa saling memeriksa pekerjaan dengan temannya dan membantu teman lainnya dalam mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas. Skor kelompok didasarkan pada jumlah satuan tugas yang dapat diselesaikan dan ketepatan pengerjaannya.
2. Pemahaman konsep didefinisikan sebagai kemampuan siswa dalam memahami konsep fisika dengan sebaik-baiknya, yang dapat ditunjukkan dengan kemampuan konseptual dan keterampilan aplikatif yang baik. Untuk mengukur pemahaman konsep siswa dilakukan dengan menggunakan tes konseptual.
H. Kerangka Teoritik
1. Model Pembelajaran
Tepat atau tidaknya suatu model pembelajaran yang digunakan dalam suatu proses pembelajaran di kelas, biasanya yang mengetahui adalah guru bidang studi itu sendiri. Untuk memilih model pembelajaran yang tepat, maka sangat penting untuk memperhatikan relevansinya dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai, dan kompetensi yang diinginkan. Dalam prakteknya semua model pembelajaran bisa dikatakan baik jika memenuhi prinsip prinsip berikut; Pertama, semakin kecil upaya yang dilakukan guru dan semakin besar partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran; kedua, semakin sedikit waktu yang diperlukan oleh guru untuk mengaktifkan siswa; ketiga, sesuai dengan cara belajar siswa yang dilakukan; keempat, dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru; kelima, tidak ada satupun metode yang paling sesuai untuk segala tujuan, jenis materi, dan proses belajar yang ada.
2. Hakekat Pembelajaran IPA
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada hakikatnya berfungsi untuk membangun pola berpikir sehingga dapat merubah pandangan manusia terhadap alam semesta. IPA memperoleh kebenaran secara empirik. Sedangkan kunci pendekatan empirik adalah proses pengamatan (observasi). Secara umum, IPA terdiri dari tiga komponen; pertama, sikap ilmiah yaitu kebenaran, nilai-nilai, gagasan atau pendapat, objek dan sebagainya, misalnya membuat suatu keputusan setelah memperoleh cukup data yang berkaitan dengan problemnya; kedua adalah metode ilmiah, yaitu metode yang biasanya diikuti oleh ilmuwan dalam memecahkan suatu masalah, dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) mengidentifikasi dan menyatakan suatu masalah, 2) merumuskan hipotesis, 3) merancang dan melaksanakan eksperimen, 4) melakukan observasi, 5) mengumpulkan dan menganlisis data, 6) mengulang kembali eksperimen untuk membuktikan kebenaran, 7) menarik kesimpulan; dan ketiga adalah produk ilmiah, yaitu antara lain konsep, prinsip dan teori ilmiah (Moh. Amin, 1987).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA pada hakekatnya dapat dipandang sebagai proses dan produk yang membelajarkan siswa untuk memahami hakekat IPA dan mengajarkan cara-cara untuk memperoleh fakta-fakta, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori melalui berbagai cara seperti yang ditempuh oleh para ilmuwan terdahulu dalam memperoleh pengetahuan.

3. Strategi pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah belajar secara bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lainnya dalam belajar, dan memastikan bahwa setiap siswa dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya. Falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif adalah falsafah homo homini socius. Falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial, kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup.
Slavin (1995) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan kecil siswa yang bekerja secara bersama untuk belajar dan bertanggung jawab atas kelompoknya. Gilbert Macmillan (dalam Achyar, 1988) menyatakan bahwa keunggulan–keunggulan pembelajaran kooperatif diantaranya adalah memberi peluang pada siswa agar mau menggunakan dan membahas suatu pandangan, serta siswa memperoleh pengalaman kerjasama dalam merumuskan suatu pendapat kelompok.
Terdapat berbagai jenis atau tipe pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan, antara lain :
a. Tipe STAD (Student Teams-Achievement Divisions)
Dikembangkan oleh Slavin pada tahun 1978. Guru menyajikan pelajaran kepada siswa yang kemudian berkumpul dalam kelompok-kelompok yang masing-masing kelompok beranggota empat sampai lima orang siswa untuk berdiskusi dan saling membantu satu sama lain mengisi lembar kerja tentang materi pelajaran yang disajikan. Setiap siswa memperoleh kuiz dan skor kelompok ditentukan oleh derajat peningkatan skor individu dari skor sebelumnya. Kelompok-kelompok yang mendapat skor tinggi diumumkan dalam suatu berita mingguan.
b. Tipe Teams-Games-Tournaments
Dikembangkan oleh De Vries dan Slavin pada tahun 1978. Setelah pelajaran disajikan oleh guru, siswa berkumpul dalam kelompok-kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari empat sampai lima orang anggota untuk berdiskusi dan saling membantu satu sama lain mempelajari materi pelajaran. Para siswa tidak memperoleh kuiz-kuiz secara individual. Melainkan, mereka berlomba dengan siswa-siswa pada kelompok lain yang memiliki prestasi yang sama agar mendapatkan poin-poin untuk kelompoknya.
c. Tipe Learning together
Dikembangkan oleh Johnson dan Johnson pada tahun 1975. Para siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas kelompok. Guru memotivasi siswa untuk saling ketergantungan satu sama lain secara positif, saling berinteraksi, memiliki tanggung jawab secara individu dan sosial serta melakukan kerja kelompok. Sebagai contoh, siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru akan dikembalikan kepada kelompoknya untuk menemukan jawabannya. Penskoran didasarkan pada kinerja individual dan kesuksesan kelompoknya, tetapi individu-individu dan kelompok-kelompok tidak bersaing lagi dengan yang lainnya.
d. Tipe Group investigation
Dikembangkan oleh Sharon pada tahun 1976. Para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok diberi tugas dan proyek yang khusus dan membuat keputusan penting tentang bagaimana mengolah informasi, mengorganisasikan dan menyajikannya. Pembelajaran tingkat tinggi (seperti mengaplikasikan, mensintesis, dan menyimpulkan) sangat ditekankan dalam tipe ini.
e. Tipe Jigsaw
Dikembangkan oleh Aronson pada tahun 1978. Setiap siswa menjadi anggota kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang siswa. Setiap siswa dalam kelompok diberikan informasi untuk memilih siswa kelompok ahli pada topik yang dipelajari. Siswa ahli dari setiap kelompok membaca materi pelajarannya dan kemudian berkumpul untuk mendiskusikan dan mensintesis informasi. Kemudian mereka kembali ke dalam kelompoknya masing-masing dan mengajarkan apa yang mereka ketahui kepada teman sekelompoknya. Para siswa mendapat kuiz secara individu dan skor kelompok yang diperoleh dipublikasikan dalam berita kelas.

f. Tipe Team-assisted individualized learning
Dikembangkan oleh Slavin pada tahun 1982. Tipe ini secara khusus didisain untuk digunakan dalam pembelajaran matematika. Siswa mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas secara perorangan dalam kelompok kecil yang heterogen. Para siswa saling memeriksa pekerjaan dengan temannya dan membantu teman lainnya dalam mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas. Skor kelompok didasarkan pada jumlah satuan tugas yang dapat diselesaikan dan ketepatan pengerjaannya.
g. Tipe CIRC (Cooperative integrated reading and composition)
Dikembangkan oleh Stevens, Madden, Slavin and Farnish pada tahun 1987. seperti halnya tipe team-assisted individualized learning, tipe ini didisain untuk mengakomodasi rentang tingkat kemampuan siswa yang lebar dalam suatu kelas dengan menggunakan teknik pengelompokan siswa dalam kelas secara heterogen dan homogen.
4. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu. Menurut Fogarty (1991), berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran terpadu dapat dikelompokkan menjadi: 1) model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model connected (keterhubungan) dan model nested (terangkai); 2) model antar bidang studi yang meliputi model sequenced (urutan), model shared (perpaduan), model webbed (jaring laba-laba), model theaded (bergalur) dan model integreted (terpadu); 3) model dalam lintas siswa. Kelebihan dari model pembelajaran terpadu atau (CIRC) antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak; 2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat siswa dan kebutuhan anak; 3) seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama; 4) pembelajaran terpadu dapat menumbuh-kembangkan keterampilan berpikir anak; 5) pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis (bermanfaat) sesuai dengan permasalahan yang sering ditemuai dalam lingkungan anak; 6) pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa kearah belajar yang dinamis, optimal dan tepat guna; 7) menumbuhkembangkan interaksi sosial anak seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain; 8) membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam mengajar (Saifulloh, 2003). Pembelajaran secara berkelompok merupakan proses yang kaya akan interaksi Face to-Face, Eye to Eye atau Knee to Knee, pertukaran informasi, umpan balik, kepercayaan, saling menerima pendapat, penghargaan kelompok, mengerjakan tugas kelompok baik dirumah maupun di kelas secara spesifik (Steven dan Slavin, dalam Anggela,1999).
Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik siswa berinteraksi sosial dengan lingkungan. Prinsip belajar terpadu ini sejalan dengan empat pilar pendidikan yang digariskan UNESCO dalam kegiatan pembelajaran. Empat pilar itu adalah ”belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam kebersamaan (Learning to live together), (Depdiknas, 2002).
Model pembelajaran CIRC atau pemebelajaran terpadu menurut pertama kali dikembangkan oleh (Steven and Slavin, 1981), dengan langkah-langkah;
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen.
2. Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran.
3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap wacana dan ditulis pada lembar kertas.
4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
5. Guru memberikan penguatan
6. Guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan
7. Penutup.
Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut:
a. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya.
b. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya.
c. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen.
5. Pemahaman Konsep
Menurut Bloom (1979), pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman merupakan hasil proses belajar mengajar yang mempunyai indikator individu dapat menjelaskan atau mendefinisikan suatu unit informasi dengan kata-kata sendiri. Dari pernyataan ini, siswa dituntut tidak sebatas mengingat kembali pelajaran, namun lebih dari itu siswa mampu mendefinisikan. Hal ini menunjukkan siswa telah memahami materi pelajaran walau dalam bentuk susunan kalimat berbeda tetapi kandungan maknanya tidak berubah. Pemahaman meliputi tiga aspek yaitu translasi, interpretasi dan ekstrapolasi.
a. Translasi, meliputi dua kemampuan : (a) menterjemahkan sesuatu dari bentuk abstrak ke bentuk yang lebih kongkret, (b) menerjemahkan suatu simbol kedalam bentuk lain seperti : menerjemahkan tabel, grafik, simbol matematik dan sebagainya.
b. Interpretasi, meliputi tiga kemampuan : (1) membedakan antara kesimpulan yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan, (2) memahami kerangka suatu pekerjaan secara keseluruhan, (3) memahami dan menafsirkan isi berbagai macam bacaan.
c. Ekstrapolasi meliputi tiga kemampuan: (1) menyimpulkan dan menyatakannya lebih eksplisit, (2) memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari tindakan yang digambarkan dari sebuah komunikasi, (3) sensitif atau peka terhadap faktor yang mungkin membuat prediksi menjadi akurat.
Menurut Rosser (dalam Dahar, 1996) konsep adalah suatu yang abstrak mewakili satu kelas obyek-obyek kejadian, kegiatan-¬kegiatan atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Oleh karena itu, orang mengalami stimulus yang berbeda-beda, orang membentuk konsep sesuai dengan pengelompokan stimulus dengan cara tertentu. Karena konsep itu adalah abstraksi berdasarkan pengalaman dan karena tidak ada dua orang yang memiliki pengalaman yang sama persis, maka konsep yang dibentuk orang berbeda juga. Walau berbeda tetapi cukup untuk berkomunikasi menggunakan nama-nama yang diberikan pada konsep itu yang telah diterima bersamanya. Menurut Dahar (1996), konsep merupakan kategori-kategori yang kita berikan pada stimulus yang ada di lingkungan kita. Konsep menyediakan skema terorganisasi untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori. Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip dan generalisasi.
Menurut Bloom (1979) pemahaman konsep adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan ke dalam bentuk yang lebih dipahami, mampu memberikan interpretasi dan mampu mengaplikasikannya. Pemahaman konsep adalah sebagai kemampuan siswa untuk memaknai ilmu pengetahuan secara ilmiah baik secara teori maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dilihat dari jawaban siswa melalui pretes dan postes (Slameto dalam Kaswan, 2005).
Pemahaman konsep sangat penting dimiliki oleh siswa yang telah mengalami proses belajar. Pemahaman konsep yang dimiliki oleh siswa dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang ada kaitannya dengan konsep yang dimiliki. Dalam pemahaman konsep siswa tidak terbatas hanya mengenal tetapi siswa harus dapat menghubungkan antara satu konsep dengan konsep lainnya.
I. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan Model Pemelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Untuk Meningkatkan Penguasaan Kosep Siswa SMA Negeri 4 Kendari Pada Materi Listrik Dinamis.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester 2 (genap) tahun ajaran 2007/2008 yang berlangsung pada bulan Maret sampi April 2008, yang bertempat di SMA Negeri 4 Kendari.
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII semester 2 SMA Negeri 4 Kendari yang terdaftar tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 40 orang.

4. Desain Penelitian
Penelitian tindakan kelas merupakan proses pengkajian melalui system berdaur atau siklus dari berbagai kegiatan pembelajaran. Menurut Rakajoni dalam Nur (2000) bahwa terdapat lima tahapan dalam PTK, yaitu: (a). pengembangan focus masalah penelitian, (b) perencanaan tindakan perbaikan, (c). pelaksanaan tindakan perbaikan, (d) analisis dan refleksi, dan (e). perencanaan tindak lanjut. Untuk melihat gambar dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas, maka dapat di lihat pada gambar desain penelitian berikut:























Gambar 1. Rancangan dan Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Tim Proyek PGSM, 1999:27)

6. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari tiga siklus, tiap faktor yang diteliti disesuaikan dengan siklus perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Untuk memantau pelaksanaan tindakan pada proses pembelajaran di kelas, maka dilakukan observasi terhadap aktivitas guru mata pelajaran fisika pada setiap siklus dan yang mengobservasi aktivitas siswa adalah teman peneliti yang terdiri atas 3 orang. Setelah selesai, peneliti melakukan evaluasi terhadap siswa dengan memberikan tes hasil belajar dalam bentuk essay dalam setiap siklus. Dan hasil analisis tes hasil belajar ini, maka peneliti melakukan interpretasi terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa baik secara individu maupun kelompok. Berdasarkan hasil analisis aktivitas dan hasil belajar siswa tersebut, maka peneliti melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang dilanjutkan pada tindakan selanjutnya sampai standar ketuntasan tercapai. Adapun pelakdanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas yaitu : (1) perencanaan,(2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan evaluasi, (4) refleksi. (Tim Proyek PGSM, 1999:78).
Secara lebih rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini sijabarkan sebagai berikut :
a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakkan pada tahap ini meliputi :
(i) Mengembangkan rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) beserta skenario tindakan yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CIRC.
(ii) Mengembangkan lembar observasi pengelolahan model pembelajaran CIRC meliputi lembar observasi penerapan model pembelajaran CIRC untuk guru dan lembar observasi aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
(iii) Menyiapkan media pembelajaran di antaranya buku paket fisika dan LKS.
(iv) Menyiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperukan di kelas.
(v) Menyiapkan instrument tes hasil belajar berupa tes essay yang digunakan pada akhir siklus
(vi) Mengembangkan alat evaluasi pada setiap siklus pembelajaran yang meliputi penilaian pada hasil belajar siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan pada tahap ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran CIRC materi listrik dinamis. Sesuai dengan rencana pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti pada tahap perencanaan pada siklus I sub materi Alat Ukur Listrik pada siklud II Hukum Ohm dan Hukum Kircchoff
c. Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar obsevasi yang telah dibuat. Proses observasi dilakukan sejak awal hingga akhir pelaksanaan tindakan. Kegiatan pada tahap ini terdiri dari :
(i) Pengamat mengamati pelaksanaan tindakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode pemevahan masalah.
(ii) Pengamat mengamatai aktivitas dan perilaku siswa serta peruahan sikap yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.
d. Evaluasi
Proses evaluasi dilaksanakan pada setiap menggu pada setiap akhir siklus tindakan. Evaluasi bertujuan untuk melihat apakah terjadi peningkatan hasil belajar siswa dan peningkatan aktivitas belajar siswa selama penerapan model pembelajaran CIRC. Alat evaluasi yang digunakan adalah tes hasil belajar dan lembar observasi aktivitas belajar siswa.
e. Refleksi
Kegiatan reflekasi bertjuan untuk menganalisis data pada setiap akhir siklus dengan prosedur analisis sebagai berikut : mereduksi data, menyajikan data dan menyimpulkan. Refleksi dilakukan terhadap seluruh hasil observasi untuk membuat/memperbaiki perencanaan sebelumnya dan menentukan tindakan pada tahap berikutnya. Kriteria keberhasilan tindakan ditetapkan sebagai berikut :
- Secara umum hasil belajar fisika siswa meningka dari pre-test ke post-test, dari siklus I ke siklus II, dan dari siklus II ke siklus III.
- Pada akhir siklus III telah memenuhi target yang telah ditetapkan pada indikator kinerja.

7. Indikator Kinerja
Indikator proses keberhasilan proses pelaksanaan tindakan kelas ini apabila rata-rata hasil belajar siswa secara individual telah mencapai ≥ 65 % dan secara klasikal ≥ 75 % (ketentuan dari sekolah)
8. Data dan Teknik Pengumpulan Data

a. Sumber Data : yaitu guru dan siswa
b. Jenis Data : Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data tersebut diperoleh dari tes hasil belajar dan lembar observasi.
c. Teknik pengambilan data :
(i) Data mengenai kondisi pelaksanaan model pembelajaran CIRC diambil dengan menggunakan lembar observasi.
(ii) Data mengenaihasil belajar sains fisika diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.
(iii) Data mengenai aktivitas siswa diambil dengan menggunakan lembar observasi

7. Instrumen Penelitian
Untuk keperluan pengumpulan data dibutuhkan suatu tes yang baik. Tes yang baik biasanya memenuhi kriteria validitas tinggi, reliabitas tinggi, daya pembeda yang baik, dan tingkat kesukaran yang layak. Untuk mengetahui karakteristik kualitas tes yang digunakan tersebut, maka sebelum dipergunakan seyogyanya tes tersebut diuji coba untuk mendapatkan gambaran validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukarannya. Langkah-langkah pengujian instrumen adalah sebagai berikut:
a. Validitas
Validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauhmana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Dalam bahasa Indonesia “valid” disebut dengan istilah “sahih”. Sebuah soal akan memiliki validitas yang tinggi jika skor soal tersebut memiliki dukungan yang besar terhadap seluruh soal yang ada. Untuk menguji validitas setiap butir soal, skor-skor yang ada pada butir soal yang dimaksud dikorelasikan dengan skor total.
Dukungan setiap butir soal dinyatakan dalam bentuk kesejajaran atau korelasi dengan tes secara keseluruhan, sehingga untuk mendapatkan validitas suatu butir soal dapat digunakan rumus korelasi. Salah satu persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung koefisien korelasi adalah rumus korelasi product moment Pearson seperti berikut:
(Arikunto, 2005)
keterangan:
: koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan.
X : skor item
Y : skor total
N : jumlah siswa.
Interpretasi besarnya koefisien korelasi dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 1. Kategori validitas butir soal
Batasan Kategori
0,80 < ≤ 1,00
sangat tinggi
0,60 < ≤ 0,80
tinggi
0,40 < ≤ 0,60
cukup
0,20 < ≤ 0,40
rendah
0,00 ≤ 0,20
sangat rendah

Kemudian untuk mengetahui signifikansi korelasi dilakukan uji-t dengan rumus berikut:
(Sudjana,1992)
Keterangan:
t : Daya pembeda dari uji t
N : Jumlah subjek
rxy : Koefisien korelasi
2. Reliabilitas
Reliabilitas adalah kestabilan skor yang diperoleh ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Suatu tes dapat dikatakan memiliki taraf reliabilitas yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap yang dihitung dengan koefisien reliabilitas. Menghitung reliabilitas soal dengan rumus (Arikunto, 2005)

dimana: : koefisien reliabilitas yang telah disesuaikan
: Koefisien antara skor-skor setiap belahan tes
Harga dari dapat ditentukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment Pearson. Interpretasi derajat reliabilitas suatu tes menurut Arikunto (2005) adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Kategori reliabilitas butir soal
Batasan Kategori
0,80 < ≤ 1,00
sangat tinggi
0,60< ≤ 0,80
tinggi
0,40 < ≤ 0,60
cukup
0,20 < ≤ 0,40
rendah
≤ 0,20
sangat rendah
3. Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu soal. Besarnya indeks kesukaran berkisar antara 0,00 sampai 1,0. Soal dengan indeks kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa soal tersebut terlalu mudah. Indeks kesukaran diberi simbol P (proporsi) yang dihitung dengan rumus:

Keterangan:
P : Indeks kesukaran
B : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Klasifikasi untuk indeks kesukaran adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Kategori tingkat kesukaran butir soal
Batasan Kategori
0,00 ≤ P < 0,30 soal sukar
0,30 ≤ P < 0,70 soal sedang
0,70 ≤ P 1,00
soal mudah
4. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut Indeks diskriminasi (D). Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah:
(Arikunto, 2005)
Keterangan :
J : jumlah peserta tes
JA : banyaknya peserta kelompok atas
JB : banyaknya peserta kelompok bawah
BA: banyaknya kelompok atas yang menjawab benar
BB: banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar
PA: proporsi kelompok atas yang menjawab benar
PB : proporsi kelompok bawah yang menjawab benar
Kategori daya pembeda dapat dilihat pada tabel 3.4
Tabel 4. Kategori daya pembeda butir soal
Batasan Kategori
0,00 ≤ D ≤ 0,20 jelek
0,20 < D ≤ 0,40 cukup
0,40 < D ≤ 0,70 baik
0,70 < D ≤ 1,00 baik sekali

5. Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Sebelum dilakukan pengolahan data, terlebih dahulu dilakukan penskoran terhadap data hasil penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah :
1. Menghitung peningkatan pemahaman konsep (hasil belajar) siswa pada materi suhu dan kalor, dengan menggunakan rumus g factor (gain score normalized) dengan rumus :
(Meltzer, 2002)
Keterangan:
: Skor postes
: Skor pretes
: Skor maksimum ideal
Kriteria perolehan skor g dapat dilihat pada tabel 5
Tabel 5. Kategori perolehan skor g
Batasan Kategori
g > 0,7 tinggi
0,3 ≤ g ≥ 0,7 sedang
g < 0,3 rendah

2. Menghitung persentase kegagalan siswa dalam mengikuti tes dengan rumus :
(Usman, 1993)

3. Mengkategorikan nilai hasil belajar siswa dengan kriteria sebagai berikut :
Sangat tinggi : 85-100
Tinggi : 66-84,9
Sedang : 55-65,9
Rendah : 40-54,9
Sangat rendah : 0-39,9 (Safari, 2003)


Baca Selengkapnya....

Sunday, March 1, 2009

Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku siswa Pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan

BAB I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa yang penuh problema. Dalam masa ini tidak sedikit remaja yang mengalami kegoncangan yang menyebabkan munculnya


emosional yang belum stabil sehingga mudah melakukan pelanggaran terhadap norma-norma dalam masyarakat.
Remaja sebagai manusia yang sedang tumbuh dan berkembang terus melakukan interaksi sosial baik antara remaja maupun terhadap lingkungan lain. Melalui proses adaptasi, remaja mendapatkan pengakuan sebagai anggota kelompok baru yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Remaja pun rela menganut kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam suatu kelompok remaja.
Dalam pergaulan remaja, kebutuhan untuk dapat diterima bagi setiap individu merupakan suatu hal yang sangat mutlak sebagai mahluk sosial. Setiap anak yang memasuki usia remaja akan dihadapkan pada permasalahan penyesuaian sosial, yang diantaranya adalah problematika pergaulan teman sebaya. Pembentukan sikap, tingkah laku dan perilaku sosial remaja banyak ditentukan oleh pengaruh lingkungan ataupun teman-teman sebaya. Apabila lingkungan sosial itu menfasilitasi atau memberikan peluang terhadap remeja secara positif, maka remaja akan mencapai perkembangan sosial secara matang. Dan apabila lingkungan sosial memberikan peluang secara negatif terhadap remaja, maka perkembangan sosial remaja akan terhambat (Devy irawati, 2002).
Pengaruh lingkungan diawali dengan pergaulan dengan teman. Pada usia 9-15 tahun hubungan perkawanan merupakan hubungan yang akrab yang diikat oleh minat yang sama, kepentingan bersama, dan saling membagi perasaan, saling tolong menolong untuk memecahkan masalah bersama.
Peran teman sebaya dalam pergaulan remaja menjadi sangat menonjol. Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat individu dalam persahabatan serta keikut sertaan dalam kelompok. Kelompok teman sebaya juga menjadi suatu komunitas belajar di mana terjadi pembentukan peran dan standar sosial yang berhubungan dengan pekerjaan dan prestasi (Santrock, 2003 : 257).
Berdasarkan pra penelitian di lapangan bahwa dalam suasana belajar ataupun waktu istrahat sedang berlangsung, baik siswa laki-laki maupun perempuan menghabiskan banyak waktunya bersama dengan teman-temannya. Seorang guru SLTP Negeri I wakorumba selatan juga mengatakan bahwa ada dua bentuk perilaku yang muncul dari pengaruh teman sebaya, yang pertama kelompok siswa yang selalu berprestasi dan yang kedua yakni kelompok siswa yang suka melanggar aturan sekolah.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku siswa Pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan”
A.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini yaitu “Apakah ada pengaruh teman sebaya terhadap perilaku siswa di sekolah?”
B.Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
a.Untuk mengetahui pergaulan teman sebaya pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
b.Untuk mengetahui perilaku siswa pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
c.Untuk mengetahui pengaruh pergaulan teman sebaya terhadap perilaku siswa pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
2. Manfaat penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
a.Sebagai bahan informasi bagi instansi terkait dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
b.Sebagai bahan informasi bagi masyarakat agar mereka dapat memberikan informasi kepada siswa untuk lebih termotivasi belajar dan dapat meminimalisir pengaruh negatif yang muncul dan mempertahankan pengaruh positif.
c.Sebagai bahan informasi bagi peneliti dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Segi utama yang perlu diperhatikan adalah bahwa manusia secara hakiki merupakan mahluk sosial. Sejak dilahirkan ia membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya, makanan, minuman dan lain-lain. Apabila seorang individu mulai bergaul dengan kawan-kawan sebayanya, ia pun tidak lagi hanya menerima kontak sosial itu, tetapi ia juga dapat memberikan kontak sosial. Ia mulai mengerti bahwa di dalam kelompok sepermainannya terdapat peraturan-peraturan tertentu, norma-norma sosial yang hendaknya ia patuhi dengan rela guna dapat melanjutkan hubungannya dengan kelompok tersebut secara lancar. Ia pun turut membentuk norma-norma pergaulan tertentu yang sesuai dengan interaksi kelompok.
A.Pengertian Teman Sebaya.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, teman sebaya diartikan sebagai kawan, sahabat atau orang yang sama-sama bekerja atau berbuat (Anonim, 2002 : 1164). Sementara dalam Mu’tadin (2002:1) menjelaskan bahwa teman sebaya adalah kelompok orang-orang yang seumur dan mempunyai kelompok sosial yang sama, seperti teman sekolah atau teman sekerja.
Teman sebaya (peer) sebagai sebuah kelompok sosial sering didefinisikan sebagai semua orang yang memiliki kesamaan ciri-ciri seperti kesamaan tingkat usia. Lebih lanjut Hartup dalam Santrock (1983 : 223) mengatakan bahwa teman sebaya (Peers) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau kedewasaan yang sama. Akan tetapi oleh Lewis dan Rosenblum dalam Samsunuwiyati (2005 : 145) Definisi teman sebaya lebih ditekankan pada kesamaan tingkah laku atau psikologis.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka saya mendefinisikan teman sebaya sebagai interaksi individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama serta melibatkan keakraban yang relatif besar diantara kelompoknya
B.Fungsi Kelompok Teman Sebaya
Kelompok teman sebaya merupakan interaksi awal bagi anak-anak dan remaja pada lingkungan sosial. Mereka mulai belajar bergaul dan berinteraksi dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Ini dilakukan agar mereka mendapat pengakuan dan penerimaan dari kelompok teman sebayanya sehingga akan tercipta rasa aman.
Sejumlah penelitian telah merekomendasikan betapa hubungan sosial dengan teman sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan pribadi. Salah satu fungsi kelompok teman sebaya yang paling penting adalah menyediakan suatu sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Anak-anak atau remaja menerima umpan balik tentang kemampuan-kemampuan mereka dari kelompok temam sebaya. Mengevaluasi apakah yang mereka lakukan lebih baik, sama atau lebih jelek dari yang dilakukan oleh anak-anak lain.
Kelompok memenuhi kebutuhan pribadi remaja, menghargai mereka, menyediakan informasi, menaikan harga diri, dan memberi mereka suatu identitas. Remaja bergabung dengan suatu kelompok dikarenakan mereka beranggapan keanggotaan suatu kelompok akan sangat menyenangkan dan menarik serta memenuhi kebutuhan mereka atas hubungan dekat dan kebersamaan. Mereka bergabung dengan kelompok karena mereka akan memiliki kesempatan untuk menerima penghargaan, baik yang berupa materi maupun psikologis. Kelompok juga merupakan sumber informasi yang penting. Saat remaja berada dalam suatu kelompok belajar, mereka belajar tentang strategi belajar yang efektif dan memperoleh informasi yang berharga tentang bagaimana cara untuk mengikuti suatu ujian.
Hartup dalam Didi Tarsadi mengidentifikasi empat fungsi teman sebaya, yang mencakup :
1.Hubungan teman sebaya sebagai sumber emosi (emotional resources), baik untuk memperoleh rasa senang maupun untuk beradaptasi terhadap stress
2.Hubungan teman sebaya sebagai sumber kognitif (cognitive resources) untuk pemecahan masalah dan perolehan pengetahuan
3.Hubungan teman sebaya sebagai konteks di mana keterampilan sosial dasar (misalnya keterampilan komunikasi sosial, keterampilan kerjasama dan keterampilan masuk kelompok) diperoleh atau ditingkatkan; dan
4.Hubungan teman sebaya sebagai landasan untuk terjalinnya bentuk-bentuk hubungan lainnya (misalnya hubungan dengan saudara kandung) yang lebih harmonis. Hubungan teman sebaya yang berfungsi secara harmonis di kalangan anak-anak prasekolah telah terbukti dapat memperhalus hubungPeranan Hubungan Teman Sebaya dalam Perkembangan Kompetensi Sosial Anak

Lebih lanjut lagi secara lebih rinci Kelly dan Hansen dalam Samsunuwiyati (2005 : 220) menyebutkan 6 fungsi positif dari teman sebaya, yaitu :
1.Mengontrol impuls-impuls agresif.
2.Memperoleh dorongan emosional dan sosial serta menjadi lebih independen. Teman-teman dan kelompok teman sebaya memberikan dorongan bagi remaja untuk mengambil peran dan tanggung jawab baru mereka.
3.Meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang.
4.Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin.
5.Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai.
6.Menigkatkan harga diri (self-esteem). Menjadi orang yanh disukai oleh sejumlah besar teman-teman sebayanya membuat remaja merasa enak atau senang senang tentang dirinya.
Kelompok teman sebaya biasanya beranggotakan perempuan saja, laki-laki saja atau campuran, kalau kelompoknya beranggotakan laki-laki saja biasanya sebagaian besar anggotanya tidak terlampau dekat secara emosional, sedangkan apabila kelompok beranggotakan perempuan biasanya anggotanya lebih akrab.
C.Jenis Kelompok Teman Sebaya
Dalam kehidupan sehari-sehari remaja selalu bersama dengan teman-temannya, sehingga remaja sering tergabung dalam kelompok-kelompok tertentu.
Pra ahli psikologi sepakat bahwa terdapat kelompok-kelompok yang terbentuk dalam masa remaja. Kelomppok tersebut adalah sebagai berikut :

a.Sahabat Karib (Chums)
Chums yaitu kelompok dimana remaja bersahabat karib dengan ikatan persahabatan yang sangat kuat. Anggota kelompok biasanya terdiri dari 2-3 orang dengan jenis kelamin sama, memiliki minaat, kemauan-kemauan yang mirip.
b.Komplotan sahabat (Cliques)
Cliques biasnya terdiri dari 4-5 remaja yang memiliki minat, kemampuan dan kemauan-kemauan yang relatif sama. Cliques biasanya terjadi dari penyatuan dua pasang sahabat karib atau dua Chums yang terjadi pada tahun-tahun pertama masa remaja awal. Jenis kelamin remaja dalam satu Cliques umumnya sama.
c.Kelompok banyak remaja (Crowds)
Crowds biasanya terdiri dari banyak remaja, lebih besr dibanding dengan Cliques. Karena besrnya kelompok, maka jarak emosi antra anggota juga agak renggang. Dengan demikian terdapat jenis kelamin berbeda serta terdapat keragaman kemampuan, minat dan kemauan diantara para anggota. Hal yang dimiliki dalam kelompok ini adalah rasa takut diabaikan atau tidak diterima oleh teman-teman dalam kelompok remja. Dengan kata lain remaja ini sangat membutuhkan penerimaan peer-groupnya.
D.Penerimaan dan Penolakan Teman Sebaya
Dalam kelompok teman sebaya, merupakan kenyataan adanya remaja yang diterima dan ditolak. Hal ini disebabkan oleh beberapafaktor sebagai berikut :
1.Faktor-faktor yang menyebabkan seorang remaja diterima
a.Penampilan (performance) dan perbuatan meliputi antara lain : tampang yang baik, atau paling tidakrapi danaktif dalamkegiatan-kegiatan kelompok
b.Kemampuan pikir antara lain : mempunyai inisiatif, banyak memikirkan kepentingan kelompok dan mengemukakan buah pikirannya
c.Sikap, sifat, perasaan antara lain : bersikap sopan, memperhatikanorang lain, penyabar atau dapat menahan marah jika berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan dirinya
d.Pribadi meliputi : jujur dan dapat dipercaya, bertanggung jawab dan suka menjalankan pekerjaannya, mentaati peraturan-peraturan kelompok, mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi dan pergaulan sosial.
2.Faktor-faktor yang menyebabkanseorang remaja ditolak
a.Penampilan (performance) dan perbuatan antaralain meliputi :
sering menantang, malu-malu, dan senang menyendiri
b.Kemampuan pikir meliputi :
bodoh sekali atau sering disebut tolol
c.Sikap, sifat meliputi : suka melanggar normadan nilai-nilai kelompok, suka menguasai anak lain, suka curiga, dan suka melaksanakan kemauan sendiri
d.Ciri lain : faktor rumah yang terlalujauh dari tempat teman sekelompok
Arti penting dari penerimaan atau penolakan teman sebaya dalam kelompok bagi seseorang remaja adalah bahwa mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pikiran, sikap, perasaan, perbuatan-perbuatan dan penyesuaian diri remaja.
Akibat langsung dari penerimaan teman sebaya bagi seseorang remaja adalah adanya rasa berharga dan berarti serta dibutuhkan bagi kelompoknya. Hal yang demikian ini akan menimbulkan rasa senang, genbira, puas bahkan rasa bahagia.
Hal yang sebaliknya dapat terjadi bagi remaja yang ditolak oleh kelompoknya yakni adanya frustasi yang menimbulkan rasa kecewa akibat penolakan atau pengabaian itu.
E.Ciri-ciri dan tugas Perkembangan remaja
Menurut Gunarsa (1987 : 6) remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak kemasa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan masa dewasa.
Oleh Wibowo dalam Simanjutak (1984 : 14) mengemukakan bahwa “remaja adalah mereka yang berusia 12 tahun sampai 18 tahun dan merupakan ciri-ciri fisik yang lebih menonjol sesuai dengan ritme perkembangan dalam tahap-tahapannya”.
Selanjutnya menurut Mapiare dalam Sudarsono (1991 : 13) mengungkapkan tentang adanya rentang kehidupan remaja yaitu “masa remaja awal dari 13 tahun sampai dengan 17 tahun dan masa remaja akhir dari 17 tahun sampai 20 tahun”.
1.Ciri-ciri Masa Remaja
Usia remaja adalah tahap yang banyak terjadi perubahan baik dalam aspek fisik maupun psikologis, mereka diharapkan untuk dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang dialamai maupun efek dari perubahan yang dialami oleh mereka.
Berkaitan dengan hal tersebut, Hurlock dalam Nurmiyati (1994 : 7) menyebutkan beberapa ciri yang ada dimasa remaja :
a.Masa remaja sebagai periode yang penting
b.Masa remaja sebagai periode peralihan
c.Masa remaja sebagai perubahan
d.Masa remaja sebagai usia bermasalah
e.Masa remaja sebagai masa mencari identitas
f.Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan
g.Masa remaja sebagai yang tidak realistis
h.Masa remaja sebagai masa ambang dewasa


2.Tugas Perkembangan Masa Remaja
Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 12-21 pada wanita dan 13-22 tahun pada pria. Masa remaja yang panjang ini dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi si remaja sendiri melainkan juga bagi para orang tua, guru, dan masyarakat sekitar. Bahkan tak jarang para penegak hukum pun ikut direpotkan oleh ulah dan tindak tanduknya yang dipandang menyimpang.
Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja pada umumnya meliputi pencapaian dan persiapan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan masa dewasa. Tugas-tugas remaja tersebut adalah sebagai berikut :
1.Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan etika moral yang berlaku dalam masyarakat.
2.Mencapai peranan sosial sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan peranan sosial sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita) selaras dengan tuntutan sosial dan kultural masyarakat.
3.Menerima kesatuan organ-organ tubuh sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan kesatuan organ-organ sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita) dan menggunakan secara efektif sesuai dengan kodratnya masing-masing.
4.Keinginan menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang bertanggung jawab di tengah-tengah masyarakat.
5.mencapai kemerdekaan/kebebasan emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya dan mulai menjadi seorang “person” (menjadi dirinya sendiri).
6.Mempersiapkan diri untuk mencapai karir (jabatan dan profesi) tertentu dalam kehidupan ekonomi.
7.Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan (rumah tangga) dan kehidupan berkeluarga yakni sebagai suami dan istri.
8.Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman bertingkah laku dan mengembangkan ideologi untuk keperluan kehidupan kewarganegaraan.
Menurut Syamsu Yusuf (2000 : 20) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu, dalam masyarakat orang dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa yaitu sebagai berikut:
1.Masa Pra Remaja (remaja awal)
Masa pra remaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu yang relatif singkat, masa ini ditandai oleh adanya sifat-sifat negatif dengan gejalanya seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pesimistik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negatif dapat diringkas yaitu a). Negatif dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental, dan b). Negatif dalam sikap sosial, baik dalam bentuk menarik diri dalam masyarakat (negatif pasif) maupun dalam bentuk agresi terhadap masyarakat (negatif aktif)
2.Masa Remaja Tengah (remaja madya)
Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang akan memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya pada masa ini, sebagai masa yang mencari sesuatu yang dapat dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi sebagai gejala remaja.
3.Masa Remaja Akhir
Setelah remaja dan dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah remaja akhir dan terpenuhilah tugas-tugas masa remaja, yaitu penemuan pendirian hidup.
F.Pengertian perilaku
Perilaku atau aktifitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu atau organisme itu. Perilaku atau aktifitas itu merupakan jawaban atau respon terhadap stimulus yang mengenainya. Apa yang ada dalam diri organisme itu yang berperan memberikan respon adalah apa yang telah ada pada diri organisme, atau apa yang telah dipelajari oleh organisme yang bersangkutan.
Perilaku pada manusia dapat dibedakan atas perilaku yang refleksif dan perilaku yang non-refleksif. Perilaku yang refleksif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi yang secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut. Misalnya reaksi kedip mata bila kena sinar. Perilaku refleksif adalah perilaku yang terjadi dengan sendirinya, secara otomatis. Dalam perilaku refleksif, respon langsung timbul begitu menerima stimulus. Lain halnya dengan perilaku yang non-refleksif. Perilaku ini merupakan perilaku yang dibentuk, dapat dikendalikan, karena itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses belajar. Disamping itu perilaku dapat dikendalikan atau terkendali, yang berarti bahwa perilaku itu dapat diatur oleh individu yang bersangkutan.
Perilaku atau gejala yang tampak pada manusia dapat dipengaruhi oleh bebereapa faktor seperti faktor genetik (keturunan) dan faktor lingkungan.
“Perilaku dipandang dari segi biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas dari organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku maanusia pada hakekatnya adlah suatu aktivitas dari manusia. Oleh karena itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas yang dapat mencakup berjalan, bereaksi, berpakaian, dan lain sebagainya. Bahkan kegiataan internal (internal aktivities) seperti berpikir, persepsi, dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan analitis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme (manusia) baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang diamati secara tidak langsung”. (Notoatmojo dalam Sulwati, 2007 : 14).

Oudum dalam Sulwati (2007 : 15) mengemukakan bahwa perilaku merupakan tindakan yang tegas dari suatu organisme untuk melanjutkn hidupnya.
Sedangkan Sarwono dalam Sulwati (2007 : 15) menyatakan bahwa Perilaku merupkan segala macam pengalaman dan interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam pengetahuan, sikap dan tindakan.
Selanjutnya Ndara mengartikan perilaku sebagai operasionalisasi dan aktualisasi seseorang atau suatu kelompok terhadap suatu situasi dan kondisi lingkungan (masyarakat, alam, teknologi, dan organisasi).
Berdasarkan beberapa uraian tentang pengertian perilaku tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah tindakan yang dilakukaan oleh individu sebagai akibat dari aktualisasi seseorang atau kelompok terhadap suatu sutuasi dan kondisi lingkungan.
G.Teori Belajar Sosial
Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan. Cara yang kedua inilah yang paling besar pengaruhnya terhadap perilaku manusia.
Terbentuknya dan perubahan perilaku karena proses interaksi antara individu dengan lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar. Oleh sebab itu, perubahan perilaku dan proses belajar itu sangat erat kaitannya. Perubahan perilaku merupakan hasil dari proses belajar.
Untuk melangsung kehidupan, manusia perlu belajar. Dalam hal ini ada 2 macam belajar, yaitu belajar secara fisik, misalnya menari, olah raga, mengendarai mobil, dan sebagainya, dan belajar psikis.
Dalam belajar psikis ini termasuk juga belajar sosial (social learning) dimana seseorang mempelajari perannya dan peran-peran orang lain dalam konteks sosial. Selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya dengan peran orang lain atau peran sosial yang telah dipelajari. Cara yang sangat penting dalam belajar sosial menurut teori stimulus-respons adalah tingkah laku tiruan (imitation). Teori dengan tingkah laku tiruan yang penting disajikan disini adalah teori dari Millers, NE dan Dollard, serta teori Bandura A. dan Walter RH.
1. Teori Belajar Sosial dan Tiruan Dari Millers dan Dollard
Pandangan Millers dan Dollard bertitik tolak pada teori Hull yang kemudian dikembangkan menjadi teori tersendiri. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu merupakan hasil belajar. Oleh karena itu untuk memahami tingkah laku sosial dan proses belajar sosial, kita harus mengetahui prinsip-prinsip psikologi belajar.
Prinsip belajar itu terdiri dari 4, yakni dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah laku balas (respons), dan ganjaran (reward). Keempat prinsip ini saling mengait satu sama lain, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi respons, respons menjadi ganjaran, dan seterusnya.
Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap organisme (manusia) untuk bertingkah laku. Stimulus-stimulus yang cukup kuat pada umumnya bersifat biologis seperti lapar, haus, seks, kejenuhan, dan sebagainya. Stimulus-stimulus ini disebut dorongan primer yang menjadi dasar utama untuk motivasi. Menurut Miller dan Dollard semua tingkah laku (termasuk tingkah laku tiruan) didasari oleh dorongan-dorongan primer ini.
Isyarat adalah rangsangan yang menentukan bila dan dimana suatu respons akan timbul dan terjadi. Isyarat ini dapat disamakan dengan rangsangan diskriminatif. Didalam belajar sosial, isyarat yang terpenting adalah tingkah laku orang lain, baik yang langsung ditujukan orang tertentu maupun yang tidak, misalnya anggukan kepala merupakan isyarat untuk setuju, uluran tangan merupakan isyarat untuk berjabat tangan.
Mengenai tingkah laku balas (respons), mereka berpendapat bahwa manusia mempunyai hirarki bawaan tingkah laku. Pada saat manusia dihadapkan untuk pertama kali kepada suatu rangsangan tertentu maka respons (tingkah laku balas) yang timbul didasarkan pada hirarki bawaan tersebut. Setelah beberapa kali terjadi ganjaran dan hukuman maka tingkah laku balas yang sesuai dengan faktor-faktor penguat tersebut disusun menjadi hirarki resultan (resultant hierarchy of respons).
Disinilah pentingnya belajar dengan coba-coba dan ralat (trial and error learning). Dalam tingkah laku sosial, belajar coba-ralat dikurangi dengan belajar tiruan dimana seseorang tinggal meniru tingkah laku orang lain untuk dapat memberikan respons yang tepat. Sehingga ia tidak perlu membuang waktu untuk belajar dengan coba-ralat.
Ganjaran adalah rangsang yang menetapkan apakah tingkah laku balas diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain. Menurut Miller dan Dollard ada 2 reward atau ganjaran, yakni ganjaran primer yang memenuhi dorongan-dorongan primer dan ganjaran sekunder yang memenuhi dorongan-dorongan sekunder.
Lebih lanjut mereka membedakan 3 macam mekanisme tingkah laku tiruan, yakni
a. Tingkah Laku Sama
Tingkah laku ini terjadi pada 2 orang yang bertingkah laku balas (respons) sama terhadap rangsangan atau isyarat yang sama. Contoh 2 orang yang berbelanja di toko yang sama dan dengan barang yang sama. Tingkah laku yang sama ini tidak selalu hasil tiruan maka tidak dibahas lebih lanjut oleh pembuat teori.
b. Tingkah laku Tergantung (Matched Dependent Behavior)
Tingkah laku ini timbul dalam interaksi antara 2 pihak dimana salah satu pihak mempunyai kelebihan (lebih pandai, lebih mampu, lebih tua, dan sebagainya) dari pihak yang lain. Dalam hal ini, pihak yang lain atau pihak yang kurang tersebut akan menyesuaikan tingkah laku (match) dan akan tergantung (dependent) pada pihak yang lebih.
c. Tingkah Laku Salinan (Copying Behavior)
Seperti tingkah laku tergantung, pada tingkah laku salinan, peniru bertingkah laku atas dasar isyarat yang berupa tingkah laku pula yang diberikan oleh model. Demikian juga dalam tingkah laku salinan ini, pengaruh ganjaran dan hukuman sangat besar terhadap kuat atau lemahnya tingkah laku tiruan.
Perbedaannya dengan tingkah laku tergantung adalah dalam tingkah laku tergantung ini si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada saat itu saja. Sedangkan pada tingkah laku salinan, si peniru memperhatikan juga tingkah laku model di masa yang lalu maupun yang akan dilakukan di waktu mendatang.
Hal ini berarti perkiraan tentang tingkah laku model dalam kurun waktu yang relatif panjang ini akan dijadikan patokan oleh di peniru untuk memperbaiki tingkah lakunya sendiri dimasa yang akan datang sehingga lebih mendekati tingkah laku model.
2. Teori Belajar Sosial dari Bandura dan Walter
Teori belajar sosial yang dikemukakan Bandura dan Walter ini disebut teori proses pengganti. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah suatu bentuk asosiasi dari rangsang dengan rangsang lainnya. Penguat (reinforcement) memang memperkuat tingkah laku balas (respons) tetapi dalam proses belajar sosial, hal ini tidak terlalu penting.
Aplikasi teori ini adalah apabila seseorang melihat suatu rangsang dan ia melihat model bereaksi secara tertentu terhadap rangsang itu maka dalam khayalan atau imajinasi orang tersebut, terjadi rangkaian simbol-simbol yang menggambarkan rangsang dari tingkah laku tersebut. Rangkaian simbol-simbol ini merupakan pengganti dari hubungan rangsang balas yang nyata dan melalui asosiasi, si peniru akan melakukan tingkah laku yang sama dengan tingkah laku model.
Terlepas dari ada atau tidak adanya rangsang, proses asosiasi tersembunyi ini sangat dibantu oleh kemampuan verbal seseorang. Selain dari itu, dalam proses ini tidak ada cara-coba dan ralat (trial and error) yang berupa tingkah laku nyata karena semuanya berlangsung secara tersembunyi dalam diri individu.
Hal yang penting disini adalah pengaruh tingkah laku model pada tingkah laku peniru. Menurut Bandura, pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru ini dibedakan menjadi 3 macam, yakni :
a. Efek modeling (modelling effect), yaitu peniru melakukan tingkah-tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
b. Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition) dimana tingkah-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.
c. Efek kemudahan (facilitation effect), yaitu tingkah-tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.
Akhirnya bandura dan Walter menyatakan bahwa teori proses pengganti ini dapat pula menerangkan gejala timbulnya emosi pada peniru yang sama dengan emosi yang ada pada model. Contohnya seseorang yag mendengar atau melihat gambar tentang kecelakaan yang mengerikan maka ia berdesis, menyeringai bahkan sampai menangis ikut merasakan penderitaan tersebut.
H.Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Remaja
Santrock dalam Amelia sari : 2008 menytakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku remaja adalah sebagai berikut :
a.Identiti
Zaman remaja, ada masanya pada tahap di mana remaja mengalami masalah identiti. Perubahan biologi dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi pada keperibadian remaja: satu, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan dua, tercapainya identiti peranan, kurang lebih dengan cara menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan dan gaya yang dimiliki remaja dengan peranan yang dituntut dari remaja.
b.faktor keluarga, Hal ini sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktiviti anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemacu timbulnya perilaku remaja. Pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya perilaku remaja
c.teman sebaya, hubungan pertemanan juga mempengaruhi tingkat kenakalan remaja.
d.Kontrol diri, remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima.
e.Lingkungan tempat tinggal
Lingkungan dapat berperan dalam memunculkan perilaku remaja. Lingkungan masyarakat yang lebih luas dengan keragaman perilaku memungkinkan remaja mengamati berbagai model perilaku tersebut.
Selanjutnya Herien Puspitawati (2008) menyatakan rasa ingin mendapatkan pengakuan sosial (social recognition) dan perhatian orang tua merupakan faktor pemicu remaja dalam berperilaku

I.Pengaruh Teman Sebaya Terhadp Perilaku
Selain lingkungan keluarga yang ikut mempengaruhi perkembangan seorang individu jika individu tersebut telah berinteraksi dengan individu lain adalah lingkungan sosial. Lingkungan sosial merupakan lingkungan tempat dimana seorang individu mulai berinteraksi dengan individu lain diluar anggota keluarga. Lingkungan sosial yang dimaksudkan adalah teman sebaya. Teman sebaya merupakan lingkungan bergaul seorang anak dan melalui interaksi dengan teman sebaya, individu akan berkenalan dan mulai bergaul dengan teman-temannya dengan pola perilaku yang berbeda-beda, sehingga melalui interaksi inilah masing-masing individu akan saling memahami keinginan-keinginan dan tidak jarang individu akan membentuk kelompok-kelompok jika perilaku teman-temannya tersebut telah dirasa cocok.
Pergaulan teman sebaya dapat mempengaruhi perilaku. Pengaruh tersebut dapat berupa pengaruh positif dan dapat pula berupa pengaruh negatif. Pengaruh positif yang dimaksud adalah ketika individu bersama teman-teman sebayanya melakukan aktifitas yang bermanfaat seperti membentuk kelompok belajar dan patuh pada norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pengaruh negatif yang dimaksudkan dapat berupa pelanggaran terhadap norma-norma sosial, dan pada lingkungan sekolah berupa pelanggaran terhadap aturan sekolah.
Dari teman sebaya remaja menerima umpan balik mengenai kemampuan mereka. Remaja cenderung untuk mengikuti pendapat dari kelompoknya dan menganggap bahwa kelompoknya itu selalu benar. Kecenderungan untuk bergabung dengan teman sebaya didorong oleh keinginan untuk mandiri, sebagaimana yang diungkapkan oleh Hurlock dalam Mu’tadin (2002 : 22) bahwa melalui hubungan teman sebaya remaja berpikir mandiri, mengambil keputusan sendiri, memerima bahkan menolak pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima didalam kelompoknya.
Kelompok begaul/kelompok teman sebaya dapat memberikan pengaruh, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Teman sebaya menuntut nilai kebersamaan, kekerabatan, kemanusiaan serta persaudaraan. Namun jika perilaku dalam kelompok didominasi oleh pencurian, tawuran, serta tindak kriminal, maka akan memberikan pengaruh negatif pada perkembangan remaja.
Menurut Wahyurini (2003 : 2) manfaat menjalin persahabatan dengan teman sebaya yaitu sebagai berikut :
b.Bisanya dengan teman dekat seseorang dapat berbicara terbuka dan jujur. Hal ini memberikan kemampuan untuk peka pada kekuatan, kelemahan, kebutuhan, dan keinginan orang lain. Persahabatan memungkinkan seseorang untuk saling berbagi dalam banyak hal, termasuk persoalan yang bersifat pribadi. Persahabatan dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menggali dan mengenali diri sendiri.
c.Kepekaan karena persahabatan akan meningkatkan rasa empati atau dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kebersamaan dengan teman menjadikan kita akan merasa memperoleh dukungan, termasuk saat sedang bermasalah atau mengalami stres.
d.Sikap positif yang ada pada teman seperti disiplin, rajin belajar, patuh pada orang tua, bisa ditiru dan diikuti.

Sedangkan hal-hal negatif yang ditimbulkan akibat pergaulan dengan teman sebaya menurut Wahyurini (2003 : 2) adalah sebagai berikut :
a.Karena ingin diakui atau diterima, seseorang kadang melakukan hal-hal yang kurang pas. Karena takut dibilang aneh, walau salah teman sebaya lebih menerima pendapat teman dari pada pendapat sendiri.
b.Seseorang juga bisa termakan tren atau gaya yang sedang berkembang, misalnya mengikuti gaya hidup teman meskipun kita tidak mampu.
c.Karena terlalu sering bersama-sama dengan teman, kita tidak punya waktu untuk belajar atau membantu orang tua.
d.Ingin mencoba-coba yang dilakukan oleh salah seorang diantara teman, misalnya merokok, minuman beralkohol, memakai narkoba, dan seks bebas.

Sejumlah ahli teori lain menekankan pengaruh negatif dari teman sebaya terhadap perkembangan anak-anak dan remaja. Bagi sebagian remaja, ditolak atau diabaikan oleh teman sebaya, menyebabkan munculnya perasaan kesepian atau permusuhan. Sejumlah ahli teori juga telah menjelaskan budaya teman sebaya remaja merupakan suatu bentuk kejahatan yang merusak nilai-nilai dan kontrol orang tua. Lebih dari itu, teman sebaya dapat memperkenalkan remaja pada alkohol, obat-obatan (narkoba), kenakalan, dan berbagai bentuk perilaku yang dipandang orang dewasa sebagai mal adaptif (Santrock dalam Samsunuwiyati, 2005 : 221).
J.Penelitian yang relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan judul proposal penelitian ini adalah sebagai berikut antara lain sebagai berikut :
1.Penelitian yang dilakukan oleh Rita Damayanti dengan judul Peran Biopsikososial Terhadap Perilaku Beresiko Tertular HIV pada Remaja SLTA di DKI Jakarta, 2006 yang menyimpulkan bahwa dalam proses pendewasaan, pengaruh keluarga telah bergeser menjadi pengaruh teman sebaya.
2.Penelitian tentang Peranan hubungan teman sebaya dalam perkembangan kompetensi sosial anak oleh Didi Tarsadi Menyimpulkan bahwa hubungan dengan teman sebaya tampak mempunyai berbagai macam fungsi, yang banyak di antaranya dapat memfasilitasi proses belajar dan perkembangan anak.
K.Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah : “Ada pengaruh yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan perilaku sisiwa SLTP Negeri I Wakorumba Selatan”
Secara statistik hipotesis di atas dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ho : p = 0
Ha : p > 0
Dimana :
Ho = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan perilaku siswa SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
Ha = Ada pengaruh yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan perilaku siswa SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.



BAB III
METODE PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2008 di SLTP Negeri I Wakorumba Selatan.
B Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat ex post facto yang digunakan untuk mengetahui gejala-gejala yang terjadi pada diri responden. Sugiyono dalam Riduwan (1999 : 50) mengemukakan bahwa “penelitian ex post facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian melihat kebelakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut”. Lebih lanjut dikatakan penelitian ini menggunakan logika dasar yang sama dengan penelitian eksperimen yaitu jika X, maka Y, hanya saja penelitian ini tidak dapat memanipulasi langsung terhadap variabel bebas (independen)
C Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yang disimbolkan dengan X adalah teman sebaya, sedangkan variabel terikat yang disimbolkan dengan Y adalah prilaku siswa pada SLTP Negeri I Wakorumba Selatan
Desain penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh kedua variabel tersebut, dan dapat dituliskan sebagai berikut :
X Y
B.Defenisi Operasional
Untuk memudahkan memahami variabel dalam penelitian ini, maka perlu didefenisikan secara operasional.
a.Teman sebaya adalah interaksi individu remaja di SLTP Neg. I Wakorumba Selatan dengan tingkat usia relatif sama yang melibatkan keakraban yang lebih besar diantara induvidu.
b.Perilaku adalah tindakan yang dilakukan oleh individu sebagai akibat dari aktualisasi seseorang atau kelompok terhadap suatu situasi dan kondisi lingkungan
C.Populasi dan Sampel
1.Populasi
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas II SLTP Negeri I Wakorumba Selatan dengan jumlah 78 orang. Kelas II terdiri dari tiga ruangan kelas dengan jumlah masing-masing kelas sebagai berikut : kelas IIa dengan jumlah siswa 28 orang, IIb dengan jumlah siswa 26 orang dan kelas IIc berjumlah 24 orang.


2.Sampel
Penarikan sampel pad penelitian ini mengacu pada pendapat Arikunto (1998 : 120) yang mengatakan bahwa jika jumlah subjek kurang dari 100 maka sebaiknya diambil semuanya, dan jika jumlah subjeknya lebih dari 100, maka sampel penelitian diambil 10 – 15 % atau 20 – 25.Berdasarkan teori ini maka saya mengambil keseluruhan populasi sebagai sampel.
D.Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.Angket yaitu pemberian sejumlah pertanyaan kepada responden (sisiwa) untuk mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap perilaku siswa di sekolah.
2.Observasi
Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung kegiatan-kegiatan siswa sehubungan dengan pengaruh pergaulan teman sebaya terhadap perilaku siswa.
E.Tehnik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial.


1.Analisis Deskriptif
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengolah data hasil belajar siswa sebagai berikut :
a.Menentukan nilai rata-rata tes hasil belajar, dengan rumus :
= (Sudjana, 2002 : 67).
b.Menentukan variansi dengan rumus :
(Sudjana, 2002: 70).
c.Menentukan simpangan baku :
(Sudjana, 2002 : 93)

2.Analisis Inferensial
Untuk mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap perilaku siswa dilakukan analisis regresi sederhana, dengan rumus sebgai berikut :
Ŷ = a + bX (Riduwan,2004 : 148)
Dimana :
Ŷ = (baca y topi) subjek variabel terikat yang diproyeksikan
X = variabel bebas yang mempunyai nilai tertentu untuk diprediksikan
a = nilai konstant harga Y jikaa X = 0
b = nilai arah sebagai penentu ramalan (prediksi) yang menunjukan nilai peningkatan (+) atau nilai penurunan (-) variabel Y

Untuk mengetahui nilai a dan b maaka di gunakaan rumus sebagai berikut:
b = a =
Sementara itu langkah-langkah untuk menjawab regresi sederhana adalah :
Langkah 1 : Membuat Ha dan Ho dalam bentuk kalimat
Langkah 2 : membuat Ha dan Ho dalam bentuk statistic
Langkah 3 : membuat tabel penolong untuk menghitung angka statistik
Langkah 4 : Masukan angka-angka statistik dengan tabel penolong dengan rumus
b = a =
Langkah 5 : mencari jumlah kuadrat regresi (JK reg(a)), dengan rumus
JKreg(a) =
Langkah 6 : Mencari jumlah kuadrat regresi (JK reg (b/a)), dengan rumus
JK reg (b/a) = b.
Langkaah 7 : Mencari jumlah kuadrat residu (JK res) dengan rumus
JK res = JKreg (b/a) –JK reg (a)
Langkah 8 : Mencri rata-rata jumlah kuadrat Regresi (RJK reg (a)) dengan rumus
RJK reg (a) = JKreg (a)

Langkah 9 : Mencri rata-rat jumlah kuaadrat regresi (RJK reg (b/a)) dengan rumus
RJK reg (b/a) = JK reg (b/a)
Langkah 10 : Mencari rata-rata jumlah kuadrat residu (RJK res) dengan rumus
RJK res =
Langkah 11 : Menguji signifikansi dengan rumus :
Fhitung =
Kaidah pengujin signifikansi :
Jika Fhitung ≥ Ftabel, maka tolak Ho artinya signifikan
Fhitung ≤ Ftabel maka terima Ho artinya tidak signifikan.
Dengan taraf signifikan : = 0,01 atau = 0,05
Mencari nilai Ftabel dengan menggunakn tabel F dengan rumus :
F tabel = F
Langkah 12 : Membuat kesimpulan
(Riduwan, 2004 : 149)

Baca Selengkapnya....

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pada Pokok Bahasan Persamaan Garis Lurus Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Pada Kelas

A. Judul: Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pada Pokok Bahasan Persamaan Garis Lurus Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Pada Kelas VIII SMP Hasrati Kendari

B. Latar Belakang
Di Indonesia, rendahnya mutu pendidikan merupakan salah satu masalah yang terus-menerus dicari solusinya. Hal ini disebabkan karena prestasi belajar

siswa merupakan indikator tinggi rendahnya mutu pendidikan di suatu daerah. Tinggi rendahnya mutu pendidikan berhubungan erat dengan kualitas sumber daya manusia, sedangkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi mutlak dibutuhkan demi kemajuan suatu negara. Rangkaian hubungan tersebut menunjukkan bahwa penting bagi kita memberi perhatian penuh pada prestasi belajar siswa.
Kaitannya dengan mata pelajaran, matematika dikenal sebagai mata pelajaran yang relatif rumit dan sulit dipahami oleh siswa, sehingga prestasi belajar matematika siswa cenderung lebih rendah dibanding dengan mata pelajaran lain. Hal ini cukup memprihatinkan mengingat matematika memiliki obyek yang bersifat abstrak sehingga pemahamannya membutuhkan daya berpikir yang tinggi. Faktor ini menjadi salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar siswa, namun ada faktor lain yang dapat juga mempengaruhi keberhasilan siswa yang terkadang kurang mendapat perhatian, faktor tersebut antara lain motivasi dalam diri siswa, lingkungan belajar yang kondusif dan model pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan pelajaran. Model pembelajaran yang cenderung menjadikan siswa pasif, hanya melihat dan mendengarkan guru menyampaikan pelajaran dapat membuat siswa menjadi bosan dan tidak tertarik, tidak ada motivasi dari dalam dirinya untuk berusaha memahami apa yang diajarkan guru dan sudah pasti hal ini akan berimbas pada prestasi belajarnya.
Rendahnya prestasi belajar matematika siswa juga terjadi di SMP Hasrati Kendari. Berdasarkan observasi yang diadakan oleh penulis pada tanggal 13 Desember 2007 diperoleh keterangan bahwa rata-rata nilai matematika siswa kelas VIII pada ujian semester tahun ajaran pelajaran 2005/2006 dan 2006/2007 hanya berkisar pada nilai 5. Nilai ini masih tergolong rendah dan belum memenuhi standar minimal 6,0.
Kaitannya dengan materi pelajaran matematika, guru tersebut mengemukakan beberapa pokok bahasan yang tergolong sulit dipahami siswa diantaranya adalah pokok bahasan Persamaan Garis Lurus. Menurut guru tersebut, siswa masih sering mengalami kesalahan dalam menggambar kedudukan dua garis, garis-garis sejajar, membagi garis maupun perbandingan garis. Kemudian cara guru menyampaikan pelajaran, masih dominan menggunakan model pembelajaran konvensional, dimana guru memang lebih aktif daripada siswa. Siswa lebih banyak mendengar dan memperhatikan penjelasan guru serta sesekali bertanya bila ada yang tidak dimengerti. Dengan menggunakan model pembelajaran seperti itu dalam proses belajar mengajar selama ini, sangat dimungkinkan siswa merasa bosan dengan cara mengajar guru yang monoton seperti itu . Siswa tidak diberi kesempatan yang luas untuk mengembangkan daya pikir serta kreatifitasnya dan melalui model pembelajaran seperti itu siswa yang pintar akan bertambah pintar dan yang kurang akan semakin kurang kemampuannya.
Hal di atas merupakan salah satu masalah dalam pembelajaran matematika dan perlu dicarikan solusinya sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Berdasarkan observasi yang dilakukan nampak bahwa kondisi siswa di SMP Hasrati khususnya kelas VIII lebih dominan duduk berkelompok untuk membahas materi yang sedang diajarkan. Oleh karena itu, peneliti berkolaborasi dengan guru untuk mencoba menerapkan model pembelajaran lain yang lebih mengaktifkan siswa dengan harapan siswa lebih termotivasi untuk mengikuti pelajaran. Model pembelajaran tersebut juga harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengembangkan daya pikir dan kreatifitasnya. Memungkinkan siswa yang pintar membantu temannya yang kurang. Ternyata model pembelajaran yang memiliki kriteria tersebut adalah model pembelajaran kooperatif. Diantara tipe-tipe dalam model pembalajaran kooperatif terdapat tipe Jigsaw. Tipe ini dipilih oeh peneliti dan guru sebab memiliki ciri khas yaitu adanya kelompok asal dan kelompok ahli. Dengan adanya kelompok ahli, peneliti dan guru berharap nantinya siswa yang kurang kemampuannya akan terpacu untuk mengikuti teman-temannya yang lebih sebab ia diberi kesempatan dan tanggungjawab untuk menguasai suatu materi pelajaran, untuk kemudian dijelaskan kepada teman-temannya dalam kelompok asal. Di kelompok ahli, siswa akan lebih termotivasi untuk memahami materi pelajaran sebab siswa mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk menjelaskan kembali apa yang dipelajarinya di kelompok ahli kepada teman di kelompok asal, dengan demikian hasil belajar siswa tersebut bisa lebih meningkat.
Atas alasan-alasan yang telah dikemukakan maka peneliti berkolaborasi dengan guru akan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika pada Pokok Bahasan Persamaan Garis Lurus Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas VIII SMP Hasrati Kendari”.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Apakah prestasi belajar matematika pada pokok bahasan Persamaan Garis Lurus siswa kelas VIII pada SMP Hasrati Kendari dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?”

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada pokok bahasan Persamaan Garis Lurus melalui model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa kelas VIII SMP Hasrati Kendari.

E. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian tindakan kelas ini akan bermanfaat :
1.Bagi guru: untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas, sehingga materi pelajaran matematika dapat dipelajari oleh siswa.
2.Bagi siswa: untuk meningkatkan hasil belajar matematika khususnya pada pokok bahasan yang sulit dipahami oleh siswa termasuk pokok bahasan Persamaan Garis Lurus
3.Bagi sekolah: sebagai masukan dalam rangka perbaikan kegiatan pembelajaran.
4.Peneliti: peneliti dapat berkolaborasi dengan guru sehingga dapat mengetahui permasalahn yang ada dalam pembelajaran matematika di tingkat SMP dan menemukan alternatif pemecahan dari masalah tersebut.

F. Kajian Teori
1.Prestasi Belajar Siswa
Belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu, individu dan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini berarti bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilannya, maupun dalam sikapnya. Tanpa perubahan tingkah laku, belajar dapat dikatakan tidak berhasil atau gagal (Usman, 1993:6).
Prestasi menurut Herman (1988:139) berarti mampu memahami dan menguasai hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian sehingga orang tersebut dapat menampilkan penguasaan dan pemahaman bahan pelajaran yang dipelajari.
Dari kedua pendapat yang dikemukakan tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil yang telah diperoleh oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu baik usaha belajar, bekerja, olahraga dan lain-lain. Dalam hubungannya dengan usaha belajar, prestasi siswa diukur dengan suatu alat tertentu dengan menggunakan suatu alat evaluasi (tes). Dengan mengukur prestasi siswa dalam jangka waktu tertentu dapat diketahui bagaimana perkembangan prestasi belajar siswa termasuk prestasi belajar matematika.
Usman (1993:10) faktor-faktor yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah sebagai berikut :
a. Faktor yang berasal dari diri sendiri (internal)
1.Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termaksud faktor ini adalah panca indra yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya
2.Faktor psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, terdiri atas: a) faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki; b) faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri.
3.Faktor kematangan fisik maupun psikis.
b. Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal)
1.Faktor sosial yang terdiri atas: lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan kelompok.
2.Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
3.Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.
4.Faktor lingkungan spiritual dan keagamaan.
Purwanto (1997:107) mengemukakan bahwa terdapat faktor yang sangat penting dalam menentukan prestasi belajar siswa. Faktor tersebut adalah instrumental input atau faktor-faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasikan dan yang termaksud faktor tersebut adalah kurikulum atau bahan belajar, guru yang memberikan pengajaran, sarana dan fasilitas serta manajemen yang berlaku di sekolah.
Dari uraian di atas ternyata lingkungan merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Lingkungan sekolah termasuk didalamnya guru dan metode mengajar yang digunakan dalam menyampaikan pelajaran, dengan kata lain jika metode mengajar guru bagus, tentu materi pelajaran dapat diterima dengan baik oleh siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Slameto(1995:65) bahwa metode mengajar itu mempengaruhi belajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi kondisi siswa yang kurang baik pula. Guru biasa mengajar dengan metode ceramah saja, siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif dan hanya mencatat saja. Guru yang progresif berani mencoba metode-metode yang baru, yang dapat membantu meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus diusahakan yang setepat, efisien dan efektif mungkin.
Selain memperhatikan metode mengajar, Simanjuntak (1993:7) mengemukakan secara spesifik bahwa pemahaman atas konsep-konsep matematika akan lebih baik jika dalam proses mengajar: (1) peserta didik menggunakan benda-benda konkrit dan membuat abstraknya dari konsep-konsepnya, (2) materi pelajaran yang akan diajarkan harus ada hubungannya dengan yang sudah dipelajari, (3) harus mengubah suasana abstrak dengan menggunakan simbol, (4) menempatkan matematika sebagai ilmu seni kreaktif.
Sejalan dengan Simanjuntak, Ruseffendi (1979:135) mengemukakan bahwa siswa dapat mempelajari struktur matematika dengan baik jika representasinya (model) dimulai dari benda-benda konkrit yang beraneka ragam. Misalnya anak akan lebih cepat memahami benda-benda bila disajikan berbagai bentuk dan jenis benda-benda, atau dengan kata lain bahwa benda-benda yang akan diamati harus beranekaragam jenisnya.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut diantaranya adalah metode mengajar guru.

2.Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran adalah suatu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pedoman belajar untuk mencapai tujuan tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi guru (Soekamto, 1993:109)
Secara umum terdapat tiga jenis model pembelajaran yaitu: (1) model pembelajaran berdasarkan masalah, (2) model pembelajaran langsung, dan (3) model pembelajaran kooperatif. Secara garis besar pembelajaran berdasarkan masalah menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Pembelajaran langsung atau direct instruction models adalah pembelajaran yang memfokuskan pada suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang diajarkan selangkah demi selangkah. (Balitbang, 2002:3-4).
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ide mengenai pembelajaran kooperatif ini berkembang dari pendapat seorang filosof pada awal abad pertama, bahwa untuk dapat belajar seseorang harus memiliki pasangan/teman (Ismail, 2002:20)
Salah satu aspek yang paling penting dalam pembelajaran kooperatif adalah bahwa disamping pembelajaran kooperatif membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan lebih baik diantara siswa, pembelajaran kooperatif secara bersamaan membantu siswa dalam pembelajaran akademis mereka. Slavin (1986) menelaah penelitian dan melaporkan bahwa 45 penelitian telah dilaksanakan antara tahun 1972 sampai tahun 1986, menyelidiki pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap prestasi belajar. Studi ini dilakukan pada semua tingkat kelas dan meliputi bidang studi bahasa, geografi, ilmu sosial dasar, sains, matematika, membaca dan menulis. Dari 45 laporan tersebut, 37 diantaranya menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukan prestasi belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (Ibrahim, 2000:16).
Hartadji (2001:34) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya; (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah; (3) bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda; (4) penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1)Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”
2)Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3)Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4)Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5)Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6)Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7)Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Lebih lanjut, dikemukakan pula tiga tujuan dalam pembelajaran kooperatif yaitu:
a. Berkaitan dengan hasil belajar akademik
Salah satu tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik
b. Berkaitan dengan penerimaan terhadap individu
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk belajar bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas bersama.
c. Berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosial
Pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi.
Pembelajaran kooperatif mengikuti langkah-langklah berikut: (1) menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa; (2) menyajikan informasi; (3) mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok; (4) membimbing kelompok belajar dan bekerja; (5) melakukan evaluasi; (6) memberikan penghargaan (Ismail, 2002:23). Selanjutnya beberapa manfaat yang dapat diperoleh siswa dengan hasil belajar yang baik diantaranya; rasa harga diri lebih tinggi, memperbaiki kehadiran, pemahaman akan materi lebih baik dan motivasi belajar yang lebih besar (Nur dkk, 2001:8).
Berdasarkan ciri-ciri, unsur-unsur dasar, tujuan, langkah-langkah, pelaksanaan dan manfaat model pembelajaran kooperatif yang telah dijelaskan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa memperoleh prestasi belajar yang baik.

3.Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya pada tahun 1978 di universitas Texas, kemudian diadaptasi oleh Slavin pada tahun 1986 dengan mengembangkan suatu modifikasi dari jigsaw pada Universitas John Hopkins. Dalam penerapan Jigsaw, siswa berkelompok dengan 5 atau 6 anggota kelompok belajar heterogen. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggungjawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan itu. Anggota dari kelompok lain yang mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelopok ahli. Selanjutnya anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing dan mengajarkan apa yang dipelajari dan didiskusikan dalam kelompok ahlinya untuk diajarkan kepada teman kelompoknya sendiri. Menyusun pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa itu dikenai kuis secara individual tentang materi belajar. Dalam Jigsaw versi Slavin, skor tim menggunakan prosedur yang sama dengan STAD. Tim dan individu dengan skor tinggi mendapat pengakuan dalam lembar pengakuan mingguan atau dengan cara lain
(Ibrahim, dkk, 2000: 21-22)
Skema model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah kelompok asal terdiri dari 5 atau 6 anggota yang heterogen yang dikelompokan dan selanjutnya masing-masing individu menjadi kelompok ahli pada 1 (satu) atau lebih item soal. Kemudian akan kembali ke dalam kelompok asalnya. Ilustrasi dapat dilihat pada bagan berikut ini:

(Anonim, 2003: 6)
Berdasarkan uraian di atas, langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebagai berikut:
1.Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa dan menyampaikan materi prasyarat.
2.Guru menyajikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari.
3.Guru mengelompokan siswa sebanyak 5 atau 6 orang tiap kelompok dan anggota setiap kelompok harus heterogen baik dari segi kemampuan, jenis kelamin, agama suku dan sebagainya.
4.Guru memberi soal-soal dalam bentuk LKS pada setiap kelompok kemudian setiap siswa dalam kelompok tersebut mendapat tugas untuk menyelesaikan soal tertentu. Anggota dari kelompok lain yang mendapat tugas untuk menyelesaikan soal yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang soal tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli.
5.Setelah berdiskusi, anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk berdiskusi kembali dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan dikelompok ahli kepada teman-temannya di kelompok asal.
6.Perwakilan anggota kelompok asal diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Guru mengarahkan pada jawaban yang benar jika jawaban siswa belum sempurna. Guru memberikan penghargaan atas hasil kerja siswa dalam kelompok.
7.Secara individual, setiap minggu atau dua minggu siswa diberi kuis kemudian hasilnya disetor dan setiap siswa memperoleh skor perkembangan. Dari skor perkembangan ini akan dilihat seberapa besar siswa menyumbangkan skor kepada kelompoknya. Sebagai penghargaan kepada kelompok maka melalui lembar pengumuman mingguan atau dengan cara lain diumumkan kelompok–kelompok yang memperoleh skor tertinggi atau yang termasuk dalam kategori kelompok super, kelompok hebat dan kelompok baik.

4.Tinjauan Materi Pokok Bahasan Persamaan Garis Lurus
a.Sifat-sifat Persamaan Garis Lurus
Bentuk Persamaan Garis Lurus
Persamaan garis lurus adalah persamaan yang jika koordinat-koordinat yang dihasilkan dari persamaan tersebut dengan memilih sembarang nilai untuk x, dan diplot sebagaimana tampak pada gambar 1.1, ketika titik-titik itu dihubungkan, terbentuklah sebuah grafik garis lurus.
Misalkan hubungan antara dua variabel x dan y adalah y = 2x
Ketika x = 0, y = 2 .(0) = 0
Ketika x = 1, y = 2. (1) = 2
Dan seterusnya






Menggambar Grafik dari Persamaan Garis dengan Menggunakan Tabel.
Untuk menggambar grafik dari suatu persamaan yang telah ditentukan terlebih dahulu, maka harus ditentukan paling sedikit dua titik yang dilalui garis itu dengan menggunakan tabel hubungan antara nilai x dan nilai y.
b.Gradien
Pengertian Gradien
Gradien atau kemiringan adalah rasio antara perubahan nilai y terhadap perubahan nilai x antara dua titik sembarang pada garis tersebut, jika sejalan dengan peningkatan x, y juga meningkat, maka gradiennya adalah posistif. Namun jika sejalan dengan peningkatan x, y menurun maka gradiennya negatif.
Gradien Garis yang Melalui Dua Titik







Komponen x garis AB = AM (dimulai dari titik A)
= x2 – x1
Komponen y garis AB = MB
= y2 – y1
Gradien garis AB =
=

Untuk selanjutnya gradien garis AB dapat ditulis mAB







Komponen x garis BA = BN ( dimulai dari titik B )
= -(x2-x1)
= -x2+ x1
= x1-x2
Komponen y garis BA = BN ( ingat arahnya ke bawah )
= -(y2-y1)
= -y2 + y1
= y1- y2
Gradien garis BA =

Untuk sebarang titik A(x1,y1) dan B ( x2,y2) maka
mAB = mBA = atau
Gradien Garis yang Saling Sejajar dan Saling Tegak Lurus
a. Garis-garis yang saling sejajar













Pada gambar diatas garis k,l,m, p, dan q adalah garis-garis yang saling sejajar. Gradien garis dari masing-masing garis tersebut dapat ditentukan dengan memilih dua titik yang diketahui koordinatnya, kemudian gradiennya dihitung dengan menggunakan rumus =
Dengan menyelesaikan gradien tiap-tiap garis diperoleh bahwa garis-garis yang sejajar memiliki gradien yang sama atau jika garis-garis yang memilki gradien yang sama, maka pastilah garis-garis tersebut sejajar. b.Garis-garis yang saling tegak lurus

mk = mOA ml = mOb
= =
= =
mk.ml =
Dari contoh diatas ternyata hasil kali gradiennya adalah -1.dengan
demikian dapat diambil kesimpulan bahwa hasil kali gradien garis-garis yang saling tegak lurus adalah -1.
c.Persamaan Garis
Persamaan Garis dalam Bentuk y = mx dan y = mx + c
Persamaan garis y = mx bergradien m dan melalui titik O(0,0).
Menentukan Persamaan Garis
Persamaan garis melalui m dan melalui titik .
Persamaan garis yang melalui titik (x1,y1) dan bergradien m adalah
Persamaan garis yang melalui titik dan
Rumus persamaan garis yang melalui titik dan adalah:

d.Hubungan Gradien dengan Persamaan Garis Lurus
Persamaan Garis yang Saling Sejajar
Menurut pokok bahasan sebelumnya bahwa garis-garis yang saling sejajar memiliki gradien yang sama. Oleh karena itu, untuk menentukan persamaan garis yang sejajar dengan suatu garis yang telah ditentukan, terlebih dahulu ditentukan gradien garis tersebut.
Persamaan Garis yang Saling Tegak Lurus
Menurut pokok bahasan sebelumnya bahwa gradien garis-garis yang saling tegak lurus memiliki hasil kali -1. Dengan demikian, untuk menentukan persamaan garis yang tegak lurus dengan suatu garis yang telah ditentukan, terlebih dahulu harus ditentukan gradiennya.
Persamaan Garis yang Saling Berimpit
Jika dua buah garis memilki gradien yang sama dan melalui paling sedikit sebuah garis yang sama, maka kedua garis tersebut akan saling berimpit. Dengan demikian, garis dengan persamaan ax + by + c = 0 akan berimpit dengan px + qy + r = 0 jika p, q, dan r masing-masing merupakan kelipatan k dari a, b, dan c.
Garis dengan persamaan ax + by + c dan garis kax + kby + kc = 0 adalah garis–garis yang saling berimpit karena ka, kb, dan kc masing-masing merupakan kelipatan k dari a, b, dan c.
Persamaan Garis yang Saling Berpotongan
Jika dua garis tidak saling sejajar dan tidak saling berimpit maka kedua garis itu akan saling berpotongan. Dengan demikian dua buah garis akan saling berpotongan jika memiliki gradien yang tidak sama atau koefisien dari x,y dan bilangan konstantanya bukan merupakan kelipatan yang sama dari koefisien x dan y dan bilangan konstan lainya.
5.Hasil Penelitian Yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan rencana penelitian ini adalah:
1Penelitian yang dilakukan oleh Nuryadi (2004), dalam hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa hasil belajar Matematika siswa kelas 1 SMP Negeri 1 Kendari tahun pelajaran 2003/2004 yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih efektif daripada yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional yang dilihat dari rata-rata hasil belajarnya
2Penelitian yang dilakukan oleh Kamarudin (2004), dalam hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar matematika siswa kelas II semester 2 SMA N 6 Kendari tahun pelajaran 2002/2003 yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dean yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.
3Penelitian yang dilakukan oleh Susilayanti menyimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, prestasi belajar matematika siswa kelas VIII3 SMP Negeri 9 Kendari pada pokok bahasan Persamaan garis Lurus dapat ditingkatkan.
4Penelitian yang dilakukan oleh Poang Wandaleng (2004), dalam hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih baik daripada yang diajar dengan model pembelajaran langsung.

6.Kerangka Berpikir
Proses belajar seorang siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Agar prestasi yang baik dapat tercapai maka harus diupayakan seluruh faktor yang ada dapat mendukung proses belajar siswa. Demikian pula halnya dengan proses belajar matematika.
Penggunakan model pembelajaran yang dapat membangkitkan kreativitas belajar matematika sangat penting sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang secara prosedural dirancang untuk dapat membangkitkan minat dan kreatifitas siswa. Model pembelajaran kooperatif yang mengutamakan kerja sama antar siswa dalam kelompok-kelompok kecil dalam mempelajari materi pelajaran melalui diskusi memungkinkan siswa mempunyai kesempatan yang luas untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pemantauan yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran memungkinkan guru dapat lebih mengetahui siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam memahami materi pelajaran dan guru dapat memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa tersebut, dengan demikian akan jarang ditemukan siswa-siswa yang tidak memahami materi pelajaran ketika materi pelajaran disajikan.
Khususnya untuk model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dimana siswa diberikan beban dan tanggung jawab untuk menguasai bagian tertentu dari materi pelajaran yang selanjutnya diajarkan kembali kepada teman dalam kelompoknya akan membuat siswa lebih termotivasi untuk memahami materi pelajaran. Dengan demikian pengggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat memungkinkan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.

7.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori, maka hipotesis tindakan dalam penelitian yang direncanakan ini adalah “Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, prestasi matematika pada pokok bahasan Persamaan Garis Lurus siswa kelas VIII SMP Hasrati Kendari dapat ditingkatkan”.

G. Metode Penelitian
1. Setting Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kelas VIII SMP Hasrati Kendari pada semester II ( genap ) tahun pelajaran 2007/2008 dengan jumlah siswa 20 orang.
3. Faktor yang Diselidiki
Ada tiga faktor yang diselidiki yaitu siswa, guru dan sumber pembelajaran
a.Faktor siswa dilihat dari segi bagaimana persepsi, sikap, minat dan prestasinya terhadap matematika.
b.Faktor guru akan dilihat dari segi cara guru mempersiapkan materi pelajaran, strategi yang diterapkan dalam mengajar, dan cara memilih jenis tes dan mengkontruksikannya
c.Faktor sumber belajar meliputi materi atau bahan yang digunakan apakah sudah sesuai dengan tujuan, relevansi materi tes yang diberikan.

4. Rencana Tindakan
Untuk megetahui prestasi belajar siswa sebelum diberi tindakan, terlebih dahulu tes awal sebagai bahan acuan pada pembentukan kelompok dan untuk melihat peningkatan prestasi belajar siswa.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Pelaksanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas berikut yitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan evaluasi, (4) refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut :
1. Perencanaan: adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi :
a.Menyiapkan rencana pelajaran dan skenario pembelajaran
b.Menyiapkan LKS untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan
c.Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru guna melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran tipe Jigsaw diterapkan
d.Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah prestasi belajar matematika siswa dapat ditingkatkan.
2. Pelaksanaan tindakan : kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat
3. Observasi dan evaluasi : pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan serta melakukan evaluasi.
4. Refleksi: pada tahap ini, hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Jika belum memenuhi target, maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya dan kelemahan/kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya dituliskan pada jurnal untuk diperbaiki pada siklus berikutnya.

5. Data dan Cara Pengambilan Data
1.Sumber data : guru dan siswa
2.Jenis data : yaitu berupa data kualitatif dan data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar, lembar observasi dan jurnal
3.Tehnik pengambilan data :
a.Data mengenai proses pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diambil dengan menggunakan lembar observasi.
b.Data mengenai prestasi belajar matematika diambil dengan menggunakan tes
c.Data mengenai refleksi diri diambil dengan menggunakan jurnal.

6. Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dilihat dari dua segi:
a.Proses: tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 85 % pelaksanaannya sesuai dengan skenario pembelajaran.
b.Hasil: tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 85 % siswa telah memperoleh nilai minimal 6,0 (standar di SMP Hasrati Kendari).





Desain Rencana Tindakan

Desain Rencana Tindakan











(Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999:27)

Baca Selengkapnya....