Friday, August 15, 2008

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS VA SD NEGERI 12 KENDARI DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL CERITA OPERASI BILANGAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATA

A. JUDUL : MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS VA SD NEGERI 12 KENDARI DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL CERITA OPERASI BILANGAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN TUTOR SEBAYA
B. LATAR BELAKANG
Dewasa ini pemerintah sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang. Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan mutu

pendidikan yaitu dengan melaksanakan sistem pendidikan nasional. Sasaran utama sistem pendidikan nasional adalah terciptanya pemerataan dalam memperoleh pendidikan di seluruh pelosok tanah air, sehingga diperoleh manusia yang berpendidikan dan mempunyai kualitas serta dapat mewujudkan cita-citanya.
Matematika sebagai salah satu cabang ilmu yang dinilai dapat memberikan kontribusi positif dalam memacu ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hudoyo (1988:74) bahwa matematika mempunyai peranan yang sangat esensial untuk ilmu lain, utamanya sains dan teknologi. Sehingga matematika menjadi sangat penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, para siswa dituntut untuk menguasai matematika.
Berdasarkan observasi awal dan wawancara singkat dengan guru bidang studi matematika kelas VA yang dilaksanakan bulan mei 2005 menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi operasi bilangan pecahan karena siswa malu untuk bertanya kepada guru tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan masih rendah, hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai matematika siswa kelas VA semester I tahun pelajaran 2004/2005 yaitu 5,6.
Untuk itu perlu dicari pemecahan masalah dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi-kondisi dalam kelas. Semuanya dimaksudkan untuk memperoleh pendekatan pembelajaran yang tepat bagi seluruh siswa. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengadakan upaya perbaikan dengan menawarkan kepada guru untuk menerapkan pendekatan tutor sebaya utamanya untuk pokok bahasan operasi bilangan pecahan.
Kadangkala seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya. Penggunaan pendekatan tutor sebaya dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan merupakan salah satu pendekatan yang diharapkan dapat memberi peran aktif serta motivasi kepada siswa, agar mereka mempelajari dengan sungguh-sungguh materi yang diberikan. Sehingga diharapkan dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya ini, siswa lebih mudah menyerap materi yang diajarkan dan pada akhirnya siswa tidak mengalami banyak kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mencoba mengadakan penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas menurut Purwadi (dalam Sukidin, 2002:10) adalah suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam arti luas.
Adapun judul dari penelitian ini adalah ”Meningkatkan kemampuan Siswa Kelas VA SD Negeri 12 Kendari dalam Menyelesaikan Soal-soal Cerita Operasi Bilangan Pecahan dengan Menggunakan Pendekatan Tutor Sebaya”.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah “Apakah dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VA SD Negeri 12 Kendari dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan?”.
D. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan di atas, yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas VA SD Negeri 12 Kendari dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya.




E. MANFAAT PENELITIAN
Hasil dari penelitian tindakan kelas ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi guru : dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini guru dapat sedikit demi sedikit mengetahui pendekatan pembelajaran yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas.
2. Bagi siswa : hasil penelitian ini akan memberikan manfaat bagi siswa, yaitu mempermudah cara pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita yang diajarkan.
3. Bagi sekolah : hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran.
F. KAJIAN PUSTAKA
1. Proses Belajar Mengajar Matematika
Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan antara siswa dengan guru dan antar sesama siswa dalam proses pembelajaran. Interaksi dalam proses belajar mengajar mempunyai arti luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa tetapi juga interaksi edukatif, dalam hal ini bukan hanya menyampaikan pesan berupa mata pelajaran, melainkan juga nilai dan sikap pada diri siswa yang sedang belajar. Proses belajar mengajar matematika merupakan suatu kegiatan yang mengandung serangkaian persiapan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar terdapat adanya satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara guru yang mengajar dengan siswa yang belajar.
Menurut Usman (1993:4) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Lebih lanjut Usman (1993:6) mengungkapkan bahwa mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dapat pula dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Dalam hal belajar mengajar matematika, perlu diketahui karakteristik matematika. Dengan mengetahui karakteristik matematika, maka seharusnya dapat pula diketahui bagaimana belajar dan mengajar matematika. Karakteristik matematika yang dimaksud adalah obyek matematika bersifat abstrak, materi matematika disusun secara hirarkis, dan cara penalaran matematika adalah deduktif.
Obyek matematika bersifat abstrak, maka belajar matematika memerlukan daya nalar yang tinggi. Demikian pula dalam mengajar matematika guru harus mampu mengabstraksikan obyek-obyek matematika dengan baik sehingga siswa dapat memahami obyek matematika yang diajarkan. Hudoyo (1988:3) menyatakan bahwa belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi. Sehingga dalam mengajar matematika guru harus mampu memberikan penjelasan dengan baik sehingga konsep-konsep matematika yang abstrak dapat dipahami siswa.
Materi matematika disusun secara hierarkis artinya suatu topik matematika akan merupakan prasyarat bagi topik berikutnya. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu topik matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi proses belajar mengajar matematika tersebut. Hudoyo (1988:4) mengungkapkan bahwa karena kehirarkisan matematika itu, maka belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinyu. Karena dalam belajar matematika memerlukan materi prasyarat untuk memahami materi berikutnya, maka dalam mengajar matematika guru harus mengidentifikasikan materi-materi yang menjadi prasyarat suatu topik mata pelajaran matematika.
2. Hakekat Matematika
Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan dengan ide dan penalaran. Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia itu merupakan sistem-sistem yang bersifat untuk menggambarkan konsep-konsep abstrak, dimana masing-masing sistem bersifat deduktif sehingga berlaku umum dalam menyelesaikan maslah.
Sehubungan dengan hal di atas Hudoyo (1988:3) menyatakan matematika berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas alasan logik yang menggunakan pembuktian deduktif.
3. Soal-soal Cerita
Matematika dapat melatih siswa untuk berpikir secara logis, rasional, operasional dan terukur seusia dengan karakteristik ilmu ini. Salah satu materi dalam matematika yang penting dipelajari siswa SD dan perlu ditingkatkan mutu pembelajarannya adalah materi yang disajikan dalam bentuk cerita (soal cerita). Menurut Sutawidjaja (dalam Ahmad, 2001 : 172) soal cerita yang erat kaitannya dengan masalah kehidupan sehari-hari itu penting sekali diberikan dalam pembelajaran matematika SD karena pada umumnya soal cerita dapat digunakan (sebagai cikal bakal) untuk melatih siswa dalam menyelesaikan masalah.
Menurut Ahmad (2001:171) soal cerita (word/story problems) biasanya merupakan soal terapan dari suatu pokok bahasan yang dihubungkan dengan masalah sehari-hari. Untuk menyelesaikan matematika umumnya dan terutama soal cerita, Soedjadi (1992:65) mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Membaca soal dengan cermat untuk mengangkap makna tiap kalimat
b. Memisahkan dan mengungkapkan
1). Apa yang diketahui dalam soal
2). Apa yang diminta/ditanyakan dalam soal
3). Operasi/pengerjaan apa yang diperlukan
c. Membuat model matematika dari soal
d. Menyelesaikan model menurut aturan-aturan matematika sehingga mendapatkan jawaban dari model tersebut
e. Mengembalikan jawaban kepada soal asal
Untuk menyelesaikan soal cerita agar aturan-aturan dalam matematika dapat berlaku, maka dari soal dibuat dalam suatu kalimat matematika atau notasi yang merupakan terjemahan atau fakta dari soal cerita.
4. Pendekatan Tutor Sebaya
Program tutorial pada dasarnya sama dengan program bimbingan, yang bertujuan memberikan bantuan kepada siswa atau peserta didik agar dapat mencapai hasil belajar optimal. Hamalik (1990:73) menyatakan tutorial adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar para siswa belajar secara efisien dan efektif.
Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam belajar di kelas. Siswa yang dipilih guru adalah teman sekelas dan memiliki kemampuan lebih cepat memahami materi yang diajarkan, selain itu memiliki kemampuan menjelaskan ulang materi yang diajarkan pada teman-temannya. Karena siswa yang dipilih menjadi tutor ini seumur (sebaya) dengan teman-temannya yang akan diberikan bantuan, maka tutor tersebut sering dikenal dengan sebutan tutor sebaya.
Pengertian di atas sejalan dengan yang dikemukakan oleh Arikunto (1986:77) bahwa tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Untuk menentukan seorang tutor ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang siswa yaitu siswa yang dipilih nilai prestasi belajar matematikanya lebih besar atau sama degan delapan, dapat memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar.
Sejalan dengan uraian di atas, Arikunto (1986:62) mengemukakan bahwa dalam memilih tutor perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya.
b. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan.
c. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
d. Tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
Siswa yang ditunjuk sebagai tutor akan ditugaskan membantu siswa yang akan mendapat program perbaikan, sehingga setiap tutor harus diberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya tentang apa yang harus dilakukan. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena hanya gurulah yang mengetahui kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan perbaikan, bukan mendiagnosa.
Para tutor dilatih untuk mengajar berdasarkan silabus yang telah ditentukan. Hubungan antara tutor dengan siswa adalah hubungan antar kakak-adik atau antar kawan, kekakuan yang ada pada guru agar dihilangkan. Dalam kegiatan ini tutor dan guru menjadi semacam staf ahli yang mampu mengatsi kesulitan yang dihadapi murid, baik dengan cara satu lawan satu maupun kelompok kecil (Muntansir, 1985:58).
Dari sudut lain dapat diketengahkan bahwa efektifitas para tutor itu cukup dapat diharapkan. Tentang efektifitas tutor itu, Good dalam Muntansir (1985:180) menerangkan bahwa tutor SD sama efektifnya dengan tutor dari perguruan tinggi. Dalam kesempatan lain Good juga menyatakan bahwa tutor juga dapat menjadi alat untuk menimbulkan motivasi pada pelajaran bermutu. Tutor ini juga mendapatkan keuntungan berupa nilai pelajaran yang bertambah baik, sama dengan yang ditutori, terutama kalau fokusnya pada kemampuan kognitif.
Pendekatan tutor sebaya adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana yang melakukan kegiatan pembelajaran adalah siswa itu sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat menyerap materi pelajaran akan membantu siswa yang kurang cepat menyerap materi pelajaran. Karena memiliki usia yang hampir sebaya, adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya.
Pendekatan tutor sebaya ini cocok untuk mengajarkan matematika, terutama dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Apabila pendekatan ini digunakan oleh guru dengan baik dengan memberikan bimbingan terlebih dahulu kepada siswa yang akan menjadi tutor, maka pendekatan tutor sebaya ini dapat membantu siswa dalam memahami materi operasi bilangan pecahan, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dapat ditingkatkan.
5. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, hipotesis dari tindakan penelitian ini adalah ”Bila digunakan pendekatan tutor sebaya dalam proses belajar mengajar, maka kemampuan siswa kelas VA SD Negeri 12 Kendari dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dapat ditingkatkan”.
G. METODE PENELITIAN
1. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VA SD Negeri 12 Kendari, dengan jumlah siswa 42 orang siswa. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2005/2006.
2. Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan di atas, ada beberapa faktor yang perlu diselidiki. Faktor-faktor yang diselidiki tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor siswa : yaitu dengan memperhatikan apakah pemahaman operasi pada bilangan pecahan siswa tergolong kategori rendah, kategori sedang, atau kategori tinggi
b. Faktor guru : yaitu dengan memperhatikan bagaimana persiapan materi pelajaran dengan menerapkan pendekatan tutor sebaya
c. Faktor pendukung sumber : yaitu apakah sumber pembelajaran yang digunakan dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan
3. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 3 siklus. Tiap siklus yang diteliti disesuaikan dengan perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Sebagai penjajakan awal maka terlebih dahulu diadakan tes diagnosa yang berfungsi sebagai evaluasi awal. Sedangkan observasi awal adalah untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi pada bilangan pecahan.
Dari hasil tes dan observasi awal maka dalam refleksi ditetapkan tindakan yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tutor sebaya, sehingga prosedur penelitian yang akan dilakukan terdiri atas 4 tahap.
a. Perencanaan, adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi:
1). Membuat skenario pembelajaran
2). Membuat lembaran observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika pendekatan tutor sebaya diterapkan
3). Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan telah ditingkatkan
b. Pelaksanaan tindakan kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat
c. Observasi dan evaluasi, kegiatan ini dilakukan pada pelaksanaan tindakan
d. Refleksi, pada tahap ini hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dianalisis. Kemudian guru (peneliti) mengadakan refleksi diri dengan melihat data observasi, apakah kegiatan yang telah dilakukan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Kelemahan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pada siklus berikutnya.
4. Data dan Cara Pengambilannya
a. Sumber data : yaitu personil penelitian terdiri dari siswa dan guru.
b. Jenis data : jenis data yang didapatkan adalah kuantitatif dan kualitatif melalui lembar observasi, tes hasil belajar.
c. Cara pengambilan data
1). Data hasil belajar diambil dengan memberi tes pada siswa
2). Data tentang situasi belajar diperoleh melalui lembar observasi.
3). Data tentang refleksi diri serta perubahan yang terjadi di kelas diperoleh melalui hasil catatan guru (peneliti).
5. Indikator Kerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah jika minimal 80 % siswa yang menggunakan pendekatan tutor sebaya dapat memperoleh nilai 6,5. Menurut Sudia (1995:17 – 18) dalam kurikulum 1994, disebutkan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan apabila siswa telah mencapai taraf penguasaan 65 % (nilai 6,5). Maka keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah persentase siswa yang memperoleh nilai 6,5.


0 comments:

Post a Comment