Monday, August 4, 2008

Meningkatkan Penguasaan Konsep Operasi Bilangan Berpangkat dan Operasi Logaritma Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Unaaha melalui Metode Induktive - Develop

A. Judul : Meningkatkan Penguasaan Konsep Operasi Bilangan Berpangkat dan Operasi Logaritma Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Unaaha melalui Metode Induktive - Development

B. Latar Belakang
Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, maka peningkatan mutu pendidikan suatu hal yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan di segala aspek kehidupan manusia. Pada saat ini, bidang pendidikan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dari saat-saat sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari semakin

besarnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, selain itu dapat dilihat pula dari kepedulian pemerintah dalam pembiayaan kegiatan operasional di sekolah dengan dikucurkannya dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) bagi setiap sekolah. Hal ini disebabkan oleh mulai timbulnya kesadaran dari sebagian besar masyarakat dan Pemerintah bahwa pendidikan merupakan suatu cara pembentukan kemampuan dan karakter manusia dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menunjang pembangunan bangsa.
Matematika selain sebagai salah satu bidang ilmu dalam dunia pendidikan juga merupakan salah satu bidang studi yang sangat penting, baik bagi peserta didik maupun bagi pengembangan bidang keilmuan yang lain. Kedudukan matematika dalam dunia pendidikan sangat besar manfaatnya karena matematika adalah alat dalam pendidikan perkembangan dan kecerdasan akal.
SMP Negeri 2 Unaaha merupakan salah satu sekolah Standar Nasional di Kabupaten Konawe. Sekolah ini terletak di Kelurahan Puunaaha Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe. Dalam proses pembelajaran matematika sekolah ini masih banyak ditemui permasalahan, di antaranya adalah Permasalahan yang dikemukakan salah seorang Staf pengajar bidang studi Matematika Bapak. Darsono, S.Pd.bahwa salah satu masalah yang sering dihadapi adalah pada pembelajaran Pokok Bahasan Operasi Bilangan Berpangkat pada siswakelas IX semester 1, dimana siswa kurang bisa memahami sejumlah fakta-fakta matematika berupa rumus-rumus untuk menyelesaikan soal-soal pada Operasi Bilangan Berpangkat. Hal ini ditandai dengan banyaknya kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada pokok bahasan tersebut, siswa terkadang salah dalam memilih rumus yang sesuai dengan soal yang mereka hadapi, misalnya ketika siswa dihadapkan pada soal; 32 x 33 = …, mereka terkadang menjawab: 32 x 33 = 36. Seperti dikemukakan oleh guru bidang studi matematika SMP Negeri 2 Unaaha, hal ini mengakibatkan rendahnya nilai matematika siswa kelas IX SMP Negeri 2 Unaaha.
Operasi Bilangan Berpangkat merupakan salah satu materi penting yang terdapat dalam kurikulum SMP. Hal ini dikarenakan Pokok Bahasan Operasi Bilangan Berpangkat merupakan dasar bagi siswa dalam mempelajari fungsi eksponensial yang dipelajari di kelas IX semester 2. mengingat hal tersebut, maka penguasaan materi Operasi Bilangan Berpangkat bagi siswa menjadi suatu keharusan.
Berdasarkan kenyataan diatas, maka oleh peneliti dipandang perlu melakukan suatu penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk menerapkan pendekatan induktif dalam pembelajaran, guna meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep Operasi Bilangan Berpangkat, selama ini kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa pembelajaran bilangan berpangkat hanya disampaikan dengan cara langsung yaitu diberikan sejumlah rumus, lalu siswa mengerjakan sejumlah soal dengan menggunakan rumus-rumus tersebut. Metode Induktif- Development adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dari penalaran yang bersifat induksi. Induksi adalah metode pemikiran yang bertolak dari kaidah (hal-hal atau peristiwa) khusus, untuk menentukan hukum (kaidah) yang umum. Diharapkan dengan pendekatan ini siswa tidak hanya akan menghafalkan sejumlah rumus-rumus pada pokok bahasan Operasi Bilangan Berpangkat, tetapi juga memahami konsep-konsep dari rumus tersebut sebagai hasil dari proses berfikir mereka setelah siswa melihat beberapa contoh soal, lalu guru bersama siswa melakukan generalisasi kedalam bentuk umu, dimana bentuk umum tersebut adalah rumus-rumus yang akan digunakan dalam menyelesaikan soal-soal pada pokok bahasan Operasi Bilangan Berpangkat.
Alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan peneliti adalah penelitian tindakan kelas dengan Metode Induktif - Development, sehingga rumusan judul penelitian ini adalah: “Meningkatkan Penguasaan Konsep Operasi Bilangan Berpangkat dan Operasi Logaritma Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Unaaha Melalui Metode Induktif - Development”.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “ Apakah penerapan metode Induktif – Development dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX SMP N 2 Unaaha pada pokok bahasan Operasi Bilangan Berpangkat dan Operasi Logaritma ?”
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah: Untuk menemukan metode atau pendekatan pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX SMP N 2 Unaaha pada pokok bahasan Operasi Bilangan Berpangkat.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Bagi guru: dapat mengetahui pendekatan pembelajaran yang dapat memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran di kelas sehingga permasalahan yang dihadapi oleh siswa maupun oleh guru dapat diminimalkan.
2. Bagi siswa: dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar matematika pada operasi bilangan berpangkat.
3. Bagi sekolah: dapat memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika pada khususnya.


F. Kajian Pustaka
1. Proses Belajar Mengajar Matematika
a. Pengertian Belajar
Kegiatan belajar merupakan hal penting yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa.
Menurut Slameto (1995: 2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Crow dan crow (dalam Roestiyah, 1989: 8) menyatakan seseorang dikatakan mengalami proses belajar jika ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dalam menguasai ilmu pengetahuan. Sedangkan Roestiyah (1989: 8) mengemukakan bahwa belajar adalah proses aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu.
Sudjana (2000: 28) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pemahamannya, pengetahuannya, sikap dan tingkah lakunya, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada pada individu siswa.
Dari uraian di atas tentang belajar dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang mengakibatkan bertambahnya pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungannya.

b. Pengertian Mengajar
Menurut Slameto (1995: 29) mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Adapun definisi lain di negara-negara yang sudah maju mengatakan bahwa mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Definisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa (Slameto,1995: 30).
Hamalik (200: 44) mengemukakan bahwa mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid sekolah. Rooijakers (199: 1) mendefinisikan mengajar sebagai Penyampaian pengetahuan kepada siswa dan harus terjadi suatu proses yaitu proses belajar.
Pengertian mengajar yang dikemukakan di atas, menunjukkan bahwa mengajar adalah suatu kejadian mengatur dan membimbing siswa sehingga terjadi proses belajar.

c. Proses Belajar Mengajar
Berdasarkan pengertian belajar mengajar diatas dapat diketahui; bahwa proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar tersebut terdapat adanya suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara guru dan siswa yang belajar, antara kedua kegiatan ini terdapat interaksi yang saling menunjang (Usman, 1995: 4).
Keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar, ditunjukkan oleh prestasi atau hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh karena itu pendidikan memegang peranan penting dan diharapkan dapat membimbing siswa agar dapat menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna.

d. Belajar Mengajar Matematika
Menurut Hodoyo (1988: 3) bahwa matematika itu berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas alasan logik dengan menggunakan pembuktian deduktif, sehingga belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang tinggi. Karena matematika berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, maka konsep-konsep matematika harus dipahami lebih dahulu sebelum manipulasi simbol-simbol itu.
Materi matematika disusun secara teratur dalam urutan yang logis (hirarkis) dalam arti bahwa suatu topik matematika akan merupakan prasyarat bagi topik berikutnya. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui oleh orang itu. Karena itu untuk mempelajari suatu topik matematika yang baru pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut. Karena kehirarkisan matematika, Hudoyo (1988: 4) menyatakan bahwa belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti bahwa belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses belajar matematika adalah proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa, dimana perubahan tingkah laku siswa diarahkan pada pemahaman konsep matematika yang mengantarkan siswa berpikir secara logis dan sistematis.

2. Pendekatan Induktif
Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, penalaran matematika bersifat deduktif yakni dari hal-hal yang sifatnya umum ke hal-hal yang sifatnya khusus, karena sifatnya yang demikian maka belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi. Meskipun penalaran matematika bersifat deduktif, tetapi dalam penyajian materinya dalam kegiatan belajar mengajar juga dikenal pendekatan induktif. Pendekatan Induktif dikembangkan dari sebuah penalaran yang bersifat Induksi. Induksi adalah metode pemikiran yang bertolak dari Kaidah (hal-hal atau peristiwa) khusus, untuk menentukan hukum (kaidah) yang umum, Atau dengan kata lain, pendekatan induktif ini diartikan sebagai penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan yang khusus untuk diperlakukan secara umum; Penentuan kaidah umum berdasarkan kaidah-kaidah khusus. Sedangkan Induktif memiliki arti bersifat (secara) Induksi (Anonim,1995: 377).
Menurut Herbert dalam (J. Murssell, 1995: 12) metode induktif- development yakni metode yang menurut langkah-langkah: (1) Preparation and Statement of aim (persiapan dan penentuan tujuan), (2) Presentation (penyajian), (3) Comparison and abstraction (perbandingan dan abstraksi), (4) Generalization (generalisasi), dan (5) Application (penggunaan).

3. Pembelajaran bilangan berpangkat dengan pendekatan induktif
a. Pengertian bilangan berpangkat
Bilangan berpangkat 24 dibaca dua pangkat empat berarti 2 x 2 x 2 x 2 bilangan 2 dari 24 disebut bilangan pokok sedangkan bilangan 4 disebut bilangan pangkat.
Dalam mengajarkan pengertian bilangan berpangkat diatas, guru mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
Langkah 1
Guru memberikan contoh sebagai berikuit
1. 36 = 3 x 3 x 3 x 3 x 3 x 3
2. 54 = 5 x 5 x 5 x 5
3. 63 = 6 x 6 x 6
4. a5 = a x a x a x a x a
Kesimpulan
am = a x a x a x ...x a
Langkah 2
Guru memberikan soal-soal latihan kepada siswa
a. 57 = …
b. 54 = …

b. Sifat-sifat bilangan berpangkat positif
Sifat-sifat bilangan berpangkat positif
1. Untuk mendapatkan sifat : am x an = am+n
Langkah 1
Guru memberikan contoh sebagai berikut :
23 x 22 = (2 x 2 x 2) x (2 x 2)
= 2 x 2 x 2 x 2 x 2
= 25 = 23+2
Langkah 2
Guru memberikan soal-soal (Kerjakan sesuai dengan contoh !)
a. 34 x 35 = …
b. 57 x 52 = …
c. am x an = …
Langkah 3
Guru menegaskan jawaban terakhir siswa bahwa : am x an = am+n
2. Untuk mendapatkan Sifat : (am)n = amn
Langkah 1
Guru memberikan contoh
(54)2 = (5 x 5 x 5 x 5)2
= (5 x 5 x 5 x 5) x (5 x 5 x 5 x 5)
= 5 x 5 x 5 x 5 x 5 x 5 x 5 x 5
= 58 = 54x2
Langkah 2
Guru memberikan soal-soal kegiatan (Buatlah seperti contoh !)
a. (65)2 = …
b. (p2)5 = …
c. (am)n = …
Langkah 3
Guru menegaskan jawaban terakhir siswa bahwa : (am)n = amn

3. Untuk mendapatkan sifat : (a x b)n = an x bn
Langkah 1
Guru memberikan contoh ;
(2 x 3)5 = (2 x 3) x (2 x 3) x (2 x 3) x (2 x 3) x (2 x 3)
= 2 x 3 x 2 x 3 x 2 x 3 x 2 x 3 x 2 x 3
= 2 x 2 x 2 x 2 x 2 x 3 x 3 x 3 x 3 x 3
= 25 x 35
Langkah 2
Guru memberikan soal-soal kegiatan (Buatlah seperti contoh !)
a. (8 x 5)2 = …
b. (6 x 7)5 = …
c. (3 x 2)k = …
d. (a x b)m = …
Langkah 3
Guru menegaskan jawaban siswa bahwa : (a x b)n = an x bn , a  0, b  0
4. Untuk Mendapatkan sifat an : am = am-n, a  0
Langkah 1
Guru memberikan contoh
58 : 53 =
=
= x
= 55 = 58-3
Langkah 2
Guru memberikan soal-soal kegiatan (Buatlah seperti contoh !)
a. 27 : 24 = …
b. 109 : 106 = …
c. c7 : c3 = …
d. an : am = …
Langkah 3
Guru menegaskan jawaban terakhir siswa bahwa : an : am = am-n , a  0

5. Untuk Mendapatkan sifat , b  0

Langkah 1
Guru memberikan contoh :

Langkah 2
Guru memberikan soal-soal kegiatan :
a. = …
b. = …
c. = …
d. = …
Langkah 3
Guru menegaskan jawaban terakhir siswa bahwa : , b  0


e. Bilangan berpangkat nol, a0 = 1, a  0
Langkah 1
Guru memberikan contoh :
1. 53-3 = 50
2. 53-3 =
= 1 , sehingga 50 = 1
Langkah 2
Guru memberikan soal-soal kegiatan (kerjakan soal-soal berikut sesuai contoh !)
a. 125-5 = …
125-5 = …
Maka :
b. 310-10 = …
310-10 = …
Maka :
c. p7-7 = …
p7-7 = …
maka :
d. an-n = …
an-n = …
maka ;

Langkah 3
Guru menegaskan jawaban terakhir siswa bahwa : a0 = 1, a  0
f. Bilangan berpangkat negatif
Untuk menunjukkan bahwa : a-m =
Langkah 1
Guru memberikan contoh :
1. 2-3 = 20-3
= =

2. 5-2 = 50-2
= =


Langkah 2
Guru memberikan soal-soal kegiatan (Selesaikan sesuai dengan contoh !).
a. 5-4 = …
b. 7-8 = …
c. a-m = …

Langkah 3
Guru menegaskan jawaban terakhir siswa bahwa :
a-m = , atau am = , dengan a  0
G. Kerangka Berpikir
Proses belajar mengajar yang dilaksanakan guru bidang studi matematika di SMP Negeri 2 Unaaha khususnya pada pokok bahasan Operasi Bilangan Berpangkat masih menggunakan pendekatan deduktif. Pada pendekatan ini, guru terkadang hanya memberikan sejumlah rumus-rumus Operasi Bilangan Berpangkat, lalu siswa diminta menyelesaikan soal sesuai dengan rumus tersebut. Hal ini mengakibatkan daya serap materi oleh siswa kurang. Daya ingat yang kurang mengakibatkan siswa tidak dapat menyelesaikan soal-soal Operasi Bilangan Berpangkat dengan baik.
Akibat dari kenyataan tersebut diatas, maka para ilmuwan pendidikan melakukan inovasi pembelajaran. Hasilnya adalah adanya kecenderungan para pendidik untuk kembali pada pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih baik bila siswa ikut serta dalam menemukan sejumlah fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip matematika. Pembelajaran dengan pendekatan induktif adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang dari segi karakteristiknya memenuhi harapan tersebut.
Pendekatan pembelajaran induktif memiliki karakteristik siswa ikut serta dalam menyimpulkan suatu fakta-fakta, konsep, dan prinsip matematika. Langkah-langkah Pembelajaran dengan pendekatan Indukif: (1) Persiapan, (2) Penyajian, (3) Perbandingan dan abstraksi, (4) Generalisasi, dan (5) Penggunaan. Berdasarkan kosep-konsep tersebut tampak bahwa dengan pendekatan Induktif ini, diharapkan siswa juga diikut sertakan dalam penarikan kesimpulan dari beberapa contoh masalah yang diberikan guru (Generalisasi), hingga akhirnya siswa mempergunakan rumus yang merupakan hasil kesimpulan dari siswa itu sendiri.
Sesuai dengan uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa penerapan Pendekatan Induktif dapat meningkatkan pemahaman konsep Operasi Bilangan Berpangkat Siswa Kelas IXB SMP Negeri 2 Unaaha.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian-uraian di atas maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : melalui pembelajaran dengan pendekatan induktif pemahaman belajar matematika siswa kelas III SMP N 2 Unaaha pada operasi bilangan berpangkat dapat ditingkatkan.

1. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2006/2007 di kelas III SMP N 2 Unaaha.
2. Faktor yang Diselidiki
Faktor-faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Faktor siswa : untuk melihat bagaimana cara belajar matematika dan pemahaman belajar siswa.
b. Faktor guru : untuk melihat bagaimana pendekatan Induktif yang dilakukan guru dalam pembelajaran di kelas.
c. Faktor sumber pelajaran : apakah sumber pembelajaran dapat mendukung pelaksanaan pendekatan Induktif dalam pembelajaran yang diterapkan.

3. Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari tiga siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Sebelum dilaksanakan tindakan, terlebih dahulu diberikan tes awal dengan maksud untuk mengetahui kemampuan awal siswa.
Setiap siklus dalam penelitian ini meliputi prosedur berikut: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi dan evaluasi; (4) refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut:
1. Perencanaan : adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi:
a. Membuat skenario pembelajaran.
b. Membuat lembar observasi.
c. Membuat alat bantu pembelajaran yang diperlukan dalam rangka membantu siswa memahami konsep-konsep matematika dengan baik.
d. Mendesain alat evaluasi, untuk melihat apakah materi matematika telah dikuasai siswa.
e. Membuat jurnal, untuk mengetahui refleksi diri.
2. Pelaksanaan tindakan : yaitu melaksanakan skenario pembelajaran.
3. Observasi dan Evaluasi : pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan serta melaksanakan evaluasi.
4. Refleksi : hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis kelemahan-kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pada siklus berikutnya.
Gambar Alur PTK
































(Tim Proyek PGSM 1999:27)
4. Data dan Cara Pengumpulan Data
1. Sumber data : yaitu personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru.
2. Jenis data : jenis data yang didapatkan adalah data kuantitatif dan data kualitaif melalui lembar observasi, tes hasil belajar dan jurnal.
3. Cara pengumpulan data
a. Data tentang kondisi pelaksanaan pembelajaran bilangan berpangkat dengan pendekatan Induktif diambil dengan menggunakan lembar observasi.
b. Data tentang prestasi belajar diambil dengan menggunakan tes.
c. Data tentang refleksi diri diambil dengan menggunakan jurnal.

5. Indikator Kinerja
Sebagai Indikator keberhasialan ini adalah jika materi pelajaran telah di pahami secara klasikal minimal 85%. Seorang siswa di katakan telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan apabila siswa tersebut telah memperoleh nilai minimal 6,5.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Balai Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah Menengah. Jakarta: Depdikbud Dikti PGSM.
Hamalik, Oemar, 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Hudoyo, Herman, 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Murssell, J, Dkk, 1995. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Bumi Aksara.
Roestiyah, N.K., 1989. Didaktik Metodik. Bandung: Jemmars.
Rooijakkers, A.D., 1991. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Grasindo.
Slameto, 1995. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya., Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana, 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algosindo.
Tim PPPG Matematika, 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta : PPPG Matematika
Usman, Moh. Uzer, 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.


0 comments:

Post a Comment