Monday, August 4, 2008

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII6 SMPN 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Ti

A. JUDUL : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII6 SMPN 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT).
B. LATAR BELAKANG
Sekolah merupakan salah satu lembaga formal yang mempunyai peranan penting terhadap proses pendidikan. Untuk itu sekolah mengadakan proses belajar mengajar sebagai realisasi dari tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.


Dalam proses pendidikan, ada dua komponen yang sangat berperan untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi. Bagi seorang guru dibutuhkan kompetensi dalam usaha menerapkan pelajaran kepada siswa agar siswa dapat mengerti dengan baik. Oleh sebab itu, siswa adalah salah satu komponen pendidikan yang menempati posisi sentral, khususnya dalam proses belajar mengajar karena siswa selalu menjadi salah satu pokok persoalan dalam dunia pendidikan. Salah satu persoalan dalam proses belajar mengajar tersebut adalah rendahnya prestasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil wawancara pada beberapa guru di SMPN 9 Kendari pada tanggal 2 April 2008 diperoleh informasi bahwa para siswa khususnya kelas VII10 belum menguasai betul konsep matematika dengan baik, ini mengakibatkan jika diberikan soal-soal latihan atau ulangan harian pada siswa tidak terampil dalam menyelesaikannya. Misalnya dalam pokok bahasan bilangan bulat, jika siswa diberikan soal latihan seperti : -7 + 4, 5 – 12 masih banyak siswa kelas VII yang belum dapat menjumlahkannya atau mengurangkannya dengan tepat. Akibatnya prestasi yang diraih siswa tergolong rendah (nilai rata-ratanya 5,50) tidak mencapai nilai ketuntasan belajar yakni 6,0. Lebih lanjut lagi dijelaskan, selain dari konsep matematika yang kurang, minat siswa juga terhadap pelajaran matematika kurang. Ini terlihat dari proses belajar mengajar di kelas, banyaknya siswa yang ribut juga kadang-kadang mengantuk.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh guru di SMP Negeri 9 Kendari, salah satunya mengganti model pembelajaran yang selama ini diterapkan yaitu model pembelajaran langsung yang lebih berpusat pada guru, sedang siswa pada umumnya bersifat sebagai objek didik, siswa lebih banyak pasif yang mengakibatkan mereka menjadi bosan dan jenuh. Para guru mengganti model pembelajaran langsung dengan model pembelajaran kooperatif khususnya model pembelajaran kooperatif tipe Jicsaw, siswa diharapkan dapat lebih belajar dengan baik dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda, sehingga mereka dapat saling membantu dalam memahami suatu materi pembelajaran. Tetapi kendala dalam melaksanakan model pembelajaran ini tergolong banyak mulai dari jumlah siswa yang banyak lebih dari 40 orang membuat susah guru dalam pembagian kelompok dan juga ketika proses pembelajaran berlangsung terjadi kegaduhan di dalam kelas, diakibatkan oleh berpindahnya siswa dari kelompok ahli ke kelompok asalnya (pada model pembelajaran kooperatif tipe Jicsaw) yang siswa begitu banyak, menyulitkan guru untuk mengontrol. Sehingga para guru kembali kepada model pembelajaran lama yaitu model pembelajaran langsung, walaupun disadari bahwa siswa jenuh dengan model pembelajaran ini, karena guru-guru di SMPN 9 Kendari belum menemukan model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika khususnya dalam pokok bahasan bilangan bulat, sehingga prestasi belajar lebih meningkat.
Bertitik tolak dari pemaparan di atas, maka kami mencoba membantu guru SMP Negeri 9 Kendari untuk melakukan penelitian tentang model pembelajaran yang tepat dalam upaya peningkatan prestasi belajar matematika, khususnya dalam penguasaan materi bilangan bulat. Sebagai perluasan bilangan cacah, bilangan bulat merupakan dasar utama untuk membantu siswa dalam menunjang pemahaman materi-materi selanjutnya dan matematika secara keseluruhan, sehingga sudah selayaknya bagi guru matematika kelas VII SMP Negeri 9 Kendari mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Karena dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat :
1. Memudahkan siswa dalam menerima materi pelajaran bilangan bulat akibat berpikir bersama (Head together) dengan menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap siswa harus mengetahui jawabannya dan tiap siswa menyiapkan jawabannya untuk seluruh kelas, sehingga siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna serta dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
2. Meningkatkan motivasi siswa dari dalam dirinya sendiri dan membangkitkan kegembiraan yang sejati dalam mempelajari bilangan bulat.
3. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik dan meningkatkan keyakinan terhadap ide atau gagasan sendiri dalam menyelesaikan soal-soal bilangan bulat.
4. Meningkatkan hubungan positif antar sesama siswa, siswa dengan guru dan personil sekolah.
5. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dengan tipe apapun seperti halnya STAD, Jicsaw, TGT, TPS dan NHT memerlukan alokasi waktu yang cukup banyak. Namun pada tipe NHT dapat didesain lebih singkat dan memberikan pemahaman yang lebih bermakna bila dibandingkan dengan tipe-tipe kooperatif yang lain (Lusman, 2003: 45).
Sehubungan dengan hal itu, maka penulis tertarik melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul ”Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII10 SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)”.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah hasil belajar matematika siswa kelas VII10 SMP Negeri 9 Kendari dapat ditingkatkan melalui proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) ?”


D. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah : “Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII10 SMP Negeri 9 Kendari pada pokok bahasan bilangan bulat melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).”
E. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Siswa
a) Memberi motivasi dan mengubah sikap/perilaku siswa dalam kegiatan pembelajaran.
b) Melatih siswa agar mampu menyelesaiakan soal yang tersedia dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Bagi Guru
a) Dapat memberikan sumbangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.
b) Sebagai informasi bagi guru-guru matematika khususnya guru matematika di SMP mengenai pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pokok bahasan bilangan bulat.













3. Bagi Sekolah
a) Sebagai umpan balik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran matematika
b) Meningkatkan prestasi sekolah melalui peningkatan prestasi belajar siswa dan kinerja guru.
F. KAJIAN PUSTAKA
F1. KAJIAN TEORI
1. Proses Belajar Mengajar Matematika
Menurut Hamalik (1991:17) belajar adalah proses perubahan tingkah pada diri seseorang berkat pengalaman dan latihan. Pengalaman dan latihan ini terjadi melalui interaksi antara individu dan lingkungannya. Sedangkan Sudjana (1991:5) belajar adalah perubahan tingkah laku. Perubahan yang didasari dan timbul akibat praktek, pengalaman, latihan bukan secara kebetulan. Menurut Margael (1994:1) belajar adalah proses orang membutuhkan berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap.
Selain pendapat di atas, beberapa ahli psikologi pendidikan yang memberikan kontribusi dalam menguraikan pengertian belajar diantaranya : (1) Sardiman (1992:23) mengatakan bahwa belajar adalah berubah. Dalam hal ini akan membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, watak, perhatian dan penyesuaian diri. (2) Hudoyo (1988:107) belajar merupakan proses aktif dalam melakukan perjalanan/ pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman dan latihan yang dapat terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya yang dilihat dalam bentuk penguasaan dan penilaian terhadap pengetahuan, sikap dan kecakapan.
Pada dasarnya apabila dikatakan mengajar, tentu ada subjek yang mengajar yaitu pengajar. Pengajar disini dapat berhadapan langsung atau tatap muka dengan yang diberi pelajaran, tetapi dapat pula secara tidak langsung. Misalnya melalui media seperti teks, modul dan lain-lain. Dari uraian tersebut tersirat bahwa mengajar adalah kegiatan pengajar menyampaikan pengetahuan/ pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik. Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat dipahami dengan baik oleh peserta didik. Pernyataan ini dapat dipenuhi bila pengajar mampu menciptakan suasana belajar yang baik sehingga dapat terjadi proses belajar mengajar yang baik pula (Hudoyo 1988:6).
Setiap proses belajar mengajar selalu dibarengi dengan adanya tujuan yang ingin dicapai guru dengan peserta didik sebagai individu yang terlibat dalam proses tersebut, adanya bahan pelajaran, serta model sebagai alat untuk menciptakan interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dengan peserta didik dalam situasi pendidikan (Rusyan, 1989:5).
Matematika merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. Hal ini wajar saja, mengingat karakteristik matematika yang membutuhkan pemahaman terlebih dahulu tentang konsep dasar yang mempunyai daya bantu terhadap konsep matematika yang lain. Agar anak didik memahami dan mengerti akan konsep (struktur) matematika, seyogyanya diajarkan dengan urutan murni, dilanjutkan dengan konsep notasi, diakhiri dengan konsep terapan. (Simanjuntak, 1993:65).
2. Prestasi Belajar Matematika
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:895) disebutkan bahwa prestasi belajar sebagai penguasaan pengetahuan atua keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditujukan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru.
Pada dasarnya prestasi belajar matematika diperoleh melalui keseluruhan proses pembelajaran, dimana proses belajar bukan sekedar mencatat, membaca serta menghafal melainkan harus dimengerti dan dipahami tentang apa yang dipelajari.
Prestasi belajar matematika tidak lain adalah merupakan hasil akhir dari proses belajar matematika sebagai perwujudan dari segala upaya yang telah dilakukan selama berlangsung proses tersebut. Hasil belajar yang dicapai setelah terjadi proses belajar adalah merupakan bukti dari proses belajar itu sendiri yang terwujud dalam bentuk nilai. Nilai inilah yang dijadikan sebagai ukuran prestasi belajar.
Slameto (1998:16) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa dalam bidang tertentu dan untuk memperolehnya menggunakan tes standar sebagai pengukuran keberhasilan seorang siswa.
Menurut Negoro (1970:3) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah salah satu indikator dari perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Sedangkan adanya perubahan ini tampak dalam prestasi yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan dan tugas yang diberikan oleh guru.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Winkel (1985:161) mengemukakan bahwa prestasi belajar yang diperoleh siswa menghasilkan perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman dan segi kelakuan serta dalam segi nilai dan sikap. Adanya perubahan itu tampak dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran matematika yang diukur dengan menggunakan tes standar.
3. Bilangan Bulat
Bilangan bulat adalah bilangan yang terdiri dari bilangan negatif, bilangan nol dan bilangan positif. Dalam pengoperasian bilangan bulat ada 4 macam, yaitu: penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Dalam operasi penjumlahan pengurangan dan perkalian berlaku sifat:
a. Ketertutupan
Jika a dan b bilangan bulat sebarang maka a + b, a – b, dan a x b juga bilangan bulat.
b. Komutatif
Jika a dan b masing-masing bilangan bulat sebarang, maka berlaku hitungan: a + b = b + a ; a – b = b – a ; a x b = b x a
c. Asosiatif
Untuk a, b, dan c bilangan bulat sebarang, berlaku:
 (a + b) + c = a + (b + c)
 (a – b) – c = a – (b – c)
 (a x b) x c = a x (b x c)
Khusus untuk operasi pembagian tidak bersifat ketertutupan, asosiatif dan komutatif. Jika a, b, c sebarang bilangan bulat, berlaku: a : b  b : a dan (a : b) : c  a : (b : c).
4. Model Pembelajaran Kooperatif
Posamentier dalam Rachmad (www.p3gmatyo.co.id) secara sederhana menyebutkan bahwa belajar secara kooperatif adalah penempatan beberapa siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas. Sejalan dengan itu, Murhadi (2204:112) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
c. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d. Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g. Siswa akan diminta untuk mempertanggungjawabkan secara individu antara lain materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Ibrahim dkk, 2000:6).
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku jenis kelamin berbeda-beda.
d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu. (Ibrahim dkk, 2000: 6-7)
Lebih lanjut Ibrahim dkk (2000: 6-7) mengemukakan 3 tujuan penting dalam pembelajaran kooperatif yaitu :
a. Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Artinya bahwa dalam satu kelompok belajar diharapkan siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah.
b. Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, keadaan sosial, maupun ketidakmampuan.
c. Mengajar kepada siswa keterampilan, kerjasama dan kolaborasi.
5. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif selain unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit, model ini sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan semangat kerja sama. Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada tabel berikut :
Fase Tingkah laku guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Fase 2
Menyajikan informasi

Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar


Fase 4
Membimbing kelompok belajar mengajar
Fase 5
Evaluasi


Fase 6
Memberi penghargaan Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
Guru memberikan hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya hasil belajar individu atau kelompok.
6. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah tipe Numbered Head Together (NHT). Numbered Head Together adalah suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) yang melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pembelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran (Ibrahim, 2000: 28).
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa dibagi ke dalam kelompok berdasarkan nomor yang sama kemudian setelah dikelompokkan dalam kelompok tersebut diarahkan untuk membagi ke dalam nomor-nomor secara berurutan. Pembelajaran kooperatif ini merujuk pada pandangan konstruktivis yang memuat pemahaman bahwa siswa telah mempunyai pengetahuan awal tinggal diarahkan untuk memahami dan mengembangkan konsep yang telah mereka miliki.
Nurhadi (2003: 66) mengemukakan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai pengganti pertanyaan kepada seluruh kelas, sebagai berikut :
Langkah 1 : Penomoran (Numbering); Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3-5 orang dan memberi nomor sehingga tiap siswa dalam kelompok memiliki nomor yang berbeda. Pemberian nomor pada siswa dalam satu kelompok disesuaikan dengan banyaknya siswa dalam kelompok itu.
Langkah 2 : Pengajuan pertanyaan (Questioning); Guru mengajukan satu pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang spesifik hingga yang bersifat umum.
Langkah 3 : Berpikir bersama (Head Together); Siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap anggota dalam timnya telah mengetahui jawaban tersebut.
Langkah 4 : Pemberian jawaban (Answering); Guru memanggil satu nomor tertentu kemudian siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

F2. KERANGKA BERPIKIR
Proses belajar seorang siswa dipengaruhi oleh bebrapa faktor, demikian pula dengan proses belajar matematika. Agar prestasi belajar siswa dapat tercapai dengan baik maka harus diupayakan seluruh faktor yang dapat mendukung proses belajar siswa.
Penggunaan model pembelajaran yang dapat meningkatkan/ membangkitkan semangat siswa dalam belajar sangat penting sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Salah satunya adalah penggunaan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan kondisi yang baik untuk meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya model pembelajaran kooperarif tipe NHT. Dalam model pembelajaraan koperstif tipe NHT ini, akan memudahkan siswa dalam menerima materi pelajaran akibat berpikir bersama (Head Together). Siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna serta dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Pada pembelajaran kooperatif tipe NHT, aktivitas belajar lebih banyak berpusat pada siswa. Dalam proses diskusi dan kerja kelompok, guru hanya berfungsi sebagai fasilitator, konsultan dan menejer yang mengkordinir proses pembelajaran. Suasana belajar dan interaksi antara siswa dengan guru maupun antar siswa membuat proses berpikir siswa lebih optimal dan siswa mengkonstruksi sendiri ilmu yang dipelajarinya menjadi pengetahuan yang akan bermakna dan tersimpan dalam ingatannya. Hal ini bisa memupuk minat dan perhatian siswa dalam mempelajari matematika, yang dapat berpengaruh baik terhadap prestasi belajar siswa.
F3. HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN
Penelitian dilakukan oleh Aswad dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas I2 SMP Negeri 3 Kendari Ad. Pokok Bahasan Pecahan Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)” berkesimpulan bahwa hasil belajar siswa kelas I2 SMP Negeri 3 Kendari pada pokok bahasan pecahan dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Syamsidar (2004:48) yang menyimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), kemampuan siswa kelas I3 semester 1 SMP Negeri 2 Raha dalam memahami konsep operasi hitung pada bilangan bulat, dapat ditingkatkan.

F4. HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan kajian pustaka, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT, prestasi belajar matematika siswa kelas VII10 SMP Negeri 9 Kendari dalam pokok bahasan bilangan bulat dapat ditingkatkan.
G. PROSEDUR PENELITIAN
G1. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada kelas VII10 semester ganjil Tahun Pelajaran 2008/2009 di SMP Negeri 9 Kendari.
G2. Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan di atas, ada beberapa faktor yang akan diselidiki antara lain :
a) Faktor siswa, melihat kemampuan siswa dalam mempelajari matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan bilangan bulat.
b) Faktor guru, melihat bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan bagaimana teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan matematika pada pokok bahasan bilangan bulat.
c) Faktor sumber pelajaran, melihat apakah sumber pelajaran dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.


G3. Rencana Tindakan
Penelitian tindakan ini terdiri dari 2 siklus dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang ingin diselidiki.
Setiap siklus dalam penelitian ini mengkiti prosedur penelitian sebagai berikiut :
a) Perencanaan, dengan kegiatan sebagai berikut :
1. Membuat skenario pembelajaran.
2. Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika menggunakan model pembelajaran tipe NHT dan mengamati perilaku siswa serta perhatian siswa terhadap pelajaran yang sedang berlangsung, juga guru yang sedang mengajar.
3. Membuat alat evaluasi, untuk melihat apakah prestasi siswa dalam belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pokok bahasan bilangan bulat dapat meningkat.
b) Pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilakukan adalah :
1. Pembentukan kelompok belajar heterogen yang beranggotakan 4 siswa untuk tiap kelompok oleh guru bidang studi, dengan berdasarkan nilai ulangan harian sebelum pelaksanaan tindakan.
Dalam hal ini, penempatan tempat duduk dalam kelompok saling berhadapan, penomoran siswa yang berbeda dan pemberian nama yang berbeda untuk setiap kelompok.
2. Peneliti mengamati guru di dalam kelas selama melaksanakan tindakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
3. Peneliti secara terus menerus melakukan pengamatan terhadap perilaku siswa yang terjadi pada diri siswa dan membuat catatan tersendiri tentang dampak perilaku guru terhadap siswa.
c) Observasi, kegiatannya adalah melakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat.
Proses observasi dilakukan sejak awal hingga akhir penelitian.
d) Evaluasi, dilakukan pada setiap akhir siklus tindakan. Evaluasi bertujuan untuk melihat apakah pemahaman siswa dalam belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT meningkat atau tidak.
Alat evaluasi untuk siswa adalah tes hasil belajar. Adapun kriteria untuk mengukur keberhasilan siswa dalam peningkatan prestasi belajar pokok bahasan bilangan bulat yaitu apabila siswa secara perorangan memperoleh nilai 6,5 ke atas. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila 85 % siswa telah mendapat nilai 6,5 ke atas.
e) Refleksi, hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis, dalam hal ini termasuk hasil evaluasinya. Dari hasil yang didapatkan guru, baru akan merefleksikan diri dengan melihat data observasi, bila hasil yang diperoleh belum memenuhi target yang telah ditetapkan pada indikator kinerja, maka penelitian ini akan dilanjutkan pada siklus berikutnya dalam memperbaiki tindakan yang dilakukan sebelumnya.
G4. Data dan Cara Pengambilan Data
a) Sumber data dalam penelitian ini adalah dari cara mengajar guru dan cara belajar siswa.
b) Jenis data. Data yang akan didapatkan adalah data yang kualitatif dan data kuantitatif melalui lembar observasi, tes hasil belajar dan jurnal.
c) Teknik pengambilan data dilakukan dengan rincian sebagai berikut :
1. Data tentang proses pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT diambil dengan menggunakan lembar observasi.
2. Pemberian tes prestasi belajar kepada siswa untuk memperoleh data prestasi belajar matematika pada pokok bahasan bilangan bulat.
3. Data tentang refleksi diri diambil dengan menggunakan jurnal.

G5. Indikator Kinerja
1. Suatu pelaksanaan pembelajaran dalam penelitian ini dikatakan berhasil dengan baik apabila minimal 85 % skenario pembelajaran terlaksana dengan baik.
2. Minimal 75% - 80% siswa telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan dengan memperoleh nilai minimal 60. (Informasi didapatkan dari pihak sekolah)




G6. Alur Dalam Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas merupakan proses pengkajian melalui sistem belajar dari berbagai kegiatan. Ada 5 tahapan pelaksanaan penelitian tindakan, namun dalam kenyataannya tahap-tahap tersebut merupakan titik-titik kegiatan estafet dalam suatu siklus. Adapun tahap-tahap tersebut adalah, (1) pengembangan fokus masalah; (2) perencanaan tindakan; (3) pelaksanaan tindakan observasi dan evaluasi; (4) analisis dan refleksi; (5) perencanaan tindakan lanjutan. Jika prosedur tersebut digambarkan adalah sebagai berikut:











0 comments:

Post a Comment