Friday, August 15, 2008

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Perbandingan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif T

A. Judul : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Perbandingan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams – Games – Tournament (TGT)

B. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas

sumber daya manusia. Pendidikan merupakan salah satu cara pembentukan kemampuan manusia untuk menggunakan rasional seefektif dan seefisien mungkin sebagai jawaban dalam menghadapi masalah – masalah yang timbul dalam usaha menciptakan masa depan yang baik.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, antara lain dengan perbaikan mutu belajar mengajar. Belajar mengajar di sekolah merupakan serangkaian kegiatan yang secara sadar telah terencana. Dengan adanya perencanaan yang baik, akan mendukung keberhasilan pengajaran. Usaha perencanaan pengajaran diupayakan agar peserta didik memiliki kemampuan maksimum dan meningkatkan motivasi, tantangan dan kepuasan sehingga mampu memenuhi harapan baik oleh guru sebagai pembawa materi maupun peserta didik sebagai penggarap ilmu pengetahuan.
Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam belajar mengajar, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekedar mengkomunikasikan pengetahuan agar dapat belajar, tetapi mengajar juga berarti usaha menolong sipelajar agar mampu memahami konsep–konsep dan dapat menerapkan konsep yang dipahami.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai sangat memegang peranan penting karena matematika dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien. Oleh karena itu dipandang penting agar matematika dapat dikuasai sedini mungkin oleh para siswa.
Salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Hasil survei dari asosiasi penilaian pendidikan internasional The Third Internasional Mathematics and Science Study pada tahun 1999 menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika anak Indonesia untuk SMP berada pada urutan 34 dari 38 Negara, dimana Malaysia diurutan
ke-14 dan Singapura diurutan teratas (Hartadji, 2001:4).
Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan observasi di SMP Negeri 9 Kendari pada tanggal 23 Agustus 2006 dan diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika siswa kelas VII di sekolah tersebut masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian siswa hanya mencapai 4,9. nilai rata-rata ini jika dibandingkan dengan ketuntasan belajar menurut kurikulum, yakni sebesar 6,5 atau 65 % dapat dikatakan bahwa nilai tersebut berada di bawa standar ketuntasan yang diharapkan. Dari hasil wawancara ini pula diperoleh informasi dari guru matematika bahwa pokok bahasan yang dianggap sulit untuk dipahami oleh siswa adalah pokok bahasan perbandingan. Dalam hal ini siswa sering kali mengalami kesulitan dan kekeliruan dalam menyelesaikan soal-soal latihan.
Dari hasil observasi lebih lanjut, tanggal 25 Agustus 2006 terlihat bahwa model pembelajaran yang digunakan guru matematika di SMP Negeri 9 Kendari khususnya di kelas VII7 lebih didominasi oleh model pembelajaran langsung dengan menggunakan kombinasi beberapa metode yaitu ceramah, diskusi, tugas dan resitasi, tanya jawab dan sebagainya. Namun demikian, siswa masih belum aktif dalam proses belajar- mengajar. Siswa cenderung diam dan engan dalam mengemukakan pernyataan maupun pendapat. Penelitian menduga model pembelajaran inilah yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa khususnya siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari.
Atas dugaan di atas, maka peneliti tertarik untuk mencobakan suatu tindakan alternatif untuk mengatasi masalah yang ada berupa penerapan model pembelajaran lain yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe. Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap peneliti dapat memotivasi siswa dalam peran aktif mengikuti proses belajar mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Team-Games-Tournament (TGT). Menurut Wartono dkk (2004:16) Teams-Games-Tournament (TGT) atau Pertandingan-Permainan-Tim merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang masih berkait dengan STAD yang merupakan tipe lainnya dari pembelajaran kooperatif.
TGT menekankan adanya kompetisi yang dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antara anggota kelompok/tim dalam suatu bentuk “turnamen”. Sedangkan dalam STAD, siswa bekerja di kelompok untuk belajar dari temannya serta mengajar temannya. Lebih lanjut Wartono dkk (2004:16) menjelaskan bahwa dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh pembahasan skor pada tim mereka. Permainan ini disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan pengetahuan siswa. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka yang dimainkan pada meja turnamen yang diisi wakil-wakil kelompok yang berbeda namun mempunyai kemampuan yang setara yang ditunjuk oleh guru. Tiap wakil dari kelompok-kelompok tersebut akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen ini memungkinkan tingkat untuk menyumbangkan skor-skor bagi kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk aktif dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya, dari hasil wawancara lebih lanjut yang dilakukan penulis pada tanggal 28 Agustus 2006 terhadap guru matematika, diperoleh keterangan bahwa siswa-siswi kelas VII7 merupakan siswa-siwi dengan prestasi belajar terendah di kelas VII, berdasarkan nilai matematikanya saat awal pendaftaran di sekolah tersebut.
Permasalahan siswa tersebut di atas, diharapkan dapat teratasi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Hulten dan De Vries pada tahun 1976 di Suburban MD yang meneliti pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelas kooperatif tipe TGT menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. (Slavin, 1995)
Selain itu, studi studi eksperimen yang dilakukan oleh Moersetyo Rahadi di SMU Negeri 1 Garut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan hasil belajar siswa yang belajarnya menggunakan belajar kooperatif TGT dengan siswa yang dengan pembelajarannya menggunakan cara biasa (konvensional). Setelah diuji pada taraf signifikan P = 0,05 hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model belajar TGT lebih baik dari siswa yang menggunakan model konvensional. (Rahardi, Http: // TGT, Com)
Atas alasan yang telah dikemukakan, maka penulis berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada Pokok Bahasan Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams – Games – Tournament (TGT)”.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran melalui model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada pokok bahasan perbandingan?
2. Bagaimana respon siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari terhadap pembelajaran konsep perbandingan melalui model kooperatif tipe TGT?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Apakah pembelajaran melalui model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada pokok bahasan perbandingan.
2. Respon siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari terhadap pembelajaran konsep perbandingan melalui model kooperatif tipe TGT?


E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Bagi guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas, sehingga materi pelajaran matematika yang dianggap sulit bagi siswa dapat dipahami lebih mudah oleh siswa.
2. Bagi siswa dapat meningkatkan prestasi belajar matematikanya, khususnya pada pokok bahasan perbandingan.
3. Bagi sekolah: Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada khususnya.
F. Kajian Pustaka
1. Belajar dan Mengajar Matematika
Istilah “belajar” dan “mengajar” adalah dua peristiwa yang berbeda akan tetapi diantara keduanya terhadap hubungan yang sangat erat. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi, saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain dalam keberhasilan proses belajar mengajar.
Sebelum membahas mengenai belajar dan mengajar matematika, perlu lebih dahulu dikemukakan mengenai proses belajar mengajar, khususnya pengertian belajar dan mengajar secara utuh.
Menurut W. H Borton dalam Usman (1993:4), belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu, dan individu lingkungannya.
Hudoyo (1988:1) menjelaskan bahwa seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan bahwa diri orang itu terjadi sesuatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut berlaku dalam relatif lama, dan terjadi karena adanya usaha orang tersebut. Jadi, tanpa usaha walaupun terjadi perubahan tingkah laku, bukanlah belajar .
Hamalik (2001:30) mengemukakan bahwa bukti dari seseorang yang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dalam aspek-aspek tertentu seperti pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses dan di dalam proses itu terjadi perubahan tingkah laku pada aspek-aspek tingkah laku, perubahan terjadi relatif menetap dan terjadi karena adanya usaha diri individu yang belajar pada materi yang telah diajari oleh guru.
Mengajar didefinisikan oleh Sudjana dalam Zain (2002:45) sebagai suatu proses, yaitu proses pengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik melakukan proses belajar.
Usman (1993:6) mendefinisikan mengajar sebagai suatu usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik, dan bahan pengajaran, sehingga menimbulkan proses belajar pada diri siswa.
Sejalan dengan pendapat Usman yang telah dikemukakan di atas, Hamalik (2001:48) mendefinisikan bahwa mengajar merupakan usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa, guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang segar agar aktivitas belajar menuju yang serasi agar aktivitas belajar menuju kearah sasaran yang diinginkan. Dengan kata lain, guru juga bertindak selaku organisator belajar siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai secara optimal. Roestiyah (1994:36) menekankan bahwa hasil dari pengajaran bukan merupakan hasil mengajar artinya bukan terutama untuk kepentingan guru, tapi untuk kepentingan siswa yang belajar.
Dari beberapa definisi mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu proses, yaitu proses pengorganisasian lingkungan disekitar siswa, agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar untuk mencapai tujuan yang optimal.
Berdasarkan pengertian belajar dan mengajar di atas, dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar dan mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan proses dan mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan proses perubahan, sedangkan mengajar merupakan proses pengaturan agar perubahan itu terjadi. Proses belajar mengajar untuk mata pelajaran matematika harus memperhatikan karakteristik matematika. Sumarno (2002:2) mengemukakan beberapa karakteristik yaitu: materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif, materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur dan dalam mempelajari matematika dibutuhkan ketekunan, keuletan, serta rasa cinta terhadap matematika. Karena materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur maka dalam belajar matematika, tidak boleh terputus-putus dan urutan materi harus diperhatikan. Artinya , perlu mendahulukan belajar tentang konsep matematika yang mempunyai daya bantu terhadap konsep matematika yang lain. Misalnya, sebelum mempelajari konsep kekongruenan terlebih dahulu perlu dipahami konsep kesebangunan. Pemberian simbol penting untuk menjamin adanya komunikasi, dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru.
Bruner dalam Hudoyo (1988:56) berpendapat bahwa belajar matematika ialah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur matematika itu.
Menurut Dienes dalam Russefendi (1980:135) konsep struktur dalam matematika dapat dipelajari dengan baik, bila representasinya dimulai dengan benda-benda konkret yang beraneka ragam. Alasannya karena dengan melihat berbagai contoh memungkinkan siswa menerapkannya konsep tersebut kesituasi yang lain. Jadi agar seorang siswa dapat belajar matematika dengan baik, terlebih dahulu konsep-konsep matematika yang terdapat dalam materi yang sedang dipelajari harus dipahami, kemudian berusaha menemukan hubungan antara konsep-konsep matematika itu. Mempersiapkan diri sebelum belajar, banyak latihan, belajar secara kontinu dan mengetahui penerapan materi dalam situasi nyata, dapat menambah pemahaman siswa tersebut.
Dalam mengajar matematika, seorang guru matematika hendaklah berpedoman pada bagaimana mengajar matematika itu sehingga siswa dapat belajar matematika dengan baik. Oleh sebab itu seorang guru matematika dalam mengajar perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) Urutan materi pelajaran; (2) memberikan contoh kongkrit kemudian membimbing siswa itu mencari sendiri; (3) mengarahkan siswa untuk menemukan hubungan antara konsep-konsep matematika; (4) memberikan contoh-contoh penerapan materi dalam situasi nyata dan (5) memberikan latihan soal-soal.
2. Prestasi Belajar Matematika
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2001:895) Prestasi diartikan sebagai yang telah dicapai (telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Menurut Arifin (1991:3), prestasi berarti hasil usaha. Dalam hubungannya dengan usaha belajar, prestasi berarti hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu. Prestasi belajar siswa mampu memperlihatkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman, dalam bidang keterampilan, nilai dan sikap.
Dalam beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang telah dicapai oleh seseorang, sedang prestasi be lajar adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu.
Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar matematika, dapat diukur prestasinya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut pada kurun waktu tertentu, dengan menggunakan suatu alat evaluasi. Jadi prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi (tes).
3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Games-Tournament (TGT)
Konsep model pembelajaran pertama kali dikembangkan oleh Bruce dan koleganya. Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi pembelajaran atau prinsip pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis model pembelajaran yang menggunakan kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Slavin dalam Allyn dan bacon (1999), pembelajaran kooperatif merujuk pada kaidah pengajaran yang memerlukan siswa dari kemampuan yang heterogen untuk bekerja sama dengan kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Lima unsur asas pembelajaran kooperatif menurut Slavin dalam Allyn dan Bacon (1999) adalah:
1. Saling bergantung satu sama lain secara positif.
2. Saling berinteraksi secara langsung.
3. Akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri.
4. Kemahiran kooperatif.
5. Pemprosesan kelompok.
Beberapa cara pembelajaran kooperatif telah dikembangkan tokoh-tokoh pendidikan misal; jigsaw TGT, STAD. Belajar bersama (Learning Together), NHT (Numbered Heads Together) dan Meja Bulat (Round Tab le).
Lebih lanjut Nur dkk (2000:7), mengemukakan tiga tujuan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Berkaitan dengan hasil belajar akademik, salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
b. Berkaitan dengan penerimaan terhadap individu, pembelajaran kooperatif bertujuan untuk melatih siswa menghargai satu sama lain dalam keadaan perbedaan latar belakang dan kondisi yang ada pada siswa.
c. Berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosial, pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa keterampilan kerja sama, hal ini sangat penting karena saat ini sebagai lapangan kerja dilakukan dalam organisasi yang membutuhkan kerja sama dengan orang lain.
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif menurut Ismail (2000:23) adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.
b. Menyajikan informasi.
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d. Membimbing kelompok belajar untuk menemukan penyelesaian suatu masalah.
e. Melakukan evaluasi.
f. Memberikan penghargaan.
Berdasarkan asas pembelajaran kooperatif, tujuan dan langkah-langkah pelaksanaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok yang menunjukkan siswa memperoleh prestasi belajar yang lebih baik, dibanding model pembelajaran yang lama.
Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Teams-Games-Tournament (TGT) (Wartono, 2004:16). Selanjutnya Wartono, dkk (2004:16) menjelaskan dalam Teams-Games-Tournament atau pertandingan-permainan-tim siswa memainkan permainan pengacakan kartu dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh poin pada skor tim mereka. Permainan ini berupa pernyataan-pernyataan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Pertanyaan-pernyatan yang dimaksud adalah pernyataan-pernyataan yang relevan dengan materi pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan siswa dari penyampaian pelajaran siswa di kelas. Setiap wakil kelompok akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen. De Vries dan Slavin dalam Alkrismanto (2004:16) menjelaskan bahwa model pembelajaran tipe TGT menekankan adanya kompetisi yang dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antar anggota tim dalam suatu bentuk “turnamen”.
Adapun sintaks model pembelajaran kooperatif Tipe TGT dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Fase-fase Pembelajaran Tingkah laku Guru
Fase I
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase II
Menyampaikan informasi atau materi pelajaran Guru menyampaikan informasi atau materi pelajaran kepada siswa dengan cara demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase III
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok agar melakukan transisi secara efisien dalam belajar.
Fase IV
Membimbing kelompok belajar dan belajar serta turnamen Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengajarkan tugas bersama serta memandu siswa memainkan suatu permainan sesuai dengan struktur pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Fase V
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar siswa; menentukan skor individual dan kemajuannya, menentukan skor rata-rata kelompok.
Fase VI
Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

(Ibrahim, 2000:10)
4. Pembelajaran Konsep Perbandingan di SMP.
Berdasarkan GBPP matematika kurikulum tingkat satuan pendidikan kelas VII semester I tahun 2006 indikator pencapaian hasil belajar dan materi perbandingan yaitu:
 Siswa dapat menjelaskan pengertian skala sebagai suatu perbandingan.
 Siswa dapat menghitung faktor perbesaran dan pengecilan pada gambar pada gambar berskala.
 Siswa dapat memberikan contoh masalah sehari-sehari yang merupakan perbandingan seharga (senilai) dan berbalik harga (nilai).
Dengan melihat indikator pencapaian hasil belajar, maka skala merupakan salah satu sub pokok bahasan dari materi perbandingan. Sebagai contoh skala adalah misalnya diberikan suatu peta Provinsi Sulawesi Tenggara dengan skala 1 : 3.150.000. Hal ini berarti 1 cm pada peta mewakili 3.150.000cm pada jarak sebenarnya. Menurut Kusrini, dkkk (2003:108). Skala adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak sebenarnya atau dapat dituliskan:
Skala =

Skala memiliki faktor perbesaran dan pengecilan. Faktor perbesaran pada skala bisa dapat kita lihat pada gambar bakteri maupun amoeba yang diperbesar menjadi 200 kali sehingga amoeba akan tampak besar. Jadi, skala amoeba tersebut menjadi 200 : 1 artinya benda yang sesungguhnya diperbesar menjadi 200 kali. Sedangkan faktor pengecil pada skala, seperti skala pada peta Sulawesi Tenggara yang ditulis 1 : 3.150.000, artinya gambar sesungguhnya diperkecil 3.150.000 kali.
Menurut Kusrini, dkk (2003:118), perbandingan adalah membandingkan dua besaran atau lebih. Perbandingan dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan sederhana. Sebagai contoh misalkan Ali mempunyai 9 buku dan Lia mempunyai 6 buku, perbandingan banyaknya buku Ali terhadap banyaknya buku Lia adalah 3 : 2 dan perbandingan banyaknya buku Lia terhadap banyaknya buku Ali adalah 2 : 3. Perbandingan dapat dinotasikan dengan “ : ” atau “ – “. Misal besaran a kita bandingkan dengan besaran b perbandingan dapat ditulis dengan “a : b” atau “ ”. “a : b” dibaca “ a berbanding b” dan a : b = ; b  0 (Sukino dan Simangunsong, 1995:2).
Perbandingan dua besaran sejenis yaitu perbandingan dua besaran yang satuannya sama, sehingga apabila satuan dua besaran yang akan dibandingkan belum sama, terlebih dahulu menyamakan satuannya dan kemudian dapat menyederhanakan perbandingan tersebut. (Sumadi, dkk, 2005:94).
Terdapat dua macam perbandingan, yaitu perbandingan senilai dan perbandingan berbalik nilai. Perbandingan senilai adalah kesamaan dari dua perbandingan yang secara umum dapat dituliskan dengan:

Perbandingan senilai ini berkaitan dengan berbanding lurus atau berbanding langsung sebagai contoh: perbandingan banyak kain batik dan perbandingan besar harga (Sukino dan Simangunsong, 1995:8). Perbandingan berbalik nilai berkaitan dengan berbanding terbalik. Sebagai contoh Ibu mempunyai 1 kantong gula-gula yang dibelinya di pasar. Apabila gula-gula tersebut dibagikan kepada 3 orang anak, maka masing-masing menerima 30 butir, jika dibagikan kepada 3 orang anak, maka masing-masing menerima 20 butir, demikian seterusnya. Jumlah anak dan bagian gula-gula yang diterima dapat dilihat pada tabel berikut:
Banyak anak Banyak bagian gula-gula yang diterima
2
3
4
5
6 30
20
15
12
10

1). Perbandingan banyak anak pada baris ke-1 dan baris ke-2 adalah 2 : 3 atau . Perbandingan banyak gula-gula yang diterima pada baris pertama dan baris ke dua adalah 30 : 20 = .
2). Perbandingan banyak anak pada baris ke-2 dan baris ke-3 adalah 3 : 4 = . Perbandingan banyak bagian gula-gula pada baris ke-2 dan baris ke-3 adalah 20 : 15 = .
Nilai adalah kebalikan dari , nilai kebalikan dari . Dengan demikian dikatakan terdapat perbandingan berbalik nilai antara banyak anak dan banyak gula-gula yang diterima. (Sumadi, dkk, 2005:97).
Lebih lanjut Sumadi, dkk (2005:98 – 104) menjelaskan bahwa untuk melakukan perhitungan perbandingan senilai dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menghitung perbandingan berbalik nilai dapat dilakukan melalui hasil kali atau melalui perbandingan. Adapun bentuk grafik dari perbandingan senilai yaitu berupa titik-titik yang sejenis sedangkan grafik perbandingan berbalik nilai yaitu berupa titik-titik yang terletak pada sebuah garis lengkung yang disebut hiperbola.
5. Kerangka pembelajaran konsep perbandingan melalui kooperatif tipe TGT
Pembelajaran konsep perbandingan melalui kooperatif tipe TGT akan dilakukan dalam tiga tahapan, waktu tahap awal, tahap inti dan tahap akhir.
Pada tahap awal, guru memulai pelajaran dengan menyampaikan materi perbandingan melakukan operasi dengan materi yang dipelajari. Kemudian memaparkan beberapa penggunaan dan aplikasi perbandingan dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan suatu bentuk motivasi sehingga menambah keingintahuan siswa untuk lebih memperhatikan pembelajaran selanjutnya. Kemudian guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa tahu akan arah pembelajaran mereka. Indikator pencapaian hasil belajar yang ditetapkan berdasarkan kurikulum 2004 untuk pokok bahasan perbandingan yaitu:
1. Menjelaskan pengertian skala sebagai suatu perbandingan.
2. Menghitung faktor pembesaran dan pengecilan pada gambar berskala.
3. Memberikan contoh masalah sehari-hari yang merupakan perbandingan seharga dan berbalik harga.
4. Menjelaskan hubungan perbandingan dan pecahan.
5. Menyelesaikan soal yang melibatkan perbandingan seharga dan berbalik harga.
6. memecahkan masalah yang melibatkan perbandingan.
Pada tahap inti, guru memulai dengan menyajikan informasi atau materi pembelajaran. Kemudian guru mengelompokkan siswa menjadi beberapa kelompok. Setelah itu guru membagi LKS kepada masing-masing kelompok. Siswa mengerjakan soal-soal LKS secara berkelompok yang dipantau oleh guru. Secara acak guru menunjuk wakil dari kelompok menuju meja turnamen dan meminta setiap wakil kelompok melakukan permainan di meja turnamen dengan mengambil sebuah kartu yang telah diacak dan diberi angka kemudian meminta wakil kelompok mempersentasikan jawabannya.
Pada tahap inti, siswa diarahkan pada penyimpanan dari soal-soal LKS yang telah diselesaikan bersama-sama anggota kelompok, dan terakhir memberikan evaluasi.
Kerangka Kerja Pembelajaran
Tahap Pembelajaran Aktifitas Guru Aktifitas siswa Sarana Metode Alokasi Waktu (menit)
Pendahuluan  Memberikan motivasi
 Menyampaikan tujuan pembelajaran
 Mengingatkan kembali tentang materi yang sudah dipelajari yang ada hubungannya dengan materi yang akan dipelajari Memperhatikan Tanya jawab 15 menit
Pokok/inti  Memberikan materi pelajaran
 Mengelompokkan siswa secara heterogen



 Membagi LKS kepada masing-masing kelompok
 Meminta setiap kelompok menyelesaikan soal-soal kelompok
 Memantau kerja kelompok selama diskusi berlangsung
 Menunjuk wakil dari kelompoknya menuju meja turnamen



 Meminta setiap wakil kelompok melakukan permainan
 Meminta wakil tiap kelompok mempresentasikan jawabannya.
 Memberi skor untuk masing-masing kelompok sesuai dengan jawaban mereka
 Memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi  Memperhatikan

 Siswa mengikuti petunjuk guru untuk berkumpul dengan anggota kelompoknya
 Menerima LKS


 Secara berkelompok menyelesaikan LKS
 Aktif dalam kelompoknya ketika diskusi
 Siswa yang ditunjuk guru mewakili kelompoknya menuju meja turnamen
 Melakukan permainan

 Menerima skor Ceramah





Diskusi





85 menit
Penutup  Memberikan siswa untuk membuat rangkuman


 Memberi penekanan pada hal-hal penting
 Memberikan soal tes  Mencoba membuat rangkuman dari soal-soal yang dikerjakan
 Memperhatikan penjelasan guru
 Menyelesaikan soal tersebut secara individual. Tanya jawab 20 menit
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Ciri utama dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar di kelas.
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti mutlak diperlukan, karena peneliti bertindak sebagai instrument kunci dalam penelitian ini. Peneliti sebagai perencana, perancang, pengumpul data, penganalisis data dan pelapor penelitian. Dalam penelitian ini yang bertindak sebagai pengajar adalah guru matematika kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari yang bernama Ratna Palapasari, S. Pd.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 9 Kendari yang beralamat di Jalan Saranani Kecamatan Mandonga Kota Kendari. Sekolah ini dipilih sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Siswa mengalami kesulitan tentang materi perbandingan.
2. Belum pernah dilaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament.
3. Terbuka kemungkinan untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.

4. Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini mencakup: (1) Hasil tes awal dan tes akhir (2) Hasil observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung, (3) Hasil wawancara terhadap subjek penelitian, (4) Hasil catatan lapangan, dan (5) Hasil angket siswa.
Sumber data pada penelitian ini adalah guru matematika dan siswa kelas VII¬7 SMP Negeri 9 Kendari tahun pelajaran 2006/2007 Semester I. Siswa yang diambil sebagai subjek penelitian adalah 5 orang siswa dengan pertimbangan agar memudahkan fokus perhatian dan pengamatan sehingga tercapai refleksi mendalam. Pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan pada hasil tes awal dan pertimbangan dari guru mata pelajaran matematika yang mudah diajak berkomunikasi dan bekerja sama. Kelima siswa tersebut ditentukan dengan cara yang mendapat skor paling rendah dalam hasil tes awal. Hal ini diambil dengan pertimbangan bahwa jika siswa yang berkemampuan rendah dapat berhasil dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap materi perbandingan, berarti siswa yang berkemampuan tinggi dan sedang juga dapat berhasil dalam pembelajaran tersebut.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu: (1) tes, (2) wawancara, (3) pengamatan, dan (4) pencatatan lapangan.

1. Tes yang akan dilakukan pada penelitian ini berupa tes awal dan tes akhir tindakan, dengan tujuan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat yang telah dimiliki siswa dan untuk mengetahui tercapainya tes akhir tindakan. Tes awal dan tes akhir tindakan, dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru matematika.
2. Wawancara dilakukan untuk menelusuri dan mengetahui pemahaman siswa dalam memecahkan masalah-masalah perbandingan. Selain itu, wawancara dilakukan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran. Wawancara dilaksanakan pada setiap akhir tindakan dan direkam dengan tipe recorder.
3. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan di kelas selama kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang diamati meliputi aktivitas guru matematika sebagai pengajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Observasi dimaksudkan untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan serta untuk menjaring data aktivitas siswa dalam berdiskusi. Observasi dilakukan peneliti dengan menggunakan lembar observasi.
4. Pencatatan lapangan dimaksudkan untuk melengkapi data yang tidak tercatat dalam lembar observasi. Dengan demikian diharapkan tidak ada data penting yang terlewatkan dalam kegiatan penelitian ini. Dan angket, yang diberikan kepada siswa.


6. Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan yang timbul, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor siswa, yaitu melihat minat dan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika, khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan perbandingan.
b. Faktor guru, yaitu melihat bagaimana materi pelajaran disiapkan, teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT).
c. Faktor sumber belajar, yaitu melihat apakah sumber pelajaran dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang akan dipelajari.
7. Tahap-tahap Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan tindakan.
1. Tahap perencanaan meliputi kegiatan
a. Refleksi awal
Pada tahap ini dilakukan kegiatan (1) membuat soal tes awal, (1) menentukan sumber data, (3) melakukan tes awal, (4) menentukan subjek penelitian.
b. Menetapkan dan merumuskan rancangan tindakan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah (1) menentukan tujuan pembelajaran, (2) menyusun kegiatan pembelajaran melalui model pembelajaran tipe TGT terhadap materi perbandingan, (3) menyusun tes akhir tindakan.
2. Tahap pelaksanaan tindakan
a. Perencanaan, kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi:
1. Menyusun rencana pembelajaran.
2. Menyiapkan materi pembelajaran yang akan disajikan.
3. Menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan pada saat mengobservasi pelaksanaan pembelajaran.
4. Mengkoordinasikan program kerja dalam pelaksanaan tindakan dengan guru matematika
b. Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, disesuaikan dengan rencana yang telah disusun dalam rencana pembelajaran.
c. Observasi
Selama pembelajaran, dilakukan pengamatan dengan lembar observasi untuk mengumpulkan data. Observasi ini dilakukan oleh peneliti. Adapun yang akan diamati meliputi aktivitas siswa dengan guru selama pembelajaran berlangsung. Untuk menindaklanjuti hasil observasi dan hasil tes, maka dilakukan wawancara terhadap subjek penelitian.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tindakan untuk menjelaskan dan mengambil kesimpulan apakah perlu mengulang siklus (dengan perbaikan) atau melangkah ke tahap selanjutnya berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Adapun tahap pelaksanaan tindakan yang diadaptasi dari Tim PPPG Matematika Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai berikut:






8. Indikator Kinerja
Sebagai indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah minimal 80% siswa telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan. Seorang siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan apabila siswa tersebut telah memperoleh nilai minimal 6,0 (ketentuan dari sekolah).






DAFTAR PUSTAKA

Allyn dan Bacon, 1999. Coperatif Learning Theory Rosearch Practice. (Onlinb. www,Google Com. Kooperatif. Diaskes 3 Februari 2006).

Anonym, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Balai Pustaka. Jakarta.

Arifin, Zainal, 1991. Evaluasi Instruksional. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Hamalik, Oemar, 2001. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Bandung

Hartadji, Nursyafi’i, 2001. Pengembangan dan Uji Coba Perangkat CTL. Depdiknas. Jarkarta.

Hudoyo, Herman, 1988. Belajar Mengajar Matematika. P2 LPTK. Jakarta.

Ibrahim, M. Dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif . Universitas Negeri Surabaya : University Perss.

Ismail, 2002. Model-Model Pembelajaran. Depdiknas. Jakarta.

Kusrini, dkk, 2003. Matematika Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Kelas I. Depdiknas. Jakarta.

Rahardi, Moersetyo. Penerapan Model Belajar Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Dalam Pembelajaran Matematika Sekolah Menengah Umum Conline, www Google. Com (Http:// TGT.Com).

Nur, Muhamad dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif. University Press UNESA. Surabaya.

Roestiyah, N. K,1994. Masalah Pengajaran Sebagai Suatu Sistem. Rineka Cipta. Jakarta.

Russefendi, E. T, 1979. Pengajaran Matematika Modern. Tarsito. Bandung.

Sukino dan Simangunsong, Wilson, 1995. Matematika SLTP 2 B. Erlangga. Jakarta.

Sumadi, dkk, 2005. Matematika dalam Kehidupan Kita. CV Anak Cerdas Nusantara. Surakarta.

Tim PPPG Matematika, 2005. Penelitian Tindakan Kelas (Diklat Guru Inti Matematika SMP di Daerah Tahun 2005). Depdiknas. Yogyakarta.

Wartono, dkk. 2004. Materi Penelitian Terintegrasi Sains. Depdiknas. Jakarta.

Zain, Aswan, 2002. Strategi Belajar Mengajar. Asdi Mahasatya. Jakarta.


0 comments:

Post a Comment