Friday, August 15, 2008

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIID SMP NEGERI 5 KENDARI PADA POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL MELALUI MODEL PEMBELA

A. JUDUL : MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIID SMP NEGERI 5 KENDARI PADA POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS-GAMES-TOURNAMENT (TGT)

B. Latar Belakang
Perkembangan dan kemajuan suatu negara ditentukan oleh berbagai aspek. Salah satu aspek yang sangat penting adalah aspek pendidikan, karena melalui

kegiatan pendidikan suatu negara bisa memperoleh penambahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan dewasa ini telah menjadi kebutuhan masyrakat yang semakin hari semakin terasa arti pentingnya. Namun cukup banyak permasalahan yang dihadapi dalam proses pemenuhan akan pendidikan, salah satu permasalahan yang mendasar yang terjadi di dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah kualitas pendidikan.
Prestasi belajar siswa di Indonesia dari suatu lembaga pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu dapat dilihat dari kualitas lulusan yang dihasilkan. Salah satu indikator untuk melihat kualitas pendidikan adalah prestasi belajar yang dicapai oleh siswa.
Prestasi belajar siswa di Indonesia, khususnya prestasi belajar matematika siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih tergolong rendah. Hartadji (2001: 4) menjelaskan salah satu hasil yang menunjukkan hasil tersebut, yaitu hasil survei dari asosiasi penilaian pendidikan internasional The Third Internasional Mathematics and Science Study tahun 1999 bahwa prestasi belajar matematika anak Indonesia untuk SMP berada pada urutan 34 dari 38 negara, dimana Malaysia diurutan ke-14 dan Singapura diurutan teratas. Kenyataan ini perlu mendapat perhatian mengingat dalam GBPP dijelaskan bahwa tujuan umum pendidikan matematika pada jenjang pendidikan menengah adalah memberi tekanan pada penalaran dan pembentukan sikap siswa serta juga memberi tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya untuk mencapai tujuan umum pendidikan matematika, penambahan secara terus menerus baik dalam segi materi, metode evaluasi harus dilaksanakan oleh semua pihak, terutama guru.
Salah satu perubahan yang terlihat jelas telah dilakukan di Indonesia yaitu telah berulang kali terjadi perubahan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Saat ini Indonesia sedang melakukan perubahan mendasar dalam kurikulum, yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Depdiknas (2002: 7) mengemukakan perbedaan yang paling mendasar antara kurikulum 1994 dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah dalam kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran dalam kurikulum 1994 cenderung berpusat pada guru, dimana guru merupakan sumber utama informasi dan pendekatan pembelajaran yang digunakan dominan ceramah, sedangkan dalam kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran berpusat pada siswa, guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan kreator serta pendekatan dan metode yang digunakan bervariasi.
Pada SMP Negeri 5 Kendari, kurikulum berbasis kompetensi telah mulai diterapkan khususnya untuk mata pelajaran matematika, namun demikian dari hasil wawancara dan observasi penulis terhadap guru matematika pada tanggal 20 Februari 2006 dan tanggal 23 Februari 2006 diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika khususnya untuk kelas VII masih sangat rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan harian siswa yang hanya berkisar antara 40-60. Dan dari hasil wawancara ini pula ditambahkan oleh guru matematika bahwa pokok bahasan yang dianggap paling sulit dipahami siswa adalah pokok bahasan persamaan linear satu variabel. Menurut guru tersebut, siswa sering kali mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal sehingga guru seringkali melakukan pengajaran remidial, dan siswa yang mengikuti remedial mencapai 70 % dari jumlah siswa dalam satu kelas jika diadakan kuis atau ulangan blok untuk soal materi persamaan linear satu variabel.
Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam siswa atau yang berasal dari luar diri siswa. Jika fokus perhatian diarahkan pada kegiatan belajar di sekolah, maka rendahnya prestasi belajar siswa dipengaruhi dari luar diri siswa. Model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar di kelas merupakan salah satu faktor dari luar diri siswa.
Dari hasil observasi penulis, terlihat metode pembelajaran yang digunakan guru matematika di SMP Negeri 5 Kendari khususnya di kelas VII sudah cukup bervariasi antara lain menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi dalam satu pertemuan. Namun demikian, terlihat siswa masih kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Hal ini mungkin disebabkan oleh guru terlalu jauh membimbing siswa dalam menemukan penyelesaian suatu masalah sehingga motivasi siswa untuk belajar kurang. Sementara kegiatan pembelajaran yang diinginkan dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan guru sebagai fasilitator, motivator dan kreator.
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang banyak digunakan dalam penerapan materi pelajaran berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi. Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, namun terdapat beberapa tipe dari model tersebut. Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap penulis dapat memotivasi siswa dalam peran aktif mengikuti proses belajar mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT). Menurut Wartono dkk (2004) Teams-Games-Tournament (TGT) atau Pertandingan-Permainan-Tim merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang masih berkaitan dengan STAD (Student Team Acluevment Division) yang merupakan tipe lainnya dari pembelajaran kooperatif.
Dalam TGT, semua siswa dalam setiap kelompok diharuskan untuk berusaha memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan dan selalu aktif ketika kerja kelompok, sehingga saat ditunjuk oleh guru untuk mempersentasikan jawabannya, mereka dapat menyumbangkan skor untuk kelompoknya, sedangkan dalam STAD, semua siswa diharapkan berperan aktif dalam kelompoknya, namun demikian anggota dalam suatu kelompok bebas memilih anggotanya untuk mempersentasikan hasil kerja mereka, sehingga hanya sebagian siswa saja yang berperan aktif dalam kelompoknya. Lebih lanjut Wartono dkk (2004) menjelaskan bahwa dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan skor pada tim mereka, permainan ini disusun dari pertanyaan- pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan pengetahuan siswa, pertanyaan- pertanyaan ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka yang dimainkan pada meja-meja turnamen yang diisi wakil-wakil kelompok yang berbeda namun mempunyai kemampuan yang setara yang ditunjuk oleh guru. Tiap wakil dari kelompok-kelompok tersebut akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen ini memungkinkan siswa dari semua tingkat untuk menyumbangkan skor-skor bagi kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk berperan aktif dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya, dari hasil wawancara lebih lanjut yang dilakukan penulis terhadap guru matematika, diperoleh keterangan bahwa siswa-siswa kelas VIID merupakan siswa-siswa dengan prestasi belajar terendah di kelas VII, berdasarkan nilai matematikanya saat awal pendaftaran di sekolah tersebut dan dari rata-rata nilai kuis, ulangan blok dan ulangan harian matematikanya.
Atas alasan yang telah dikemukakan, maka penulis berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari pada Pokok Bahasan Persamaan Linear Satu Variabel Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams- Games-Tournament (TGT)”.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: apakah prestasi belajar matematika siswa kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Teams- Games-Tournament (TGT)?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka tujuan dari penelitian ini adalah: meningkatkan prestasi belajar
matematika siswa kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT).
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Bagi guru: dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas, sehingga materi pelajaran matematika yang dianggap sulit bagi siswa dapat dipahami lebih muda oleh siswa.
2. Bagi siswa: dapat meningkatkan prestasi belajar matematikanya, khususnya pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel.
3. Bagi sekolah: sebagai masukkan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada khususnya.
F. Kajian Pustaka
1. Proses Belajar Mengajar Matematika
Belajar dan Mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda tetapi antara keduanya terdapat keterkaitan yang saling mempengaruhi dan menunjang satu sama lain dalam keberhasilan proses belajar mengajar.
Untuk memperoleh pengertian yang obyektif tentang proses belajar mengajar matematika maka perlu lebih dahulu dikemukakan mengenai proses belajar mengajar itu sendiri, khususnya pengertian belajar dan mengajar secara umum.
Winkel (1991: 36) mengemukakan belajar adalah suatu aktifitas mentalis psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap. Selanjutnya Hamalik (2003: 27) mendefinisikan belajar sebagai: (1) modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengakuan, (2) suatu proses perubahan tingkahlaku individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurut Hutabarak (1995: 11) belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk menguasai pengetahuan, kemampuan, kebiasaan, keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungannya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu yang mengakibatkan bertambahnya pengetahuan, keterampilan, dan nilai sikap yang diperoleh melalui interaksi individu dengan lingkungannya.
Selanjutnya, mengajar didefinisikan oleh Engkoswara (1998: 1) sebagai suatu upaya menanamkan sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan dasar dari seseorang yang telah mengetahui dan menguasainya kepada seseorang. Sedangkan Roestiyah (1994: 44) mengatakan bahwa mengajar adalah proses interaksi siswa dengan siswa dan konsultasi guru dan guru bertindak selaku organisator belajar siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai.
Hudoyo (1988: 5) mendefinisikan belajar sebagai suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki serta menanamkan sikap dan nilai-nilai kepada peserta didik dan menciptakan kondisi belajar bagi sehingga tujuan belajar dapat tercapai secara optimal.
Berdasarkan definisi belajar dan mengajar di atas dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar dan mengajar mempunyai keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan proses perubahan, sedangkan mengajar merupakan proses pengaturan agar perubahan itu terjadi.
Berkaitan dengan proses belajar mengajar matematika, harus memperhatikan karakteristik matematika. Sumarmo (2002: 2) mengemukakan beberapa karakteristik matematika yaitu materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif, materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur. Sedangkan menurut Hudoyo (1988: 3) pelajaran matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak, sehingga pemahamannya membutuhkan daya nalar yang tinggi dibutuhkan ketekunan, keuletan, perhatian dan motivasi yang tinggi untuk dapat memahami materi pelajaran matematika.
Menurut Gagne dalam Russefendi (1979: 138) dalam belajar matematika ada dua aspek yang dapat dipahami siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek langsung antara lain fakta, keterampilan, konsep dan aturan, sedangkan objek tidak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri (belajar, bekerja dan lain-lain), bersikap positif terhadap matematika.
Jadi, belajar matematika itu bertujuan untuk: (1) melatih cara berpikir dan bernalar; (2) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
2. Prestasi Belajar matematika
Prestasi belajar merupakan ukuran mengenai tingkat keberhasilan siswa setelah mengalami proses belajar. Menurut Poerwadharmnita (1984: 169) prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari sesuatu yang telah dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut Winkel (1991: 102) mengemukakan bahwa prestasi belajar bukti keberhasilan suatu usaha yang dapat dicapai, lanjut Winkel (1991: 102), prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa menghasilkan penalaran-penalaran dalam pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan suatu alat evaluasi (tes). Seorang siswa yang belajar matematika, berarti bahwa siswa tersebut melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yaitu belajar matematika, sehingga hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar matematika adalah prestasi belajar matematika.
3. Persamaan Linear Satu Variabel
Persamaan linear adalah kalimat terbuka yang memiliki hubungan sama dengan dan peubahnya berpangkat satu (M. Cholik, dkk, 2003: 164). Menurut Sugijono (1998: 88) kalimat terbuka adalah kalimat yang belum diketahui nilai kebenarannya (benar atau salah). Lanjut Sugijono (1999: 98) variabel atau peubah adalah lambang (simbol) yang terdapat pada kalimat terbuka yang dapat diganti oleh sebarang anggota dari himpunan semesta, sehingga menjadi kalimat benar atau salah.
Persamaan linear satu variabel adalah persamaan yang terdiri dari satu variabel dan pangkat tertinggi dari variabel tersebut ada satu.
Contoh Persamaan linear satu variabel:
a. 2x + 6 = 8 b. 2 – 3a =5 c. 3t – 7 = 2t + 8 d. 2p + 3p + 1 = 21



4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT)
Konsep model pembelajaran pertama kali dikembangkan oleh Bruce dan Koleganya. Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi pembelajaran atau prinsip pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Slavin dalam Allyn dan Bacon (1999, Geogle. Kooperatif. 3 Februari 2006), pembelajaran kooperatif merujuk pada kaidah pengajaran yang memerlukan siswa dari kemampuan yang heterogen untuk bekerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Lima unsur asas pembelajaran kooperatif menurut Slavin dalam Allyn dan Bacon ((1999, Geogle. Kooperatif. 3 Februari 2006) adalah:
1. Saling bergantung antara satu sama lain secara positif.
2. Saling berinteraksi secara langsung.
3. Akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri
4. Kemahiran kooperatif
5. Pemprosesan kelompok.
Beberapa cara pembelajaran kooperatif telah dikembangkan tokoh-tokoh pendidikan misal; jigsaw, TGT, STAD, Belajar Bersama (Learning Together), NHT (Numbered Heads Together) dan Meja Bulat (Round Table).

Lebih lanjut Nur dkk (2000), mengemukakan tiga tujuan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu;
a. Berkaitan dengan hasil belajar akademik, salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
b. Berkaitan dengan penerimaan terhadap perbedaan individu, pembelajaran kooperatif bertujuan untuk melatih siswa menghargai satu sama lain dalam keadaan perbedaan latar belakang dan kondisi yang ada pada siswa.
c. Berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosial, pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa ketrampilan kerja sama, hal ini sangat penting karena saat ini sebagian lapangan kerja dilakukan dalam organisasi yang membutuhkan kerja sama dengan orang lain.
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif menurut Ismail (2000: 23) adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa
b. Menyajikan informasi
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d. Membimbing kelompok belajar untuk menemukan penyelesaian suatu masalah.
e. Melakukan evaluasi.
f. Memberikan penghargaan.
Berdasarkan asas pembelajaran kooperatif, tujuan dan langkah-langkah pelaksanaan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok yang memungkinkan siswa memperoleh prestasi belajar yang lebih baik, dibanding model pembelajaran yang lain.
Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah Teams-Games-Tournament (TGT) (Wartono, 2004: 16). Selanjutnya Wartono, dkk (2004: 16) menjelaskan dalam Teams-Games-Tournament atau pertandingan-permainan-tim siswa memainkan permainan pengacakan kartu dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh poin pada skor tim mereka. Permainan ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan siswa dari Penyampaian pelajaran siswa di kelas. Setiap wakil kelompok akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen.
Berdasarkan langkah-langkah yang dikemukakan Ismail (2002: 23) dan Wartono (2004: 16), dapat disimpulkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament yaitu sebagai berikut:
No. Guru Siswa
1

2
3 Guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar.
Guru memotivasi siswa.
Guru menginformasikan model
pembelajaran yang digunakan. Siswa memberi perhatian penuh.

Siswa memberi perhatian penuh.
Siswa memberi perhatian penuh.

4


5


6


7

8.


9


10



11



12


13 Guru mengawali pembelajaran dengan mengecek pemahaman dasar siswa tentang persamaan linear satu variabel.
Guru mengelompokkan siswa yang terdiri dari 4 atau lebih 5 orang siswa yang heterogen.
Guru membagi LKS kepada masing-masing kelompok.

Guru meminta setiap kelompok menyelesaikan soal-soal LKS.
Guru memantau kerja dari kelompok selama diskusi berlangsung.

Guru menunjuk wakil dari kelompok menuju meja turnamen.

Guru meminta setiap wakil kelompok melakukan permainan di meja turnamen dengan mengambil sebuah kartu yang telah diacak dan diberi angka.
Guru meminta wakil tiap kelompok mempresentasikan jawabannya dari soal yang telah dipilih melalui pengacakan kartu.
Guru memberi skor untuk masing-masing kelompok sesuai dengan jawaban mereka.

Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tinggi. Siswa mampu memberikan gambaran tentang persamaan linear satu variabel.
Siswa mengikuti petunjuk guru untuk berkumpul dengan anggota kelompok yang telah ditentukan.
Siswa menerima dan memastikan setiap anggota kelompoknya sudah memiliki LKS.
Siswa secara kelompok menyelesaikan LKS.
Siswa aktif dalam kelompoknya ketika diskusi dalam menyelesaikan soal.
Siswa yang ditunjuk guru mewakili kelompoknya menuju meja turnamen.
Siswa di meja turnamen memilih kartu yang telah diacak.


Siswa yang mewakili kelompoknya mempresentasikan jawabannya.

Siswa menerima skor untuk kelompoknya sesuai dengan hasil presentasenya.



5. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT), prestasi belajar matematika siswa kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel dapat ditingkatkan”.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Ciri utama dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar di kelas.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan Februari sampai September 2006 pada semester ganjil tahun ajaran 2006/2007 di kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari.
3. Definisi Operasional
1. Prestasi belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari materi matematika pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel dalam kurun waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan tes.
2. Pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT) adalah suatu model pembelajaran yang mengutamakan peran aktif semua anggota kelompok/tim dalam menemukan suatu penyelesaian masalah, sehingga ketika wakil dari setiap kelompok melakukan permainan pengacakan kartu untuk menulis nomor soal dan melakukan pertandingan/turnamen melalui presentasi jawaban dari soal yang dipilih, wakil dari setiap kelompok tersebut dapat memberikan skor maksimal bagi kelompoknya.
4. Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan yang timbul, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor siswa, yaitu melihat minat dan kemampuan siswa dalam mempelajari matematika, khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel.
b. Faktor guru, yaitu melihat bagaimana materi pelajaran disiapkan, teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT).
c. Faktor sumber belajar, yaitu melihat apakah sumber pelajaran dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang akan diterapkan.
5. Prosedur Pelaksanaan
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 3 (tiga) siklus, dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki.
Adapun pelaksanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas berikut, yaitu (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan pelaksanaan; (3) observasi dan evaluasi; (4) refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan, kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi:
1) Membuat rencana pembelajaran.
2) Membuat lembar observasi, untuk melihat kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament diaplikasikan.
3) Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu siswa lebih memahami materi pelajaran yang diajarkan.
4) Membuat alat evaluasi untuk melihat apabila prestasi belajar met siswa dengan menggunakan model pembelajaran yang diterapkan dapat ditingkatkan.
5) Membuat jurnal, untuk mengetahui refleksi diri.
b. Pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
c. Observasi dan evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan serta melakukan evaluasi.
d. Refleksi, pada tahap ini hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Kemudian dari hasil tersebut akan dilihat apakah telah memenuhi target, maka penelitian akan dilanjutkan paad siklus berikutnya dan kelemahan-kelemahan/kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pad siklus berikutnya.
Pada penelitian ini penulis berencana melaksanakan prosedur penelitian sebanyak 3 (tiga) siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan. Jumlah pertemuan ini disesuaikan dengan kepadatan materi yang ada.
Materi-materi pelajaran pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel setiap siklus dapat dirinci sebagai berikut:
• Siklus I
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Kalimat Benar dan Kalimat Salah
b. Kalimat Terbuka
c. Himpunan Kalimat Terbuka
Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Berbagai Bentuk Persamaan Linear Satu Variabel
• Siklus II
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian Persamaan Linear Satu Variabel
b. Bentuk Setara Persamaan Linear Satu Variabel
Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel dengan cara Substitusi
• Siklus III
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel Dengan Cara Menambahkan Atau Mengurangi Kedua Persamaan Dengan Bilangan Yang Sama
b. Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel dengan cara mengalikan atau membagi kedua ruas persamaan dengan nilai yang sama
Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Menyelesaikan soal-soal cerita
6. Data dan Teknik Pengambilan Data
a. Sumber data, yaitu guru dan siswa.
b. Jenis data: jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data tersebut diperoleh dari tes hasil belajar, lembar observasi dan jurnal.
c. Teknik pengambilan data.
1) Lembar observasi, digunakan untuk memperoleh data mengenai kondisi pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games tournament.
2) Jurnal, digunakan untuk memperoleh data mengenai refleksi diri.
3) Tes, digunakan untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar matematika.

7. Indikator kinerja
Sebagai indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah jika minimal 80% siswa telah memperoleh nilai minimal 60 (ketentuan dari sekolah). Seorang siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar secara individu apabila siswa tersebut telah mencapai ketentuan belajar secara individual apabila siswa tersebut telah mendapat nilai ≥ 60 (ketentuan dari sekolah).
8. Rancangan dan Model Penelitian Tindakan kelas









Rancangan dari model pembelajaran tindakan kelas di atas merupakan gambaran secara umum. Namun, dalam penelitian ini akan dilaksanakan beberapa siklus hingga mencapai indikator penelitian yang telah ditetapkan.


0 comments:

Post a Comment