Friday, August 15, 2008

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas XIIA-1 SMA Muhamadiyah Kendari Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Toget

A. Judul : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas XIIA-1 SMA Muhamadiyah Kendari Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
B. Latar Belakang
Keberhasilan program pendidikan melalui proses belajar mengajar di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sangat di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan. Apabila faktor-faktor tersebut dapat terpenuhi sudah tentu akan memperlancar proses belajar-mengajar, yang akan menunjang pencapaian hasil belajar yang maksimal yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, antara lain dengan perbaikan mutu belajar-mengajar. Belajar mengajar di sekolah merupakan serangkaian kegiatan yang secara sadar telah terencana. Dengan adanya perencanaan yang baik akan mendukung keberhasilan pengajaran. Usaha perencanaan pengajaran diupayakan agar peserta didik memiliki kemampuan maksimum dan meningkatkan motifasi, tantangan dan kepuasan sehingga mampu memenuhi harapan baik oleh guru sebagai pembawa materi maupun peserta didik sebagai penggarap ilmu pengetahuan.
Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam belajar-mengajar, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekedar mengkomunikasikan pengetahuan agar dapat belajar, tetapi mengajar juga berarti usaha menolong si pelajar agar mampu memahami konsep-konsep dan dapat menerapkan konsep yang dipahami.
SMA Muhammadiyah Kendari adalah salah satu SMA swasta yang statusnya disejajarkan dengan SMA negeri dan diakui oleh pemerintah. Sejak tahun pelajaran 2006/2007 SMA Muhammadiyah, seperti halnya SMA lainnya telah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP), namun menurut hasil wawancara dengan guru diketahui bahwa terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan KTSP. Salah satu kendala utama adalah kurangnya antusias siswa untuk belajar siswa lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, diam dan enggan dalam mengemukakan pertanyaan maupun pendapat. Hal ini dikarenakan oleh pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung menggunakan metode pembelajaran konvensional yakni ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Padahal dalam kerangka pembelajaran matematika, siswa mesti dilibatkan secara mental, fisik dan sosial untuk membuktikan sendiri tentang kebenaran dari teori-teori dan hukum-hukum matematika yang telah dipelajarinya melalui proses ilmiah. Jika hal ini tidak tercakup dalam proses pembelajaran dapat dipastikan penguasaan konsep matematika akan kurang dan akan menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa yang pada akhirnya akan mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan.
Salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Hasil survei dari asosiasi penilaian pendidikan internasional The Third International Mathematics and Science Study pada tahun 1999 menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika anak Indonesia untuk SMP dan SMA berada pada urutan 34 dari 38 Negara, dimana Malaysia di urutan ke-14 dan Singapura di urutan teratas (Hartadji,2001:4).
Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan observasi di SMA Muhammadiyah Kendari pada tanggal 18 Desember 2006 dan diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika siswa kelas XIIA-1 di sekolah tersebut masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian siswa hanya mencapai 4,9. nilai rata-rata ini jika dibandingkan dengan ketuntasan belajar menurut kurikulum, yakni sebesar 6,5 atau 65 % dapat dikatakan bahwa nilai tersebut berada dibawah standar ketuntasan yang diharapkan. Dari hasil wawancara ini pula diperoleh informasi dari guru matematika bahwa pokok bahasan yang dianggap sulit untuk dipahami oleh siswa adalah pokok bahasan Limit Fungsi dan Turunan Fungsi. Dalam hal ini siswa seringkali mengalami kesulitan dan kekeliruan dalam menyelesaikan soal-soal latihan. Peneliti dan guru menduga model pembelajaran yang digunakan selama ini belum efektif. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa khususnya siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari.
Atas dugaan diatas maka peneliti bersama-sama dengan guru sepakat untuk mencobakan suatu tindakan alternatif untuk mengatasi untuk mengatasi masalah yang ada berupa penerapan model pembelajaran lain yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pemebelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan berpikir dan latihan bertindak demokratis, pembelajaran aktif, perilaku kooperatif, dan menghormati perbedaan dalam masyarakat multibudaya. Dalam pelaksanaannya pembelajaran kooperatif dapat merubah peran guru dari peran terpusat pada guru ke peran pengelola aktivitas kelompok kecil. Sehingga dengan demikian peran guru yang selama ini monoton akan berkurang dan siswa akan semakin terlatih untuk mengerjakan berbagai permasalahan, bahkan permasalahan yang dianggap sulit sekalipun. Beberapa peneliti yang terdahulu yang menggunakan model pembelajaran kooperatif menyimpulkan bahwa model pembelajaran tersebut dengan beberapa tipe telah memberikan masukan yang berarti bagi sekolah, guru dan terutama siswa dalam meningkatkan prestasi. Olehnya itu lebih lanjut guru bersama peneliti ingin melihat pembelajaran kooperatif melalui pendekatan struktural tipe Numbered Heads Together (NHT).
Pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah suatu pendekatan pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan bertanggungjawab penuh untuk memahami materi pelajaran baik secara berkelompok maupun individual. Dengan dasar inilah yang mendorong peneliti dan guru bersama-sama mencoba mengadakan suatu penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT).
C. Batasan Masalah
Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam penelitian ini dibatasi pada pokok bahasan Limit Fungsi dan Turunan Fungsi kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari semester Genap Tahun Ajaran 2006/2007.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT hasil belajar matematika siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari pada pokok bahasan Limit Fungsi dan Turunan Fungsi dapat ditingkatkan?”.
E. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari pada pokok bahasan Limit Fungsi dan Turunan Fungsi melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dengan adanya penelitian ini diharapkan guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika
2. Siswa semakin termotivasi untuk belajar karena partisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan suasana pembelajaran semakin variatif dan tidak monoton
3. Dapat memberikan masukan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan atau peningkatan pembelajaran
4. Peneliti dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan peneliti tentang model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan dapat menambah pengalaman peneliti
G. Kajian Pustaka
1. Proses Belajar - Mengajar
a. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kegiatan yang membawa perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri, pendeknya mengenai segala aspek atau pribadi seseorang (Nasution, 1995: 35). Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto, 2003: 2).
Selanjutnya Winkel (1989: 15) mengemukakan bahwa belajar pada manusia merupakan suatu proses siklus yang berlangsung dalam interaksi aktif subyek dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang bersifat menetap/ konstan. Selain itu Sardiman (1992: 22) menyatakan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau keterampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca, mengamati, mendengarkan dan lain sebagainya.
Dari uraian beberapa pendapat diatas maka dapat dirumuskan defenisi belajar yaitu suatu proses untuk mencapai suatu tujuan yaitu perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan tersebut adalah perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan tingkah laku yang bersifat menetap.
a. Pengertian Mengajar.
Menurut Slameto (1995: 29) mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Adapun defenisi lain di negara-negara modern yang sudah maju mengatakan bahwa mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Defenisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar. Guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa.
Mengajar didefinisikan oleh Sudjana (2000: 37) sebagai alat yang direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seoptimal mungkin. Pasaribu (1983: 7) mengajar adalah suatu kegiatan mengorganisir
(mengatur) lingkungan sebaik-baiknya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu kegiatan membimbing dan mengorganisasikan lingkungan sekitar anak didik, agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang optimal.
b. Proses belajar-mengajar matematika
Berdasarkan pengertian belajar dan mengajar diatas, dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan proses perubahan sedangkan belajar merupakan proses pengaturan agar perubahan itu terjadi. Proses belajar mengajar untuk mata pelajaran matematika harus memperhatikan karakteristik matematika. Sumarmo (2002: 2) mengemukakan beberapa karakteristik matematika yaitu : materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur dan dalam mempelajari matematika dibutuhkan ketekunan, keuletan, serta rasa cinta terhadap matematika. Karena materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur maka dalam belajar matematika, tidak boleh terputus-putus dan urutan materi harus diperhatikan. Artinya, perlu mendahulukan belajar tentang konsep matematika yang mempunyai daya bantu terhadap konsep matematika yang lain.
2. Prestasi Belajar Matematika
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2001: 895) prestasi diartikan sebagai yang telah dicapai (telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Menurut Arifin (1991: 3), prestasi berarti hasil usaha. Dalam hubungannya dengan usaha belajar, prestasi berarti hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu. Prestasi belajar siswa mampu memperlihatkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman dalam bidang ketrampilan, nilai dan sikap.
Dalam beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang telah dicapai oleh seseorang sedang prestasi belajar adalah hasil yang dapat dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu.
Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar matematika, dapat diukur prestasinya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut dengan menggunakan suatu alat evaluasi. Jadi prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi (tes).
3. Pembelajaran Kooperatif
Konsep pembelajaran kooperatif (cooperative learning) bukanlah suatu konsep baru, melainkan telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Pada awal abad pertama, seorang filosofi berpendapat bahwa agar seseorang belajar harus memiliki pasangan.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (Johnson dan Johnson dalam Ismail,
2002: 12). Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan, dalam hal ini sebagaian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa yakni mempelajari materi pelajaran dan berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dalam kegiatan belajar mengajar.
Model pembelajaran koopertif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan secara asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan efektif.
Roger dan David Johnson dalam Lie (2002: 30) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Kelima unsur tersebut yaitu : 1) saling ketergantungan positif,
2) tanggung jawab perseorangan, 3) tatap muka, 4) komunikasi antar anggota, 5) evaluasi proses kelompok.
Untuk memenuhi kelima unsur tersebut harus dibutuhkan proses yang melibatkan niat dan kiat para anggota kelompok para peserta didik harus mempunyai niat untuk bekerja sama dengan yang lainnya dalam kegiatan belajar kelompok yang akan saling menguntungkan. Selain niat, peserta didik juga harus menguasai kiat-kiat berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Salah satu cara untuk mengembangkan niat dan kerja sama antar peserta didik dalam model pembelajaran kooperatif adalah melalui pengelolaan kelas. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas model pembelajaran kooperatif, yakni pengelompokan semangat kerja sama dan penataan ruang kelas.
a. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif
Menurut Stahl dalam Ismail (2002: 12) bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah :
1. Belajar dengan teman
2. Tatap muka antar teman
3. Mendengarkan diantara anggota
4. Belajar dari teman sendiri dalam kelompok
5. Belajar dalam kelompok kecil
6. Produktif berbicara atau mengemukakan pendapat
7. Siswa membuat keputusan
8. Siswa aktif
Sedangkan menurut Johnson dalam Ismail (2002: 12) belajar dengan koopertif mempunyai ciri :
1. Saling ketergantungan yang positif
2. Dapat dipertanggungjawabkan secara individu
3. Heterogen
4. Berbagi kepemimpinan
5. Berbagi tanggung jawab
6. Ditekankan pada tugas dan kebersamaan
7. Mempunyai ketrampilan dalam berhubungan sosial
8. Guru mengamati
9. Efektifitas tergantung kepada kelompok
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Siswa belajar dalam kelompok, produktif mendengar, mengemukakan pendapat dan membuat keputusan secara bersama.
b. Kelompok siswa yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin, dan kemampuan belajar.
c. Panghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok.
Menurut Ibrahim (2000: 6) unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a. Siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
c. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d. Siswa haruslah berbagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama dalam proses belajarnya.
g. Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

b. Tujuan pembelajaran kooperatif
Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif mempunyai tiga tujuan yang hendak dicapai :
1. Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli yang berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit.
2. Pengakuan adanya keragaman
Model pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima
teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik dan tingkat sosial.
3. Pengembangan keterampilan social
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan social siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif adalah berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, dan bekerja sama dalam kelompok.

c. Fase-Fase Pembelajaran kooperatif
Fase Tingkah Laku Guru
Fase – 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Fase – 2
Menyajikan informasi

Fase – 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Fase – 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Fase – 5
Evaluasi


Fase – 6
Memberikan penghargaan Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien


Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.


Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasekan hasil kerjanya.

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya hasil belajar individu maupun kelompok
(Ibrahim, 2000: 10)


d. Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif
Manfaat-manfaat model pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah, antara lain Linda Lundgren dalam Ibrahim
(2000 : 18) adalah :
1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
2. Memperbaiki kehadiran
3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
5. Konflik antar pribadi berkurang
6. Pemahaman yang lebih mendalam
7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
8. Hasil belajar lebih tinggi
e. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000 : 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Spencer Kagen dalam Ibrahim (2000 : 28) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan lansung kepada seluruh kelas, guru menggunakan empat langkah sebagai berikut : (a) Penomoran, (b) Pengajuan pertanyaan,
(c) Berpikir bersama, (d) Pemberian jawaban.
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Keenam langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, guru memperkenalkan keterampilan kooperatif dan menjelaskan tiga aturan dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu :
1. Tetap berada dalam kelas
2. Mengajukan pertanyaan kepada kelompok sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru
3. Memberikan umpan balik terhadap ide-ide serta menghindari saling mengkritik sesama siswa dalam kelompok
Langkah 3. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 4. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 5. Memberi kesimpulan
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Langkah 6. Memberikan penghargaan
Pada tahap ini, guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.
H. PENELITIAN YANG RELEVAN
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ruslan (2004), yang menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SMP Negeri 1 Sampolawa pada pokok bahasan bilangan bulat dalam belajar matematika.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wa Sinar (2003), yang menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas I¬5¬ SMP Negeri 1 Kendari dalam belajar matematika.
I. HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan kajian pustaka, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) maka hasil belajar siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari pada pokok bahasan
J. METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Karakteristik yang khas dari penelitian tindakan kelas yakni adanya
tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas (Muhtar, 2007 : 7).
2. Setting Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2006/2007 di kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari.
3. Defenisi Operasional
a. Hasil belajar matematika adalah suatu hasil yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu, yang diukur dengan menggunakan alat evaluasi tertentu (tes).
b. Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) adalah suatu model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antar siswa. Siswa dibagi ke dalam kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4 siswa heterogen. Setiap siswa dalam kelompoknya diberi nomor yang berbeda.
4. Faktor yang diselidiki
Untuk mampu menjawab permasalahan, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Faktor siswa : yaitu melihat aktivitas/kegiatan siswa dalam mempelajari matematika khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan
b. Faktor guru : yaitu melihat atau memperhatikan guru dalam menyajikan materi pelajaran serta teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
c. Faktor sumber pelajaran : yaitu melihat sumber atau bahan pelajaran yang digunakan, apakah sudah dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang diterapkan.
5. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari tiga siklus. Adapun desain dan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:













(Tim pelatih PGSM, 1997: 27).
Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Untuk dapat mengetahui prestasi siswa dalam belajar matematika sebelum diberikan tindakan, terlebih dahulu diberikan tes awal sedangkan observasi awal (18 Desember 2006) adalah untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Dimana tindakan yang akan dilakukan yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).
Dalam pelaksanaan tindakan pada tiap siklus mencakup tahap-tahap sebagai berikut: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Observasi dan evaluasi, (4) Refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas tersebut dijabarkan sebagai berikut :
1. Perencanaan : adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi :
a. Membuat perangkat pembelajaran (RPP dan LKS).
b. Membuat instrumen penelitian yang meliputi alat evaluasi berupa tes disertai jawaban dan panduan penskoran.
c. Membuat lembar observasi
d. Membuat jurnal untuk mengetahui data refleksi diri.
2. Pelaksanaan tindakan : kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini disesuaikan dengan rencana yang telah disusun dalam rencana pembelajaran.
3. Observasi dan evaluasi: kegiatannya adalah melaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat dan melakukan evaluasi hasil belajar siswa setelah dilakukan tindakan.
4. Refleksi : pada tahap ini, hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan kemudian dianalisis. Dari hasil tersebut akan dilihat apakah telah memenuhi target yang ditetapkan pada indikator kerja. Jika belum memenuhi target, maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya. Kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pada siklus berikutnya.
6. Data dan Teknik Pengambilan Data
a. Sumber data : yaitu guru dan siswa.
b. Jenis data : jenis data yang akan diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari tes prestasi belajar, sedangkan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi dan jurnal.
c. Teknik pengambilan data :
 Data mengenai kondisi pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT diambil dengan menggunakan lembar observasi
 Data mengenai refleksi diri diambil dengan menggunakan jurnal.
 Data mengenai hasil belajar matematika diambil dengan menggunakan tes.

7. Indikator Kerja
Sebagai indikator keberhasilan dalam penelitian kelas ini adalah bila minimal 85% siswa telah memperoleh nilai minimal 6,5 (ketetapan dari sekolah).


Baca Selengkapnya....

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIID SMP NEGERI 5 KENDARI PADA POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL MELALUI MODEL PEMBELA

A. JUDUL : MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIID SMP NEGERI 5 KENDARI PADA POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS-GAMES-TOURNAMENT (TGT)

B. Latar Belakang
Perkembangan dan kemajuan suatu negara ditentukan oleh berbagai aspek. Salah satu aspek yang sangat penting adalah aspek pendidikan, karena melalui

kegiatan pendidikan suatu negara bisa memperoleh penambahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan dewasa ini telah menjadi kebutuhan masyrakat yang semakin hari semakin terasa arti pentingnya. Namun cukup banyak permasalahan yang dihadapi dalam proses pemenuhan akan pendidikan, salah satu permasalahan yang mendasar yang terjadi di dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah kualitas pendidikan.
Prestasi belajar siswa di Indonesia dari suatu lembaga pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu dapat dilihat dari kualitas lulusan yang dihasilkan. Salah satu indikator untuk melihat kualitas pendidikan adalah prestasi belajar yang dicapai oleh siswa.
Prestasi belajar siswa di Indonesia, khususnya prestasi belajar matematika siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih tergolong rendah. Hartadji (2001: 4) menjelaskan salah satu hasil yang menunjukkan hasil tersebut, yaitu hasil survei dari asosiasi penilaian pendidikan internasional The Third Internasional Mathematics and Science Study tahun 1999 bahwa prestasi belajar matematika anak Indonesia untuk SMP berada pada urutan 34 dari 38 negara, dimana Malaysia diurutan ke-14 dan Singapura diurutan teratas. Kenyataan ini perlu mendapat perhatian mengingat dalam GBPP dijelaskan bahwa tujuan umum pendidikan matematika pada jenjang pendidikan menengah adalah memberi tekanan pada penalaran dan pembentukan sikap siswa serta juga memberi tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya untuk mencapai tujuan umum pendidikan matematika, penambahan secara terus menerus baik dalam segi materi, metode evaluasi harus dilaksanakan oleh semua pihak, terutama guru.
Salah satu perubahan yang terlihat jelas telah dilakukan di Indonesia yaitu telah berulang kali terjadi perubahan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Saat ini Indonesia sedang melakukan perubahan mendasar dalam kurikulum, yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Depdiknas (2002: 7) mengemukakan perbedaan yang paling mendasar antara kurikulum 1994 dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah dalam kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran dalam kurikulum 1994 cenderung berpusat pada guru, dimana guru merupakan sumber utama informasi dan pendekatan pembelajaran yang digunakan dominan ceramah, sedangkan dalam kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran berpusat pada siswa, guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan kreator serta pendekatan dan metode yang digunakan bervariasi.
Pada SMP Negeri 5 Kendari, kurikulum berbasis kompetensi telah mulai diterapkan khususnya untuk mata pelajaran matematika, namun demikian dari hasil wawancara dan observasi penulis terhadap guru matematika pada tanggal 20 Februari 2006 dan tanggal 23 Februari 2006 diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika khususnya untuk kelas VII masih sangat rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan harian siswa yang hanya berkisar antara 40-60. Dan dari hasil wawancara ini pula ditambahkan oleh guru matematika bahwa pokok bahasan yang dianggap paling sulit dipahami siswa adalah pokok bahasan persamaan linear satu variabel. Menurut guru tersebut, siswa sering kali mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal sehingga guru seringkali melakukan pengajaran remidial, dan siswa yang mengikuti remedial mencapai 70 % dari jumlah siswa dalam satu kelas jika diadakan kuis atau ulangan blok untuk soal materi persamaan linear satu variabel.
Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam siswa atau yang berasal dari luar diri siswa. Jika fokus perhatian diarahkan pada kegiatan belajar di sekolah, maka rendahnya prestasi belajar siswa dipengaruhi dari luar diri siswa. Model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar di kelas merupakan salah satu faktor dari luar diri siswa.
Dari hasil observasi penulis, terlihat metode pembelajaran yang digunakan guru matematika di SMP Negeri 5 Kendari khususnya di kelas VII sudah cukup bervariasi antara lain menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi dalam satu pertemuan. Namun demikian, terlihat siswa masih kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Hal ini mungkin disebabkan oleh guru terlalu jauh membimbing siswa dalam menemukan penyelesaian suatu masalah sehingga motivasi siswa untuk belajar kurang. Sementara kegiatan pembelajaran yang diinginkan dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan guru sebagai fasilitator, motivator dan kreator.
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang banyak digunakan dalam penerapan materi pelajaran berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi. Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, namun terdapat beberapa tipe dari model tersebut. Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap penulis dapat memotivasi siswa dalam peran aktif mengikuti proses belajar mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT). Menurut Wartono dkk (2004) Teams-Games-Tournament (TGT) atau Pertandingan-Permainan-Tim merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang masih berkaitan dengan STAD (Student Team Acluevment Division) yang merupakan tipe lainnya dari pembelajaran kooperatif.
Dalam TGT, semua siswa dalam setiap kelompok diharuskan untuk berusaha memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan dan selalu aktif ketika kerja kelompok, sehingga saat ditunjuk oleh guru untuk mempersentasikan jawabannya, mereka dapat menyumbangkan skor untuk kelompoknya, sedangkan dalam STAD, semua siswa diharapkan berperan aktif dalam kelompoknya, namun demikian anggota dalam suatu kelompok bebas memilih anggotanya untuk mempersentasikan hasil kerja mereka, sehingga hanya sebagian siswa saja yang berperan aktif dalam kelompoknya. Lebih lanjut Wartono dkk (2004) menjelaskan bahwa dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan skor pada tim mereka, permainan ini disusun dari pertanyaan- pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan pengetahuan siswa, pertanyaan- pertanyaan ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka yang dimainkan pada meja-meja turnamen yang diisi wakil-wakil kelompok yang berbeda namun mempunyai kemampuan yang setara yang ditunjuk oleh guru. Tiap wakil dari kelompok-kelompok tersebut akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen ini memungkinkan siswa dari semua tingkat untuk menyumbangkan skor-skor bagi kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk berperan aktif dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya, dari hasil wawancara lebih lanjut yang dilakukan penulis terhadap guru matematika, diperoleh keterangan bahwa siswa-siswa kelas VIID merupakan siswa-siswa dengan prestasi belajar terendah di kelas VII, berdasarkan nilai matematikanya saat awal pendaftaran di sekolah tersebut dan dari rata-rata nilai kuis, ulangan blok dan ulangan harian matematikanya.
Atas alasan yang telah dikemukakan, maka penulis berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari pada Pokok Bahasan Persamaan Linear Satu Variabel Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams- Games-Tournament (TGT)”.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: apakah prestasi belajar matematika siswa kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Teams- Games-Tournament (TGT)?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka tujuan dari penelitian ini adalah: meningkatkan prestasi belajar
matematika siswa kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT).
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Bagi guru: dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas, sehingga materi pelajaran matematika yang dianggap sulit bagi siswa dapat dipahami lebih muda oleh siswa.
2. Bagi siswa: dapat meningkatkan prestasi belajar matematikanya, khususnya pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel.
3. Bagi sekolah: sebagai masukkan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada khususnya.
F. Kajian Pustaka
1. Proses Belajar Mengajar Matematika
Belajar dan Mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda tetapi antara keduanya terdapat keterkaitan yang saling mempengaruhi dan menunjang satu sama lain dalam keberhasilan proses belajar mengajar.
Untuk memperoleh pengertian yang obyektif tentang proses belajar mengajar matematika maka perlu lebih dahulu dikemukakan mengenai proses belajar mengajar itu sendiri, khususnya pengertian belajar dan mengajar secara umum.
Winkel (1991: 36) mengemukakan belajar adalah suatu aktifitas mentalis psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap. Selanjutnya Hamalik (2003: 27) mendefinisikan belajar sebagai: (1) modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengakuan, (2) suatu proses perubahan tingkahlaku individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurut Hutabarak (1995: 11) belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk menguasai pengetahuan, kemampuan, kebiasaan, keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungannya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu yang mengakibatkan bertambahnya pengetahuan, keterampilan, dan nilai sikap yang diperoleh melalui interaksi individu dengan lingkungannya.
Selanjutnya, mengajar didefinisikan oleh Engkoswara (1998: 1) sebagai suatu upaya menanamkan sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan dasar dari seseorang yang telah mengetahui dan menguasainya kepada seseorang. Sedangkan Roestiyah (1994: 44) mengatakan bahwa mengajar adalah proses interaksi siswa dengan siswa dan konsultasi guru dan guru bertindak selaku organisator belajar siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai.
Hudoyo (1988: 5) mendefinisikan belajar sebagai suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki serta menanamkan sikap dan nilai-nilai kepada peserta didik dan menciptakan kondisi belajar bagi sehingga tujuan belajar dapat tercapai secara optimal.
Berdasarkan definisi belajar dan mengajar di atas dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar dan mengajar mempunyai keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan proses perubahan, sedangkan mengajar merupakan proses pengaturan agar perubahan itu terjadi.
Berkaitan dengan proses belajar mengajar matematika, harus memperhatikan karakteristik matematika. Sumarmo (2002: 2) mengemukakan beberapa karakteristik matematika yaitu materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif, materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur. Sedangkan menurut Hudoyo (1988: 3) pelajaran matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak, sehingga pemahamannya membutuhkan daya nalar yang tinggi dibutuhkan ketekunan, keuletan, perhatian dan motivasi yang tinggi untuk dapat memahami materi pelajaran matematika.
Menurut Gagne dalam Russefendi (1979: 138) dalam belajar matematika ada dua aspek yang dapat dipahami siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek langsung antara lain fakta, keterampilan, konsep dan aturan, sedangkan objek tidak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri (belajar, bekerja dan lain-lain), bersikap positif terhadap matematika.
Jadi, belajar matematika itu bertujuan untuk: (1) melatih cara berpikir dan bernalar; (2) mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
2. Prestasi Belajar matematika
Prestasi belajar merupakan ukuran mengenai tingkat keberhasilan siswa setelah mengalami proses belajar. Menurut Poerwadharmnita (1984: 169) prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari sesuatu yang telah dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut Winkel (1991: 102) mengemukakan bahwa prestasi belajar bukti keberhasilan suatu usaha yang dapat dicapai, lanjut Winkel (1991: 102), prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa menghasilkan penalaran-penalaran dalam pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan suatu alat evaluasi (tes). Seorang siswa yang belajar matematika, berarti bahwa siswa tersebut melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yaitu belajar matematika, sehingga hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar matematika adalah prestasi belajar matematika.
3. Persamaan Linear Satu Variabel
Persamaan linear adalah kalimat terbuka yang memiliki hubungan sama dengan dan peubahnya berpangkat satu (M. Cholik, dkk, 2003: 164). Menurut Sugijono (1998: 88) kalimat terbuka adalah kalimat yang belum diketahui nilai kebenarannya (benar atau salah). Lanjut Sugijono (1999: 98) variabel atau peubah adalah lambang (simbol) yang terdapat pada kalimat terbuka yang dapat diganti oleh sebarang anggota dari himpunan semesta, sehingga menjadi kalimat benar atau salah.
Persamaan linear satu variabel adalah persamaan yang terdiri dari satu variabel dan pangkat tertinggi dari variabel tersebut ada satu.
Contoh Persamaan linear satu variabel:
a. 2x + 6 = 8 b. 2 – 3a =5 c. 3t – 7 = 2t + 8 d. 2p + 3p + 1 = 21



4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT)
Konsep model pembelajaran pertama kali dikembangkan oleh Bruce dan Koleganya. Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi pembelajaran atau prinsip pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Slavin dalam Allyn dan Bacon (1999, Geogle. Kooperatif. 3 Februari 2006), pembelajaran kooperatif merujuk pada kaidah pengajaran yang memerlukan siswa dari kemampuan yang heterogen untuk bekerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Lima unsur asas pembelajaran kooperatif menurut Slavin dalam Allyn dan Bacon ((1999, Geogle. Kooperatif. 3 Februari 2006) adalah:
1. Saling bergantung antara satu sama lain secara positif.
2. Saling berinteraksi secara langsung.
3. Akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri
4. Kemahiran kooperatif
5. Pemprosesan kelompok.
Beberapa cara pembelajaran kooperatif telah dikembangkan tokoh-tokoh pendidikan misal; jigsaw, TGT, STAD, Belajar Bersama (Learning Together), NHT (Numbered Heads Together) dan Meja Bulat (Round Table).

Lebih lanjut Nur dkk (2000), mengemukakan tiga tujuan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu;
a. Berkaitan dengan hasil belajar akademik, salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
b. Berkaitan dengan penerimaan terhadap perbedaan individu, pembelajaran kooperatif bertujuan untuk melatih siswa menghargai satu sama lain dalam keadaan perbedaan latar belakang dan kondisi yang ada pada siswa.
c. Berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosial, pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa ketrampilan kerja sama, hal ini sangat penting karena saat ini sebagian lapangan kerja dilakukan dalam organisasi yang membutuhkan kerja sama dengan orang lain.
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif menurut Ismail (2000: 23) adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa
b. Menyajikan informasi
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d. Membimbing kelompok belajar untuk menemukan penyelesaian suatu masalah.
e. Melakukan evaluasi.
f. Memberikan penghargaan.
Berdasarkan asas pembelajaran kooperatif, tujuan dan langkah-langkah pelaksanaan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok yang memungkinkan siswa memperoleh prestasi belajar yang lebih baik, dibanding model pembelajaran yang lain.
Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah Teams-Games-Tournament (TGT) (Wartono, 2004: 16). Selanjutnya Wartono, dkk (2004: 16) menjelaskan dalam Teams-Games-Tournament atau pertandingan-permainan-tim siswa memainkan permainan pengacakan kartu dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh poin pada skor tim mereka. Permainan ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan siswa dari Penyampaian pelajaran siswa di kelas. Setiap wakil kelompok akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen.
Berdasarkan langkah-langkah yang dikemukakan Ismail (2002: 23) dan Wartono (2004: 16), dapat disimpulkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament yaitu sebagai berikut:
No. Guru Siswa
1

2
3 Guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar.
Guru memotivasi siswa.
Guru menginformasikan model
pembelajaran yang digunakan. Siswa memberi perhatian penuh.

Siswa memberi perhatian penuh.
Siswa memberi perhatian penuh.

4


5


6


7

8.


9


10



11



12


13 Guru mengawali pembelajaran dengan mengecek pemahaman dasar siswa tentang persamaan linear satu variabel.
Guru mengelompokkan siswa yang terdiri dari 4 atau lebih 5 orang siswa yang heterogen.
Guru membagi LKS kepada masing-masing kelompok.

Guru meminta setiap kelompok menyelesaikan soal-soal LKS.
Guru memantau kerja dari kelompok selama diskusi berlangsung.

Guru menunjuk wakil dari kelompok menuju meja turnamen.

Guru meminta setiap wakil kelompok melakukan permainan di meja turnamen dengan mengambil sebuah kartu yang telah diacak dan diberi angka.
Guru meminta wakil tiap kelompok mempresentasikan jawabannya dari soal yang telah dipilih melalui pengacakan kartu.
Guru memberi skor untuk masing-masing kelompok sesuai dengan jawaban mereka.

Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tinggi. Siswa mampu memberikan gambaran tentang persamaan linear satu variabel.
Siswa mengikuti petunjuk guru untuk berkumpul dengan anggota kelompok yang telah ditentukan.
Siswa menerima dan memastikan setiap anggota kelompoknya sudah memiliki LKS.
Siswa secara kelompok menyelesaikan LKS.
Siswa aktif dalam kelompoknya ketika diskusi dalam menyelesaikan soal.
Siswa yang ditunjuk guru mewakili kelompoknya menuju meja turnamen.
Siswa di meja turnamen memilih kartu yang telah diacak.


Siswa yang mewakili kelompoknya mempresentasikan jawabannya.

Siswa menerima skor untuk kelompoknya sesuai dengan hasil presentasenya.



5. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT), prestasi belajar matematika siswa kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel dapat ditingkatkan”.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Ciri utama dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar di kelas.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan Februari sampai September 2006 pada semester ganjil tahun ajaran 2006/2007 di kelas VIID SMP Negeri 5 Kendari.
3. Definisi Operasional
1. Prestasi belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari materi matematika pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel dalam kurun waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan tes.
2. Pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT) adalah suatu model pembelajaran yang mengutamakan peran aktif semua anggota kelompok/tim dalam menemukan suatu penyelesaian masalah, sehingga ketika wakil dari setiap kelompok melakukan permainan pengacakan kartu untuk menulis nomor soal dan melakukan pertandingan/turnamen melalui presentasi jawaban dari soal yang dipilih, wakil dari setiap kelompok tersebut dapat memberikan skor maksimal bagi kelompoknya.
4. Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan yang timbul, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor siswa, yaitu melihat minat dan kemampuan siswa dalam mempelajari matematika, khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel.
b. Faktor guru, yaitu melihat bagaimana materi pelajaran disiapkan, teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT).
c. Faktor sumber belajar, yaitu melihat apakah sumber pelajaran dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang akan diterapkan.
5. Prosedur Pelaksanaan
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 3 (tiga) siklus, dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki.
Adapun pelaksanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas berikut, yaitu (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan pelaksanaan; (3) observasi dan evaluasi; (4) refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan, kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi:
1) Membuat rencana pembelajaran.
2) Membuat lembar observasi, untuk melihat kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament diaplikasikan.
3) Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu siswa lebih memahami materi pelajaran yang diajarkan.
4) Membuat alat evaluasi untuk melihat apabila prestasi belajar met siswa dengan menggunakan model pembelajaran yang diterapkan dapat ditingkatkan.
5) Membuat jurnal, untuk mengetahui refleksi diri.
b. Pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
c. Observasi dan evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan serta melakukan evaluasi.
d. Refleksi, pada tahap ini hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Kemudian dari hasil tersebut akan dilihat apakah telah memenuhi target, maka penelitian akan dilanjutkan paad siklus berikutnya dan kelemahan-kelemahan/kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pad siklus berikutnya.
Pada penelitian ini penulis berencana melaksanakan prosedur penelitian sebanyak 3 (tiga) siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan. Jumlah pertemuan ini disesuaikan dengan kepadatan materi yang ada.
Materi-materi pelajaran pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel setiap siklus dapat dirinci sebagai berikut:
• Siklus I
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Kalimat Benar dan Kalimat Salah
b. Kalimat Terbuka
c. Himpunan Kalimat Terbuka
Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Berbagai Bentuk Persamaan Linear Satu Variabel
• Siklus II
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian Persamaan Linear Satu Variabel
b. Bentuk Setara Persamaan Linear Satu Variabel
Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel dengan cara Substitusi
• Siklus III
Pertemuan 1
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : a. Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel Dengan Cara Menambahkan Atau Mengurangi Kedua Persamaan Dengan Bilangan Yang Sama
b. Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel dengan cara mengalikan atau membagi kedua ruas persamaan dengan nilai yang sama
Pertemuan 2
Pokok Bahasan : Persamaan Linear Satu Variabel
Sub Pokok Bahasan : Menyelesaikan soal-soal cerita
6. Data dan Teknik Pengambilan Data
a. Sumber data, yaitu guru dan siswa.
b. Jenis data: jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data tersebut diperoleh dari tes hasil belajar, lembar observasi dan jurnal.
c. Teknik pengambilan data.
1) Lembar observasi, digunakan untuk memperoleh data mengenai kondisi pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games tournament.
2) Jurnal, digunakan untuk memperoleh data mengenai refleksi diri.
3) Tes, digunakan untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar matematika.

7. Indikator kinerja
Sebagai indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah jika minimal 80% siswa telah memperoleh nilai minimal 60 (ketentuan dari sekolah). Seorang siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar secara individu apabila siswa tersebut telah mencapai ketentuan belajar secara individual apabila siswa tersebut telah mendapat nilai ≥ 60 (ketentuan dari sekolah).
8. Rancangan dan Model Penelitian Tindakan kelas









Rancangan dari model pembelajaran tindakan kelas di atas merupakan gambaran secara umum. Namun, dalam penelitian ini akan dilaksanakan beberapa siklus hingga mencapai indikator penelitian yang telah ditetapkan.


Baca Selengkapnya....

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS VA SD NEGERI 12 KENDARI DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL CERITA OPERASI BILANGAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATA

A. JUDUL : MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS VA SD NEGERI 12 KENDARI DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL CERITA OPERASI BILANGAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN TUTOR SEBAYA
B. LATAR BELAKANG
Dewasa ini pemerintah sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang. Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan mutu

pendidikan yaitu dengan melaksanakan sistem pendidikan nasional. Sasaran utama sistem pendidikan nasional adalah terciptanya pemerataan dalam memperoleh pendidikan di seluruh pelosok tanah air, sehingga diperoleh manusia yang berpendidikan dan mempunyai kualitas serta dapat mewujudkan cita-citanya.
Matematika sebagai salah satu cabang ilmu yang dinilai dapat memberikan kontribusi positif dalam memacu ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hudoyo (1988:74) bahwa matematika mempunyai peranan yang sangat esensial untuk ilmu lain, utamanya sains dan teknologi. Sehingga matematika menjadi sangat penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, para siswa dituntut untuk menguasai matematika.
Berdasarkan observasi awal dan wawancara singkat dengan guru bidang studi matematika kelas VA yang dilaksanakan bulan mei 2005 menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi operasi bilangan pecahan karena siswa malu untuk bertanya kepada guru tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan masih rendah, hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai matematika siswa kelas VA semester I tahun pelajaran 2004/2005 yaitu 5,6.
Untuk itu perlu dicari pemecahan masalah dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi-kondisi dalam kelas. Semuanya dimaksudkan untuk memperoleh pendekatan pembelajaran yang tepat bagi seluruh siswa. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengadakan upaya perbaikan dengan menawarkan kepada guru untuk menerapkan pendekatan tutor sebaya utamanya untuk pokok bahasan operasi bilangan pecahan.
Kadangkala seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya. Penggunaan pendekatan tutor sebaya dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan merupakan salah satu pendekatan yang diharapkan dapat memberi peran aktif serta motivasi kepada siswa, agar mereka mempelajari dengan sungguh-sungguh materi yang diberikan. Sehingga diharapkan dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya ini, siswa lebih mudah menyerap materi yang diajarkan dan pada akhirnya siswa tidak mengalami banyak kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mencoba mengadakan penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas menurut Purwadi (dalam Sukidin, 2002:10) adalah suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam arti luas.
Adapun judul dari penelitian ini adalah ”Meningkatkan kemampuan Siswa Kelas VA SD Negeri 12 Kendari dalam Menyelesaikan Soal-soal Cerita Operasi Bilangan Pecahan dengan Menggunakan Pendekatan Tutor Sebaya”.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah “Apakah dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VA SD Negeri 12 Kendari dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan?”.
D. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan di atas, yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas VA SD Negeri 12 Kendari dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya.




E. MANFAAT PENELITIAN
Hasil dari penelitian tindakan kelas ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi guru : dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini guru dapat sedikit demi sedikit mengetahui pendekatan pembelajaran yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas.
2. Bagi siswa : hasil penelitian ini akan memberikan manfaat bagi siswa, yaitu mempermudah cara pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita yang diajarkan.
3. Bagi sekolah : hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran.
F. KAJIAN PUSTAKA
1. Proses Belajar Mengajar Matematika
Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan antara siswa dengan guru dan antar sesama siswa dalam proses pembelajaran. Interaksi dalam proses belajar mengajar mempunyai arti luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa tetapi juga interaksi edukatif, dalam hal ini bukan hanya menyampaikan pesan berupa mata pelajaran, melainkan juga nilai dan sikap pada diri siswa yang sedang belajar. Proses belajar mengajar matematika merupakan suatu kegiatan yang mengandung serangkaian persiapan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar terdapat adanya satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara guru yang mengajar dengan siswa yang belajar.
Menurut Usman (1993:4) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Lebih lanjut Usman (1993:6) mengungkapkan bahwa mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dapat pula dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Dalam hal belajar mengajar matematika, perlu diketahui karakteristik matematika. Dengan mengetahui karakteristik matematika, maka seharusnya dapat pula diketahui bagaimana belajar dan mengajar matematika. Karakteristik matematika yang dimaksud adalah obyek matematika bersifat abstrak, materi matematika disusun secara hirarkis, dan cara penalaran matematika adalah deduktif.
Obyek matematika bersifat abstrak, maka belajar matematika memerlukan daya nalar yang tinggi. Demikian pula dalam mengajar matematika guru harus mampu mengabstraksikan obyek-obyek matematika dengan baik sehingga siswa dapat memahami obyek matematika yang diajarkan. Hudoyo (1988:3) menyatakan bahwa belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi. Sehingga dalam mengajar matematika guru harus mampu memberikan penjelasan dengan baik sehingga konsep-konsep matematika yang abstrak dapat dipahami siswa.
Materi matematika disusun secara hierarkis artinya suatu topik matematika akan merupakan prasyarat bagi topik berikutnya. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu topik matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi proses belajar mengajar matematika tersebut. Hudoyo (1988:4) mengungkapkan bahwa karena kehirarkisan matematika itu, maka belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinyu. Karena dalam belajar matematika memerlukan materi prasyarat untuk memahami materi berikutnya, maka dalam mengajar matematika guru harus mengidentifikasikan materi-materi yang menjadi prasyarat suatu topik mata pelajaran matematika.
2. Hakekat Matematika
Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan dengan ide dan penalaran. Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia itu merupakan sistem-sistem yang bersifat untuk menggambarkan konsep-konsep abstrak, dimana masing-masing sistem bersifat deduktif sehingga berlaku umum dalam menyelesaikan maslah.
Sehubungan dengan hal di atas Hudoyo (1988:3) menyatakan matematika berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas alasan logik yang menggunakan pembuktian deduktif.
3. Soal-soal Cerita
Matematika dapat melatih siswa untuk berpikir secara logis, rasional, operasional dan terukur seusia dengan karakteristik ilmu ini. Salah satu materi dalam matematika yang penting dipelajari siswa SD dan perlu ditingkatkan mutu pembelajarannya adalah materi yang disajikan dalam bentuk cerita (soal cerita). Menurut Sutawidjaja (dalam Ahmad, 2001 : 172) soal cerita yang erat kaitannya dengan masalah kehidupan sehari-hari itu penting sekali diberikan dalam pembelajaran matematika SD karena pada umumnya soal cerita dapat digunakan (sebagai cikal bakal) untuk melatih siswa dalam menyelesaikan masalah.
Menurut Ahmad (2001:171) soal cerita (word/story problems) biasanya merupakan soal terapan dari suatu pokok bahasan yang dihubungkan dengan masalah sehari-hari. Untuk menyelesaikan matematika umumnya dan terutama soal cerita, Soedjadi (1992:65) mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Membaca soal dengan cermat untuk mengangkap makna tiap kalimat
b. Memisahkan dan mengungkapkan
1). Apa yang diketahui dalam soal
2). Apa yang diminta/ditanyakan dalam soal
3). Operasi/pengerjaan apa yang diperlukan
c. Membuat model matematika dari soal
d. Menyelesaikan model menurut aturan-aturan matematika sehingga mendapatkan jawaban dari model tersebut
e. Mengembalikan jawaban kepada soal asal
Untuk menyelesaikan soal cerita agar aturan-aturan dalam matematika dapat berlaku, maka dari soal dibuat dalam suatu kalimat matematika atau notasi yang merupakan terjemahan atau fakta dari soal cerita.
4. Pendekatan Tutor Sebaya
Program tutorial pada dasarnya sama dengan program bimbingan, yang bertujuan memberikan bantuan kepada siswa atau peserta didik agar dapat mencapai hasil belajar optimal. Hamalik (1990:73) menyatakan tutorial adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar para siswa belajar secara efisien dan efektif.
Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam belajar di kelas. Siswa yang dipilih guru adalah teman sekelas dan memiliki kemampuan lebih cepat memahami materi yang diajarkan, selain itu memiliki kemampuan menjelaskan ulang materi yang diajarkan pada teman-temannya. Karena siswa yang dipilih menjadi tutor ini seumur (sebaya) dengan teman-temannya yang akan diberikan bantuan, maka tutor tersebut sering dikenal dengan sebutan tutor sebaya.
Pengertian di atas sejalan dengan yang dikemukakan oleh Arikunto (1986:77) bahwa tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Untuk menentukan seorang tutor ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang siswa yaitu siswa yang dipilih nilai prestasi belajar matematikanya lebih besar atau sama degan delapan, dapat memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar.
Sejalan dengan uraian di atas, Arikunto (1986:62) mengemukakan bahwa dalam memilih tutor perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya.
b. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan.
c. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
d. Tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
Siswa yang ditunjuk sebagai tutor akan ditugaskan membantu siswa yang akan mendapat program perbaikan, sehingga setiap tutor harus diberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya tentang apa yang harus dilakukan. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena hanya gurulah yang mengetahui kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan perbaikan, bukan mendiagnosa.
Para tutor dilatih untuk mengajar berdasarkan silabus yang telah ditentukan. Hubungan antara tutor dengan siswa adalah hubungan antar kakak-adik atau antar kawan, kekakuan yang ada pada guru agar dihilangkan. Dalam kegiatan ini tutor dan guru menjadi semacam staf ahli yang mampu mengatsi kesulitan yang dihadapi murid, baik dengan cara satu lawan satu maupun kelompok kecil (Muntansir, 1985:58).
Dari sudut lain dapat diketengahkan bahwa efektifitas para tutor itu cukup dapat diharapkan. Tentang efektifitas tutor itu, Good dalam Muntansir (1985:180) menerangkan bahwa tutor SD sama efektifnya dengan tutor dari perguruan tinggi. Dalam kesempatan lain Good juga menyatakan bahwa tutor juga dapat menjadi alat untuk menimbulkan motivasi pada pelajaran bermutu. Tutor ini juga mendapatkan keuntungan berupa nilai pelajaran yang bertambah baik, sama dengan yang ditutori, terutama kalau fokusnya pada kemampuan kognitif.
Pendekatan tutor sebaya adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana yang melakukan kegiatan pembelajaran adalah siswa itu sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat menyerap materi pelajaran akan membantu siswa yang kurang cepat menyerap materi pelajaran. Karena memiliki usia yang hampir sebaya, adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya.
Pendekatan tutor sebaya ini cocok untuk mengajarkan matematika, terutama dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Apabila pendekatan ini digunakan oleh guru dengan baik dengan memberikan bimbingan terlebih dahulu kepada siswa yang akan menjadi tutor, maka pendekatan tutor sebaya ini dapat membantu siswa dalam memahami materi operasi bilangan pecahan, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dapat ditingkatkan.
5. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, hipotesis dari tindakan penelitian ini adalah ”Bila digunakan pendekatan tutor sebaya dalam proses belajar mengajar, maka kemampuan siswa kelas VA SD Negeri 12 Kendari dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dapat ditingkatkan”.
G. METODE PENELITIAN
1. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VA SD Negeri 12 Kendari, dengan jumlah siswa 42 orang siswa. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2005/2006.
2. Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan di atas, ada beberapa faktor yang perlu diselidiki. Faktor-faktor yang diselidiki tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor siswa : yaitu dengan memperhatikan apakah pemahaman operasi pada bilangan pecahan siswa tergolong kategori rendah, kategori sedang, atau kategori tinggi
b. Faktor guru : yaitu dengan memperhatikan bagaimana persiapan materi pelajaran dengan menerapkan pendekatan tutor sebaya
c. Faktor pendukung sumber : yaitu apakah sumber pembelajaran yang digunakan dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan
3. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 3 siklus. Tiap siklus yang diteliti disesuaikan dengan perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Sebagai penjajakan awal maka terlebih dahulu diadakan tes diagnosa yang berfungsi sebagai evaluasi awal. Sedangkan observasi awal adalah untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi pada bilangan pecahan.
Dari hasil tes dan observasi awal maka dalam refleksi ditetapkan tindakan yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tutor sebaya, sehingga prosedur penelitian yang akan dilakukan terdiri atas 4 tahap.
a. Perencanaan, adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi:
1). Membuat skenario pembelajaran
2). Membuat lembaran observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika pendekatan tutor sebaya diterapkan
3). Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan telah ditingkatkan
b. Pelaksanaan tindakan kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat
c. Observasi dan evaluasi, kegiatan ini dilakukan pada pelaksanaan tindakan
d. Refleksi, pada tahap ini hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dianalisis. Kemudian guru (peneliti) mengadakan refleksi diri dengan melihat data observasi, apakah kegiatan yang telah dilakukan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Kelemahan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pada siklus berikutnya.
4. Data dan Cara Pengambilannya
a. Sumber data : yaitu personil penelitian terdiri dari siswa dan guru.
b. Jenis data : jenis data yang didapatkan adalah kuantitatif dan kualitatif melalui lembar observasi, tes hasil belajar.
c. Cara pengambilan data
1). Data hasil belajar diambil dengan memberi tes pada siswa
2). Data tentang situasi belajar diperoleh melalui lembar observasi.
3). Data tentang refleksi diri serta perubahan yang terjadi di kelas diperoleh melalui hasil catatan guru (peneliti).
5. Indikator Kerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah jika minimal 80 % siswa yang menggunakan pendekatan tutor sebaya dapat memperoleh nilai 6,5. Menurut Sudia (1995:17 – 18) dalam kurikulum 1994, disebutkan bahwa siswa telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan apabila siswa telah mencapai taraf penguasaan 65 % (nilai 6,5). Maka keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah persentase siswa yang memperoleh nilai 6,5.


Baca Selengkapnya....

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Perbandingan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif T

A. Judul : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Perbandingan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams – Games – Tournament (TGT)

B. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas

sumber daya manusia. Pendidikan merupakan salah satu cara pembentukan kemampuan manusia untuk menggunakan rasional seefektif dan seefisien mungkin sebagai jawaban dalam menghadapi masalah – masalah yang timbul dalam usaha menciptakan masa depan yang baik.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, antara lain dengan perbaikan mutu belajar mengajar. Belajar mengajar di sekolah merupakan serangkaian kegiatan yang secara sadar telah terencana. Dengan adanya perencanaan yang baik, akan mendukung keberhasilan pengajaran. Usaha perencanaan pengajaran diupayakan agar peserta didik memiliki kemampuan maksimum dan meningkatkan motivasi, tantangan dan kepuasan sehingga mampu memenuhi harapan baik oleh guru sebagai pembawa materi maupun peserta didik sebagai penggarap ilmu pengetahuan.
Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam belajar mengajar, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekedar mengkomunikasikan pengetahuan agar dapat belajar, tetapi mengajar juga berarti usaha menolong sipelajar agar mampu memahami konsep–konsep dan dapat menerapkan konsep yang dipahami.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai sangat memegang peranan penting karena matematika dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien. Oleh karena itu dipandang penting agar matematika dapat dikuasai sedini mungkin oleh para siswa.
Salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Hasil survei dari asosiasi penilaian pendidikan internasional The Third Internasional Mathematics and Science Study pada tahun 1999 menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika anak Indonesia untuk SMP berada pada urutan 34 dari 38 Negara, dimana Malaysia diurutan
ke-14 dan Singapura diurutan teratas (Hartadji, 2001:4).
Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan observasi di SMP Negeri 9 Kendari pada tanggal 23 Agustus 2006 dan diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika siswa kelas VII di sekolah tersebut masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian siswa hanya mencapai 4,9. nilai rata-rata ini jika dibandingkan dengan ketuntasan belajar menurut kurikulum, yakni sebesar 6,5 atau 65 % dapat dikatakan bahwa nilai tersebut berada di bawa standar ketuntasan yang diharapkan. Dari hasil wawancara ini pula diperoleh informasi dari guru matematika bahwa pokok bahasan yang dianggap sulit untuk dipahami oleh siswa adalah pokok bahasan perbandingan. Dalam hal ini siswa sering kali mengalami kesulitan dan kekeliruan dalam menyelesaikan soal-soal latihan.
Dari hasil observasi lebih lanjut, tanggal 25 Agustus 2006 terlihat bahwa model pembelajaran yang digunakan guru matematika di SMP Negeri 9 Kendari khususnya di kelas VII7 lebih didominasi oleh model pembelajaran langsung dengan menggunakan kombinasi beberapa metode yaitu ceramah, diskusi, tugas dan resitasi, tanya jawab dan sebagainya. Namun demikian, siswa masih belum aktif dalam proses belajar- mengajar. Siswa cenderung diam dan engan dalam mengemukakan pernyataan maupun pendapat. Penelitian menduga model pembelajaran inilah yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa khususnya siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari.
Atas dugaan di atas, maka peneliti tertarik untuk mencobakan suatu tindakan alternatif untuk mengatasi masalah yang ada berupa penerapan model pembelajaran lain yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe. Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap peneliti dapat memotivasi siswa dalam peran aktif mengikuti proses belajar mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Team-Games-Tournament (TGT). Menurut Wartono dkk (2004:16) Teams-Games-Tournament (TGT) atau Pertandingan-Permainan-Tim merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang masih berkait dengan STAD yang merupakan tipe lainnya dari pembelajaran kooperatif.
TGT menekankan adanya kompetisi yang dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antara anggota kelompok/tim dalam suatu bentuk “turnamen”. Sedangkan dalam STAD, siswa bekerja di kelompok untuk belajar dari temannya serta mengajar temannya. Lebih lanjut Wartono dkk (2004:16) menjelaskan bahwa dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh pembahasan skor pada tim mereka. Permainan ini disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan pengetahuan siswa. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka yang dimainkan pada meja turnamen yang diisi wakil-wakil kelompok yang berbeda namun mempunyai kemampuan yang setara yang ditunjuk oleh guru. Tiap wakil dari kelompok-kelompok tersebut akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen ini memungkinkan tingkat untuk menyumbangkan skor-skor bagi kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk aktif dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya, dari hasil wawancara lebih lanjut yang dilakukan penulis pada tanggal 28 Agustus 2006 terhadap guru matematika, diperoleh keterangan bahwa siswa-siswi kelas VII7 merupakan siswa-siwi dengan prestasi belajar terendah di kelas VII, berdasarkan nilai matematikanya saat awal pendaftaran di sekolah tersebut.
Permasalahan siswa tersebut di atas, diharapkan dapat teratasi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Hulten dan De Vries pada tahun 1976 di Suburban MD yang meneliti pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelas kooperatif tipe TGT menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. (Slavin, 1995)
Selain itu, studi studi eksperimen yang dilakukan oleh Moersetyo Rahadi di SMU Negeri 1 Garut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan hasil belajar siswa yang belajarnya menggunakan belajar kooperatif TGT dengan siswa yang dengan pembelajarannya menggunakan cara biasa (konvensional). Setelah diuji pada taraf signifikan P = 0,05 hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model belajar TGT lebih baik dari siswa yang menggunakan model konvensional. (Rahardi, Http: // TGT, Com)
Atas alasan yang telah dikemukakan, maka penulis berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada Pokok Bahasan Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams – Games – Tournament (TGT)”.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran melalui model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada pokok bahasan perbandingan?
2. Bagaimana respon siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari terhadap pembelajaran konsep perbandingan melalui model kooperatif tipe TGT?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Apakah pembelajaran melalui model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada pokok bahasan perbandingan.
2. Respon siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari terhadap pembelajaran konsep perbandingan melalui model kooperatif tipe TGT?


E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Bagi guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas, sehingga materi pelajaran matematika yang dianggap sulit bagi siswa dapat dipahami lebih mudah oleh siswa.
2. Bagi siswa dapat meningkatkan prestasi belajar matematikanya, khususnya pada pokok bahasan perbandingan.
3. Bagi sekolah: Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada khususnya.
F. Kajian Pustaka
1. Belajar dan Mengajar Matematika
Istilah “belajar” dan “mengajar” adalah dua peristiwa yang berbeda akan tetapi diantara keduanya terhadap hubungan yang sangat erat. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi, saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain dalam keberhasilan proses belajar mengajar.
Sebelum membahas mengenai belajar dan mengajar matematika, perlu lebih dahulu dikemukakan mengenai proses belajar mengajar, khususnya pengertian belajar dan mengajar secara utuh.
Menurut W. H Borton dalam Usman (1993:4), belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu, dan individu lingkungannya.
Hudoyo (1988:1) menjelaskan bahwa seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan bahwa diri orang itu terjadi sesuatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut berlaku dalam relatif lama, dan terjadi karena adanya usaha orang tersebut. Jadi, tanpa usaha walaupun terjadi perubahan tingkah laku, bukanlah belajar .
Hamalik (2001:30) mengemukakan bahwa bukti dari seseorang yang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dalam aspek-aspek tertentu seperti pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses dan di dalam proses itu terjadi perubahan tingkah laku pada aspek-aspek tingkah laku, perubahan terjadi relatif menetap dan terjadi karena adanya usaha diri individu yang belajar pada materi yang telah diajari oleh guru.
Mengajar didefinisikan oleh Sudjana dalam Zain (2002:45) sebagai suatu proses, yaitu proses pengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik melakukan proses belajar.
Usman (1993:6) mendefinisikan mengajar sebagai suatu usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik, dan bahan pengajaran, sehingga menimbulkan proses belajar pada diri siswa.
Sejalan dengan pendapat Usman yang telah dikemukakan di atas, Hamalik (2001:48) mendefinisikan bahwa mengajar merupakan usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa, guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang segar agar aktivitas belajar menuju yang serasi agar aktivitas belajar menuju kearah sasaran yang diinginkan. Dengan kata lain, guru juga bertindak selaku organisator belajar siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai secara optimal. Roestiyah (1994:36) menekankan bahwa hasil dari pengajaran bukan merupakan hasil mengajar artinya bukan terutama untuk kepentingan guru, tapi untuk kepentingan siswa yang belajar.
Dari beberapa definisi mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu proses, yaitu proses pengorganisasian lingkungan disekitar siswa, agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar untuk mencapai tujuan yang optimal.
Berdasarkan pengertian belajar dan mengajar di atas, dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar dan mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan proses dan mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan proses perubahan, sedangkan mengajar merupakan proses pengaturan agar perubahan itu terjadi. Proses belajar mengajar untuk mata pelajaran matematika harus memperhatikan karakteristik matematika. Sumarno (2002:2) mengemukakan beberapa karakteristik yaitu: materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif, materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur dan dalam mempelajari matematika dibutuhkan ketekunan, keuletan, serta rasa cinta terhadap matematika. Karena materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur maka dalam belajar matematika, tidak boleh terputus-putus dan urutan materi harus diperhatikan. Artinya , perlu mendahulukan belajar tentang konsep matematika yang mempunyai daya bantu terhadap konsep matematika yang lain. Misalnya, sebelum mempelajari konsep kekongruenan terlebih dahulu perlu dipahami konsep kesebangunan. Pemberian simbol penting untuk menjamin adanya komunikasi, dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru.
Bruner dalam Hudoyo (1988:56) berpendapat bahwa belajar matematika ialah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur matematika itu.
Menurut Dienes dalam Russefendi (1980:135) konsep struktur dalam matematika dapat dipelajari dengan baik, bila representasinya dimulai dengan benda-benda konkret yang beraneka ragam. Alasannya karena dengan melihat berbagai contoh memungkinkan siswa menerapkannya konsep tersebut kesituasi yang lain. Jadi agar seorang siswa dapat belajar matematika dengan baik, terlebih dahulu konsep-konsep matematika yang terdapat dalam materi yang sedang dipelajari harus dipahami, kemudian berusaha menemukan hubungan antara konsep-konsep matematika itu. Mempersiapkan diri sebelum belajar, banyak latihan, belajar secara kontinu dan mengetahui penerapan materi dalam situasi nyata, dapat menambah pemahaman siswa tersebut.
Dalam mengajar matematika, seorang guru matematika hendaklah berpedoman pada bagaimana mengajar matematika itu sehingga siswa dapat belajar matematika dengan baik. Oleh sebab itu seorang guru matematika dalam mengajar perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) Urutan materi pelajaran; (2) memberikan contoh kongkrit kemudian membimbing siswa itu mencari sendiri; (3) mengarahkan siswa untuk menemukan hubungan antara konsep-konsep matematika; (4) memberikan contoh-contoh penerapan materi dalam situasi nyata dan (5) memberikan latihan soal-soal.
2. Prestasi Belajar Matematika
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2001:895) Prestasi diartikan sebagai yang telah dicapai (telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Menurut Arifin (1991:3), prestasi berarti hasil usaha. Dalam hubungannya dengan usaha belajar, prestasi berarti hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu. Prestasi belajar siswa mampu memperlihatkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman, dalam bidang keterampilan, nilai dan sikap.
Dalam beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang telah dicapai oleh seseorang, sedang prestasi be lajar adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu.
Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar matematika, dapat diukur prestasinya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut pada kurun waktu tertentu, dengan menggunakan suatu alat evaluasi. Jadi prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi (tes).
3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Games-Tournament (TGT)
Konsep model pembelajaran pertama kali dikembangkan oleh Bruce dan koleganya. Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi pembelajaran atau prinsip pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis model pembelajaran yang menggunakan kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Slavin dalam Allyn dan bacon (1999), pembelajaran kooperatif merujuk pada kaidah pengajaran yang memerlukan siswa dari kemampuan yang heterogen untuk bekerja sama dengan kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Lima unsur asas pembelajaran kooperatif menurut Slavin dalam Allyn dan Bacon (1999) adalah:
1. Saling bergantung satu sama lain secara positif.
2. Saling berinteraksi secara langsung.
3. Akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri.
4. Kemahiran kooperatif.
5. Pemprosesan kelompok.
Beberapa cara pembelajaran kooperatif telah dikembangkan tokoh-tokoh pendidikan misal; jigsaw TGT, STAD. Belajar bersama (Learning Together), NHT (Numbered Heads Together) dan Meja Bulat (Round Tab le).
Lebih lanjut Nur dkk (2000:7), mengemukakan tiga tujuan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Berkaitan dengan hasil belajar akademik, salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
b. Berkaitan dengan penerimaan terhadap individu, pembelajaran kooperatif bertujuan untuk melatih siswa menghargai satu sama lain dalam keadaan perbedaan latar belakang dan kondisi yang ada pada siswa.
c. Berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosial, pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa keterampilan kerja sama, hal ini sangat penting karena saat ini sebagai lapangan kerja dilakukan dalam organisasi yang membutuhkan kerja sama dengan orang lain.
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif menurut Ismail (2000:23) adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.
b. Menyajikan informasi.
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d. Membimbing kelompok belajar untuk menemukan penyelesaian suatu masalah.
e. Melakukan evaluasi.
f. Memberikan penghargaan.
Berdasarkan asas pembelajaran kooperatif, tujuan dan langkah-langkah pelaksanaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok yang menunjukkan siswa memperoleh prestasi belajar yang lebih baik, dibanding model pembelajaran yang lama.
Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Teams-Games-Tournament (TGT) (Wartono, 2004:16). Selanjutnya Wartono, dkk (2004:16) menjelaskan dalam Teams-Games-Tournament atau pertandingan-permainan-tim siswa memainkan permainan pengacakan kartu dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh poin pada skor tim mereka. Permainan ini berupa pernyataan-pernyataan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Pertanyaan-pernyatan yang dimaksud adalah pernyataan-pernyataan yang relevan dengan materi pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan siswa dari penyampaian pelajaran siswa di kelas. Setiap wakil kelompok akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen. De Vries dan Slavin dalam Alkrismanto (2004:16) menjelaskan bahwa model pembelajaran tipe TGT menekankan adanya kompetisi yang dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antar anggota tim dalam suatu bentuk “turnamen”.
Adapun sintaks model pembelajaran kooperatif Tipe TGT dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Fase-fase Pembelajaran Tingkah laku Guru
Fase I
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase II
Menyampaikan informasi atau materi pelajaran Guru menyampaikan informasi atau materi pelajaran kepada siswa dengan cara demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase III
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok agar melakukan transisi secara efisien dalam belajar.
Fase IV
Membimbing kelompok belajar dan belajar serta turnamen Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengajarkan tugas bersama serta memandu siswa memainkan suatu permainan sesuai dengan struktur pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Fase V
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar siswa; menentukan skor individual dan kemajuannya, menentukan skor rata-rata kelompok.
Fase VI
Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

(Ibrahim, 2000:10)
4. Pembelajaran Konsep Perbandingan di SMP.
Berdasarkan GBPP matematika kurikulum tingkat satuan pendidikan kelas VII semester I tahun 2006 indikator pencapaian hasil belajar dan materi perbandingan yaitu:
 Siswa dapat menjelaskan pengertian skala sebagai suatu perbandingan.
 Siswa dapat menghitung faktor perbesaran dan pengecilan pada gambar pada gambar berskala.
 Siswa dapat memberikan contoh masalah sehari-sehari yang merupakan perbandingan seharga (senilai) dan berbalik harga (nilai).
Dengan melihat indikator pencapaian hasil belajar, maka skala merupakan salah satu sub pokok bahasan dari materi perbandingan. Sebagai contoh skala adalah misalnya diberikan suatu peta Provinsi Sulawesi Tenggara dengan skala 1 : 3.150.000. Hal ini berarti 1 cm pada peta mewakili 3.150.000cm pada jarak sebenarnya. Menurut Kusrini, dkkk (2003:108). Skala adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak sebenarnya atau dapat dituliskan:
Skala =

Skala memiliki faktor perbesaran dan pengecilan. Faktor perbesaran pada skala bisa dapat kita lihat pada gambar bakteri maupun amoeba yang diperbesar menjadi 200 kali sehingga amoeba akan tampak besar. Jadi, skala amoeba tersebut menjadi 200 : 1 artinya benda yang sesungguhnya diperbesar menjadi 200 kali. Sedangkan faktor pengecil pada skala, seperti skala pada peta Sulawesi Tenggara yang ditulis 1 : 3.150.000, artinya gambar sesungguhnya diperkecil 3.150.000 kali.
Menurut Kusrini, dkk (2003:118), perbandingan adalah membandingkan dua besaran atau lebih. Perbandingan dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan sederhana. Sebagai contoh misalkan Ali mempunyai 9 buku dan Lia mempunyai 6 buku, perbandingan banyaknya buku Ali terhadap banyaknya buku Lia adalah 3 : 2 dan perbandingan banyaknya buku Lia terhadap banyaknya buku Ali adalah 2 : 3. Perbandingan dapat dinotasikan dengan “ : ” atau “ – “. Misal besaran a kita bandingkan dengan besaran b perbandingan dapat ditulis dengan “a : b” atau “ ”. “a : b” dibaca “ a berbanding b” dan a : b = ; b  0 (Sukino dan Simangunsong, 1995:2).
Perbandingan dua besaran sejenis yaitu perbandingan dua besaran yang satuannya sama, sehingga apabila satuan dua besaran yang akan dibandingkan belum sama, terlebih dahulu menyamakan satuannya dan kemudian dapat menyederhanakan perbandingan tersebut. (Sumadi, dkk, 2005:94).
Terdapat dua macam perbandingan, yaitu perbandingan senilai dan perbandingan berbalik nilai. Perbandingan senilai adalah kesamaan dari dua perbandingan yang secara umum dapat dituliskan dengan:

Perbandingan senilai ini berkaitan dengan berbanding lurus atau berbanding langsung sebagai contoh: perbandingan banyak kain batik dan perbandingan besar harga (Sukino dan Simangunsong, 1995:8). Perbandingan berbalik nilai berkaitan dengan berbanding terbalik. Sebagai contoh Ibu mempunyai 1 kantong gula-gula yang dibelinya di pasar. Apabila gula-gula tersebut dibagikan kepada 3 orang anak, maka masing-masing menerima 30 butir, jika dibagikan kepada 3 orang anak, maka masing-masing menerima 20 butir, demikian seterusnya. Jumlah anak dan bagian gula-gula yang diterima dapat dilihat pada tabel berikut:
Banyak anak Banyak bagian gula-gula yang diterima
2
3
4
5
6 30
20
15
12
10

1). Perbandingan banyak anak pada baris ke-1 dan baris ke-2 adalah 2 : 3 atau . Perbandingan banyak gula-gula yang diterima pada baris pertama dan baris ke dua adalah 30 : 20 = .
2). Perbandingan banyak anak pada baris ke-2 dan baris ke-3 adalah 3 : 4 = . Perbandingan banyak bagian gula-gula pada baris ke-2 dan baris ke-3 adalah 20 : 15 = .
Nilai adalah kebalikan dari , nilai kebalikan dari . Dengan demikian dikatakan terdapat perbandingan berbalik nilai antara banyak anak dan banyak gula-gula yang diterima. (Sumadi, dkk, 2005:97).
Lebih lanjut Sumadi, dkk (2005:98 – 104) menjelaskan bahwa untuk melakukan perhitungan perbandingan senilai dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menghitung perbandingan berbalik nilai dapat dilakukan melalui hasil kali atau melalui perbandingan. Adapun bentuk grafik dari perbandingan senilai yaitu berupa titik-titik yang sejenis sedangkan grafik perbandingan berbalik nilai yaitu berupa titik-titik yang terletak pada sebuah garis lengkung yang disebut hiperbola.
5. Kerangka pembelajaran konsep perbandingan melalui kooperatif tipe TGT
Pembelajaran konsep perbandingan melalui kooperatif tipe TGT akan dilakukan dalam tiga tahapan, waktu tahap awal, tahap inti dan tahap akhir.
Pada tahap awal, guru memulai pelajaran dengan menyampaikan materi perbandingan melakukan operasi dengan materi yang dipelajari. Kemudian memaparkan beberapa penggunaan dan aplikasi perbandingan dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan suatu bentuk motivasi sehingga menambah keingintahuan siswa untuk lebih memperhatikan pembelajaran selanjutnya. Kemudian guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa tahu akan arah pembelajaran mereka. Indikator pencapaian hasil belajar yang ditetapkan berdasarkan kurikulum 2004 untuk pokok bahasan perbandingan yaitu:
1. Menjelaskan pengertian skala sebagai suatu perbandingan.
2. Menghitung faktor pembesaran dan pengecilan pada gambar berskala.
3. Memberikan contoh masalah sehari-hari yang merupakan perbandingan seharga dan berbalik harga.
4. Menjelaskan hubungan perbandingan dan pecahan.
5. Menyelesaikan soal yang melibatkan perbandingan seharga dan berbalik harga.
6. memecahkan masalah yang melibatkan perbandingan.
Pada tahap inti, guru memulai dengan menyajikan informasi atau materi pembelajaran. Kemudian guru mengelompokkan siswa menjadi beberapa kelompok. Setelah itu guru membagi LKS kepada masing-masing kelompok. Siswa mengerjakan soal-soal LKS secara berkelompok yang dipantau oleh guru. Secara acak guru menunjuk wakil dari kelompok menuju meja turnamen dan meminta setiap wakil kelompok melakukan permainan di meja turnamen dengan mengambil sebuah kartu yang telah diacak dan diberi angka kemudian meminta wakil kelompok mempersentasikan jawabannya.
Pada tahap inti, siswa diarahkan pada penyimpanan dari soal-soal LKS yang telah diselesaikan bersama-sama anggota kelompok, dan terakhir memberikan evaluasi.
Kerangka Kerja Pembelajaran
Tahap Pembelajaran Aktifitas Guru Aktifitas siswa Sarana Metode Alokasi Waktu (menit)
Pendahuluan  Memberikan motivasi
 Menyampaikan tujuan pembelajaran
 Mengingatkan kembali tentang materi yang sudah dipelajari yang ada hubungannya dengan materi yang akan dipelajari Memperhatikan Tanya jawab 15 menit
Pokok/inti  Memberikan materi pelajaran
 Mengelompokkan siswa secara heterogen



 Membagi LKS kepada masing-masing kelompok
 Meminta setiap kelompok menyelesaikan soal-soal kelompok
 Memantau kerja kelompok selama diskusi berlangsung
 Menunjuk wakil dari kelompoknya menuju meja turnamen



 Meminta setiap wakil kelompok melakukan permainan
 Meminta wakil tiap kelompok mempresentasikan jawabannya.
 Memberi skor untuk masing-masing kelompok sesuai dengan jawaban mereka
 Memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi  Memperhatikan

 Siswa mengikuti petunjuk guru untuk berkumpul dengan anggota kelompoknya
 Menerima LKS


 Secara berkelompok menyelesaikan LKS
 Aktif dalam kelompoknya ketika diskusi
 Siswa yang ditunjuk guru mewakili kelompoknya menuju meja turnamen
 Melakukan permainan

 Menerima skor Ceramah





Diskusi





85 menit
Penutup  Memberikan siswa untuk membuat rangkuman


 Memberi penekanan pada hal-hal penting
 Memberikan soal tes  Mencoba membuat rangkuman dari soal-soal yang dikerjakan
 Memperhatikan penjelasan guru
 Menyelesaikan soal tersebut secara individual. Tanya jawab 20 menit
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Ciri utama dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar di kelas.
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti mutlak diperlukan, karena peneliti bertindak sebagai instrument kunci dalam penelitian ini. Peneliti sebagai perencana, perancang, pengumpul data, penganalisis data dan pelapor penelitian. Dalam penelitian ini yang bertindak sebagai pengajar adalah guru matematika kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari yang bernama Ratna Palapasari, S. Pd.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 9 Kendari yang beralamat di Jalan Saranani Kecamatan Mandonga Kota Kendari. Sekolah ini dipilih sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Siswa mengalami kesulitan tentang materi perbandingan.
2. Belum pernah dilaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament.
3. Terbuka kemungkinan untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.

4. Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini mencakup: (1) Hasil tes awal dan tes akhir (2) Hasil observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung, (3) Hasil wawancara terhadap subjek penelitian, (4) Hasil catatan lapangan, dan (5) Hasil angket siswa.
Sumber data pada penelitian ini adalah guru matematika dan siswa kelas VII¬7 SMP Negeri 9 Kendari tahun pelajaran 2006/2007 Semester I. Siswa yang diambil sebagai subjek penelitian adalah 5 orang siswa dengan pertimbangan agar memudahkan fokus perhatian dan pengamatan sehingga tercapai refleksi mendalam. Pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan pada hasil tes awal dan pertimbangan dari guru mata pelajaran matematika yang mudah diajak berkomunikasi dan bekerja sama. Kelima siswa tersebut ditentukan dengan cara yang mendapat skor paling rendah dalam hasil tes awal. Hal ini diambil dengan pertimbangan bahwa jika siswa yang berkemampuan rendah dapat berhasil dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap materi perbandingan, berarti siswa yang berkemampuan tinggi dan sedang juga dapat berhasil dalam pembelajaran tersebut.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu: (1) tes, (2) wawancara, (3) pengamatan, dan (4) pencatatan lapangan.

1. Tes yang akan dilakukan pada penelitian ini berupa tes awal dan tes akhir tindakan, dengan tujuan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat yang telah dimiliki siswa dan untuk mengetahui tercapainya tes akhir tindakan. Tes awal dan tes akhir tindakan, dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru matematika.
2. Wawancara dilakukan untuk menelusuri dan mengetahui pemahaman siswa dalam memecahkan masalah-masalah perbandingan. Selain itu, wawancara dilakukan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran. Wawancara dilaksanakan pada setiap akhir tindakan dan direkam dengan tipe recorder.
3. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan di kelas selama kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang diamati meliputi aktivitas guru matematika sebagai pengajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Observasi dimaksudkan untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan serta untuk menjaring data aktivitas siswa dalam berdiskusi. Observasi dilakukan peneliti dengan menggunakan lembar observasi.
4. Pencatatan lapangan dimaksudkan untuk melengkapi data yang tidak tercatat dalam lembar observasi. Dengan demikian diharapkan tidak ada data penting yang terlewatkan dalam kegiatan penelitian ini. Dan angket, yang diberikan kepada siswa.


6. Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan yang timbul, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor siswa, yaitu melihat minat dan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika, khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan perbandingan.
b. Faktor guru, yaitu melihat bagaimana materi pelajaran disiapkan, teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT).
c. Faktor sumber belajar, yaitu melihat apakah sumber pelajaran dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang akan dipelajari.
7. Tahap-tahap Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan tindakan.
1. Tahap perencanaan meliputi kegiatan
a. Refleksi awal
Pada tahap ini dilakukan kegiatan (1) membuat soal tes awal, (1) menentukan sumber data, (3) melakukan tes awal, (4) menentukan subjek penelitian.
b. Menetapkan dan merumuskan rancangan tindakan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah (1) menentukan tujuan pembelajaran, (2) menyusun kegiatan pembelajaran melalui model pembelajaran tipe TGT terhadap materi perbandingan, (3) menyusun tes akhir tindakan.
2. Tahap pelaksanaan tindakan
a. Perencanaan, kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi:
1. Menyusun rencana pembelajaran.
2. Menyiapkan materi pembelajaran yang akan disajikan.
3. Menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan pada saat mengobservasi pelaksanaan pembelajaran.
4. Mengkoordinasikan program kerja dalam pelaksanaan tindakan dengan guru matematika
b. Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, disesuaikan dengan rencana yang telah disusun dalam rencana pembelajaran.
c. Observasi
Selama pembelajaran, dilakukan pengamatan dengan lembar observasi untuk mengumpulkan data. Observasi ini dilakukan oleh peneliti. Adapun yang akan diamati meliputi aktivitas siswa dengan guru selama pembelajaran berlangsung. Untuk menindaklanjuti hasil observasi dan hasil tes, maka dilakukan wawancara terhadap subjek penelitian.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tindakan untuk menjelaskan dan mengambil kesimpulan apakah perlu mengulang siklus (dengan perbaikan) atau melangkah ke tahap selanjutnya berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Adapun tahap pelaksanaan tindakan yang diadaptasi dari Tim PPPG Matematika Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai berikut:






8. Indikator Kinerja
Sebagai indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah minimal 80% siswa telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan. Seorang siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan apabila siswa tersebut telah memperoleh nilai minimal 6,0 (ketentuan dari sekolah).






DAFTAR PUSTAKA

Allyn dan Bacon, 1999. Coperatif Learning Theory Rosearch Practice. (Onlinb. www,Google Com. Kooperatif. Diaskes 3 Februari 2006).

Anonym, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Balai Pustaka. Jakarta.

Arifin, Zainal, 1991. Evaluasi Instruksional. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Hamalik, Oemar, 2001. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Bandung

Hartadji, Nursyafi’i, 2001. Pengembangan dan Uji Coba Perangkat CTL. Depdiknas. Jarkarta.

Hudoyo, Herman, 1988. Belajar Mengajar Matematika. P2 LPTK. Jakarta.

Ibrahim, M. Dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif . Universitas Negeri Surabaya : University Perss.

Ismail, 2002. Model-Model Pembelajaran. Depdiknas. Jakarta.

Kusrini, dkk, 2003. Matematika Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Kelas I. Depdiknas. Jakarta.

Rahardi, Moersetyo. Penerapan Model Belajar Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Dalam Pembelajaran Matematika Sekolah Menengah Umum Conline, www Google. Com (Http:// TGT.Com).

Nur, Muhamad dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif. University Press UNESA. Surabaya.

Roestiyah, N. K,1994. Masalah Pengajaran Sebagai Suatu Sistem. Rineka Cipta. Jakarta.

Russefendi, E. T, 1979. Pengajaran Matematika Modern. Tarsito. Bandung.

Sukino dan Simangunsong, Wilson, 1995. Matematika SLTP 2 B. Erlangga. Jakarta.

Sumadi, dkk, 2005. Matematika dalam Kehidupan Kita. CV Anak Cerdas Nusantara. Surakarta.

Tim PPPG Matematika, 2005. Penelitian Tindakan Kelas (Diklat Guru Inti Matematika SMP di Daerah Tahun 2005). Depdiknas. Yogyakarta.

Wartono, dkk. 2004. Materi Penelitian Terintegrasi Sains. Depdiknas. Jakarta.

Zain, Aswan, 2002. Strategi Belajar Mengajar. Asdi Mahasatya. Jakarta.


Baca Selengkapnya....