Wednesday, February 25, 2009

A.Judul : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Himpunan di Kelas VII4 SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka Melalui Model Pembela

A.Judul : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Himpunan di Kelas VII4 SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS)
B.Latar Belakang
Program pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari upaya pengembangan sumber daya manusia yang berpotensi, kritis, berkualitas dan mampu bersaing dalam

era teknologi yang akan datang khususnya dalam pendidikan. Karena salah satu faktor utama penentu kemajuan di suatu bangsa adalah pendidikan. Oleh karena itu diperlukan pembinaan dan pengembangan pendidikan khususnya pendidikan di sekolah.
Pembinaan dan pengembangan pendidikan diawali di bangku sekolahan, dimana siswa dibina untuk mengembangkan suatu kemampuan, keahlian dan keterampilan yang dimilikinya, untuk menguasai suatu konsep dari mata pelajaran yang ditekuninya di sekolah atau lebih khususnya lagi mata pelajaran matematika.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dalam keberhasilan program pendidikan. Karena matematika sebagai bagian dari pendidikan akademis dan merupakan ilmu dasar bagi disiplin ilmu yang lain sekaligus sebagai sarana bagi siswa agar mampu berpikir logis, kritis dan sistematis. Oleh karena peranan matematika yang begitu penting, maka siswa dituntut untuk dapat menguasai materi sedini mungkin secara tuntas. Hal ini tidak luput dari peranan guru di dalam proses pembelajaran di kelas.
Usman dalam Harfin (2006: 2) mengemukakan bahwa peningkatan prestasi belajar matematika didukung oleh berbagai faktor, baik berasal dari dalam diri siswa (internal) maupun berasal dari luar siswa (eksternal). Strategi dan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada siswa di dalam kelas merupakan salah satu faktor peningkatan prestasi belajar yang berasal dari luar siswa (eksternal). Dalam proses pembelajaran di dalam kelas, guru tidak terlepas dari masalah-masalah yang dialami siswa, ini dapat disebabkan karena strategi dan model pembelajaran yang diterapkan sehingga siswa memandang matematika itu membosankan dan sukar untuk dipahami. Akibatnya rendahnya prestasi belajar matematika siswa.
Fenomena di atas juga dialami di SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan tanggal 22 Februari tahun 2007 yang berupa pengamatan langsung di dalam kelas serta informasi dari guru mata pelajaran matematika di kelas VII4 bahwa : (1) metode yang digunakan guru masih menggunakan metode konvensional sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat kurang dan guru sangat jarang memberikan waktu atau meminta siswa untuk menyelesaikan/mendiskusikan suatu masalah sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar dan berpikir secara mandiri. (2) siswa sangat jarang diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan teman dalam kelompok. (3) rata-rata hasil ulangan umun kelas VII4 semester II tahun 2006 yang diberikan oleh guru tersebut hanya mencapai 5,89. Dari rata-rata hasil yang dicapai siswa tersebut masih tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan standar minimal ketuntasan belajar sebesar 6,5. (4) guru tersebut mengemukakan bahwa salah satu kesulitan siswa dalam mata pelajaran matematika yaitu mengenai materi himpunan, khususnya dalam menentukan irisan dan gabungan sebagai contoh, jika diketahui S = {0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}, A = {1, 2, 3, 4}, B = {2, 4, 6, 8} masih ada siswa yang menjawab AÇB = {1, 3, 6, 8} dan = {2} È {0,6} = {0, 2, 6}. Oleh sebab itu diperlukan upaya untuk pemecahan masalah tersebut.
Dari uraian di atas penulis merasa tertarik untuk menerapkan salah satu model pembelajaran sebagai alternatif pemecahannya. Model pembelajaran yang dimaksud yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) dimana model pembelajaran ini memberikan waktu lebih banyak untuk siswa berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Ibrahim dkk, 200: 20). Selain itu pula pembelajaran kooperatif ini, pada siswa dituntut untuk lebih mengutamakan keaktifan serta mengutamakan kerjasama antar siswa yang satu dengan siswa yang lainnya.
Ibrahim ddk, (2000: 20) mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif terdiri beberapa pendekatan yakni pendekatan Student-Teams-Achievement-Division (STAD), Jigsaw, Investigasi Kelompok (IK), dan Pendekatan Struktural. Pendekatan Struktural terbagi atas dua macam tipe yaitu Think-Pair-Share ( Berfikir-Berpasangan-Berbagi) dan Numbered-Head-Together (NHT).
Berdasarkan hal-hal di atas, maka penulis tertarik ingin mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dengan melakukan penelitian dalam bentuk tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Himpunan di Kelas VII4 SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS)”.
A.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan himpunan di kelas VII4 SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS).
B.Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan himpunan di kelas VII4 SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS).
C.Manfaat Penelitian
1.Bagi Siswa: dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa khususnya pokok bahasan himpunan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS).
2.Bagi Guru: dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas sehingga konsep-konsep matematika khususnya pokok bahasan himpunan dapat dipahami dengan baik oleh siswa dengan melalui pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS).
3.Bagi Sekolah: sebagai masukan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran khususnya matematika.
4.Bagi Peneliti: sebagai pengalaman dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan proses pembelajaran khususnya pembelajaran matematika.
D.Kajian Teori
1.Pengertian Belajar
Belajar adalah sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya. Seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilannya maupun dalam sikapnya (Burton dalam Usman, 1993: 4).
Hamalik (1989: 61) mengemukakan bahwa seorang dinyatakan telah belajar bila telah terjadi perubahan tingkah laku pada dirinya. Perubahan tingkah laku itu berkenaan dengan: (1) Penguasaan pengetahuan baru atau penambahan pengetahuan yang telah ada sebelumnya (aspek kognitif), (2) Penguasaan keterampilan baru atau penyempurnaan keterampilan yang telah dikuasai sebelumnya, (3) Pengembangan sikap dan minat baru atau penyempurnaan sikap dan minat yang telah dimiliki sebelumnya (afektif). Selanjutnya Mouly (dalam Sunarto, 2003:7) mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan sikap secara sadar yang terjadi karena kebiasaan yang dialami atau pemantapan pengetahuan yang telah dilalui sebelumnya.
2.Pengertian Mengajar
Menurut Hodoyo (1990: 6) mengemukakan bahwa mengajar ialah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan, pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik dengan tujuan agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat dipahami peserta didik.
Gagne dalam Sujana (1991: 166) mengemukakan bahwa mengajar merupakan upaya mengadakan dan mengatur kondisi eksternal siswa, sehingga berinteraksi dengan kemampuan intern siswa secara optimal sampai terjadi perubahan dalam kemampuan siswa. Dengan demikian mengajar berarti mengendalikan kondisi dan situasi belajar seperti menarik perhatian siswa, menyajikan stimulus yang serasi dan memberikan petunjuk atau penjelasan verbal.
Sunarto (2002: 10) mengemukakan bahwa mengajar adalah mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan minat siswa melakukan kegiatan belajar. Selain itu pula Hamalik (2002: 48) mengemukakan bahwa mengajar dilihat dari segi pelakunya, yaitu guru maka diartikan sebagai menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Berdasarkan pengertian ini, bukan sebagai subjek, siswa hanya menerima apa yang disampaikan guru, dan sebaliknya guru sangat menentukan.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu proses pembentukan mental dan kreatifitas siswa melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru sehingga terjadi interaksi dan menumbuhkan minat siswa dalam proses pembelajaran.
3.Proses Belajar Mengajar Matematika
Belajar dan mengajar suatu hal yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dimana perubahan tingkah laku siswa yang disebabkan oleh belajar tidak terlepas dari peranan guru mengajar karena mengajar merupakan suatu proses pengaturan agar perubahan itu dapat terjadi.
Dalam proses belajar mengajar matematika haruslah terstruktur dengan baik karena matematika bersifat hirarkis serta memperhatikan karakteristik matematika. Sumarno, (2002: 2) mengemukakan bahwa beberapa karakteristik matematika yaitu: materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif, matematika bersifat hirarkis dan terstruktur, dan dalam mempelajari matematika dibutuhkan ketekunan, keuletan serta rasa cinta terhadap matematika karena matematika bersifat hirarkis dan terstruktur maka dalam belajar matematika, tidak boleh terputus-putus dan uraian materi harus diperhatikan.
Hudoyo (1990: 5) mengemukakan bahwa matematika sebagai ilmu mengenai struktur dan hubungannya, simbol-simbol diperlukan untuk memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Simbol-simbol menjamin adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru.
Dengan demikian dalam belajar dan mengajar matematika haruslah terstruktur dan bertahap sehingga siswa terarah dalam menghubungkan konsep-konsep matematika yang telah diberikan sebelumnya.
4.Prestasi Belajar Matematika
Winkel (1991: 3) mengemukakan bahwa prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman, keterampilan, nilai dan sikap. Lebih lanjutnya bahwa prestasi adalah bukti yang dicapai. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1983: 768) prestasi diartikan sebagai hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar yaitu hasil penilaian yang diperoleh siswa dari suatu usaha yang dilakukan berdasarkan standar-standar penilaian. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, dilakukan tolak ukur untuk mengetahuinya yaitu dengan menggunakan suatu alat evaluasi.
5.Penelitian Tindakan Kelas
Purwadi dalam Sukidin dkk, (2002: 10) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas (yang selanjutnya disingkat PTK) adalah suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam tugas pokoknya, yaitu mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam arti luas.
Sukidin dkk, (2002: 12) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas diharapkan mampu mengatasi hambatan dan kelemahan metode pada umumnya. Dalam model penelitian tindakan kelas, ada beberapa hal yang menarik yaitu: (1) para guru tidak lagi dianggap sebagai subyek pasif penelitian, akan tetapi partner aktif yang diajak secara kolaboratif dari perencanaan penelitian sampai penerapan hasil penelitian; (2) guru tidak cukup dianggap penerima hasil penelitian, akan tetapi ikut bertanggung jawab dan berperan secara aktif untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri melalui penelitian tindakan yang dilakukan terhadap proses pembelajaran yang dikelolanya; (3) guru dan peneliti dapat menciptakan kemitraan itu, kedua aktor tersebut akan mampu menciptakan kondisi yang kondusif, baik bagi peneliti maupun guru dalam mengembangkan profesionalisme masing-masing secara simbolik mutualistik.
Dari beberapa pendapat di atas, jelaslah bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang dilakukan oleh guru/peneliti di dalam kelas yang berupa tindakan terhadap proses pembelajaran guna untuk memecahkan suatu masalah dalam kegiatan belajar mengajar.
6.Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share.
Soekamto (1993: 109) mengemukakan bahwa model pembelajaran ialah suatu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pedoman belajar untuk mencapai tujuan tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi guru.
Ismail (2002: 20) mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang menggunakan adanya kerjasama antara siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran dan siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil serta diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan.
Ibrahim dkk, (2000: 6-9) mengemukakan bahwa unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu: (1) siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama; (2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama; (3) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya; (4) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok; (5) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya; (6) siswa akan diminta pertanggung jawaban secara individu materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Lebih lanjut, dikemukakan bahwa adapun tujuan dalam pembelajaran kooperatif ini yaitu:
1.Kaitannya terhadap hasil belajar akademik yaitu bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan sosial.
2.Kaitannya dalam pemerintahan terhadap perbedaan individu yaitu memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atau tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.
3.Kaitannya terhadap pengembangan keterampilan sosial yaitu mengajarkan siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Adapun manfaat pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Nur dkk, (2001: 8) diantaranya yaitu rasa harga diri lebih tinggi, memperbaiki kehadiran, pemahaman akan materi pelajaran lebih baik dan motivasi belajar yang lebih besar.
Ismail (2002:23) mengemukakan bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif meliputi: (1) menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa; (2) menyajikan informasi; (3) mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar; (4) membimbing kelompok belajar dan bekerja; (5) melakukan evaluasi; (6) memberikan penghargaan. Untuk lebih jelasnya langkah-langkah pembelajaran kooperatif dapat dilihat melalui Tebel 1, yang dikemukakan oleh Ibrahim, dkk (2002:10).
Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkahlaku Guru
Fase -1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.



Fase-2
Menyajikan informasi.



Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.

Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Fase-5
Evaluasi.


Fase-6
Memberikan penghargaan.


Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.


Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.




Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.


Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil belajarnya.

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Berdasarkan semua uraian mengenai model pembelajaran kooperatif tersebut terlihat bahwa model pembelajaran ini sangat memungkinkan siswa untuk bertukar pikiran atau pendapat yang tercipta di dalam suatu kerjasama. Sehingga siswa terlatih dalam menghargai pendapat orang lain. Hal ini pula sangat membantu siswa dalam memperoleh prestasi yang lebih baik.
Ibrahim (2002: 20-27) mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif terbagi atas empat pendekatan, yaitu tipe STAD, Jigsaw, Investigasi Kelompok dan Pendekatan Struktural. Tipe Pendekatan Struktural ini terbagi atas dua tipe yaitu Numbered Hears Together (NHT) dan Think-Pair-Share (TPS). Dalam penelitian ini akan dibahas yaitu pendekatan Struktural tipe Think-Pair-Share (TPS).
Lebih lanjut, dikemukakan bahwa pendekatan Think-Pair-Share (TPS) mula-mula dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Pendekatan Think-Pair-Share (TPS) ini pula, memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Adapun langkah-langkah pendekatan Think-Pair-Share (TPS) yaitu:
1.Tahap-1: Thinking (berfikir). Pada tahap ini guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pembelajaran, kemudian siswa kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
2.Tahap-2: Pairing (berpasangan). Pada tahap ini guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pernyataan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3.Tahap-3: Sharing (berbagi). Pada tahap ini, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Dari uraian tersebut, pendekatan Think-Pair-Share (TPS) ini sangatlah sistematis sedemikian sehingga waktu yang diberikan siswa untuk berpikir cukup banyak dan memungkan siswa dapat memecahkan suatu masalah yang diberikan guru. Pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
7.Materi Himpunan
Karso dkk, (1992: 3) mengemukakan bahwa konsep himpunan pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli matematika kebangsaan Jepang, yaitu George Cantor (1845-1918). Pada waktu itu konsep yang dikemukakannya masih kurang mendapat perhatian dari ahli matematika lainnya, namun pada tahun 1920-an konsep himpunan ini mulai digunakan sebagai landasan matematika. Sekarang setiap cabang matematika menggunakan konsep himpunan sebagai dasar dan pengembangannya. Istilah himpunan dalam matematika berasal dari kata “set” dalam bahasa Inggris. Kata lain yang sering digunakan untuk menyatakan himpunan antara lain kumpulan, kelas, gugus, kelompok.
Soebagio (1993: 2) mengemukakan bahwa pengertian himpunan digunakan dalam matematika dan dalam kehidupan sehari-hari. Secara intuisi, suatu himpunan adalah kumpulan objek-objek yang mempunyai sifat tertentu dan didefinisikan dengan jelas. Objek dalam pembicaraan matematika dapat berupa benda konkret misalnya bola, buah-buahan, dapat pula berupa benda abstrak, misalnya bilangan, fungsi, dan matriks. Objek dalam himpunan mempunyai sifat tertentu dan didefinisikan dengan jelas, agar dapat ditentukan apakah suatu objek termasuk dalam himpunan atau tidak.
Sukino (2004: 233) mengemukakan bahwa himpunan adalah kumpulan atau kelompok benda (objek) yang telah didefinisikan dengan jelas. Yang dimaksud dengan benda atau objek yang telah jelas keadaannya, seperti binatang, angka, warna dan kenyataan sehari-hari lainnya. Lebih lanjut, contoh kumpulan objek yang merupakan himpunan adalah sebagai berikut:
a.Siswa-siswa kelas IA.
b.Kumpulan angka 2, 4, 5, 8.
c.Kumpulan hewan pemakan daging.
Dari beberapa contoh tersebut, merupakan himpunan karena objek-objeknya telah didefinisikan dengan jelas. Adapun contoh yang bukan merupakan himpunan seperti kumpulan warna yang menawan. Kumpulan ini bukan merupakan himpunan dimana sifat menawan itu semu dan bergantung pada orang menilainnya.
Soebagio (1993:2) mengemukakan bahwa objek dan himpunan disebut anggota himpunan, element himpunan atau unsur himpunan. Untuk menyatakan himpunan digunakan huruf besar (huruf kapital) seperti A, B, C, …, sedangkan anggota himpunan dinyatakan dengan huruf kecil, a, b, c, …, dan ditulis diantara dua kurung kurawal. Suatu himpunan yang anggotanya a, b, dan c disajikan dengan:
A = {a, b, c,}.
Lambang keanggotaan himpunan adalah Î dan lambang bukan anggota himpunan adalah Ï. “a anggota dari A” dilambangkan dengan
a Î A
dan p bukan anggota dari A dilambangkan dengan p Ï A. Lebih lanjut Karso dkk, (1992: 4) mengemukakan bahwa banyaknya anggota dari suatu himpunan disebut dengan cardinal himpunan tersebut. Banyaknya anggota himpunan dari suatu himpunan A atau cardinal A dinotasikan dengan
n(A)
Contoh:
1.Bila A = {2, 4, 6, 8, 10} dan B = {1, 2, 3, 4}
Penyelesaian: A = {2, 4, 6, 8, 10} Þ n(A) = 5 (banyaknya anggota A)
B = {1, 2, 3, 4} Þ n(B) = 4 (banyaknya anggota B)
Menurut Menurut Soebagio (1993:2) pada dasarnya ada dua cara untuk menyatakan himpunan yaitu:
1.Cara pendaftaran atau tabulasi (dengan menuliskan semua anggotanya)
Contoh: A = {1, 2, 3, ...}
Jadi elemen yang tidak ada dalam daftar berarti bukan anggota himpunan tersebut. Apabila anggota himpunan itu banyak, untuk menotasikan semua anggotanya diwakili oleh tiga titik “…” dan anggota yang diwakili tersebut sudah tertentu dan dapat disebutkan dengan benar.
2.Cara dengan menunjukkan syarat keanggotaan (cara pemerian/diskripsi)
Dalam cara ini hanya dituliskan syarat yang harus dipenuhi oleh anggota himpunan. Semua objek yang memenuhi syarat tertentu adalah anggota himpunan. Misalnya A = {x ç P(x)}, dan dibaca “A ialah himpunan semua x sedemikian sehingga x mempunyai sifat P” atau bisa juga dinotasikan dengan A = {huruf hidup dalam abjad}.
E.Hasil Penelitian yang Relevan
Adapun hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah :
1.Hasil penelitian Aisyah (2004) yang menyimpulkan bahwa model kooperatif tipe Think-Pair-Share dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III-5 MTSN 1 Kendari dalam pokok bahasan segitiga-segitiga yang kongruen.
2.Hasil penelitian Hasmawati Harfin (2006) yang menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika kelas VII SMP Satria Kendari pada pokok bahasan himpunan dapat ditingkatkan melalui model kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS).
F.Kerangka Berpikir
Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share merupakan model pembelajaran yang mengutamakan keaktifan dan kerjasama siswa secara berpasangan memungkinkan siswa memiliki pendapat sendiri sebelum berbagi pendapat. Kondisi ini diharapkan dapat menimbulkan prestasi belajar siswa.
G.Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori, hasil penelitian yang relevan dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “ melalui model kooperatif tipe Think-Pair-Share, prestasi belajar matematika siswa kelas VIII4 SMP Negeri 1Wundulako Kolaka pada pokok bahasan himpunan dapat ditingkatkan”.
H.Metode Penelitian
1.Waktu, Tempat dan Jenis Penlitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Karakteristik yang khas dari penelitian ini yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar di kelas (Muhtar, 2000: 7). Penelitian ini pula akan dilaksanakan pada semester II pada SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka kelas VII4.
2.Definisi Operasional
1.Prestasi belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan alat evaluasi tertentu (tes).
2.Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah suatu model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antar siswa. Setiap siswa memikirkan pertanyaan dari gurunya untuk beberapa saat sesudah dibagi ke dalam pasangan kelompoknya. Setiap siswa mendiskusikan jawabannya kepada pasangan kelompoknya dan berbagi jawaban kepada pasangan kelompok lain.
3.Faktor yang diselidiki
Untuk mampu menjawab permasalahan, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a.Faktor siswa : melihat minat siswa dalam mempelajari matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan himpunan.
b.Faktor guru: melihat bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan bagaimana teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Paire-Share.
4.Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus, dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Pembentukan kelompok siswa berdasarkan latar belakang, kemampuan akademik, jenis kelamin dan ras yang berbeda, dimana yang lain bersifat homogen.
Dari hasil observasi awal yang dilakukan bahwa tindakan yang digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika khususnya pokok bahasan himpunan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Paire-Share.
Adapun pelaksanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas berikut yaitu: (1) Perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi dan evaluasi; (4) refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut:
1.Perencanaan
a.Membuat Rencana Pembelajaran
b.Menyiapkan LKS untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan
c.Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru guna melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran tipe Think-Paire-Share diterapkan
d.Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah prestasi belajar matematika siswa dapat ditingkatkan.
e.Pembuatan jurnal, untuk mengetahui refleksi diri.
2.Pelaksanaan tindakan: kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
3.Observasi dan evaluasi: pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan serta melakukan evaluasi.
4.Refleksi: pada tahap ini, hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Kemudian dari hasil tersebut akan dilihat apakah telah memenuhi target yang ditetapkan pada indikator kinerja, jika belum memenuhi target maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya dan kelemahan-kelemahan/kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pada siklus berikutnya.
5.Data dan Teknik Pengambilan Data
1.Sumber data: guru dan siswa.
2.Jenis data: jenis data yang akan diperoleh adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data tersebut diperoleh dari tes prestasi belajar, lembar observasi dan jurnal.
3.Teknik pengambilan data:
a.Data mengenai proses pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share diambil dengan menggunakan lembar observasi.
b.Data mengenai prestasi belajar matematika diambil dengan menggunakan tes
c.Data mengenai refleksi diri diambil dengan menggunakan jurnal.
6.Indikator Kinerja
Sebagai indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah jika minimal 80% siswa telah memperoleh nilai minimal 60 (ketentuan dari sekolah). Dan indikator keberhasilan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Paire-Share (TPS) yaitu apabila minimal 85% Rencana Pembelajaran telah dilaksanakan.
7.ancangan dan Model Penelitian Tindakan Kelas



A.

0 comments:

Post a Comment