Monday, February 16, 2009

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Perbandingan Trigonometri Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Kelas X SMA

A.JUDUL : Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Perbandingan Trigonometri Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Kelas X SMA Negeri 4 Kendari
B.Latar Belakang
Matematika merupakan bidang ilmu yang memiliki kedudukan yang penting dalam pengembangan dunia pendidikan. Hal ini disebabkan, karena matematika

merupakan ilmu dasar bagi pengembangan disiplin ilmu yang lain. Olehnya itu mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang potensial untuk diajarkan di seluruh jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, kritis dan sistematis serta kemampuan bekerja sama sehingga tercipta kualitas sumber daya manusia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Keberhasilan proses pembelajaran matematika di sekolah tidak terlepas dari kesiapan guru sebagai tenaga pengajar. Oleh sebab itu dalam penyelenggaraan proses pendidikan tenaga pengajar bertindak sebagai komponen aktif yang sangat mempengaruhi hasil proses itu. Hal ini mengandung makna bahwa dalam membelajarkan matematika kepada peserta didik, guru sebagai tenaga pengajar hendaknya harus lebih cermat melihat aspek-aspek yang dapat meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar. Aspek-aspek tersebut misalnya, memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai kondisi perkembangan peserta didik demi tercapainya tujuan pelaksanaan pembelajaran.
SMA Negeri 4 Kendari merupakan salah satu sekolah yang diperhitungkan oleh perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Sekolah ini sangat difavoritkan oleh masyarakat kota Kendari pada khususnya dan masyarakat Sulawesi Tenggara pada umumnya. Di mata masyarakat iklim pelaksanaan sistem pendidikan di sekolah ini cukup baik. Akan tetapi berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa guru khususnya guru matematika pada tanggal 17 November 2007 didapatkan informasi bahwa proses pembelajaran matematika masih banyak ditemui permasalahan. Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh guru dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar matematika siswa adalah bertumpuk pada pemilihan model pembelajaran yang tepat. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung pada tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat kemampuan dan kondisi peserta didik, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada. Akibat dari hal tersebut model pembelajaran yang sering diterapkan oleh guru kebanyakan menggunakan model pembelajaran langsung sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat kurang. Perlu diketahui bahwa sekarang ini jika membelajarkan matematika kepada siswa dengan pendekatan paradigma lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung mengakibatkan kejenuhan. Hal ini juga akan mengakibatkan kekreatifan peserta didik dalam pembelajaran tidak berkembang, cenderung pasif sehingga pemahaman mereka sangat tidak maksimal yang akhirnya menyebabkan banyak hasil belajar mereka di bawah standar ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. Indikator yang dapat dijadikan tolak ukur adalah perolehan nilai ulangan blok matematika siswa kelas X pada semester I hanya mencapai rata-rata 5,65. Hal ini sangat memprihatikan karena dari rata-rata hasil yang dicapai siswa tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan standar minimal ketuntasan hasil belajar sebesar 6,25 yang ditentukan oleh pihak sekolah.
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti memandang perlu melakukan suatu penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan menerapkan suatu model pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar siswa sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar yang beranggotakan empat sampai lima orang. Komposisi kelompok harus heterogen dilihat dari jenis kelamin, suku, agama, dan kemampuannya. Selanjutnya guru memberikan konsep-konsep materi dan membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk diselesaikan secara berkelompok. Siswa dalam kelompok saling bertukar pikiran, mengkaji, dan saling membantu untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran kooperatif yaitu untuk membangkitkan interaksi yang efektip diantara anggota kelompok melalui diskusi.
Untuk melihat sejauhmana efek dari pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap peningkatan hasil belajar matematika siswa, maka penulis ingin berkolaborasi dengan guru untuk melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul "Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok bahasan Perbandingan Trigonometri Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Kelas X SMA Negeri 4 Kendari ".
A.Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran pokok bahasan perbandingan trigonometri dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 4 Kendari?
B.Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan perbandingan trigonometri melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD kelas X SMA Negeri 4 Kendari.
C.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak seperti berikut ini :
1.Bagi siswa : Dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.
2.Bagi guru : Diharapkan guru matematika dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai upaya untuk membangkitkan motivasi, kerjasama, dan partisipatif aktif siswa dalam proses belajar mengajar khusunya pada pokok bahasan perbandingan.
3.Bagi Sekolah : Sebagai masukan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran khususnya matematika.
4.Peneliti : Penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi peneliti sebagai wahana dalam menerapkan metode ilmiah secara sistematis dan terkontrol, dalam upaya menemukan dan menghadapi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan proses pembelajaran matematika.
D.Definisi Operasional
1.Hasil belajar siswa pada pokok bahasan perbandingan trigonometri adalah hasil yang dicapai siswa setelah mempelajari matematika pada pokok bahasan perbandingan trigonometri dalam kurun waktu tertentu yang dinyatakan dengan angka dan diukur dengan mengunakan tes. Batasan mengenai hasil belajar perbandingan trigonometri dalam penelitian ini hanya dibatasi pada ranah kognitif.
2.Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model pembelajaran yang mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (1) Persiapan, (2) Persentase Kelas, (3) Tes Kegiatan, (4) Penghargaan kelompok.

E.Kajian Teori
1.Pengertian Belajar
Wina Sanjaya (2006:195) menyatakan belajar adalah suatu proses yang dinamis, berkembang secara terus menerus sesuai dengan pengalaman, semakin banyak pengalaman yang dilakukan maka akan semakin kaya, luas dan sempurna pengetahuan. Pengetahuan itu akan bermakna manakala diperoleh dari pengalaman melalui proses. Pengalaman yang diperoleh dari hasil pemberitahuan orang lain seperti hasil penuturan guru, hanya akan mampir sesaat untuk diingat dan setelah itu dilupakan. Oleh sebab itu dalam konteks KBK, membelajarkan siswa tidak cukup hsnys dengan memberitahukan akan tetapi mendorong siswa untuk melakukan suatu proses melalui berbagai aktivitas yang dapat mendukung terhadap pencapaian kompetensi.
Slameto (1995: 2) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Crow dan crow (Roestiyah, 1989: 8) menyatakan seseorang dikatakan mengalami proses belajar jika ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dalam menguasai ilmu pengetahuan. Demikian juga pendapat Roestiyah (1989: 8), bahwa belajar adalah proses aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu. Sudjana (1991: 5) menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan. Sudjana (2000: 28) juga menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pemahamannya, pengetahuannya, sikap dan tingkah lakunya, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada pada individu siswa.
Gagne dalam Russefendi (1979:138) menyatakan bahwa dalam belajar matematika ada dua aspek yang dapat dipahami siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek langsung antara lain fakta, keterampilan, konsep dan aturan, sedangkan objek tidak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah mandiri.
Berdasarkan pengertian belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang mengakibatkan bertambahnya pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungannya.
2.Pengertian Mengajar
Mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Adapun pengertian lain di negara-negara yang sudah maju dikatakan bahwa mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Pengertian ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa (Slameto,1995: 29-30). Selanjutnya Hamalik (2001: 44) mengemukakan bahwa mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid sekolah. Sedangkan Ad. Rooijakkers (1989: 1) mengemukakan hal yang serupa yakni mengajar adalah menyampaikan atau menularkan pengetahuan dan pandangan.
Pengertian mengajar yang dikemukakan di atas, menunjukkan bahwa mengajar adalah suatu kejadian mengatur dan membimbing siswa sehingga terjadi proses belajar.
3.Proses Belajar Mengajar Matematika
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar tersebut terdapat adanya suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara guru dan siswa yang belajar, antara kedua kegiatan ini terdapat interaksi yang saling menunjang (Usman, 1995: 4). Sedangkan James Popham (1992:141) menyatakan mengajar secara efektif bergantung pada pemilihan dan penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan mengajar. Cara belajar mengajar yang lebih baik ialah mempergunakan kegiatan murid-murid sendiri secara efektif dalam kelas, merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sedemikian rupa secara kontinu dan juga melalui kerja kelompok.
Dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar matematika Slameto (2003:20) mengemukakan bahwa belajar matematika adalah suatu bentuk belajar yang dilakukan secara kontinyu dan penuh kesadaran, perhatian dan rencana yang dalam pelaksanaannya membutuhkan proses yang aktif dari individu dalam memperoleh pengalaman maupun pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku yang ditandai dengan dengan pemahaman konsep dasar matematika yang akan mengatur individu ke arah berfikir secara matematis berdasarkan aturan yang logis. Masih Slameto (2003:20) mengatakan mengajar matematika adalah suatu kegiatan mengajar dengan tujuan agar mendapatkan pengetahuan tentang matematika yang diberikan oleh guru. Oleh karena harus terjadi interaksi yang baik antara guru dan siswa.
4.Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa ditunjukkan oleh perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pemahaman, keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi, serta nilai dan sikap. Perubahan yang dihasilkan dari belajar dapat berupa perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu dilihat sebagai tingkah laku. Adanya perubahan itu tercermin dalam prestasi belajar yang diperoleh siswa (Soekamto dan Winataputra, 1997 : 149). Selanjutnya Sanjaya (2006:88) menyatakan keberhasilan belajar diukur dari hasil yang diperoleh, semakin banyak informasi yang dihafal maka semakin bagus hasil belajar.
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari sesuatu yang telah dilakukan (Poerwadharminata, 1984:169). Selanjutnya Winkel (1984:102) menyatakan bahwa prestasi adalah bukti keberhasilan dari usaha yang dapat dicapai. Pernyataan-pernyataan tersebut memberikan pengertian bahwa hasil belajar adalah seluruh kecakapan dan segala hal yang diperoleh melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka dan diukur dengan menggunakan tes hasil belajar.
Gagne dalam Russefendi (1979 : 49 – 50) membagi hasil belajar dalam lima kategori yaitu : (1) keterampilan intelektual, (2) strategi kognitif, (3) informasi verbal, (4) keterampilan motorik, dan (5) sikap. Selanjutnya Bloom (1981) dalam Suharsimi (1997:114) membagi hasil belajar dalam tiga ranah yaitu (1) kognitif, (2) efektif, (3) psikomotor. Ranah kognitif terbagi atas enam tingkatan yaitu : (a) ingatan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (d) analisis, (e) sintesis, dan (f) evaluasi.
Batasan mengenai hasil belajar banyak dikemukakan oleh para ahli. Hasil belajar matematika yang diharapkan pada jenjang pendidikan menengah umum yang meliputi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Tetapi dalam penelitian ini, hasil belajar matematika yang hendak diukur dibatasi hanya pada hasil belajar di ranah kognitif. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa hasil belajar matematika pada ranah kognitif yang dimiliki siswa sebagai hasil dari proses belajar mengajar matematika selama kurun waktu tertentu berdasarkan tujuan instruksional tertentu yang mengacu pada garis besar program pengajaran matematika SMA.
5.Model Pembelajaran Kooperatif
Model dan metode pembelajaran adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Di dalam suatu model pembelajaran tentu menggunakan metode mengajar tertentu. Soekamto (1993:109) memberi batasan tentang model pembelajaran yaitu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.
Dewasa ini banyak ahli pembelajaran yang mengkonstruksi/mengembangkan model pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran dimaksudkan untuk menciptakan suasana proses belajar mengajar yang menyenangkan dan mudah dipahami peserta didik, sehingga berimplikasi pada peningkatan kualitas hasil belajar mereka. Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas dan penghargaan yang kooperatif. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya dalam menyelesaikan tugas. Ismail (2002:20) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran melalui diskusi untuk memecahkan masalah. Selanjutnya Slavin dan Johson dalam Sanjaya (2006:195) mengatakan ada dua komponen yang sangat penting dalam strategi pembelajaran kooperatif yaitu kooperatif dalam mengerjakan tugas-tugas dan kooperatif dalam memberikan dorongan atau motivasi.
Beberapa ciri belajar kooperatif yaitu: (1) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya; (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah; (3) bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda; (4) penghargaan lebih berorientasi pada kelompok ketimbang individu (Hartadji 2001:34). Selanjutnya Marpaung, dkk (2002) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif menerapkan prinsip-prinsip melalui tahapan persiapan, presentasi kelas, kegiatan kelompok, tes, dan penghargaan. Uraian kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
a.Persiapan
Hal-hal yang dipersiapkan pada tahap ini antara lain adalah (a) materi pelajaran; (b) membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kooperatif; (c) menentukan skor dasar siswa; (d) latihan kerjasama kelompok, dan (d) menentukan jadwal kegiatan.
b.Presentasi Kelas
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyajian materi dengan rincian dimulai dari pendahaluan, menjelaskan materi, dan latihan terbimbing yang ditekankan pada apa yang akan dilakukan siswa dalam kelompok
c.Kegiatan Kelompok
Kegiatan ini dimulai dari penjelasan tentang kerja kelompok, aturan-aturan yang ditetapkan dalam kelompok kooperatif, pelaksanaan kegiatan kelompok dengan membahas/ menyelesaikan yang diberikan oleh guru.


d.Pemberian Tes
Setelah selesai dalam kerja kelompok, siswa diberikan tes dengan lingkup materi yang relevan, tes dikerjakan sekitar 40 menit secara individiual.
e.Penghargaan Kelompok
Setelah diberikan tes, segera diperiksa dan diberikan skor perkembangan individu dan skor kelompok, kemudian memberikan sertifikat atau penghargaan kepada kelompok yang mempunyai skor tertinggi. Pemberian penghargaan dalam pembelajaran kooperatif merupakan insentif kelompok dan insentif individu, yang dapat mendorong siswa untuk meningkatkan usaha belajarnya.
Dalam model pembelajaran kooperatif terdapat enam langkah utama yang dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif.
Langkah
Indikator
Tingkah Laku Guru
Langkah 1

Menyampaikan tujuan
dan memotivasi siswa.

Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran dan
mengkomunikasikan kompetensi
dasar yang akan dicapai serta
memotivasi siswa.
Langkah 2

Menyajikan informasi.

Guru menyajikan informasi kepada
Siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Langkah 3

Mengorganisasikan
siswa ke dalam
kelompok-kelompok
belajar.
Guru menginformasikan
pengelompokan siswa dan membantu setiap kelompok agar melakukan interaksi secara efektif.
Langkah 4

Membimbing
kelompok bekerja dan belajar.
Guru memotivasi serta memfasilitasi
kerja siswa dalam kelompok kelompok belajar.
Langkah 5

Evaluasi.
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi pembelajaran yang
telah dilaksanakan.
Langkah 6

Memberikan
penghargaan.
Guru memberi penghargaan hasil
belajar individual dan kelompok.

Bila diperhatikan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif di atas maka tampak bahwa peran aktif siswa di kelas sangat menonjol (Ismail, 2002:15).

6.Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawan di Universitas John Hopkins.
Model pembelajaran ini dipandang paling sederhana diantara beberapa model pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan model ini untuk mengajarkan informasi baru kepada siswa setiap pekan. Para siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok masing-masingterdiri atas 4 atau 5 orang. Tiap kelompok memiliki anggota yang heterogen baik dari jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (tinggi, sedang, rendah). Tiap anggota kelompok saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab dan tiap 1 atau 2 pekan guru mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari. Tiap siswa dan tiap lelompok diberi skor ats penguasaannya terhadap bahan ajar yang telah dipelajari. Dan kepada tiap siswa atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan (Nurhadi, 2004:116-117).
Sudikin dan kawan-kawan (2002:16) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki kelebihan antara lain: (a) siswa lebih mampu mendengar, menghormati dan mendengar orang lain, (b) siswa mampu mengidentifikasi akan perasaannya juga perasaan orang lain, (c) siswa dapat menerima pengalaman dan dimengerti orang lain, (d) siswa mampu meyakinkan dirinya untuk saling memahami dan mengerti dan (e) siswa mampu mengembangkan potensi individu yang berhasil guna dan berdaya guna, kreatif, bertanggung jawab, mampu mengaktualisasikan dan mengoptimalkan dirinya terhadap perubahan yang terjadi.
Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD terdapat langkah-langkah secara khusus yang dapat lihat pada tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
No.
Tahap
Perlakuan Guru
1.
Persiapan
Guru mempersiapkan materi pelajaran, membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil,
2.
Persentase kelas
Guru menyiapkan materi pelajaran yang diawali dengan pendahuluan, penjelasan materi, dan latihan terbimbing.
3.
Tes kegiatan
Melaksanakan tes yang dikerjakan secara individu dan skor yang diperoleh siswa dalam mengerjakan tes akan disumbangkan sebagai skor kelompok.
4.
Penghargaan kelompok
Menghitung skor perkembangan individu dan skor kelompok kemudian memberikan penghargaan terhadap kelompok yang memperoleh skor tinggi.

Dari tabel di atas terlihat bahwa dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam kelompok mereka (Anonim, 1999:55).
Guru memberikan penghargaan kelompok berdasarkan pada perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.
Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok dijelaskan sebagai berikut.
Langkah – langkah memberi penghargaan kelompok:
1.Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya.
2.Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan setelah siswa bekerja dalam kelompok, misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang kita sebut nilai kuis terkini.
3. Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini.
Kriteri
Nilai Peningkatan
Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal
5

Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal
10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal
20
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 di atas nilai awal
30

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna
Kriteria untuk status kelompok:
1.Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 15).
2.Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok mulai dari 15 sampai di bawah 20 (15 ≤ Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 20).
3.Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok mulai dari 20 sampai di bawah 25 (20 ≤ Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 25).
4.Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25 (Rata-rata nilai peningkatan kelompok ≥ 25). (Ismail,2002:18)
7.Materi Perbandingan Trigonometri
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Materi Pokok Bahasan Perbandingan Trigonometri meliputi:
Perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku.
Nilai perbandingan trigonometri dari sudut khusus
Perbandingan trigonometri dari semua kuadran.
Fungsi trigonometri dan grafiknya
Persamaan trigonometri sederhana
Identitas Trigonometri
Aturan sinus dan aturan kosinus
Rumus Luas segitiga
Pemakaian Perbandingan trigonometri.
(Depdiknas, 2006).
F.Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hilda Anastasia (2007), menyimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD prestasi belajar matematika pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel siswa kelas VII1 SMP Negeri 10 Kendari dapat ditingkatkan.



G.Kerangka Berfikir
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan model pembelajaran. Suatu hal pokok yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan dalam matematika agar tercipta suasana belajar yang optimal adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi perkembangan peserta didik karena melihat kondisi peserta didik yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya, materi pelajaran yang akan diajarkan karena setiap materi memiliki sifat dan ciri khas tertentu baik dari tingkat kerumitannya maupun tingkat kemenarikannya untuk dipelajari oleh peserta didik, serta sumber-sumber belajar yang ada yang dapat mendukung dan memudahkan cara penyampaian materi kepada peserta didik.
Akibat dari kenyataan tersebut peneliti melihat adanya kecenderungan para pendidik untuk mencari berbagai solusi pemecahan hal tersebut. Peneliti bersama guru bidang studi matematika SMA Negeri 4 Kendari menganggap perlu menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat. Peneliti berasumsi bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang dari segi karakteristiknya dapat memenuhi harapan tersebut.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pembelajaran yang relatip sederhana yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok melalui diskusi. Dalam hal ini, sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif sangat cocok untuk diterapkan sehingga akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa pada pokok bahasan perbandingan trigonometri di kelas X SMA Negeri 4 Kendari.
H.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoretik yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut "Bila diberikan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD, maka hasil belajar siswa pada pokok bahasan Perbandingan Trigonometri di kelas X SMA Negeri 4 kendari dapat ditingkatkan".
I.Metode Penelitian
1.Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Ciri utama dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar di kelas.
2.Setting Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Februari semester genap tahun ajaran 2007/2008, di kelas X SMA Negeri 4 Kendari.
3. Faktor yang diselidiki
Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yang akan diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.Faktor siswa : untuk melihat bagaimana cara belajar dan hasil belajar matematika siswa khususnya pada pokok bahasan Perbandingan Trigonometri.
2.Faktor guru : untuk melihat bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan bagaimana model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilakukan guru dalam pembelajaran di kelas.
4.Prosedur Penelitian
Lewin memberikan gambaran tentang disain penelitian sebagai suatu spiral langkah-langkah yang terdiri dari empat taraf yaitu planning, acting, observing, dan reflecting. Keempat langkah tersebut merupakan satu putaran, kemudian dilanjutkan lagi dengan putaran kedua, ketiga, dan seterusnya sampai dianggap cukup untuk menjawab masalah yang ada.
Penelitian ini direncanakan pelaksanaannya sebanyak tiga siklus dengan pertemuan tiap siklus sebanyak tiga kali sesuai jam pelajaran dalam silabus KTSP yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Sebelum pelaksanaan tindakan, direncanakan akan diadakan tes awal yang berkaitan dengan materi yang akan diberikan. Hal ini dilakukan untuk melihat kemampuan awal siswa dan hasilnya akan dijadikan acuan dalam pembagian kelompok belajar siswa.
Selanjutnya, setiap siklus dalam penelitian ini terdiri dari tahapan kegiatan sebagai berikut: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan Tindakan, 3) Observasi dan Evaluasi, 4) Refleksi. Secara rinci setiap tahapan kegiatan dijelaskan sebagai berikut:
a.Perencanaan
Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :
1.Membuat rencana pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif
2.Membuat LKS untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan
3.Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru guna melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran diterapkan
4.Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan perbandingan trigonometri dapat ditingkatkan
5.Membuat jurnal untuk mengetahui refleksi diri
b.Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
c.Observasi dan Evaluasi
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah melakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah dibuat dan melaksanakan evaluasi pada setiap akhir siklus tindakan.
d.Refleksi
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah menganalisis hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi. Selanjutnya dari hasil tersebut akan dilihat apakah telah memenuhi target yang ditetapkan pada indikator kinerja. Selanjutnya hasil inipun akan dijadikan acuan untuk melanjutkan siklus berikutnya.
5.Data dan Cara Pengambilan Data
a.Sumber data: personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru yang berupa hasil observasi tentang keadaan proses belajar mengajar dan hasil evaluasi siswa.
b.Jenis data: jenis data yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang terdiri dari jurnal, lembar obsevasi dan data kuantitatif yang diperoleh dari tes evaluasi hasil belajar.
c.Teknik pengambilan data:
1.Data tentang pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.
2.Data tentang suasana proses belajar mengajar sebelum dan pada saat pelaksanaan pembelajaran dengan model Pembelajaran kooperatif tipe STAD diambil dengan menggunakan lembar observasi.
3.Data refleksi tentang perubahan yang terjadi diambil dengan jurnal.
6.Indikator Kinerja
Keberhasilan penelitian ini dilihat dari dua segi, yaitu dari segi proses dan dari segi hasil (nilai) siswa.
Dari segi proses, tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 85% proses pelaksanaan tindakan telah sesuai dengan skenario pembelajaran.
Dari segi hasil, tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 75% siswa telah memperoleh nilai minimal 6,25 (Ketentuan SMA Negeri 4 Kendari).
7.Alur PTK Pada Setiap Siklus Kegiatan Penelitian































Gambar 1 Alur PTK
(Tim Proyek PGSM, 1999:27)






0 comments:

Post a Comment