Monday, February 16, 2009

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Bilangan Pecahan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament

A.Judul : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Bilangan Pecahan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT) Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 3 Ranomeeto

B.Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut diselenggarakan

pada semua jenjang pendidikan sekolah dasar sembilan tahun, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pengajaran sebagai aktivitas operasional pendidikan dilaksanakan oleh tenaga pendidik dalam hal ini guru.
Guru sebagai tenaga pendidik mempunyai tujuan utama dalam kegiatan pembelajaran di sekolah yaitu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dapat menarik minat dan antusias siswa serta dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan semangat, sebab dengan suasana belajar yang menyenangkan akan berdampak positif dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Prestasi belajar siswa merupakan suatu indikasi dari perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah mengalami proses belajar-mengajar. Dari prestasi inilah dapat dilihat keberhasilan siswa dalam memahami suatu materi pelajaran.
Matematika sebagai suatu mata pelajaran di sekolah dinilai cukup memegang peranan penting, baik pola pikirnya dalam membentuk siswa menjadi berkualitas maupun terapannya dalam kehidupan sehari-hari, karena Matematika merupakan suatu sarana berpikir untuk mengkaji sesuatu secara logis dan sistematis. Oleh sebab itu dianggap penting agar Matematika dapat dikuasai sedini mungkin oleh para siswa.
Kenyataan umum yang dapat dijumpai di sekolah menengah menunjukkan bahwa sebagian besar pengajaran Matematika diberikan secara klasikal melalui metode ceramah tanpa banyak melihat kemungkinan penerapan metode lain yang sesuai dengan jenis materi, bahan dan alat yang tersedia. Akibatnya, siswa kurang berminat untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut, membuat siswa merasa bosan dan tidak tertarik mengikuti pelajaran sehingga tidak ada motivasi dari dalam dirinya untuk berusaha memahami apa yang diajarkan oleh guru, yang akan mempengaruhi prestasi belajarnya. Banyak diantara siswa mengikuti pelajaran tidak lebih dari rutinitas untuk mengisi daftar absensi, mencari nilai tanpa diiringi kesadaran untuk menambah wawasan maupun keterampilan. Peristiwa yang sangat menonjol adalah siswa kurang kreatif, kurang terlibat dalam proses pembelajaran, kurang memiliki inisiatif dan konstributif baik secara intelektual maupun secara emosional. Pertanyaan, gagasan dan pendapat dari siswa jarang muncul, kalaupun ada pendapat yang muncul jarang diikuti oleh pendapat lain sebagai respon.
Kenyataan demikian juga terjadi di SMP Negeri 3 Ranomeeto. Pada saat melakukan observasi awal tanggal 10 April 2008 berupa pengamatan langsung di kelas VIIA terlihat bahwa pada saat penyajian materi guru lebih dominan di dalam kelas dengan menerapkan model pembelajaran langsung yang dikombinasikan dengan beberapa metode yaitu ceramah, diskusi, tugas dan tanya jawab. Pada observasi selanjutnya tanggal 16 April 2008 melalui diskusi singkat dengan salah seorang guru Matematika kelas VIIA diperoleh informasi bahwa guru tersebut belum menerapkan metode belajar berkelompok dalam proses pembelajaran. Akan tetapi metode pembelajaran langsung ini tidak secara keseluruhan dapat menarik minat, motivasi dan antusias siswa untuk belajar Matematika. Suasana demikian cenderung membuat siswa diam dan pasif ditempat duduk mendengar dan menerima materi dari guru. Jika mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran, siswa pada umumnya malu dan takut untuk bertanya kepada guru apalagi siswa yang berkemampuan rendah mereka cenderung diam dan enggan dalam mengemukakan pertanyaan atau pendapat.
Peneliti menduga model pembelajaran inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar Matematika siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Ranomeeto. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan semester I yang diperoleh dua tahun terakhir yang hanya mencapai 5,06 tahun ajaran 2005/2006 dan 5,2 tahun ajaran 2006/2007. Nilai rata-rata ini jika dibandingkan dengan ketuntasan belajar menurut kurikulum yakni sebesar 6,0 atau 60 % dapat dikatakan bahwa nilai tersebut berada di bawah standar ketuntasan yang diharapkan. Salah seorang guru mata pelajaran Matematika mengemukakan bahwa siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal pada pokok bahasan bilangan pecahan khususnya siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang menyangkut operasi pada bilangan pecahan, sehingga seringkali diadakan pengajaran remedial setelah diadakan kuis atau ulangan blok untuk soal materi bilangan pecahan.
Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan dan prestasi belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran, salah satunya adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru di kelas. Model pembelajaran yang monoton akan mengurangi motivasi siswa untuk belajar karena siswa merasa jenuh dengan pola pembelajaran yang sama secara terus-menerus. Karena itu guru diharapkan mampu dan mau menggunakan model pembelajaran yang lebih bervariasi yang dapat membangkitkan daya kreatifitas dan motivasi untuk belajar secara mandiri dan bekerja sama dengan siswa yang lain dalam kelompok-kelompok belajar siswa. Oleh sebab itu perlu diterapkan suatu model tertentu dalam pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa secara keseluruhan, memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal sekaligus mengembangkan aspek kepribadian seperti kerja sama, bertanggungjawab dan disiplin.
Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap peneliti dapat memotivasi siswa untuk berperan aktif dan juga menyenangkan dalam proses belajar-mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT). Karena pada model ini siswa menempati posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran dimana semua siswa dalam setiap kelompok diharuskan untuk berusaha memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan dan selalu aktif ketika kerja kelompok sehingga saat ditunjuk untuk mempresentasikan jawabannya, mereka dapat menyumbangkan skor bagi kelompoknya.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul ”Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Bilangan Pecahan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT) Kelas VIIA SMP Negeri 3 Ranomeeto”.
A.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah dalam penelitian ini adalah ”Apakah prestasi belajar Matematika siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Ranomeeto pada pokok bahasan bilangan pecahan dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT)?”
B.Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Ranomeeto pada pokok bahasan bilangan pecahan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT).
C.Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1.Bagi siswa: diharapkan dengan selalu aktif siswa mengikuti pembelajaran Matematika akan berdampak pada meningkatnya prestasi belajar siswa khususnya pada pokok bahasan bilangan pecahan.
2.Bagi guru: diharapkan melalui hasil penelitian ini guru akan mengetahui model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Selain itu guru dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja dan profesionalnya sebagai guru.
3.Bagi sekolah: sebagai masukan dalam rangka memperbaiki kegiatan pembelajaran dan prestasi belajar Matematika di sekolah.
4.Bagi peneliti: agar memiliki pengetahuan yang luas tentang model pembelajaran dan memiliki keterampilan untuk menerapkannya khususnya dalam pembelajaran Matematika.
D.Kajian Teori
1.Proses Belajar dan Mengajar Matematika
Proses belajar-mengajar mempunyai makna dan pengertian yang lebih luas daripada pengertian mengajar. Dalam proses belajar-mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar.
Usman (2000:5) menyatakan proses merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar-mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan (interdependent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan. Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Istilah ”belajar” dan ”mengajar” adalah dua peristiwa yang berbeda akan tetapi diantara keduanya terdapat hubungan yang sangat erat. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi, saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain dalam keberhasilan proses belajar-mengajar.
Slameto (1995:2) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sejalan dengan hal itu, menurut W.H Eurton dalam Usman (1993:4) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
Hamalik (2001:30) mengemukakan bahwa bukti dari seseorang yang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dalam aspek-aspek tertentu seperti pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman dan latihan yang dapat terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya yang dilihat dalam bentuk penguasaan dan penilaian terhadap pengetahuan, sikap dan kecakapan.
Usman (1993:6) mendefinisikan mengajar sebagai suatu usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik, dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan proses belajar pada diri siswa. Selanjutnya Djamarah (1997:45) menyatakan bahwa mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.
Hamalik (2001:48) mendefinisikan bahwa mengajar merupakan usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa, guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang segar agar aktivitas belajar menuju ke arah sasaran yang diinginkan. Dengan kata lain, guru juga bertindak selaku organisator belajar siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai secara optimal.
Dari beberapa definisi mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu proses, yaitu proses pengorganisasian lingkungan disekitar siswa, agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar untuk mencapai tujuan yang optimal.
Berdasarkan pengertian belajar dan mengajar di atas, dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar dan mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan proses perubahan, sedangkan mengajar merupakan proses pengubahan agar perubahan itu terjadi. Proses belajar mengajar untuk mata pelajaran Matematika harus memperhatikan karakteristik Matematika. Sumarno (2002:2) mengemukakan beberapa karakteristik yaitu: materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif, materi Matematika bersifat hierarkis dan terstruktur dan dalam mempelajari Matematika dibutuhkan ketekunan, keuletan serta rasa cinta terhadap Matematika. Karena materi Matematika bersifat hierarkis dan terstruktur maka dalam belajar Matematika tidak boleh terputus-putus dan urutan materi harus diperhatikan. Artinya, perlu mendahulukan belajar tentang konsep Matematika yang mempunyai daya bantu terhadap konsep Matematika yang lain. Pemberian simbol penting untuk menjamin adanya komunikasi, dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru.
Russefendi dalam Simanjuntak (1995:72) berpendapat bahwa agar anak didik memahami dan mengerti akan konsep (struktur) matematika, seyogyanya diajarkan berbagai urutan konsep murni, dilanjutkan dengan konsep rotasi dan diakhiri dengan konsep terapan. Disamping itu untuk dapat mempelajari dengan baik struktur matematika maka representasinya (model) dimulai dengan benda-benda konkret yang beraneka ragam.
Lambas (2004:12) mengemukakan bahwa belajar Matematika bertujuan untuk:
1.Melatih cara berfikir bernalar dalam menarik kesimpulan.
2.Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen original, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3.Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
4.Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan.
Dalam mengajar Matematika, seorang guru Matematika hendaklah berpedoman pada bagaimana mengajar Matematika itu sehingga siswa dapat belajar Matematika dengan baik. Oleh sebab itu seorang guru Matematika dalam mengajar perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) urutan materi pelajaran; (2) memberikan contoh konkret kemudian membimbing siswa itu mencari sendiri; (3) mengarahkan siswa untuk menemukan hubungan antara konsep-konsep Matematika; (4) memberikan contoh-contoh penerapan materi dalam situasi nyata dan (5) memberikan latihan soal-soal.
2.Prestasi Belajar Matematika
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1990:700) prestasi diartikan sebagai hasil yang telah dicapai (telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Menurut Arifin (1991:3), prestasi berarti hasil usaha. Dalam hubungannya dengan usaha belajar, prestasi berarti hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu. Winkel (1999:102) mengemukakan bahwa prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman dalam bidang keterampilan, nilai dan sikap.
Seorang siswa yang belajar Matematika berarti bahwa siswa tersebut melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan yaitu belajar Matematika dan hasil dari pekerjaan itu disebut prestasi belajar Matematika. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil usaha yang telah dicapai oleh seseorang, setelah melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu.
Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar Matematika, dapat diukur prestasinya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut pada kurun waktu tertentu, dengan menggunakan suatu alat evaluasi. Jadi prestasi belajar Matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari Matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi.
3.Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT)
Ismail (2002:12) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antara siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran dan berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dalam kegiatan belajar mengajar.
Ibrahim (2000:8) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok yang menunjukkan siswa memperoleh prestasi belajar yang lebih baik, dibanding model pembelajaran lama.
Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Teams-Games-Tournament (Wartono, 2004:16). Selanjutnya Wartono, menjelaskan dalam Teams-Games-Tournament atau pertandingan-permainan-tim, siswa memainkan pengacakan kartu dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh poin pada skor tim mereka. Permainan ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan-pertanyan yang relevan dengan materi pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan siswa dari penyampaian pelajaran kepada siswa di kelas. Setiap wakil kelompok akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai tersebut. Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen.
Rachmat (2007:1) menyatakan ada 5 komponen utama dalam TGT yaitu:
1.Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung, ceramah, atau diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok.
2.Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3.Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4.Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja.
5.Penghargaan kelompok
Guru mengumumkan kelompok yang terbaik.
Adapun langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Fase-Fase Pembelajaran
Tingkah laku Guru
Fase I
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase II
Menyampaikan informasi atau materi pelajaran
Guru menyampaikan informasi atau materi kepada siswa dengan cara demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase III
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok agar melakukan transisi secara efisien dalam belajar.
Fase IV
Membimbing kelompok belajar dan belajar, serta melakukan turnamen
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas bersama serta memandu siswa memainkan suatu permainan sesuai dengan struktur pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Fase V
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar siswa, menentukan skor individual dan kemajuannya, menentukan skor rata-rata kelompok.
Fase VI
Memberikan Penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok.
Ibrahim (2000:10)
Selanjutnya Rachmat (2007:1) mengemukakan bahwa aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran TGT menekankan adanya kompetisi yang dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan anggota dalam satu bentuk ”turnamen”. Turnamen ini menyiapkan siswa dari semua tingkat agar mempunyai keberanian dalam bersaing, bisa bekerjasama serta andal dalam berkompetisi. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk lebih aktif, kreatif dan mandiri dalam proses belajar mengajar.
4.Pembelajaran Bilangan Pecahan di SMP
Sumardi (1998:41) mengatakan bahwa bilangan pecahan adalah bilangan yang lambangnya dapat ditulis dengan bentuk dimana a dan b bilangan bulat, a bukan kelipatan dari b dan b bukan faktor dari a, dan b ≠ 0. Pada pecahan , a disebut pembilang dan b disebut penyebut pecahan tersebut.
1.Suatu bilangan pecahan dikatakan pecahan murni apabila nilai pembilang lebih kecil dari nilai penyebutnya.
2.Suatu bilangan pecahan dikatakan pecahan tidak murni apabila nilai pembilang lebih besar dari nilai penyebutnya.
3.Suatu bilangan pecahan dikatakan pecahan campuran apabila bilangan pecahan tersebut terdiri dari bilangan bulat dan bilangan pecahan.
4.Pecahan senilai dapat diperoleh dengan cara mengalikan aatau membagi pembilang dan penyebut dengan bilangan yang sama, atau dapat ditulis sebagai berikut: atau , dengan p ≠ 0.
5.Pecahan desimal adalah suatu pecahan yang penyebutnya merupakan perpangkatan dari bilangan 10.
6.Pecahan persen adalah suatu pecahan yang penyebutnya seratus, atau dapat ditulis x % =
7.Pecahan permil adalah suatu pecahan yang penyebutnya seribu, atau dapat ditulis x ‰ =
8.Penjumlahan antarpecahan
a.Sifat Komutatif :
b.Sifat Asosiatif :
9.Untuk menjumlahkan pecahan-pecahan yang penyebutnya tidak sama, terlebih dahulu penyebut-penyebutnya harus disamakan dengan menggunakan KPK dari penyebut-penyebutnya. Kemudian jumlahkan pembilang-pembilangnya.
10.Pengurangan antarpecahan: , dengan b ≠ 0.
11.Perkalian antarpecahan: , dengan b ≠ 0 dan d ≠ 0.
12.Sifat-sifat perkalian antarpecahan
a.Sifat Komutatif :
b.Sifat Assosiatif :
c.Sifat Distributif :
i)perkalian terhadap penjumlahan :
ii)perkalian terhadap pengurangan :
13.Perkalian pecahan dengan bilangan bulat :
, dengan c ≠ 0.
14.Pembagian antarpecahan :

15.Bilangan pecahan berpangkat :

Tampomas (2005:53-54).

E.Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Sarbia pada tahun 2007 dengan judul Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Perbandingan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT menyimpulkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.
F.Kerangka Berfikir
Dalam pembelajaran Matematika dibutuhkan tingkat aktivitas yang tinggi baik mental maupun fisik. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan pembelajaran Matematika, yaitu mengembangkan aktivitas kreatif siswa dalam memahami konsep Matematika.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan minat dan kreatifitas belajar sangat penting sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika siswa. Model kooperatif tipe TGT memiliki potensi lebih besar untuk memaksimalkan keaktifan siswa dalam belajar Matematika serta dapat membangkitkan minat dan kreatifitas belajar siswa karena siswa mengikuti dan melakukan seluruh rangkaian kegiatan dimulai dari pembentukkan kelompok, bekerjasama mengerjakan soal dalam kelompok, dan mempresentasikan hasil kerja kelompok melalui permainan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan angka yang tertera pada kartu yang telah dipilih secara acak oleh wakil masing-masing kelompok yang dimainkan pada meja turnamen.
Pembelajaran dengan tipe TGT ini mengutamakan adanya kerjasama dalam kelompok-kelompok kecil dalam mempelajari materi pelajaran sehingga memungkinkan siswa mempunyai kesempatan yang besar untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang mengalami kesulitan belajar cenderung lebih berani bertanya kepada teman-temannya dibanding kepada guru. Bahkan adapula siswa yang justru belajar lebih giat karena harus mengajar temannya. Dalam kondisi ini memungkinkan prestasi belajar siswa akan semakin meningkat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT dapat memaksimalkan keaktifan siswa dalam belajar Matematika dan hal ini akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar Matematika siswa.
G.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT) prestasi belajar Matematika siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Ranomeeto pada pokok bahasan bilangan pecahan dapat ditingkatkan”.
H.Metode Penelitian
1.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2008/2009 di kelas VIIA SMP Negeri 3 Ranomeeto.
2.Faktor Yang diselidiki
Ada beberapa faktor yang akan diselidiki dalam penelitian ini, yaitu:
1.Faktor siswa, yaitu melihat minat dan kemampuan siswa dalam mempelajari Matematika khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan bilangan pecahan.
2.Faktor guru, yaitu melihat bagaimana materi pelajaran disiapkan, teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament.
3.Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 3 (tiga) siklus,dimana tiap siklus terdiri dari dua pertemuan dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Sebelum pelaksanaan tindakan terlebih dahulu diberikan tes awal yaitu untuk melihat kemampuan awal siswa berkaitan dengan topik yang akan diajarkan. Tiap siklus dalam penelitian ini terdiri dari tahapan kegiatan: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi dan evaluasi; dan (4) refleksi.
Secara rinci setiap tahapan kegiatan direncanakan sebagai berikut:
1.Perencanaan:
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi:
a.)Membuat skenario pembelajaran.
b.)Membuat lembar observasi, untuk melihat kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament diaplikasikan.
c.)Membuat alat bantu pembelajaran.
d.)Membuat alat evaluasi.
e.)Membuat jurnal untuk refleksi diri.
2.Pelaksanaan tindakan: kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat.
3.Observasi dan evaluasi: kegiatan pada tahap ini adalah melakukan pengamatan pada saat pelaksanaan tindakan, yaitu melihat apakah pelaksanaan tindakan sesuai skenario pembelajaran yang telah dibuat. Setelah itu dilakukan evaluasi, yaitu untuk melihat keberhasilan pelaksanaan tindakan.
4.Refleksi: hasil yang diperoleh setelah pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, dikumpulkan kemudian dianalisis kelemahan-kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya dan akan diperbaiki pada perencanaan siklus berikutnya.
4.Data dan Teknik Pengambilan Data
a.Sumber data yaitu guru, siswa dan peneliti.
b.Jenis data dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari tes prestasi hasil belajar, sedangkan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi dan jurnal.
c.Teknik pengambilan data :
1.Data tentang proses pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TGT diambil dengan menggunakan lembar observasi.
2.Data tentang prestasi belajar matematika siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.
3.Data tentang refleksi diri diambil dengan menggunakan jurnal.
5.Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu indikator keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dan indikator pencapaian hasil belajar matematika siswa. Indikator tersebut adalah sebagai berikut :
a.Suatu pelaksanaan pembelajaran dalam penelitian ini dikatakan berhasil dengan baik apabila minimal 85 % skenario pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
b.Pencapaian hasil belajar matematika siswa dikatakan berhasil apabila minimal 80 % siswa memperoleh nilai minimal 6,0.
6.Rencana dan Model Penelitian Tindakan Kelas


SIKLUS I


Terselesaikan










SIKLUS II



Terselesaikan






Lanjut ke siklus berikutnya



(Team Proyek PGSM, 1999:27)


DAFTAR PUSTAKA


Arifin, Zainal. 1991. Evaluasi Instruksional. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Bandung.
Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. University Perss. Universitas Negeri Surabaya.

Ismail. 2002. Model-model Pembelajaran. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Lambas, dkk. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika. (buku 3). Proyek PSPP Depdiknas. Jakarta.

Rachmat. 2007. Bagaimana Melaksanakan PTK Metode Team Games Tournament (TGT), (http://gurupkn.wordpress.com, diakses 3 Februari 2008).

Sarbia. 2007. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII2 SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Perbandingan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams – Games – Tournament (TGT). FKIP UNHALU. Kendari.

Simanjuntak, Lisnawaty. 1995. Metode mengajar Matematika I. Rineka Cipta. Malang.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta.

Sumardi. 1998. Matematika untuk Kelas I SLTP. Cempaka Putih. Jakarta.
Sumarno, Utari. 2002. Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. FMIPA-LIPI. Bandung.

Tampomas, Husein. 2005. Matematika untuk SMP/MTs kelas VII. Yudhistira. Jakarta.

Team Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah Menengah). Depdikbud. Jakarta.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Usman, Moh. User dan Setiawati, Lilis. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Usman, Moh. User. 2000. Menjadi Guru Profesional. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Wartono, dkk. 2004. Materi Pelatihan terintegrasi Sains (buku 4). Proyek PSPP Depdiknas. Jakarta.

Winkel, W.S. 1999. Psikologi Pengajaran Edisi Revisi. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

0 comments:

Post a Comment